الْبَابُ الثَّالِثُ فِي الْآدَابِ الدَّقِيقَةِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ
(Bab ketiga tentang adab-adab yang halus dan amalan batin)
[بَيَانُ دَقَائِقِ الْآدَابِ وَهِيَ عَشَرَةٌ]
(Penjelasan tentang rincian adab, dan jumlahnya ada sepuluh)
الأَوَّلُ أَنْ تَكُونَ النَّفَقَةُ حَلَالًا،
Pertama: hendaknya biaya (bekal) itu berasal dari yang halal,
وَتَكُونَ الْيَدُ خَالِيَةً مِنْ تِجَارَةٍ تَشْغَلُ الْقَلْبَ وَتُفَرِّقُ الْهَمَّ،
dan tangan (diri) terbebas dari perdagangan yang menyibukkan hati dan memecah konsentrasi,
حَتَّى يَكُونَ الْهَمُّ مُجَرَّدًا لِلَّهِ تَعَالَى،
sehingga perhatian itu murni hanya untuk Allah Ta‘ala,
وَالْقَلْبُ مُطْمَئِنًّا مُنْصَرِفًا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَتَعْظِيمِ شَعَائِرِهِ.
dan hati menjadi tenang serta tercurah kepada zikir kepada Allah dan pengagungan terhadap syiar-syiar-Nya.
وَقَدْ رُوِيَ فِي خَبَرٍ مِنْ طَرِيقِ أَهْلِ الْبَيْتِ:
Dan telah diriwayatkan dalam suatu khabar dari jalur Ahlul Bait:
إِذَا كَانَ آخِرُ الزَّمَانِ خَرَجَ النَّاسُ إِلَى الْحَجِّ أَرْبَعَةَ أَصْنَافٍ: سَلَاطِينُهُمْ لِلنُّزْهَةِ، وَأَغْنِيَاؤُهُمْ لِلتِّجَارَةِ، وَفُقَرَاؤُهُمْ لِلْمَسْأَلَةِ، وَقُرَّاؤُهُمْ لِلسُّمْعَةِ.
Apabila datang akhir zaman, manusia pergi haji dalam empat golongan: para penguasa mereka untuk bersenang-senang, orang-orang kaya mereka untuk berdagang, orang-orang miskin mereka untuk meminta-minta, dan para qari (ahli agama) mereka untuk mencari ketenaran.
وَفِي الْخَبَرِ إِشَارَةٌ إِلَى جُمْلَةِ أَغْرَاضِ الدُّنْيَا الَّتِي يُتَصَوَّرُ أَنْ تَتَّصِلَ بِالْحَجِّ،
Dalam khabar itu terdapat isyarat tentang berbagai tujuan duniawi yang mungkin bercampur dengan ibadah haji,
فَكُلُّ ذٰلِكَ مِمَّا يَمْنَعُ فَضِيلَةَ الْحَجِّ،
dan semua itu termasuk hal yang menghalangi keutamaan haji,
وَيُخْرِجُهُ عَنْ حَيِّزِ حَجِّ الْخُصُوصِ،
serta mengeluarkannya dari derajat haji orang-orang khusus (yang ikhlas),
لَا سِيَّمَا إِذَا كَانَ مُتَجَرِّدًا بِنَفْسِ الْحَجِّ،
terlebih lagi jika ia secara khusus menjadikan haji itu sendiri sebagai sarana,
بِأَنْ يَحُجَّ لِغَيْرِهِ بِأُجْرَةٍ،
yaitu dengan berhaji untuk orang lain dengan upah,
فَيَطْلُبُ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ.
sehingga ia mencari dunia dengan amal akhirat.
وَقَدْ كَرِهَ الْوَرِعُونَ وَأَرْبَابُ الْقُلُوبِ ذٰلِكَ،
Orang-orang yang wara‘ dan para ahli hati (ahli tasawuf) membenci hal tersebut,
إِلَّا أَنْ يَكُونَ قَصْدُهُ الْمُقَامَ بِمَكَّةَ،
kecuali jika tujuannya adalah untuk menetap di Makkah,
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُبَلِّغُهُ،
dan ia tidak memiliki bekal untuk sampai ke sana,
فَلَا بَأْسَ أَنْ يَأْخُذَ ذٰلِكَ عَلَى هٰذَا الْقَصْدِ،
maka tidak mengapa ia mengambil upah itu dengan niat seperti ini,
لَا لِيَتَوَصَّلَ بِالدِّينِ إِلَى الدُّنْيَا،
bukan untuk menjadikan agama sebagai jalan menuju dunia,
بَلْ بِالدُّنْيَا إِلَى الدِّينِ.
melainkan menjadikan dunia sebagai sarana menuju agama.
فَعِنْدَ ذٰلِكَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ قَصْدُهُ زِيَارَةَ بَيْتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،
Dalam keadaan demikian, hendaknya niatnya adalah menziarahi Baitullah ‘Azza wa Jalla,
وَمُعَاوَنَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ بِإِسْقَاطِ الْفَرْضِ عَنْهُ.
serta membantu saudaranya sesama Muslim dengan menggugurkan kewajiban (haji) darinya.
وَفِي مِثْلِهِ يَنْزِلُ قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
Dalam hal seperti ini berlaku sabda Rasulullah ﷺ:
يُدْخِلُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِالْحَجَّةِ الْوَاحِدَةِ ثَلَاثَةً الْجَنَّةَ: الْمُوصِيَ بِهَا، وَالْمُنَفِّذَ لَهَا،وَمَنْ حَجَّ بِهَا عَنْ أَخِيهِ.
Allah memasukkan ke dalam surga dengan satu ibadah haji tiga orang: orang yang mewasiatkannya, orang yang melaksanakannya, dan orang yang berhaji dengannya untuk saudaranya.
وَلَسْتُ أَقُولُ لَا تَحِلُّ الْأُجْرَةُ أَوْ يُحَرَّمُ ذٰلِكَ بَعْدَ أَنْ أَسْقَطَ فَرْضَ الْإِسْلَامِ عَنْ نَفْسِهِ،
Aku tidak mengatakan bahwa upah itu tidak halal atau haram, setelah ia sendiri telah menunaikan kewajiban hajinya,
وَلٰكِنِ الْأَوْلَى أَنْ لَا يَفْعَلَ،
akan tetapi yang lebih utama adalah tidak melakukannya,
وَلَا يَتَّخِذَ ذٰلِكَ مَكْسَبَهُ وَمَتْجَرَهُ،
dan tidak menjadikannya sebagai mata pencaharian dan perniagaannya,
فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا بِالدِّينِ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ بِالدُّنْيَا.
karena Allah ‘Azza wa Jalla memberi dunia dengan (perantara) agama, namun tidak memberi agama dengan (tujuan) dunia.
وَفِي الْخَبَرِ:
Dan dalam sebuah riwayat disebutkan:
مَثَلُ الَّذِي يَغْزُو فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَأْخُذُ أَجْرًا،
Perumpamaan orang yang berperang di jalan Allah lalu mengambil upah,
مَثَلُ أُمِّ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ تُرْضِعُ وَلَدَهَا وَتَأْخُذُ أَجْرَهَا.
seperti ibu Nabi Musa ‘alaihissalam yang menyusui anaknya dan mengambil upahnya.
فَمَنْ كَانَ مِثَالُهُ فِي أَخْذِ الْأُجْرَةِ عَلَى الْحَجِّ مِثَالَ أُمِّ مُوسَى، فَلَا بَأْسَ بِأَخْذِهِ،
Barang siapa keadaannya dalam mengambil upah haji seperti keadaan ibu Musa, maka tidak mengapa ia mengambilnya,
فَإِنَّهُ يَأْخُذُ لِيَتَمَكَّنَ مِنَ الْحَجِّ وَالزِّيَارَةِ فِيهِ،
karena ia mengambilnya agar dapat melaksanakan haji dan ziarah,
وَلَيْسَ يَحُجُّ لِيَأْخُذَ الْأُجْرَةَ،
dan ia tidak berhaji demi mendapatkan upah,
بَلْ يَأْخُذُ الْأُجْرَةَ لِيَحُجَّ،
melainkan ia mengambil upah agar bisa berhaji,
كَمَا كَانَتْ تَأْخُذُ أُمُّ مُوسَى لِيَتَيَسَّرَ لَهَا الْإِرْضَاعُ بِتَلْبِيسِ حَالِهَا عَلَيْهِمْ.
sebagaimana ibu Musa mengambil upah agar dimudahkan baginya menyusui anaknya dengan menyamarkan keadaannya kepada mereka.
الثَّانِي أَنْ لَا يُعَاوِنَ أَعْدَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ بِتَسْلِيمِ الْمَكْسِ،
Kedua: hendaknya ia tidak membantu musuh-musuh Allah dengan menyerahkan maks (pungutan liar/cukai zalim),
وَهُمْ الصَّادُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ مِنْ أُمَرَاءِ مَكَّةَ وَالْأَعْرَابِ الْمُتَرَصِّدِينَ فِي الطَّرِيقِ.
yaitu mereka yang menghalangi manusia dari Masjidil Haram, dari kalangan penguasa Makkah dan orang-orang Arab badui yang menghadang di jalan.
فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْمَالِ إِلَيْهِمْ إِعَانَةٌ عَلَى الظُّلْمِ،
Sesungguhnya menyerahkan harta kepada mereka adalah bentuk bantuan terhadap kezaliman,
وَتَيْسِيرٌ لِأَسْبَابِهِ عَلَيْهِمْ،
dan memudahkan sebab-sebab kezaliman itu bagi mereka,
فَهُوَ كَالْإِعَانَةِ بِالنَّفْسِ.
maka itu seperti membantu dengan diri sendiri.
فَلْيَتَلَطَّفْ فِي حِيلَةِ الْخَلَاصِ،
Maka hendaklah ia berusaha dengan cara yang halus untuk melepaskan diri,
فَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ،
jika ia tidak mampu,
فَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ – وَلَا بَأْسَ بِمَا قَالَهُ –:
sebagian ulama berkata — dan tidak mengapa dengan pendapat itu — :
إِنَّ تَرْكَ التَّنَفُّلِ بِالْحَجِّ وَالرُّجُوعَ عَنِ الطَّرِيقِ أَفْضَلُ مِنْ إِعَانَةِ الظَّلَمَةِ،
meninggalkan haji sunnah dan kembali dari perjalanan lebih utama daripada membantu orang-orang zalim,
فَإِنَّ هٰذِهِ بِدْعَةٌ أُحْدِثَتْ،
karena pungutan itu adalah bid‘ah yang diada-adakan,
وَفِي الِانْقِيَادِ لَهَا مَا يَجْعَلُهَا سُنَّةً مُطَّرِدَةً،
dan tunduk kepadanya akan menjadikannya seolah-olah tradisi yang terus berlangsung,
وَفِيهِ ذُلٌّ وَصَغَارٌ عَلَى الْمُسْلِمِينَ بِبَذْلِ جِزْيَةٍ.
serta di dalamnya terdapat kehinaan dan kerendahan bagi kaum Muslimin dengan membayar seperti upeti.
وَلَا مَعْنَى لِقَوْلِ الْقَائِلِ: إِنَّ ذٰلِكَ يُؤْخَذُ مِنِّي وَأَنَا مُضْطَرٌّ،
Tidak ada arti bagi perkataan orang yang berkata, “Itu diambil dariku sedangkan aku terpaksa,”
فَإِنَّهُ لَوْ قَعَدَ فِي الْبَيْتِ أَوْ رَجَعَ مِنَ الطَّرِيقِ لَمْ يُؤْخَذْ مِنْهُ شَيْءٌ،
karena jika ia tetap tinggal di rumah atau kembali dari jalan, tidak akan diambil darinya sesuatu pun,
بَلْ رُبَّمَا يُظْهِرُ أَسْبَابَ التَّرَفُّهِ فَتَكْثُرُ مُطَالَبَتُهُ،
bahkan mungkin ia menampakkan tanda-tanda kemewahan sehingga tuntutan terhadapnya semakin banyak,
فَلَوْ كَانَ فِي زِيِّ الْفُقَرَاءِ لَمْ يُطَالَبْ،
seandainya ia berpenampilan seperti orang miskin, ia tidak akan dituntut,
فَهُوَ الَّذِي سَاقَ نَفْسَهُ إِلَى حَالَةِ الِاضْطِرَارِ.
maka dialah yang menggiring dirinya sendiri kepada keadaan terpaksa itu.
الثَّالِث التَّوَسُّعُ فِي الزَّادِ،
Ketiga: melapangkan bekal,
وَطِيبُ النَّفْسِ بِالْبَذْلِ وَالْإِنْفَاقِ،
dan berlapang dada dalam memberi dan berinfak,
مِنْ غَيْرِ تَقْتِيرٍ وَلَا إِسْرَافٍ،
tanpa kikir dan tanpa berlebih-lebihan,
بَلْ عَلَى اقْتِصَادٍ،
tetapi secara sederhana dan seimbang.
وَأَعْنِي بِالْإِسْرَافِ التَّنَعُّمَ بِأَطْيَبِ الْأَطْعِمَةِ،
Yang aku maksud dengan berlebih-lebihan adalah bermewah-mewahan dengan makanan paling lezat,
وَالتَّرَفُّهَ بِشُرْبِ أَنْوَاعِهَا عَلَى عَادَةِ الْمُتَرَقِّينَ.
dan bersenang-senang dengan berbagai minuman sebagaimana kebiasaan orang-orang yang hidup mewah.
فَأَمَّا كَثْرَةُ الْبَذْلِ فَلَا سَرَفَ فِيهِ،
Adapun banyak memberi, maka tidak ada pemborosan di dalamnya,
إِذْ لَا خَيْرَ فِي السَّرَفِ، وَلَا سَرَفَ فِي الْخَيْرِ كَمَا قِيلَ.
karena tidak ada kebaikan dalam pemborosan, dan tidak disebut pemborosan dalam kebaikan, sebagaimana dikatakan.
وَبَذْلُ الزَّادِ فِي طَرِيقِ الْحَجِّ نَفَقَتُهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،
Memberikan bekal di jalan haji adalah nafkah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla,
وَالدِّرْهَمُ بِسَبْعِمِائَةِ دِرْهَمٍ.
dan satu dirham dilipatgandakan menjadi tujuh ratus dirham.
قَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا:
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
مِنْ كَرَمِ الرَّجُلِ طِيبُ زَادِهِ فِي سَفَرِهِ،
Termasuk kemuliaan seseorang adalah baiknya bekalnya dalam perjalanan,
وَكَانَ يَقُولُ: أَفْضَلُ الْحَاجِّ أَخْلَصُهُمْ نِيَّةً، وَأَزْكَاهُمْ نَفَقَةً، وَأَحْسَنُهُمْ يَقِينًا.
Dan beliau berkata: Haji yang paling utama adalah yang paling ikhlas niatnya, paling bersih nafkahnya, dan paling baik keyakinannya.
وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
Dan Nabi ﷺ bersabda:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ.
Haji yang mabrur tidak ada balasannya selain surga.
فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا بِرُّ الْحَجِّ؟
Lalu ditanyakan kepada beliau: Wahai Rasulullah, apa itu kemabruran haji?
فَقَالَ: طِيبُ الْكَلَامِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ.
Beliau menjawab: Perkataan yang baik dan memberi makan.
الرَّابِعُ تَرْكُ الرَّفَثِ وَالْفُسُوقِ.
Keempat: meninggalkan rafats (ucapan atau perbuatan yang berkaitan dengan syahwat) dan kefasikan.
وَالْجِدَالُ كَمَا نُطِقَ بِهِ الْقُرْآنُ
Dan al-jidal (perdebatan/berselisih) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
وَالْرَّفْثُ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ لَغْوٍ وَخَنًى وَفَحْشٍ مِنَ الْكَلَامِ،
Dan ar-rafthu adalah istilah yang mencakup semua ucapan sia-sia, keji, dan kasar dalam perkataan,
وَيَدْخُلُ فِيهِ مُغَازَلَةُ النِّسَاءِ وَمُدَاعَبَتُهُنَّ وَالتَّحَدُّثُ بِشَأْنِ الْجِمَاعِ وَمُقَدِّمَاتِهِ،
dan termasuk di dalamnya menggoda wanita, bermain-main dengan mereka, dan berbicara tentang perkara syahwat serta pendahuluannya,
فَإِنَّ ذٰلِكَ يُهِيِجُ دَاعِيَةَ الْجِمَاعِ الْمَحْظُورِ، وَالدَّاعِي إِلَى الْمَحْظُورِ مَحْظُورٌ.
karena hal itu membangkitkan dorongan syahwat yang terlarang, dan mendorong kepada yang terlarang adalah terlarang.
وَالْفُسُوقُ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ خُرُوجٍ عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Dan al-fusuq adalah istilah yang mencakup segala bentuk keluar dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
وَالْجِدَالُ هُوَ الْمُبَالَغَةُ فِي الْخُصُومَةِ وَالْمُمَارَاةِ بِمَا يُورِثُ الضَّغَائِنَ وَيُفَرِّقُ فِي الْحَالِ الْهِمَّةَ وَيُنَاقِضُ حُسْنَ الْخُلُقِ.
Sedangkan al-jidal adalah berlebihan dalam berselisih dan bertengkar dengan cara yang menimbulkan kebencian, memecah semangat, dan bertentangan dengan akhlak yang baik.
وَقَدْ قَالَ سُفْيَانُ: مَنْ رَفَثَ فَسَدَ حَجُّهُ.
Dan Sufyan berkata: “Barang siapa melakukan rafth, maka hajinya rusak.”
وَقَدْ جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَيِّبَ الْكَلَامِ مَعَ إِطْعَامِ الطَّعَامِ مِنْ بَرِّ الْحَجِّ.
Dan Rasulullah ﷺ menjadikan perkataan yang baik bersamaan dengan memberi makan sebagai bagian dari kebaikan haji.
وَالْمُمَارَاةُ تُنَاقِضُ طَيِّبَ الْكَلَامِ،
Sedangkan bertengkar bertentangan dengan perkataan yang baik,
فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ كَثِيرَ الْاعْتِرَاضِ عَلَى رَفِيقِهِ وَجَمَالِهِ وَعَلَى غَيْرِهِ مِنْ أَصْحَابِهِ،
maka tidak sepatutnya sering membantah teman atau rombongannya maupun orang lain di antara sahabatnya,
بَلْ يَلِينُ جَانِبُهُ وَيُخَفِّضُ جَنَاحَهُ لِلصَّائِرِينَ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،
melainkan hendaklah ia bersikap lemah lembut dan menundukkan sayapnya (menyesuaikan diri) bagi orang-orang yang menuju Baitullah ‘Azza wa Jalla,
وَيَلْزَمُ حُسْنَ الْخُلُقِ،
dan wajib menegakkan akhlak yang baik,
وَلَيْسَ حُسْنُ الْخُلُقِ كَفَّ الْأَذَى بَلِ احْتِمَالُ الْأَذَى.
dan akhlak yang baik bukan sekadar menahan diri dari menyakiti, melainkan juga menahan dari tersinggung atau membalas dosa.
وَقِيلَ سُمِّيَ السَّفَرُ سَفَرًا لِأَنَّهُ يُسْفِرُ عَنْ أَخْلَاقِ الرِّجَالِ،
Dikatakan bahwa perjalanan dinamakan safar karena ia menyingkap akhlak manusia,
وَلِذَلِكَ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ يَعْرِفُ رَجُلًا: هَلْ صَحَبَتُهُ فِي السَّفَرِ الَّذِي يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ؟
dan Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang yang mengaku mengenal seseorang: “Apakah pergaulannya dalam perjalanan yang dijadikan petunjuk atas akhlak mulia itu?”
قَالَ: لا، فَقَالَ: مَا أَرَاكَ تَعْرِفُهُ؟
Ia menjawab: “Tidak.” Maka Umar berkata: “Lalu bagaimana kamu mengenalnya?”
(23 April 2026)
الخامِسُ أَنْ يَحُجَّ مَاشِيًا إِنْ قَدَرَ عَلَيْهِ فَذٰلِكَ الْأَفْضَلُ.
Kelima: hendaklah haji dengan berjalan kaki jika mampu, karena itu yang terbaik.
أَوْصَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِبَنِيهِ عِنْدَ مَوْتِهِ فَقَالَ: يَا بَنِيّ حَجُّوا مَشَاةً، فَإِنَّ لِلْحَاجِّ الْمَاشِي بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا سَبْعُمِائَةُ حَسَنَةٍ مِنْ حَسَنَاتِ الْحَرَمِ.
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mewasiatkan kepada anak-anaknya saat meninggal: “Wahai anak-anakku, hajilah dengan berjalan kaki, karena bagi haji yang berjalan, setiap langkahnya bernilai tujuh ratus pahala dari pahala haram.”
قِيلَ وَمَا حَسَنَاتُ الْحَرَمِ؟
Lalu ditanyakan: “Apa itu pahala haram?”
قَالَ: الْحَسَنَةُ بِمِائَةِ أَلْفٍ، وَالِاسْتِحْبَابُ فِي الْمَشْيِ فِي الْمَنَاسِكِ وَالتَّرَدُّدِ مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَوْقِفِ وَإِلَى مِنًى أَكْدَى مِنْهُ فِي الطَّرِيقِ.
Beliau menjawab: “Satu kebaikan setara dengan seratus ribu, dan dianjurkan berjalan dalam ibadah haji dan bolak-balik dari Makkah ke Arafah dan ke Mina lebih utama daripada hanya di jalan.”
وَإِنْ أَضَافَ إِلَى الْمَشْيِ الْإِحْرَامَ مِنْ دَوِيرَةِ أَهْلِهِ، فَقَدْ قِيلَ إِنَّ ذٰلِكَ مِنْ إِتْمَامِ الْحَجِّ، قَالَهُ عُمَرُ وَعَلِيٌّ وَابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Dan jika menambahkan ihram dengan mengelilingi rumahnya, maka dikatakan itu termasuk penyempurnaan haji, sebagaimana dikatakan Umar, Ali, dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhum.
فِي مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى: وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ.
Dalam maksud ayat Allah Ta’ala: “Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah 196)
وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: الرُّكُوبُ أَفْضَلُ لِمَا فِيهِ مِنَ الْإِنْفَاقِ وَالْمُؤَنَةِ، وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَن ضَجَرِ النَّفْسِ وَأَقَلُّ لأَذَاهُ وَأَقْرَبُ إِلَى سَلاَمَتِهِ وَتَمَامِ حَجِّهِ.
Dan sebagian ulama berkata: “Naik kendaraan lebih utama karena ada unsur pengeluaran dan kesulitan, dan karena itu lebih jauh dari kejenuhan, lebih ringan dari gangguan, serta lebih dekat kepada keselamatan dan kesempurnaan hajinya.”
وَهَذَا عِنْدَ التَّحْقِيقِ لَيْسَ مُخَالِفًا لِلْأَوَّلِ، بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يُفَصَّلَ وَيُقَالَ: مَنْ سَهُلَ عَلَيْهِ الْمَشْيُ فَهُوَ أَفْضَلُ.
Dan ini menurut kajian yang mendalam tidak bertentangan dengan yang pertama, melainkan sebaiknya dijelaskan: barang siapa yang berjalan kaki itu mudah baginya, maka itu lebih utama.
فَإِنْ كَانَ يَضَعُفُ وَيُؤَدِّي بِهِ ذٰلِكَ إِلَى سُوءِ الْخُلُقِ وَقُصُورٍ عَنْ عَمَلٍ، فَالْرُّكُوبُ لَهُ أَفْضَلُ.
Jika berjalan membuatnya lemah dan menimbulkan akhlak yang buruk atau mengurangi kemampuannya beribadah, maka naik kendaraan lebih utama baginya.
كَمَا أَنَّ الصّوْمَ لِلْمُسَافِرِ أَفْضَلُ وَلِلْمَرِيضِ مَا لَمْ يُفِضْ إِلَى ضَعْفٍ وَسُوءِ خُلُقٍ.
Demikian pula puasa bagi musafir lebih utama, dan bagi orang sakit sah-sah saja selama tidak menimbulkan kelemahan atau akhlak buruk.
وَسُئِلَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ عَنْ الْعُمْرَةِ: أَيَمْشِي فِيهَا أَمْ يَكْتَرِي حِمَارًا بِدِرْهَمٍ؟
Sebagian ulama ditanya tentang umrah: apakah ia berjalan kaki atau menyewa keledai dengan satu dirham?
فَقَالَ: إِنْ كَانَ وَزْنُ الدِّرْهَمِ أَشَدُّ عَلَيْهِ، فَالْكِرَاءُ أَفْضَلُ مِنَ الْمَشْيِ.
Beliau menjawab: jika beban dirham itu berat baginya, maka menyewa lebih baik daripada berjalan.
وَإِنْ كَانَ الْمَشْيُ أَشَدُّ عَلَيْهِ كَالْأَغْنِيَاءِ فَالْمَشْيُ لَهُ أَفْضَلُ، فَكَأَنَّهُ ذَهَبَ فِيهِ إِلَى طَرِيقِ مُجَاهَدَةِ النَّفْسِ وَلَهُ وَجْهٌ.
Jika berjalan lebih berat baginya, seperti orang kaya, maka berjalan lebih utama baginya. Seakan-akan beliau menempuh jalan jihad terhadap diri sendiri, dan itu ada logikanya.
وَلَكِنَّ الْأَفْضَلَ لَهُ أَنْ يَمْشِيَ وَيُصْرِفَ ذٰلِكَ الدِّرْهَمَ إِلَى خَيْرٍ، فَهُوَ أَوْلَى مِنْ صَرْفِهِ إِلَى الْمُكَارِي عِوَضًا عَنْ ابْتِذَالِ الدَّابَّةِ.
Namun yang lebih utama baginya adalah berjalan dan menggunakan dirham tersebut untuk kebaikan; ini lebih utama daripada memberikannya kepada penyewa sebagai pengganti pelelahan hewan.
فَإِذَا كَانَتْ لَا تَتَّسِعُ نَفْسُهُ لِلْجَمْعِ بَيْنَ مَشَقَّةِ النَّفْسِ وَنُقْصَانِ الْمَالِ فَمَا ذُكِرَهُ غَيْرُ بَعِيدٍ فِيهِ.
Jika ia tidak sanggup menanggung kombinasi antara beratnya berjalan dan pengeluaran uang, maka yang disebutkan tadi tidaklah jauh dari kebenaran.
السَّادِسُ أَنْ لَا يَرْكَبَ إِلَّا زَامِلَةً، أَمَّا الْمَحْمَلُ فَلِيَجْتَنِبْهُ إِلَّا إِذَا كَانَ يَخَافُ عَلَى الزَّامِلَةِ أَنْ لَا يَسْتَمْسِكَ عَلَيْهَا لِعُذْرٍ، وَفِيهِ مَعْنِيَانِ.
Keenam: hendaklah ia hanya menaiki zâmila (kendaraan sederhana/ekor tunggangan), sedangkan mahmal (kendaraan mewah) dijauhi kecuali jika ia khawatir zâmila tidak akan bertahan, dan di sini ada dua makna.
أَحَدُهُمَا: التَّخْفِيفُ عَلَى الْبَعِيرِ فَإِنَّ الْمَحْمَلَ يُؤْذِيهِ.
Yang pertama: meringankan beban unta, karena mahmal dapat menyakitinya.
وَالثَّانِي: اجْتِنَابُ زِيِّ الْمُتَرَفِّينَ الْمُتَكَبِّرِينَ.
Yang kedua: menghindari pakaian atau kendaraan orang kaya yang sombong.
حَجَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَاحِلَةٍ وَكَانَ تَحْتَهُ رَحْلٌ رَثٌّ وَقُطِيفَةٌ خُلْقَتُهَا أَرْبَعَةُ دَرَاهِم.
Rasulullah ﷺ menunaikan haji dengan tunggangan, dan di bawahnya ada sadel lusuh dan kain kapas seharga empat dirham.
وَطَافَ عَلَى الرَّاحِلَةِ لِيَنْظُرَ النَّاسُ إِلَى هَدْيِهِ وَشَمَائِلِهِ.
Beliau berkeliling dengan tunggangan agar orang melihat bimbingan dan akhlaknya.
وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ.
Dan Rasulullah ﷺ bersabda: “Ambillah manasik haji kalian dariku.”
وَقِيلَ: إِنَّ هَذِهِ الْمَحَامِلَ أُحْدِثَهَا الْحُجَّاجُ، وَكَانَ الْعُلَمَاءُ فِي وَقْتِهِ يَنْكُرُونَهَا.
Dikatakan: “Mahmal ini diciptakan oleh para jamaah haji, dan para ulama pada zamannya menolaknya.”
فَرَوَى سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ: بَرَزْتُ مِنَ الْكُوفَةِ إِلَى الْقَادِسِيَّةِ لِلْحَجِّ وَوَافَيْتُ الرِّفَاقَ مِنَ الْبِلَادِ فَرَأَيْتُ الْحَاجَّ كُلَّهُمْ عَلَى زَامِلَاتٍ وَجَوَالِقَاتٍ وَرَوَاحِلَ، وَمَا رَأَيْتُ فِي جَمِيعِهِمْ إِلَّا مَحْمَلَيْنِ.
Sufyan ath-Thawri meriwayatkan dari ayahnya: “Aku berangkat dari Kufah ke Qadisiyah untuk haji dan menemui rombongan dari berbagai negeri. Aku melihat semua jamaah haji menggunakan zâmila, jawāliq, dan tunggangan, dan aku tidak melihat dari mereka kecuali dua mahmal.”
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا نَظَرَ إِلَى مَا أُحْدِثَ الْحُجَّاجُ مِنَ الزِّيِّ وَالْمَحَامِلِ يَقُولُ: الْحَاجُّ قَلِيلٌ وَالرُّكْبُ كَثِيرٌ، ثُمَّ نَظَرَ إِلَى رَجُلٍ مَسْكِينٍ رَثّ الْهَيْئَةِ تَحْتَهُ جَوَالٌ، فَقَالَ: هَذَا نِعْمَ مِنَ الْحُجَّاجِ.
Dan Ibnu Umar, bila melihat apa yang dibuat jamaah dari pakaian dan mahmal, berkata: “Hajinya sedikit, kendaraannya banyak.” Kemudian ia melihat seorang miskin dengan keadaan lusuh dan di bawahnya ada jawāl, lalu berkata: “Ini adalah jamaah yang baik.”
السَّابِعُ أَنْ يَكُونَ رَثَّ الْهَيْئَةِ أَشْعَثَ أَغْبَرَ غَيْرَ مُسْتَكْثِرٍ مِنَ الزِّينَةِ وَلَا مَائِلٍ إِلَى أَسْبَابِ التَّفَاخُرِ وَالتَّكَاثُرِ.
Ketujuh: hendaklah ia berpakaian lusuh, berambut acak, berdebu, tidak berlebihan dalam berhias, dan tidak condong pada sebab-sebab kesombongan dan kelebihan harta.
فَيُكْتَبُ فِي دِوَانِ الْمُتَكَبِّرِينَ الْمُتَرَفِّهِينَ وَيَخْرُجُ عَنْ حِزْبِ الضُّعَفَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَخُصُوصِ الصَّالِحِينَ.
Ia tercatat di antara orang-orang sombong yang hidup mewah, dan keluar dari golongan orang lemah, miskin, serta khususnya orang-orang saleh.
فَقَدْ أَمَرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالشَّعْثِ وَالِاخْتِفَاءِ وَنَهَى عَنِ التَّنَعُّمِ وَالرَّفَاهِيَةِ فِي حَدِيثِ فُضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ.
Karena Rasulullah ﷺ memerintahkan berpakaian acak dan menyembunyikan diri, dan melarang kemewahan dan kemanjaan, sebagaimana dalam hadits Fudala bin ‘Ubaid.
وَفِي الْحَدِيثِ: إِنَّمَا الْحَاجُّ الشَّعْثُ النَّفْثُ.
Dalam hadits disebutkan: “Sesungguhnya haji itu (adalah) lusuh dan berdebu.”
وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: انْظُرُوا إِلَى زُوَّارِ بَيْتِي قَدْ جَاءُونِي شَعْثًا غُبْرًا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ.
Allah Ta’ala berfirman: “Perhatikanlah para pengunjung rumah-Ku, mereka datang kepadaku dalam keadaan lusuh dan berdebu dari setiap lembah yang dalam.”
وَقَالَ تَعَالَى: ثُمَّ لِيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَالتَّفَثُ الشَّعْثُ وَالْأَغْبَرَارُ وَقَضَاؤُهُ بِالْحَلْقِ وَقَصِّ الشَّارِبِ وَالْأَظْفَارِ.
Dan Allah berfirman: “Kemudian hendaklah mereka menyempurnakan pembersihan diri mereka; pembersihan itu adalah dengan mencukur rambut acak dan berdebu, serta disempurnakan dengan memotong rambut, kumis, dan kuku.”
وَكُتِبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى أُمَرَاءِ الْأَجْنَادِ: اخْلُلُقُوا وَاخْشُوشِنُوا، أَيْ الْبِسُوا الْخَلْقَانَ وَاسْتَعْمِلُوا الْخَشُونَةَ فِي الْأَشْيَاءِ.
Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu menulis kepada para penguasa pasukan: “Buatlah pakaian longgar dan kasar, yakni kenakan pakaian sederhana dan gunakan kekasaran dalam hal-hal duniawi.”
وَقَدْ قِيلَ: زَيَّنَ الْحُجَّاجَ أَهْلُ الْيَمَنِ لِأَنَّهُمْ عَلَى هَيْئَةِ التَّوَاضُعِ وَالضَّعْفِ وَسِيرَةِ السَّلَفِ.
Dikatakan: “Orang-orang Yaman memperindah jamaah haji karena mereka dalam keadaan sederhana, lemah, dan meneladani cara hidup salaf.”
فَيَنْبَغِي أَنْ يَجْتَنِبَ الْحُمْرَةَ فِي زِيِّهِ عَلَى الْخُصُوصِ وَالشُّهْرَةَ كَيْفَمَا كَانَتْ عَلَى الْعُمُومِ.
Oleh karena itu, hendaklah ia menjauhi warna merah pada pakaiannya secara khusus, dan menjauhi kemasyhuran secara umum.
فَقَدْ رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي سَفَرٍ فَنَزَلَ أَصْحَابُهُ مَنْزِلًا فَسَرَحَتِ الْإِبِلُ فَنَظَرَ إِلَى أَكْسِيَةٍ حُمْرٍ عَلَى الْأَقْتَابِ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرَى هَذِهِ الْحُمْرَةَ قَدْ غَلَبَتْ عَلَيْكُمْ.
Telah diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan, lalu para sahabat singgah di suatu tempat, dan unta-unta dilepas merumput. Beliau melihat beberapa pelana berwarna merah di punggung unta dan bersabda: “Aku lihat warna merah ini telah menguasai kalian.”
قَالُوا فَقُمْنَا إِلَيْهَا وَنَزَعْنَاهَا عَنْ ظُهُورِهَا حَتَّى شَرَدَ بَعْضُ الإِبِلِ.
Mereka berkata: “Maka kami pergi kepadanya dan melepaskannya dari punggung unta-unta hingga beberapa unta pun lari.”
الثَّامِنُ أَنْ يُرْفَقَ بِالدَّابَّةِ فَلَا يُحْمَلْهَا مَا لَا تَطِيقُ وَالْمَحْمَلُ خَارِجٌ عَنْ حَدِّ طَاقَتِهَا وَالنَّوْمُ عَلَيْهَا يُؤْذِيهَا وَيُثَقِّلُ عَلَيْهَا.
Kedelapan: hendaklah bersikap lembut terhadap tunggangannya, jangan membebani melebihi kemampuannya, karena mahmal melebihi batas kemampuannya, dan tidur di atasnya menyakitinya serta memberatkannya.
كَانَ أَهْلُ الْوَرَعِ لَا يَنَامُونَ عَلَى الدَّوَابِّ إِلَّا غَفْوَةً عَنْ قُعُودٍ، وَكَانُوا لَا يَقِفُونَ عَلَيْهَا الْوَقُوفَ الطَّوِيلَ.
Orang-orang yang wara’ tidak tidur di atas hewan tunggangan kecuali sekejap sambil duduk, dan tidak berdiri lama di atasnya.
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَتَّخِذُوا ظُهُورَ دَوَابِّكُمْ كَرَاسِيًّا.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Jangan jadikan punggung tunggangan kalian sebagai kursi.”
وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَنْزِلَ عَنْ دَابَّتِهِ غَدْوَةً وَعَشِيَّةً لِيُرَوِّحَهَا بِذَلِكَ فَهُوَ سُنَّةٌ.
Disunahkan untuk turun dari tunggangannya pagi dan sore agar ia dapat beristirahat, dan itu adalah sunnah.
وَفِيهِ آثَارٌ عَنِ السَّلَفِ.
Dan dalam hal ini ada riwayat dari para salaf.
وَكَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يَكْتَرِي بِشَرْطِ أَنْ لَا يَنْزِلَ وَيُوفِي الْأُجْرَةَ ثُمَّ كَانَ يَنْزِلُ عَنْهَا لِيَكُونَ بِذَلِكَ مُحْسِنًا إِلَى الدَّابَّةِ فَيَكُونَ فِي حَسَنَاتِهِ وَيُوضَعُ فِي مِيزَانِهِ لَا فِي مِيزَانِ الْمُكَّارِي.
Sebagian salaf menyewa (tunggangan) dengan syarat tidak turun dan membayar upahnya, kemudian ia turun dari tunggangan itu agar menjadi orang yang berbuat baik kepada hewan itu; maka kebaikan itu dicatat untuknya dan dimasukkan ke timbangan amalnya, bukan ke timbangan orang yang menyewakan.
وَكُلُّ مَنْ آذَى بِهِيمَةً وَحَمَلَهَا مَا لَا تَطِيقُ طُلِبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Dan siapa pun yang menyakiti hewan atau membebani melebihi kemampuannya akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat.
قَالَ أَبُو الدَّرْدَاء لِبَعِيرٍ لَهُ عِنْدَ الْمَوْتِ: يَا أَيُّهَا الْبَعِيرُ لَا تُخَاصِمْنِي إِلَى رَبِّكَ فَإِنِّي لَمْ أَكُنْ أَحْمِلُكَ فَوْقَ طَاقَتِكَ.
Abu Darda’ berkata kepada untanya ketika hendak wafat: “Hai untaku, jangan kau adukan aku kepada Tuhanmu, karena aku tidak pernah membebanimu melebihi kemampuanmu.”
وَعَلَى الْجُمْلَةِ فِي كُلِّ كَبِدٍ حَرَاءٍ أَجْرٌ فَلِيُرَاعَ حَقُّ الدَّابَّةِ وَحَقُّ الْمُكَّارِي جَمِيعًا وَفِي نُزُولِهِ سَاعَةٌ تَرْوِيحُ الدَّابَّةِ وَسُرُورُ قَلْبِ الْمُكَّارِي.
Secara keseluruhan, pada setiap punggung hewan yang digunakan terdapat pahala; maka hendaklah diperhatikan hak hewan dan hak pemiliknya, dan saat turun ada waktu untuk melepaskan hewan dari beban sekaligus membahagiakan pemiliknya.
قَالَ رَجُلٌ لِابْنِ الْمُبَارَكِ: احْمِلْ لِي هَذَا الْكِتَابَ مَعَكَ لِتُوصِلَهُ، فَقَالَ: حَتَّى أَسْتَأْمِرَ الْجِمَالَ فَإِنِّي قَدِ اكْتَرَيْتُ.
Seorang lelaki berkata kepada Ibn al-Mubarak: “Bawakan buku ini bersamamu untuk disampaikan.” Ia menjawab: “Sampai aku minta izin dari untanya, karena aku telah menyewanya.”
فَانْظُرْ كَيْفَ تَوَرَّعَ مِنَ اسْتِصْحَابِ كِتَابٍ لَا وَزْنَ لَهُ وَهُوَ طَرِيقُ الْحِزْمِ فِي الْوَرَعِ فَإِنَّهُ إِذَا فُتِحَ بَابُ الْقَلِيلِ انْجَرَّ إِلَى الْكَثِيرِ يَسِيرًا يَسِيرًا.
Perhatikan bagaimana ia berhati-hati hanya dengan membawa buku tanpa berat, ini adalah cara tegas dalam wara’, karena jika dibuka pintu hal kecil, bisa meluas menjadi besar sedikit demi sedikit.
التَّاسِعُ أَنْ يَتَقَرَّبَ بِإِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ وَاجِبًا عَلَيْهِ وَيَجْتَهِدَ أَنْ يَكُونَ مِنْ سَمِينِ النِّعَمِ وَنَفِيسِهَا وَلِيَأْكُلْ مِنْهُ إِنْ كَانَ تَطَوُّعًا وَلَا يَأْكُلْ مِنْهُ إِنْ كَانَ وَاجِبًا.
Kesembilan: hendaklah mendekatkan diri dengan menyembelih hewan, meskipun tidak wajib baginya, dan berusaha menggunakan hewan dari yang gemuk dan mahal; ia boleh memakannya jika itu sunnah, dan tidak memakannya jika itu wajib.
قِيلَ فِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ تَعَالَى: ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ إِنَّهُ تَحْسِينُهُ وَتَسْمِينُهُ.
Dikatakan dalam tafsir ayat-Nya: “Itu (pengorbanan), dan siapa yang mengagungkan syi’ar Allah, sesungguhnya itu adalah penghormatan dan pemberian terbaik (gemuk) untuk-Nya.”
وَسُوقُ الْهَدْيِ مِنَ الْمِيَاقَاتِ أَفْضَلُ إِنْ كَانَ لَا يَجْهَدُهُ وَلَا يُكْدِهُ وَيُتْرَكُ الْمَكَاسُ فِي شِرَائِهِ فَقَدْ كَانُوا يُغَالُونَ فِي ثَلَاثٍ وَيَكْرَهُونَ.
Membawa hewan kurban dari miqat lebih utama jika itu tidak melelahkan dan menyulitkan, dan hendaklah menjauhi pedagang yang menipu dalam membeli, karena mereka biasa menaikkan harga hingga tiga kali dan itu dibenci.
الْمَكَاسُ فِيهِنَّ الْهَدْيُ وَالْأُضْحِيَّةُ وَالرَّقَبَةُ فَإِنَّ أَفْضَلَ ذَلِكَ أَغْلَاهُ ثَمَنًا وَأَنْفَسُهُ عِنْدَ أَهْلِهِ.
Di antara hewan (yang digunakan untuk ibadah) adalah hewan kurban, udhiyah, dan budak yang ditebus; sesungguhnya yang paling utama adalah yang paling mahal harganya dan paling berharga bagi pemiliknya.
وَرَوَى ابْنُ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَهْدَى بُخْتِيَةً فَطُلِبَتْ مِنْهُ بِثَلَاثِمِائَةِ دِينَارٍ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيعَهَا وَيَشْتَرِيَ بِثَمَنِهَا بَدَنًا فَنَهَاهُ عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ بَلْ أَهْدِهَا.
Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu menghadiahkan seekor unta betina, lalu diminta dijual seharga 300 dinar; ia menanyakan kepada Rasulullah ﷺ apakah boleh menjualnya dan membeli seekor unta dengan harganya, namun Rasulullah ﷺ melarangnya dan berkata: “Tetaplah hadiahkan itu.”
وَذَلِكَ لِأَنَّ الْقَلِيلَ الْجَيِّدَ خَيْرٌ مِنَ الْكَثِيرِ الدُّونِ وَفِي ثَلَاثِمِائَةِ دِينَارٍ قِيمَةُ ثَلَاثِينَ بَدَنَةً وَفِيهَا تَكْثِيرُ اللَّحْمِ وَلَكِنْ لَيْسَ الْمَقْصُودُ اللَّحْمُ إِنَّمَا الْمَقْصُودُ تَزْكِيَةُ النَّفْسِ وَتَطْهِيرُهَا عَنْ صِفَةِ الْبُخْلِ وَتَزْيِينُهَا بِجَمَالِ التَعْظِيمِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Itu karena sedikit yang baik lebih utama daripada banyak yang rendah; dan dengan 300 dinar nilainya setara dengan 30 unta, sehingga dagingnya banyak, tetapi yang dimaksud bukanlah daging, melainkan mensucikan jiwa dari sifat kikir dan memperindahnya dengan kemuliaan mengagungkan Allah azza wa jalla.
فَـ{لَنْ يَنَالَ اللَّهُ لُحُومَهَا وَلَا دِمَاؤَهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ} وَذَلِكَ يَحْصُلُ بِمُرَاعَاةِ النَّفَاسَةِ فِي الْقِيمَةِ كَثُرَ الْعَدَدُ أَوْ قَلَّ.
“…Allah tidak akan memperoleh dagingnya dan tidak pula darahnya, tetapi yang Dia peroleh adalah takwa dari kalian” (Al-Hajj:37); hal ini tercapai dengan memperhatikan nilai hewan, apakah jumlahnya banyak atau sedikit.
وَسَأَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَرُّ الْحَجِّ فَقَالَ: الْعَجُّ وَالثُّجُّ.
Rasulullah ﷺ ditanya: “Apa yang termasuk kebaikan haji?” Beliau menjawab: “Al-‘ajju wa ath-thuju.”
وَالْعَجُّ هُوَ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالتَّلْبِيَةِ وَالثُّجُّ هُوَ نَحْرُ الْبَدَنِ.
Al-‘ajju adalah meninggikan suara dengan talbiyah, dan ath-thuju adalah penyembelihan hewan kurban.
وَرَوَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ إِهْرَاقِهِ دَمًا.
Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada amal seorang manusia pada hari penyembelihan yang lebih dicintai Allah azza wa jalla daripada menumpahkan darahnya (hewan kurban).”
وَأَنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَإِنَّ الدَّمَ يَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ بِالْأَرْضِ فَطَيِّبُوا بِهَا نَفْسًا.
Dan hewan itu akan datang pada hari kiamat beserta tanduk dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya darah itu jatuh dari Allah azza wa jalla terlebih dahulu sebelum jatuh ke tanah; maka bersihkanlah jiwa kalian dengannya.
وَفِي الْخَبَرِ لَكُمْ بِكُلِّ صُوفَةٍ مِنْ جِلْدِهَا حَسَنَةٌ وَكُلِّ قَطْرَةٍ مِنْ دَمِهَا حَسَنَةٌ وَإِنَّهَا لَتُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ فَابْشِرُوا.
Dalam riwayat itu: untuk setiap bulu dari kulitnya ada pahala, dan setiap tetes darahnya ada pahala; dan semua itu dimasukkan dalam timbangan amal, maka bergembiralah.
وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اسْتَنْجِدُوا هَدَايَاكُمْ فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Mintalah pertolongan melalui hewan kurban kalian, karena itu adalah tunggangan kalian pada hari kiamat.”
الْعَاشِرُ أَنْ يَكُونَ طَيِّبَ النَّفْسِ بِمَا أَنْفَقَهُ مِنْ نَفَقَةٍ وَهَدْيٍ وَبِمَا أَصَابَهُ مِنْ خُسْرَانٍ وَمُصِيبَةٍ فِي مَالٍ أَوْ بَدَنٍ إِنْ أَصَابَهُ ذَلِكَ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ دَلَائِلِ قُبُولِ حَجِّهِ.
Kesepuluh: hendaklah bersikap tenang dan ikhlas atas pengeluaran biaya dan hewan kurban, serta atas kerugian atau musibah yang menimpa harta atau tubuhnya; jika hal itu menimpa, maka itu termasuk tanda diterimanya hajinya.
فَإِنَّ الْمُصِيبَةَ فِي طَرِيقِ الْحَجِّ تُعَادِلُ النَّفَقَةَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، الدِّرْهَمُ بِسَبْعُمِائَةِ دِرْهَمٍ، بِمِثَالِ الشَّدَائِدِ فِي طَرِيقِ الْجِهَادِ فَلَهُ بِكُلِّ أَذًى احْتَمَلَهُ وَخُسْرَانٍ أَصَابَهُ ثَوَابٌ فَلَا يَضِيعُ مِنْهُ شَيْءٌ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Sesungguhnya musibah dalam perjalanan haji setara dengan pengeluaran di jalan Allah azza wa jalla, di mana satu dirham setara dengan 700 dirham, seperti kesulitan dalam jihad; maka setiap kesulitan yang ditanggung atau kerugian yang menimpa akan ada pahala, dan tidak akan hilang sedikit pun di sisi Allah azza wa jalla.
وَيُقَالُ إِنَّ مِنْ عَلَامَاتِ قُبُولِ الْحَجِّ أَيْضًا تَرْكُ مَا كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْمَعَاصِي وَأَنْ يَتَبَدَّلَ بِإِخْوَانِهِ الْبَطَّالِينَ إِخْوَانًا صَالِحِينَ وَبِمَجَالِسِ اللَّوْ وَالْغَفْلَةِ مَجَالِسَ الذِّكْرِ وَالْيَقَظَةِ.
Dan dikatakan, salah satu tanda diterimanya haji juga adalah meninggalkan dosa-dosa yang biasa dilakukan dan mengganti teman-teman yang malas dengan teman-teman yang shalih, serta mengganti majelis main-main dan kelalaian dengan majelis dzikir dan kewaspadaan.
[بَيَانُ الْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَوَجْهُ الإِخْلَاصِ فِي النِّيَّةِ وَطَرِيقُ الِاعْتِبَارِ بِالْمَشَاهِدِ الشَّرِيفَةِ وَكَيْفِيَّةِ الاِفْتِكَارِ فِيهَا وَالتَّذَكُّرِ لِأَسْرَارِهَا وَمَعَانِيهَا مِنْ أَوَّلِ الْحَجِّ إِلَى آخِرِهِ
[Penjelasan tentang amalan batin, hakikat ikhlas dalam niat, dan cara mengambil pelajaran dari tempat-tempat suci yang mulia serta bagaimana cara merenungkannya dan mengingat rahasia-rahasia serta makna-maknanya, sejak awal hingga akhir haji]
اعْلَمْ أَنَّ أَوَّلَ الْحَجِّ الْفَهْمُ أَعْنِي فَهْمَ مَوْقِعِ الْحَجِّ فِي الدِّينِ
Ketahuilah bahwa awal dari haji adalah pemahaman, yaitu memahami kedudukan haji dalam agama.
ثُمَّ الشَّوْقُ إِلَيْهِ ثُمَّ الْعَزْمُ عَلَيْهِ
Kemudian timbul kerinduan kepadanya, lalu tekad untuk melaksanakannya.
ثُمَّ قَطْعُ الْعَلَائِقِ الْمَانِعَةِ مِنْهُ
Kemudian memutus segala keterikatan yang menghalangi darinya.
ثُمَّ شِرَاءُ ثَوْبِ الإِحْرَامِ ثُمَّ شِرَاءُ الزَّادِ
Lalu membeli pakaian ihram, kemudian menyiapkan bekal.
ثُمَّ اكْتِرَاءُ الرَّاحِلَةِ ثُمَّ الْخُرُوجُ
Kemudian menyewa kendaraan, lalu berangkat.
ثُمَّ الْمَسِيرُ فِي الْبَادِيَةِ
Kemudian berjalan di padang pasir.
ثُمَّ الإِحْرَامُ مِنَ الْمِيقَاتِ بِالتَّلْبِيَةِ
Kemudian berihram dari miqat dengan membaca talbiyah.
ثُمَّ دُخُولُ مَكَّةَ
Kemudian memasuki kota Makkah.
ثُمَّ اسْتِتْمَامُ الأَفْعَالِ كَمَا سَبَقَ
Lalu menyempurnakan seluruh amalan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
وَفِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الأُمُورِ تَذْكِرَةٌ لِلْمُتَذَكِّرِ وَعِبْرَةٌ لِلْمُعْتَبِرِ
Dalam setiap perkara tersebut terdapat pengingat bagi yang mau mengingat dan pelajaran bagi yang mau mengambil ibrah.
وَتَنْبِيهٌ لِلْمُرِيدِ الصَّادِقِ وَتَعْرِيفٌ وَإِشَارَةٌ لِلْفَطِنِ
Serta peringatan bagi pencari yang jujur dan petunjuk serta isyarat bagi orang yang cerdas.
فَلْنَرْمُزْ إِلَى مَفَاتِحِهَا
Maka mari kita isyaratkan kunci-kuncinya.
حَتَّى إِذَا انْفَتَحَ بَابُهَا وَعُرِفَتْ أَسْبَابُهَا
Agar ketika pintunya terbuka dan sebab-sebabnya diketahui,
انْكَشَفَتْ لِكُلِّ حَاجٍّ مِنْ أَسْرَارِهَا مَا يَقْتَضِيهِ صَفَاءُ قَلْبِهِ وَطَهَارَةُ بَاطِنِهِ وَغَزَارَةُ فَهْمِهِ
akan tersingkap bagi setiap orang yang berhaji rahasia-rahasianya sesuai kejernihan hati, kesucian batin, dan kedalaman pemahamannya.
أَمَّا الْفَهْمُ اعْلَمْ أَنَّهُ لَا وُصُولَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَّا بِالتَّنَزُّهِ عَنِ الشَّهَوَاتِ
Adapun pemahaman, ketahuilah bahwa tidak ada jalan sampai kepada Allah ﷻ kecuali dengan menjauhkan diri dari hawa nafsu.
وَالْكَفِّ عَنِ اللَّذَّاتِ وَالاِقْتِصَارِ عَلَى الضَّرُورَاتِ فِيهَا
Menahan diri dari kenikmatan, dan membatasi diri pada kebutuhan yang pokok saja.
وَالتَّجَرُّدِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ فِي جَمِيعِ الْحَرَكَاتِ وَالسَّكَنَاتِ
Serta mengosongkan diri hanya untuk Allah dalam seluruh gerak dan diam.
وَلِأَجْلِ هَذَا انْفَرَدَ الرُّهْبَانِيُّونَ فِي الْمِلَلِ السَّالِفَةِ عَنِ الْخَلْقِ
Karena itu para rahib pada umat-umat terdahulu menyendiri dari manusia.
وَانْحَازُوا إِلَى قُلَلِ الْجِبَالِ
Dan mereka pergi ke puncak-puncak gunung.
وَآثَرُوا التَّوَحُّشَ عَنِ الْخَلْقِ لِطَلَبِ الأُنْسِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Mereka memilih menjauh dari manusia demi mencari keakraban dengan Allah ﷻ.
فَتَرَكُوا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ اللَّذَّاتِ الْحَاضِرَةَ
Mereka meninggalkan kenikmatan dunia demi Allah ﷻ.
وَأَلْزَمُوا أَنْفُسَهُمُ الْمُجَاهَدَاتِ الشَّاقَّةَ طَمَعًا فِي الآخِرَةِ
Dan mereka membebani diri dengan perjuangan berat demi mengharap akhirat.
وَأَثْنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِمْ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ {ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ}
Dan Allah memuji mereka dalam kitab-Nya: “Yang demikian itu karena di antara mereka ada para pendeta dan rahib, dan mereka tidak menyombongkan diri.”
فَلَمَّا انْدَرَسَ ذَلِكَ وَأَقْبَلَ الْخَلْقُ عَلَى اتِّبَاعِ الشَّهَوَاتِ
Ketika hal itu telah pudar dan manusia beralih mengikuti hawa nafsu,
وَهَجَرُوا التَّجَرُّدَ لِعِبَادَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَفَتَرُوا عَنْهُ
Mereka meninggalkan pengabdian total kepada Allah dan menjadi lemah dalam beribadah,
بَعَثَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Maka Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad ﷺ,
لِإِحْيَاءِ طَرِيقِ الآخِرَةِ وَتَجْدِيدِ سُنَّةِ الْمُرْسَلِينَ فِي سُلُوكِهَا
Untuk menghidupkan kembali jalan akhirat dan memperbarui sunnah para rasul dalam menempuhnya.
فَسَأَلَهُ أَهْلُ الْمِلَلِ عَنِ الرُّهْبَانِيَّةِ وَالسِّيَاحَةِ فِي دِينِهِ
Lalu para pemeluk agama bertanya kepadanya tentang kerahiban dan pengembaraan dalam agamanya.
فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَبْدَلَنَا اللَّهُ بِهَا الْجِهَادَ وَالتَّكْبِيرَ عَلَى كُلِّ شَرَفٍ
Maka beliau ﷺ bersabda: “Allah telah menggantinya bagi kami dengan jihad dan bertakbir di setiap ketinggian.”
يَعْنِي الْحَجَّ
Yang dimaksud adalah ibadah haji.
وَسُئِلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّائِحِينَ فَقَالَ هُمُ الصَّائِمُونَ
Dan beliau ﷺ ditanya tentang orang-orang yang berwisata (dalam makna ibadah), maka beliau bersabda: mereka adalah orang-orang yang berpuasa.
فَأَنْعَمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ بِأَنْ جَعَلَ الْحَجَّ رَهْبَانِيَّةً لَهُمْ فَشَرَّفَ الْبَيْتَ الْعَتِيقَ بِالْإِضَافَةِ إِلَى نَفْسِهِ تَعَالَى
Maka Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung telah menganugerahkan kepada umat ini dengan menjadikan haji sebagai bentuk kerahiban bagi mereka, lalu Dia memuliakan Baitul ‘Atiq dengan menisbahkannya kepada diri-Nya Yang Maha Tinggi.
وَنَصَبَهُ مَقْصِدًا لِعِبَادِهِ وَجَعَلَ مَا حَوَالَيْهِ حَرَمًا لِبَيْتِهِ تَفْخِيمًا لِأَمْرِهِ
Dan Dia menjadikannya sebagai tujuan bagi hamba-hamba-Nya, serta menjadikan sekelilingnya sebagai tanah haram bagi rumah-Nya untuk mengagungkan urusan-Nya.
وَجَعَلَ عَرَفَاتٍ كَالْمِيزَابِ عَلَى فِنَاءِ حَوْضِهِ وَأَكَّدَ حُرْمَةَ الْمَوْضِعِ بِتَحْرِيمِ صَيْدِهِ وَشَجَرِهِ
Dan Dia menjadikan Arafah seperti pancuran di halaman telaga-Nya, serta menegaskan kehormatan tempat itu dengan mengharamkan berburu di dalamnya dan memotong pepohonannya.
وَوَضَعَهُ عَلَى مِثَالِ حَضْرَةِ الْمُلُوكِ يَقْصِدُهُ الزُّوَّارُ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ وَمِنْ كُلِّ أَوْبٍ سَحِيقٍ شُعْثًا غُبْرًا مُتَوَاضِعِينَ لِرَبِّ الْبَيْتِ وَمُسْتَكِينِينَ لَهُ خُضُوعًا لِجَلَالِهِ وَاسْتِكَانَةً لِعِزَّتِهِ
Dan Dia menempatkannya seperti istana para raja, yang didatangi para peziarah dari setiap penjuru yang jauh dan dari setiap tempat yang terpencil, dalam keadaan kusut dan berdebu, merendahkan diri kepada Tuhan pemilik rumah itu, tunduk karena keagungan-Nya dan berserah diri karena kemuliaan-Nya.
مَعَ الِاعْتِرَافِ بِتَنْزِيهِهِ عَنْ أَنْ يَحْوِيَهُ بَيْتٌ أَوْ يَكْتَنِفَهُ بَلَدٌ لِيَكُونَ ذَلِكَ أَبْلَغَ فِي رِقِّهِمْ وَعُبُودِيَّتِهِمْ وَأَتَمَّ فِي إِذْعَانِهِمْ وَانْقِيَادِهِمْ
Disertai pengakuan bahwa Allah Maha Suci dari diliputi oleh rumah atau dibatasi oleh negeri, agar hal itu lebih mendalam dalam perendahan diri dan penghambaan mereka, serta lebih sempurna dalam kepatuhan dan ketundukan mereka.
وَلِذَلِكَ وَظَّفَ عَلَيْهِمْ فِيهَا أَعْمَالًا لَا تَأْنَسُ بِهَا النُّفُوسُ وَلَا تَهْتَدِي إِلَى مَعَانِيهَا الْعُقُولُ كَرَمْيِ الْجِمَارِ بِالْأَحْجَارِ وَالتَّرَدُّدِ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ عَلَى سَبِيلِ التَّكْرَارِ
Oleh karena itu, Dia mewajibkan kepada mereka dalam ibadah tersebut amalan-amalan yang tidak disukai oleh jiwa dan tidak dapat dijangkau maknanya oleh akal, seperti melempar jumrah dengan batu dan bolak-balik antara Shafa dan Marwah secara berulang.
وَبِمِثْلِ هَذِهِ الْأَعْمَالِ يَظْهَرُ كَمَالُ الرِّقِّ وَالْعُبُودِيَّةِ
Dan dengan amalan-amalan semacam ini tampaklah kesempurnaan kehinaan diri (sebagai hamba) dan penghambaan.
فَإِنَّ الزَّكَاةَ إِرْفَاقٌ وَوَجْهُهُ مَفْهُومٌ وَلِلْعَقْلِ إِلَيْهِ مَيْلٌ
Karena zakat adalah bentuk kebaikan yang maknanya dapat dipahami, dan akal pun cenderung kepadanya.
وَالصَّوْمُ كَسْرٌ لِلشَّهْوَةِ الَّتِي هِيَ آلَةُ عَدُوِّ اللَّهِ وَتَفَرُّغٌ لِلْعِبَادَةِ بِالْكَفِّ عَنِ الشَّوَاغِلِ
Dan puasa adalah mematahkan syahwat yang merupakan alat musuh Allah, serta meluangkan diri untuk ibadah dengan meninggalkan kesibukan.
وَالرُّكُوعُ وَالسُّجُودُ فِي الصَّلَاةِ تَوَاضُعٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَفْعَالٍ هِيَ هَيْئَةُ التَّوَاضُعِ وَلِلنُّفُوسِ أُنْسٌ بِتَعْظِيمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Dan ruku’ serta sujud dalam shalat adalah bentuk kerendahan diri kepada Allah dengan perbuatan yang merupakan wujud ketundukan, dan jiwa pun merasa akrab dengan pengagungan kepada Allah.
فَأَمَّا تَرَدُّدَاتُ السَّعْيِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ وَأَمْثَالُ هَذِهِ الْأَعْمَالِ فَلَا حَظَّ لِلنُّفُوسِ وَلَا أُنْسَ فِيهَا وَلَا اهْتِدَاءَ لِلْعَقْلِ إِلَى مَعَانِيهَا
Adapun bolak-balik dalam sa’i, melempar jumrah, dan semisal amalan-amalan ini, maka tidak ada bagian bagi jiwa, tidak ada rasa akrab di dalamnya, dan akal pun tidak menemukan jalan kepada maknanya.
فَلَا يَكُونُ فِي الْإِقْدَامِ عَلَيْهَا بَاعِثٌ إِلَّا الْأَمْرُ الْمُجَرَّدُ وَقَصْدُ الِامْتِثَالِ لِلْأَمْرِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ أَمْرٌ وَاجِبُ الِاتِّبَاعِ فَقَطْ
Maka tidak ada pendorong untuk melakukannya kecuali semata-mata perintah dan niat untuk melaksanakannya karena ia adalah perintah yang wajib diikuti saja.
وَفِيهِ عَزْلٌ لِلْعَقْلِ عَنْ تَصَرُّفِهِ وَصَرْفُ النَّفْسِ وَالطَّبْعِ عَنْ مَحَلِّ أُنْسِهِ
Dan di dalamnya terdapat penonaktifan peran akal dari pengaturannya serta pengalihan jiwa dan tabiat dari tempat kesenangannya.
فَإِنَّ كُلَّ مَا أَدْرَكَ الْعَقْلُ مَعْنَاهُ مَالَ الطَّبْعُ إِلَيْهِ مَيْلًا مَا فَيَكُونُ ذَلِكَ الْمَيْلُ مُعِينًا لِلْأَمْرِ وَبَاعِثًا مَعَهُ عَلَى الْفِعْلِ فَلَا يَكَادُ يَظْهَرُ بِهِ كَمَالُ الرِّقِّ وَالِانْقِيَادِ
Karena setiap hal yang dapat dipahami maknanya oleh akal, maka tabiat akan condong kepadanya, dan kecenderungan itu menjadi penolong bagi perintah serta pendorong untuk melakukannya, sehingga tidak tampak dengan itu kesempurnaan kehinaan diri dan ketundukan.
وَلِذَلِكَ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَجِّ عَلَى الْخُصُوصِ لَبَّيْكَ بِحَجَّةٍ حَقًّا تَعَبُّدًا وَرِقًّا
Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda khusus tentang haji: “Aku penuhi panggilan-Mu dengan haji yang benar-benar sebagai bentuk ibadah dan penghambaan.”
وَلَمْ يَقُلْ ذَلِكَ فِي صَلَاةٍ وَلَا غَيْرِهَا
Dan beliau tidak mengatakan hal itu dalam shalat maupun ibadah lainnya.
وَإِذَا اقْتَضَتْ حِكْمَةُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى رَبْطَ نَجَاةِ الْخَلْقِ بِأَنْ تَكُونَ أَعْمَالُهُمْ عَلَى خِلَافِ هَوَى طِبَاعِهِمْ وَأَنْ يَكُونَ زِمَامُهَا بِيَدِ الشَّرْعِ
Dan apabila hikmah Allah menghendaki bahwa keselamatan makhluk dikaitkan dengan amalan mereka yang bertentangan dengan hawa nafsu tabiat mereka, serta kendalinya berada di tangan syariat,
فَيَتَرَدَّدُونَ فِي أَعْمَالِهِمْ عَلَى سَنَنِ الِانْقِيَادِ وَعَلَى مُقْتَضَى الِاسْتِعْبَادِ
maka mereka akan menjalani amalan-amalan itu di atas jalan kepatuhan dan tuntutan penghambaan.
كَانَ مَا لَا يَهْتَدِي إِلَى مَعَانِيهِ أَبْلَغَ أَنْوَاعِ التَّعَبُّدَاتِ فِي تَزْكِيَةِ النُّفُوسِ وَصَرْفِهَا عَنْ مُقْتَضَى الطِّبَاعِ وَالْأَخْلَاقِ مُقْتَضَى الِاسْتِرْقَاقِ
Maka amalan yang tidak dapat dipahami maknanya adalah jenis ibadah yang paling dalam pengaruhnya dalam menyucikan jiwa dan memalingkannya dari tuntutan tabiat dan akhlak menuju hakikat penghambaan.
وَإِذَا تَفَطَّنْتَ لِهَذَا فَهِمْتَ أَنَّ تَعَجُّبَ النُّفُوسِ مِنْ هَذِهِ الْأَفْعَالِ الْعَجِيبَةِ مَصْدَرُهُ الذُّهُولُ عَنْ أَسْرَارِ التَّعَبُّدَاتِ
Dan jika engkau memahami hal ini, maka engkau akan mengerti bahwa keheranan jiwa terhadap amalan-amalan yang tampak aneh ini bersumber dari kelalaian terhadap rahasia-rahasia ibadah.
وَهَذَا الْقَدْرُ كَافٍ فِي تَفَهُّمِ أَصْلِ الْحَجِّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى
Dan kadar penjelasan ini sudah cukup untuk memahami dasar ibadah haji, insya Allah Ta‘ala.
وَأَمَّا الشَّوْقُ فَإِنَّمَا يَنْبَعِثُ بَعْدَ الْفَهْمِ وَالتَّحَقُّقِ بِأَنَّ الْبَيْتَ بَيْتُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنَّهُ وُضِعَ عَلَى مِثَالِ حَضْرَةِ الْمُلُوكِ
Adapun kerinduan itu, sesungguhnya muncul setelah adanya pemahaman dan keyakinan bahwa rumah itu adalah Rumah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung, dan bahwa ia diletakkan seperti istana para raja.
فَقَاصِدُهُ قَاصِدٌ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَزَائِرٌ لَهُ
Maka orang yang menujunya adalah orang yang menuju kepada Allah dan menjadi tamu-Nya.
وَأَنَّ مَنْ قَصَدَ الْبَيْتَ فِي الدُّنْيَا جَدِيرٌ بِأَنْ لَا يُضَيِّعَ زِيَارَتَهُ فَيُرْزَقَ مَقْصُودَ الزِّيَارَةِ فِي مِيعَادِهِ الْمَضْرُوبِ لَهُ
Dan bahwa siapa yang mendatangi rumah itu di dunia, pantas untuk tidak disia-siakan kunjungannya, sehingga ia diberi rezeki berupa tujuan kunjungan itu pada waktu yang telah ditentukan baginya.
وَهُوَ النَّظَرُ إِلَى وَجْهِ اللَّهِ الْكَرِيمِ فِي دَارِ الْقَرَارِ
Yaitu memandang wajah Allah Yang Maha Mulia di negeri keabadian.
مِنْ حَيْثُ إِنَّ الْعَيْنَ الْقَاصِرَةَ الْفَانِيَةَ فِي دَارِ الدُّنْيَا لَا تَتَهَيَّأُ لِقَبُولِ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا تُطِيقُ احْتِمَالَهُ
Karena sesungguhnya mata yang terbatas dan fana di dunia ini tidak siap untuk menerima pandangan kepada wajah Allah dan tidak mampu menanggungnya.
وَلَا تَسْتَعِدُّ لِلِاكْتِحَالِ بِهِ لِقُصُورِهَا
Dan ia tidak siap untuk “berhias” dengannya karena keterbatasannya.
وَأَنَّهَا إِنْ أُمِدَّتْ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ بِالْبَقَاءِ وَنُزِّهَتْ عَنْ أَسْبَابِ التَّغَيُّرِ وَالْفَنَاءِ اسْتَعَدَّتْ لِلنَّظَرِ وَالْإِبْصَارِ
Dan bahwa jika mata itu di akhirat diberi kekekalan serta disucikan dari sebab-sebab perubahan dan kefanaan, maka ia akan siap untuk melihat dan memandang.
وَلَكِنَّهَا بِقَصْدِ الْبَيْتِ وَالنَّظَرِ إِلَيْهِ تَسْتَحِقُّ لِقَاءَ رَبِّ الْبَيْتِ بِحُكْمِ الْوَعْدِ الْكَرِيمِ
Namun dengan menujui rumah itu dan memandangnya, ia berhak memperoleh perjumpaan dengan Tuhan pemilik rumah tersebut berdasarkan janji yang mulia.
فَالشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُشَوِّقُهُ إِلَى أَسْبَابِ اللِّقَاءِ لَا مَحَالَةَ
Maka kerinduan untuk bertemu Allah pasti akan mendorongnya kepada sebab-sebab pertemuan itu.
هَذَا مَعَ أَنَّ الْمُحِبَّ مُشْتَاقٌ إِلَى كُلِّ مَا لَهُ إِلَى مَحْبُوبِهِ إِضَافَةٌ
Ini di samping bahwa seorang pecinta akan rindu kepada segala sesuatu yang memiliki hubungan dengan yang dicintainya.
وَالْبَيْتُ مُضَافٌ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Dan rumah itu disandarkan kepada Allah.
فَبِالْحَرِيِّ أَنْ يَشْتَاقَ إِلَيْهِ لِمُجَرَّدِ هَذِهِ الْإِضَافَةِ فَضْلًا عَنِ الطَّلَبِ لِنَيْلِ مَا وُعِدَ عَلَيْهِ مِنَ الثَّوَابِ الْجَزِيلِ
Maka sudah sepantasnya ia merindukannya hanya karena penyandaran itu, apalagi untuk meraih pahala besar yang dijanjikan atasnya.
وَأَمَّا الْعَزْمُ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ بِعَزْمِهِ قَاصِدٌ إِلَى مُفَارَقَةِ الْأَهْلِ وَالْوَطَنِ وَمُهَاجِرَةِ الشَّهَوَاتِ وَاللَّذَّاتِ مُتَوَجِّهًا إِلَى زِيَارَةِ بَيْتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Adapun tekad, hendaknya ia mengetahui bahwa dengan tekadnya itu ia sedang menuju untuk meninggalkan keluarga dan tanah air, serta berhijrah dari syahwat dan kenikmatan, menuju ziarah ke rumah Allah.
وَلْيُعَظِّمْ فِي نَفْسِهِ قَدْرَ الْبَيْتِ وَقَدْرَ رَبِّ الْبَيْتِ
Dan hendaknya ia mengagungkan dalam dirinya kedudukan rumah itu dan kedudukan Tuhan pemilik rumah.
وَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ عَزَمَ عَلَى أَمْرٍ رَفِيعٍ شَأْنُهُ خَطِيرٍ أَمْرُهُ
Dan hendaknya ia sadar bahwa ia telah bertekad pada perkara yang tinggi nilainya dan besar urusannya.
وَأَنَّ مَنْ طَلَبَ عَظِيمًا خَاطَرَ بِعَظِيمٍ
Dan bahwa siapa yang mencari sesuatu yang agung, maka ia harus siap mengambil risiko yang besar.
وَلْيَجْعَلْ عَزْمَهُ خَالِصًا لِوَجْهِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ بَعِيدًا عَنْ شَوَائِبِ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ
Dan hendaknya ia menjadikan tekadnya murni karena Allah, jauh dari noda riya’ dan sum’ah.
وَلْيَتَحَقَّقْ أَنَّهُ لَا يُقْبَلُ مِنْ قَصْدِهِ وَعَمَلِهِ إِلَّا الْخَالِصُ
Dan hendaknya ia meyakini bahwa tidak diterima dari niat dan amalnya kecuali yang ikhlas.
وَإِنَّ مِنْ أَفْحَشِ الْفَوَاحِشِ أَنْ يَقْصِدَ بَيْتَ اللَّهِ وَحَرَمَهُ وَالْمَقْصُودُ غَيْرُهُ
Dan termasuk dosa yang sangat buruk adalah seseorang menuju rumah Allah dan tanah haram-Nya, tetapi yang dituju selain-Nya.
فَلْيُصَحِّحْ مَعَ نَفْسِهِ الْعَزْمَ وَتَصْحِيحُهُ بِإِخْلَاصِهِ وَإِخْلَاصُهُ بِاجْتِنَابِ كُلِّ مَا فِيهِ رِيَاءٌ وَسُمْعَةٌ
Maka hendaklah ia meluruskan tekadnya, dan pelurusannya dengan keikhlasan, serta keikhlasan itu dengan menjauhi segala yang mengandung riya’ dan sum’ah.
فَلْيَحْذَرْ أَنْ يَسْتَبْدِلَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ
Maka hendaklah ia berhati-hati agar tidak menukar yang rendah dengan yang lebih baik.
وَأَمَّا قَطْعُ الْعَلَائِقِ فَمَعْنَاهُ رَدُّ الْمَظَالِمِ وَالتَّوْبَةُ الْخَالِصَةُ لِلَّهِ تَعَالَى عَنْ جُمْلَةِ الْمَعَاصِي
Adapun memutus keterikatan, maknanya adalah mengembalikan hak-hak orang lain dan bertaubat dengan tulus kepada Allah dari seluruh dosa.
فَكُلُّ مَظْلِمَةٍ عَلَاقَةٌ وَكُلُّ عَلَاقَةٍ مِثْلُ غَرِيمٍ حَاضِرٍ مُتَعَلِّقٌ بِتَلَابِيبِهِ يُنَادِي عَلَيْهِ
Setiap kezaliman adalah keterikatan, dan setiap keterikatan seperti orang yang menagih yang selalu melekat padanya dan menyerunya.
وَيَقُولُ إِلَى أَيْنَ تَتَوَجَّهُ أَتَقْصِدُ بَيْتَ مَلِكِ الْمُلُوكِ وَأَنْتَ مُضَيِّعٌ أَمْرَهُ فِي مَنْزِلِكَ هَذَا
Ia berkata: ke mana engkau hendak pergi? Apakah engkau menuju rumah Raja segala raja, sementara engkau menyia-nyiakan perintah-Nya di rumahmu ini?
وَمُسْتَهِينٌ بِهِ وَمُهْمِلٌ لَهُ
Dan engkau meremehkannya serta mengabaikannya.
أَوَلَا تَسْتَحْيِي أَنْ تُقْدِمَ عَلَيْهِ قُدُومَ الْعَبْدِ الْعَاصِي فَيَرُدَّكَ وَلَا يَقْبَلَكَ
Tidakkah engkau malu datang kepada-Nya seperti datangnya hamba yang durhaka, lalu Dia menolakmu dan tidak menerimamu?
فَإِنْ كُنْتَ رَاغِبًا فِي قَبُولِ زِيَارَتِكَ فَنَفِّذْ أَوَامِرَهُ وَرُدَّ الْمَظَالِمَ وَتُبْ إِلَيْهِ أَوَّلًا مِنْ جَمِيعِ الْمَعَاصِي
Jika engkau ingin kunjunganmu diterima, maka laksanakan perintah-Nya, kembalikan hak-hak orang lain, dan bertaubatlah terlebih dahulu dari seluruh dosa.
وَاقْطَعْ عَلَاقَةَ قَلْبِكَ عَنِ الِالْتِفَاتِ إِلَى مَا وَرَاءَكَ لِتَكُونَ مُتَوَجِّهًا إِلَيْهِ بِوَجْهِ قَلْبِكَ
Dan putuskan keterikatan hatimu dari menoleh kepada selain-Nya, agar engkau menghadap kepada-Nya dengan hati.
كَمَا أَنَّكَ مُتَوَجِّهٌ إِلَى بَيْتِهِ بِوَجْهِ ظَاهِرِكَ
Sebagaimana engkau menghadap ke rumah-Nya dengan lahirmu.
فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ لَكَ مِنْ سَفَرِكَ أَوَّلًا إِلَّا النَّصَبُ وَالشَّقَاءُ وَآخِرًا إِلَّا الطَّرْدُ وَالرَّدُّ
Jika tidak demikian, maka tidak ada bagimu dari perjalanan itu kecuali keletihan di awal dan penolakan di akhir.
وَلْيَقْطَعِ الْعَلَائِقَ عَنْ وَطَنِهِ انْقِطَاعَ مَنْ قُطِعَ عَنْهُ وَقَدَّرَ أَنْ لَا يَعُودَ إِلَيْهِ
Dan hendaknya ia memutus keterikatan dengan negerinya seperti orang yang terputus darinya dan memperkirakan tidak akan kembali lagi.
وَلْيَكْتُبْ وَصِيَّتَهُ لِأَوْلَادِهِ وَأَهْلِهِ فَإِنَّ الْمُسَافِرَ وَمَالَهُ لَعَلَى خَطَرٍ إِلَّا مَنْ وَقَى اللَّهُ سُبْحَانَهُ
Dan hendaknya ia menulis wasiat untuk anak-anak dan keluarganya, karena seorang musafir dan hartanya berada dalam bahaya kecuali yang dijaga oleh Allah.
وَلْيَتَذَكَّرْ عِنْدَ قَطْعِهِ الْعَلَائِقَ لِسَفَرِ الْحَجِّ قَطْعَ الْعَلَائِقِ لِسَفَرِ الْآخِرَةِ
Dan hendaknya ia mengingat ketika memutus keterikatan untuk perjalanan haji, akan pemutusan keterikatan untuk perjalanan akhirat.
فَإِنَّ ذَلِكَ بَيْنَ يَدَيْهِ عَلَى الْقُرْبِ
Karena hal itu berada di hadapannya dan sangat dekat.
وَمَا يُقَدِّمُهُ مِنْ هَذَا السَّفَرِ طَمَعًا فِي تَيْسِيرِ ذَلِكَ السَّفَرِ فَهُوَ الْمُسْتَقَرُّ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
Dan apa yang ia lakukan dalam perjalanan ini adalah sebagai harapan untuk memudahkan perjalanan itu, karena di sanalah tempat menetap dan kepadanya tempat kembali.
فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَغْفُلَ عَنْ ذَلِكَ السَّفَرِ عِنْدَ الِاسْتِعْدَادِ بِهَذَا السَّفَرِ
Maka tidak sepantasnya ia lalai dari perjalanan (akhirat) itu ketika bersiap dengan perjalanan (haji) ini.
وَأَمَّا الزَّادُ فَلْيَطْلُبْهُ مِنْ مَوْضِعٍ حَلَالٍ
Adapun bekal, hendaknya ia mencarinya dari sumber yang halal.
وَإِذَا أَحَسَّ مِنْ نَفْسِهِ الْحِرْصَ عَلَى اسْتِكْثَارِهِ وَطَلَبِ مَا يَبْقَى مِنْهُ عَلَى طُولِ السَّفَرِ وَلَا يَتَغَيَّرُ وَلَا يَفْسُدُ قَبْلَ بُلُوغِ الْمَقْصِدِ
Dan jika ia merasakan dalam dirinya keinginan kuat untuk memperbanyaknya serta mencari bekal yang tahan lama dalam perjalanan dan tidak berubah atau rusak sebelum sampai tujuan,
فَلْيَتَذَكَّرْ أَنَّ سَفَرَ الْآخِرَةِ أَطْوَلُ مِنْ هَذَا السَّفَرِ
maka hendaknya ia mengingat bahwa perjalanan akhirat lebih panjang daripada perjalanan ini.
وَأَنَّ زَادَهُ التَّقْوَى
Dan bahwa bekalnya adalah takwa.
وَأَنَّ مَا عَدَاهُ مِمَّا يَظُنُّ أَنَّهُ زَادُهُ يَتَخَلَّفُ عَنْهُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَيَخُونُهُ فَلَا يَبْقَى مَعَهُ
Dan bahwa selain itu, yang ia kira sebagai bekal, akan tertinggal darinya saat kematian dan mengkhianatinya, sehingga tidak tinggal bersamanya.
كَالطَّعَامِ الرَّطْبِ الَّذِي يَفْسُدُ فِي أَوَّلِ مَنَازِلِ السَّفَرِ فَيَبْقَى وَقْتَ الْحَاجَةِ مُتَحَيِّرًا مُحْتَاجًا لَا حِيلَةَ لَهُ
Seperti makanan basah yang cepat rusak di awal perjalanan, sehingga saat dibutuhkan ia menjadi bingung dan sangat membutuhkan tanpa daya.
فَلْيَحْذَرْ أَنْ تَكُونَ أَعْمَالُهُ الَّتِي هِيَ زَادُهُ إِلَى الْآخِرَةِ لَا تَصْحَبُهُ بَعْدَ الْمَوْتِ
Maka hendaknya ia berhati-hati agar amal-amalnya yang menjadi bekal ke akhirat tidak meninggalkannya setelah kematian.
بَلْ يُفْسِدُهَا شَوَائِبُ الرِّيَاءِ وَكَدُورَاتُ التَّقْصِيرِ
Bahkan dirusak oleh noda riya’ dan kekeruhan kelalaian.
وَأَمَّا الرَّاحِلَةُ إِذَا أُحْضِرَتْ فَلْيَشْكُرِ اللَّهَ بِقَلْبِهِ عَلَى تَسْخِيرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ الدَّوَابَّ لِتَحْمِلَ عَنْهُ الْأَذَى وَتُخَفِّفَ عَنْهُ الْمَشَقَّةَ
Adapun kendaraan, jika telah disiapkan, hendaknya ia bersyukur kepada Allah dalam hatinya atas penundukan hewan-hewan untuknya agar memikul kesusahan darinya dan meringankan beban.
وَلْيَتَذَكَّرْ عِنْدَهُ الْمَرْكَبَ الَّذِي يَرْكَبُهُ إِلَى دَارِ الْآخِرَةِ وَهِيَ الْجَنَازَةُ الَّتِي يُحْمَلُ عَلَيْهَا
Dan hendaknya ia mengingat kendaraan yang akan membawanya ke negeri akhirat, yaitu jenazah yang akan dipikul.
فَإِنَّ أَمْرَ الْحَجِّ مِنْ وَجْهٍ يُوَازِي أَمْرَ السَّفَرِ إِلَى الْآخِرَةِ
Karena urusan haji dari satu sisi sebanding dengan perjalanan menuju akhirat.
وَلْيَنْظُرْ أَيَصْلُحُ سَفَرُهُ عَلَى هَذَا الْمَرْكَبِ لِأَنْ يَكُونَ زَادًا لَهُ لِذَلِكَ السَّفَرِ عَلَى ذَلِكَ الْمَرْكَبِ
Dan hendaknya ia melihat, apakah perjalanannya ini layak menjadi bekal bagi perjalanan itu di atas kendaraan tersebut.
فَمَا أَقْرَبَ ذَلِكَ مِنْهُ وَمَا يُدْرِيهِ لَعَلَّ الْمَوْتَ قَرِيبٌ
Betapa dekat hal itu dengannya, dan siapa tahu kematian itu dekat.
وَيَكُونُ رُكُوبُهُ لِلْجَنَازَةِ قَبْلَ رُكُوبِهِ لِلْجَمَلِ
Dan mungkin ia akan menaiki jenazah sebelum menaiki unta.
وَرُكُوبُ الْجَنَازَةِ مَقْطُوعٌ بِهِ وَتَيَسُّرُ أَسْبَابِ السَّفَرِ مَشْكُوكٌ فِيهِ
Naik ke atas jenazah itu pasti terjadi, sedangkan kemudahan sarana perjalanan (haji) masih diragukan.
فَكَيْفَ يَحْتَاطُ فِي أَسْبَابِ السَّفَرِ الْمَشْكُوكِ فِيهِ وَيَسْتَظْهِرُ فِي زَادِهِ وَرَاحِلَتِهِ وَيُهْمِلُ أَمْرَ السَّفَرِ الْمُسْتَيْقَنِ
Maka bagaimana ia begitu berhati-hati dalam perjalanan yang belum pasti, memperhatikan bekal dan kendaraannya, namun mengabaikan perjalanan yang pasti?
وَأَمَّا شِرَاءُ ثَوْبَيِ الْإِحْرَامِ فَلْيَتَذَكَّرْ عِنْدَهُ الْكَفَنَ وَلَفَّهُ فِيهِ
Adapun membeli dua kain ihram, hendaknya ia mengingat kain kafan dan pembungkusannya di dalamnya.
فَإِنَّهُ سَيَرْتَدِيهِ وَيَتَّزِرُ بِثَوْبَيِ الْإِحْرَامِ عِنْدَ الْقُرْبِ مِنْ بَيْتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Karena ia akan memakainya, sebagaimana ia memakai dua kain ihram ketika mendekati rumah Allah.
وَرُبَّمَا لَا يَتِمُّ سَفَرُهُ إِلَيْهِ
Dan bisa jadi perjalanannya ke sana tidak sempurna.
وَأَنَّهُ سَيَلْقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مُلَفَّفًا فِي ثِيَابِ الْكَفَنِ لَا مَحَالَةَ
Dan bahwa ia pasti akan bertemu Allah dalam keadaan terbungkus kain kafan.
فَكَمَا لَا يَلْقَى بَيْتَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا مُخَالِفًا عَادَاتِهِ فِي الزِّيِّ وَالْهَيْئَةِ
Sebagaimana ia tidak mendatangi rumah Allah kecuali dengan meninggalkan kebiasaan pakaiannya dan penampilannya,
فَلَا يَلْقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بَعْدَ الْمَوْتِ إِلَّا فِي زِيٍّ مُخَالِفٍ لِزِيِّ الدُّنْيَا
maka ia juga tidak akan bertemu Allah setelah mati kecuali dalam keadaan yang berbeda dari penampilan dunia.
وَهَذَا الثَّوْبُ قَرِيبٌ مِنْ ذَلِكَ الثَّوْبِ إِذْ لَيْسَ فِيهِ مَخِيطٌ كَمَا فِي الْكَفَنِ
Dan kain ini (ihram) mirip dengan kain itu (kafan), karena tidak berjahit seperti halnya kafan.
وَأَمَّا الْخُرُوجُ مِنَ الْبَلَدِ فَلْيَعْلَمْ عِنْدَهُ أَنَّهُ فَارَقَ الْأَهْلَ وَالْوَطَنَ مُتَوَجِّهًا إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي سَفَرٍ لَا يُضَاهِي أَسْفَارَ الدُّنْيَا
Adapun keluar dari negeri, hendaknya ia sadar bahwa ia telah meninggalkan keluarga dan tanah air menuju Allah dalam perjalanan yang tidak sama dengan perjalanan dunia.
فَلْيُحْضِرْ فِي قَلْبِهِ أَنَّهُ مَاذَا يُرِيدُ وَأَيْنَ يَتَوَجَّهُ وَزِيَارَةَ مَنْ يَقْصِدُ
Maka hendaknya ia menghadirkan dalam hatinya: apa yang ia inginkan, ke mana ia menuju, dan kepada siapa ia berziarah.
وَأَنَّهُ مُتَوَجِّهٌ إِلَى مَلِكِ الْمُلُوكِ فِي زُمْرَةِ الزَّائِرِينَ لَهُ
Dan bahwa ia sedang menuju Raja segala raja dalam rombongan para tamu-Nya.
الَّذِينَ نُودُوا فَأَجَابُوا وَشُوِّقُوا فَاشْتَاقُوا وَاسْتُنْهِضُوا فَنَهَضُوا
Yang dipanggil lalu mereka menjawab, dirindukan lalu mereka rindu, dibangkitkan lalu mereka bangkit.
وَقَطَعُوا الْعَلَائِقَ وَفَارَقُوا الْخَلَائِقَ وَأَقْبَلُوا عَلَى بَيْتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Dan mereka memutus keterikatan, meninggalkan makhluk, dan menghadap ke rumah Allah.
الَّذِي فُخِّمَ أَمْرُهُ وَعُظِّمَ شَأْنُهُ وَرُفِعَ قَدْرُهُ
Yang diagungkan urusannya, dibesarkan kedudukannya, dan ditinggikan martabatnya.
تَسَلِّيًا بِلِقَاءِ الْبَيْتِ عَنْ لِقَاءِ رَبِّ الْبَيْتِ
Sebagai hiburan dengan pertemuan dengan rumah itu dari pertemuan dengan Tuhan pemilik rumah.
إِلَى أَنْ يُرْزَقُوا مُنْتَهَى مُنَاهُمْ وَيَسْعَدُوا بِالنَّظَرِ إِلَى مَوْلَاهُمْ
Hingga mereka diberi anugerah puncak harapan mereka dan berbahagia dengan memandang Tuhan mereka.
وَلْيُحْضِرْ فِي قَلْبِهِ رَجَاءَ الْوُصُولِ وَالْقَبُولِ لَا إِدْلَالًا بِأَعْمَالِهِ فِي الِارْتِحَالِ وَمُفَارَقَةِ الْأَهْلِ وَالْمَالِ
Dan hendaknya ia menghadirkan dalam hatinya harapan sampai dan diterima, bukan merasa bangga dengan amalnya dalam perjalanan dan meninggalkan keluarga serta harta.
وَلَكِنْ ثِقَةً بِفَضْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَرَجَاءً لِتَحْقِيقِهِ وَعْدَهُ لِمَنْ زَارَ بَيْتَهُ
Akan tetapi karena kepercayaan kepada karunia Allah dan harapan akan terealisasinya janji-Nya bagi orang yang mengunjungi rumah-Nya.
وَلْيَرْجُ أَنَّهُ إِنْ لَمْ يَصِلْ إِلَيْهِ وَأَدْرَكَتْهُ الْمَنِيَّةُ فِي الطَّرِيقِ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَافِدًا إِلَيْهِ
Dan hendaknya ia berharap bahwa jika ia tidak sampai ke sana dan kematian menjemputnya di jalan, maka ia bertemu Allah sebagai tamu yang datang kepada-Nya.
إِذْ قَالَ جَلَّ جَلَالُهُ {وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ}
Sebagaimana firman-Nya: “Barangsiapa keluar dari rumahnya berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menjemputnya, maka sungguh pahalanya telah tetap di sisi Allah.”
وَأَمَّا دُخُولُ الْبَادِيَةِ إِلَى الْمِيقَاتِ وَمُشَاهَدَةُ تِلْكَ الْعَقَبَاتِ فَلْيَتَذَكَّرْ فِيهَا مَا بَيْنَ الْخُرُوجِ مِنَ الدُّنْيَا بِالْمَوْتِ إِلَى مِيقَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَا بَيْنَهُمَا مِنَ الْأَهْوَالِ وَالْمُطَالَبَاتِ
Adapun memasuki padang sahara menuju miqat dan menyaksikan rintangan-rintangan itu, hendaknya ia mengingat di dalamnya keadaan antara keluarnya dari dunia dengan kematian menuju miqat hari kiamat, serta berbagai kengerian dan tuntutan di antara keduanya.
وَلْيَتَذَكَّرْ مِنْ هَوْلِ قُطَّاعِ الطَّرِيقِ هَوْلَ سُؤَالِ مُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ
Dan hendaknya ia mengingat dari dahsyatnya perampok jalan, akan dahsyatnya pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir.
وَمِنْ سِبَاعِ الْبَوَادِي عَقَارِبَ الْقَبْرِ وَدِيدَانَهُ وَمَا فِيهِ مِنَ الْأَفَاعِي وَالْحَيَّاتِ
Dan dari binatang buas padang sahara, (ingatlah) kalajengking kubur, ulat-ulatnya, serta apa yang ada di dalamnya berupa ular-ular.
وَمِنِ انْفِرَادِهِ مِنْ أَهْلِهِ وَأَقَارِبِهِ وَحْشَةَ الْقَبْرِ وَكُرْبَتَهُ وَوَحْدَتَهُ
Dan dari keterpisahannya dari keluarga dan kerabatnya, (ingatlah) kesepian kubur, kesempitannya, dan kesendiriannya.
وَلْيَكُنْ فِي هَذِهِ الْمَخَاوِفِ فِي أَعْمَالِهِ وَأَقْوَالِهِ مُتَزَوِّدًا لِمَخَاوِفِ الْقَبْرِ
Dan hendaknya dalam ketakutan-ketakutan ini, pada amal dan ucapannya, ia mempersiapkan bekal untuk menghadapi ketakutan kubur.
وَأَمَّا الْإِحْرَامُ وَالتَّلْبِيَةُ مِنَ الْمِيقَاتِ فَلْيَعْلَمْ أَنَّ مَعْنَاهُ إِجَابَةُ نِدَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Adapun ihram dan talbiyah dari miqat, hendaknya ia mengetahui bahwa maknanya adalah menjawab panggilan Allah.
فَارْجُ أَنْ تَكُونَ مَقْبُولًا وَاخْشَ أَنْ يُقَالَ لَكَ لَا لَبَّيْكَ وَلَا سَعْدَيْكَ
Maka berharaplah agar engkau diterima, dan takutlah jika dikatakan kepadamu: tidak ada “labbaik” dan tidak ada kebahagiaan bagimu.
فَكُنْ بَيْنَ الرَّجَاءِ وَالْخَوْفِ مُتَرَدِّدًا
Maka jadilah engkau berada di antara harapan dan ketakutan.
وَعَنْ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ مُتَبَرِّئًا
Dan berlepas dirilah dari daya dan kekuatanmu.
وَعَلَى فَضْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَكَرَمِهِ مُتَّكِلًا
Dan bersandarlah kepada karunia dan kemurahan Allah.
فَإِنَّ وَقْتَ التَّلْبِيَةِ هُوَ بِدَايَةُ الْأَمْرِ وَهِيَ مَحَلُّ الْخَطَرِ
Karena waktu talbiyah adalah awal dari urusan, dan di situlah letak bahaya.
قَالَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ حَجَّ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
Berkata Sufyan bin ‘Uyainah: ‘Ali bin al-Husain ra. berhaji.
فَلَمَّا أَحْرَمَ وَاسْتَوَتْ بِهِ رَاحِلَتُهُ اصْفَرَّ لَوْنُهُ وَانْتَفَضَ وَوَقَعَتْ عَلَيْهِ الرِّعْدَةُ
Ketika ia berihram dan kendaraannya telah tegak membawanya, wajahnya menjadi pucat, tubuhnya gemetar, dan ia diliputi getaran.
وَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُلَبِّيَ
Dan ia tidak mampu mengucapkan talbiyah.
فَقِيلَ لَهُ لِمَ لَا تُلَبِّي
Maka dikatakan kepadanya: mengapa engkau tidak bertalbiyah?
فَقَالَ أَخْشَى أَنْ يُقَالَ لِي لَا لَبَّيْكَ وَلَا سَعْدَيْكَ
Ia berkata: aku takut jika dikatakan kepadaku: tidak ada “labbaik” bagimu dan tidak ada kebahagiaan bagimu.
فَلَمَّا لَبَّى غُشِيَ عَلَيْهِ وَوَقَعَ عَنْ رَاحِلَتِهِ
Ketika ia bertalbiyah, ia pingsan dan jatuh dari kendaraannya.
فَلَمْ يَزَلْ يَعْتَرِيهِ ذَلِكَ حَتَّى قَضَى حَجَّهُ
Dan hal itu terus menimpanya hingga ia menyelesaikan hajinya.
وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ أَبِي الْحَوَارِيِّ كُنْتُ مَعَ أَبِي سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
Dan berkata Ahmad bin Abi al-Hawari: aku bersama Abu Sulaiman ad-Darani ra.
حِينَ أَرَادَ الْإِحْرَامَ فَلَمْ يُلَبِّ حَتَّى سِرْنَا مِيلًا
Ketika ia hendak berihram, ia tidak bertalbiyah hingga kami berjalan satu mil.
فَأَخَذَتْهُ الْغَشْيَةُ ثُمَّ أَفَاقَ
Lalu ia pingsan, kemudian sadar kembali.
فَقَالَ يَا أَحْمَدُ إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ أَوْحَى إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ
Ia berkata: wahai Ahmad, sesungguhnya Allah mewahyukan kepada Musa ‘alaihissalam:
مُرْ ظَلَمَةَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يُقِلُّوا مِنْ ذِكْرِي
Perintahkan orang-orang zalim dari Bani Israil agar mengurangi menyebut-Ku,
فَإِنِّي أَذْكُرُ مَنْ ذَكَرَنِي مِنْهُمْ بِاللَّعْنَةِ
karena Aku menyebut siapa yang mengingat-Ku dari mereka dengan laknat.
وَيْحَكَ يَا أَحْمَدُ بَلَغَنِي أَنَّ مَنْ حَجَّ مِنْ غَيْرِ حِلِّهِ ثُمَّ لَبَّى
Celakalah engkau wahai Ahmad, telah sampai kepadaku bahwa siapa yang berhaji bukan dari yang halal, lalu bertalbiyah,
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا لَبَّيْكَ وَلَا سَعْدَيْكَ حَتَّى تَرُدَّ مَا فِي يَدَيْكَ
Allah berfirman: tidak ada “labbaik” bagimu dan tidak ada kebahagiaan bagimu hingga engkau mengembalikan apa yang ada di tanganmu.
فَمَا نَأْمَنُ أَنْ يُقَالَ لَنَا ذَلِكَ
Maka kita tidak merasa aman jika hal itu dikatakan kepada kita.
وَلْيَتَذَكَّرِ الْمُلَبِّي عِنْدَ رَفْعِ الصَّوْتِ بِالتَّلْبِيَةِ فِي الْمِيقَاتِ إِجَابَتَهُ لِنِدَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذْ قَالَ {وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ}
Dan hendaknya orang yang bertalbiyah, ketika mengeraskan suaranya di miqat, mengingat jawabannya terhadap panggilan Allah ketika Dia berfirman: “Dan serukanlah kepada manusia untuk berhaji.”
وَنِدَاءَ الْخَلْقِ بِنَفْخِ الصُّورِ وَحَشْرَهُمْ مِنَ الْقُبُورِ
Serta (mengingat) panggilan kepada seluruh makhluk dengan tiupan sangkakala dan kebangkitan mereka dari kubur.
وَازْدِحَامَهُمْ فِي عَرَصَاتِ الْقِيَامَةِ مُجِيبِينَ لِنِدَاءِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ
Dan berdesak-desakannya mereka di padang kiamat sebagai jawaban atas panggilan Allah.
وَمُنْقَسِمِينَ إِلَى مُقَرَّبِينَ وَمَمْقُوتِينَ وَمَقْبُولِينَ وَمَرْدُودِينَ
Dan mereka terbagi menjadi yang didekatkan, yang dimurkai, yang diterima, dan yang ditolak.
وَمُتَرَدِّدِينَ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ بَيْنَ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ
Dan pada awalnya mereka berada dalam keadaan antara takut dan harap.
تَرَدُّدَ الْحَاجِّ فِي الْمِيقَاتِ حَيْثُ لَا يَدْرُونَ أَيَتَيَسَّرُ لَهُمْ إِتْمَامُ الْحَجِّ وَقَبُولُهُ أَمْ لَا
Seperti kebimbangan orang yang berhaji di miqat, yang tidak tahu apakah hajinya akan dimudahkan hingga selesai dan diterima atau tidak.
وَأَمَّا دُخُولُ مَكَّةَ فَلْيَتَذَكَّرْ عِنْدَهَا أَنَّهُ قَدِ انْتَهَى إِلَى حَرَمِ اللَّهِ تَعَالَى آمِنًا
Adapun masuk ke Makkah, hendaknya ia mengingat bahwa ia telah sampai ke tanah haram Allah dalam keadaan aman.
وَلْيَرْجُ عِنْدَهُ أَنْ يَأْمَنَ بِدُخُولِهِ مِنْ عِقَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Dan hendaknya ia berharap bahwa dengan masuknya itu ia aman dari siksa Allah.
وَلْيَخْشَ أَنْ لَا يَكُونَ أَهْلًا لِلْقُرْبِ فَيَكُونَ بِدُخُولِهِ الْحَرَمَ خَائِبًا وَمُسْتَحِقًّا لِلْمَقْتِ
Dan hendaknya ia takut jika ia bukan termasuk orang yang layak dekat (kepada Allah), sehingga dengan masuknya ke tanah haram ia menjadi orang yang kecewa dan berhak mendapatkan kemurkaan.
وَلْيَكُنْ رَجَاؤُهُ فِي جَمِيعِ الْأَوْقَاتِ غَالِبًا
Dan hendaknya harapannya dalam segala keadaan lebih dominan.
فَالْكَرَمُ عَمِيمٌ وَالرَّبُّ رَحِيمٌ وَشَرَفُ الْبَيْتِ عَظِيمٌ
Karena kemurahan itu meluas, Tuhan Maha Penyayang, dan kemuliaan rumah itu sangat agung.
وَحَقُّ الزَّائِرِ مَرْعِيٌّ وَذِمَامُ الْمُسْتَجِيرِ اللَّائِذِ غَيْرُ مُضَيَّعٍ
Dan hak tamu dijaga, serta perlindungan bagi orang yang meminta perlindungan tidak disia-siakan.
وَأَمَّا وُقُوعُ الْبَصَرِ عَلَى الْبَيْتِ فَيَنْبَغِي أَنْ يُحْضِرَ عِنْدَهُ عَظَمَةَ الْبَيْتِ فِي الْقَلْبِ
Adapun ketika pandangan jatuh kepada Ka‘bah, hendaknya ia menghadirkan keagungan rumah itu dalam hatinya.
وَيُقَدِّرَ كَأَنَّهُ مُشَاهِدٌ لِرَبِّ الْبَيْتِ لِشِدَّةِ تَعْظِيمِهِ إِيَّاهُ
Dan membayangkan seakan-akan ia melihat Tuhan pemilik rumah itu karena sangat mengagungkannya.
وَارْجُ أَنْ يُرْزِقَكَ اللَّهُ تَعَالَى النَّظَرَ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيمِ كَمَا رَزَقَكَ النَّظَرَ إِلَى بَيْتِهِ الْعَظِيمِ
Dan berharaplah agar Allah menganugerahkan kepadamu melihat wajah-Nya yang mulia sebagaimana Dia telah memberimu melihat rumah-Nya yang agung.
وَاشْكُرِ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى تَبْلِيغِهِ إِيَّاكَ هَذِهِ الرُّتْبَةَ وَإِلْحَاقِهِ إِيَّاكَ بِزُمْرَةِ الْوَافِدِينَ عَلَيْهِ
Dan bersyukurlah kepada Allah atas sampainya engkau pada derajat ini dan dimasukkannya engkau ke dalam golongan para tamu-Nya.
وَاذْكُرْ عِنْدَ ذَلِكَ انْصِبَابَ النَّاسِ فِي الْقِيَامَةِ إِلَى جِهَةِ الْجَنَّةِ آمِلِينَ لِدُخُولِهَا كَافَّةً
Dan ingatlah saat itu bagaimana manusia berbondong-bondong pada hari kiamat menuju arah surga dengan harapan semuanya dapat memasukinya.
ثُمَّ انْقِسَامَهُمْ إِلَى مَأْذُونِينَ فِي الدُّخُولِ وَمَصْرُوفِينَ
Kemudian mereka terbagi menjadi yang diizinkan masuk dan yang dipalingkan.
انْقِسَامَ الْحَاجِّ إِلَى مَقْبُولِينَ وَمَرْدُودِينَ
Sebagaimana pembagian para haji menjadi yang diterima dan yang ditolak.
وَلَا تَغْفُلْ عَنْ تَذَكُّرِ أُمُورِ الْآخِرَةِ فِي شَيْءٍ مِمَّا تَرَاهُ
Dan janganlah engkau lalai dari mengingat urusan akhirat dalam setiap hal yang engkau lihat.
فَإِنَّ كُلَّ أَحْوَالِ الْحَاجِّ دَلِيلٌ عَلَى أَحْوَالِ الْآخِرَةِ
Karena setiap keadaan orang yang berhaji merupakan gambaran keadaan akhirat.
وَأَمَّا الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَلَاةٌ
Adapun tawaf di Ka‘bah, maka ketahuilah bahwa ia adalah shalat.
فَأَحْضِرْ فِي قَلْبِكَ فِيهِ مِنَ التَّعْظِيمِ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ وَالْمَحَبَّةِ مَا فَصَّلْنَاهُ فِي كِتَابِ الصَّلَاةِ
Maka hadirkan dalam hatimu saat itu rasa pengagungan, takut, harap, dan cinta sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab shalat.
وَاعْلَمْ أَنَّكَ بِالطَّوَافِ مُتَشَبِّهٌ بِالْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ الْحَافِّينَ حَوْلَ الْعَرْشِ الطَّائِفِينَ حَوْلَهُ
Dan ketahuilah bahwa dengan tawaf engkau menyerupai para malaikat yang dekat (kepada Allah), yang mengelilingi ‘Arsy.
وَلَا تَظُنَّنَّ أَنَّ الْمَقْصُودَ طَوَافُ جِسْمِكَ بِالْبَيْتِ
Dan janganlah engkau mengira bahwa yang dimaksud hanyalah tawaf tubuhmu mengelilingi Ka‘bah.
بَلِ الْمَقْصُودُ طَوَافُ قَلْبِكَ بِذِكْرِ رَبِّ الْبَيْتِ
Akan tetapi yang dimaksud adalah tawaf hatimu dengan mengingat Tuhan pemilik rumah.
حَتَّى لَا تَبْتَدِئَ الذِّكْرَ إِلَّا مِنْهُ وَلَا تَخْتِمَ إِلَّا بِهِ
Sehingga engkau tidak memulai dzikir kecuali dari-Nya dan tidak mengakhirinya kecuali dengan-Nya.
كَمَا تَبْتَدِئُ الطَّوَافَ مِنَ الْبَيْتِ وَتَخْتِمُ بِالْبَيْتِ
Sebagaimana engkau memulai tawaf dari Ka‘bah dan mengakhirinya di Ka‘bah.
وَاعْلَمْ أَنَّ الطَّوَافَ الشَّرِيفَ هُوَ طَوَافُ الْقَلْبِ بِحَضْرَةِ الرُّبُوبِيَّةِ
Dan ketahuilah bahwa tawaf yang mulia adalah tawaf hati di hadirat ketuhanan.
وَأَنَّ الْبَيْتَ مِثَالٌ ظَاهِرٌ فِي عَالَمِ الْمُلْكِ لِتِلْكَ الْحَضْرَةِ الَّتِي لَا تُشَاهَدُ بِالْبَصَرِ
Dan bahwa Ka‘bah adalah gambaran lahir di alam nyata bagi hadirat itu yang tidak dapat dilihat dengan mata.
وَهِيَ عَالَمُ الْمَلَكُوتِ
Yaitu alam malakut.
كَمَا أَنَّ الْبَدَنَ مِثَالٌ ظَاهِرٌ فِي عَالَمِ الشَّهَادَةِ لِلْقَلْبِ الَّذِي لَا يُشَاهَدُ بِالْبَصَرِ
Sebagaimana tubuh adalah gambaran lahir di alam nyata bagi hati yang tidak dapat dilihat dengan mata.
وَهُوَ فِي عَالَمِ الْغَيْبِ
Dan ia (hati) berada di alam gaib.
وَأَنَّ عَالَمَ الْمُلْكِ وَالشَّهَادَةِ مَدْرَجَةٌ إِلَى عَالَمِ الْغَيْبِ وَالْمَلَكُوتِ لِمَنْ فَتَحَ اللَّهُ لَهُ الْبَابَ
Dan bahwa alam nyata (mulk dan syahadah) adalah tangga menuju alam gaib dan malakut bagi orang yang Allah bukakan pintu baginya.
وَإِلَى هَذِهِ الْمُوَازَنَةِ وَقَعَتِ الْإِشَارَةُ بِأَنَّ الْبَيْتَ الْمَعْمُورَ فِي السَّمَاوَاتِ بِإِزَاءِ الْكَعْبَةِ
Dan kepada keseimbangan ini terdapat isyarat bahwa Baitul Ma‘mur di langit berada sejajar dengan Ka‘bah.
فَإِنَّ طَوَافَ الْمَلَائِكَةِ بِهِ كَطَوَافِ الْإِنْسِ بِهَذَا الْبَيْتِ
Karena tawaf para malaikat di sana seperti tawaf manusia di rumah ini.
وَلَمَّا قَصُرَتْ رُتْبَةُ أَكْثَرِ الْخَلْقِ عَنْ مِثْلِ ذَلِكَ الطَّوَافِ
Dan ketika derajat kebanyakan makhluk tidak sampai pada tawaf seperti itu,
أُمِرُوا بِالتَّشَبُّهِ بِهِمْ بِحَسَبِ الْإِمْكَانِ
maka mereka diperintahkan untuk meniru mereka semampunya.
وَوُعِدُوا بِأَنَّ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Dan mereka dijanjikan bahwa siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.
وَالَّذِي يَقْدِرُ عَلَى مِثْلِ ذَلِكَ الطَّوَافِ هُوَ الَّذِي يُقَالُ إِنَّ الْكَعْبَةَ تَزُورُهُ وَتَطُوفُ بِهِ عَلَى مَا رَآهُ بَعْضُ الْمُكَاشِفِينَ لِبَعْضِ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Dan orang yang mampu mencapai tawaf seperti itu adalah yang dikatakan bahwa Ka‘bah “mengunjunginya” dan “bertawaf” kepadanya, sebagaimana disaksikan oleh sebagian ahli kasyaf terhadap sebagian wali Allah.
وَأَمَّا الِاسْتِلَامُ فَاعْتَقِدْ عِنْدَهُ أَنَّكَ مُبَايِعٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى طَاعَتِهِ
Adapun menyentuh (Hajar Aswad), maka yakinkanlah bahwa engkau sedang berbaiat kepada Allah atas ketaatan kepada-Nya.
فَصَمِّمْ عَزِيمَتَكَ عَلَى الْوَفَاءِ بِبَيْعَتِكَ
Maka kuatkan tekadmu untuk menepati baiatmu.
فَمَنْ غَدَرَ فِي الْمُبَايَعَةِ اسْتَحَقَّ الْمَقْتَ
Barang siapa berkhianat dalam baiat, maka ia berhak mendapat kemurkaan.
وَقَدْ رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ
Dan telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra. dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda:
الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ يَمِينُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْأَرْضِ يُصَافِحُ بِهَا خَلْقَهُ كَمَا يُصَافِحُ الرَّجُلُ أَخَاهُ
“Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah di bumi, dengan itu Dia berjabat tangan dengan hamba-Nya sebagaimana seseorang berjabat tangan dengan saudaranya.”
وَأَمَّا التَّعَلُّقُ بِأَسْتَارِ الْكَعْبَةِ وَالِالْتِصَاقُ بِالْمُلْتَزَمِ فَلْتَكُنْ نِيَّتُكَ فِي الِالْتِزَامِ طَلَبَ الْقُرْبِ حُبًّا وَشَوْقًا لِلْبَيْتِ وَلِرَبِّ الْبَيْتِ
Adapun bergantung pada kain Ka‘bah dan menempel di Multazam, maka hendaknya niatmu adalah mencari kedekatan karena cinta dan rindu kepada Ka‘bah dan Tuhan pemiliknya.
وَتَبَرُّكًا بِالْمُمَاسَّةِ
Dan untuk mengambil berkah dari sentuhan itu.
وَرَجَاءً لِلتَّحَصُّنِ عَنِ النَّارِ فِي كُلِّ جُزْءٍ مِنْ بَدَنِكَ لَا فِي الْبَيْتِ
Serta berharap perlindungan dari api neraka pada setiap bagian tubuhmu, bukan pada rumah itu.
وَلْتَكُنْ نِيَّتُكَ فِي التَّعَلُّقِ بِالسِّتْرِ الْإِلْحَاحَ فِي طَلَبِ الْمَغْفِرَةِ وَسُؤَالَ الْأَمَانِ
Dan hendaknya niatmu ketika bergantung pada kain itu adalah bersungguh-sungguh memohon ampunan dan meminta keamanan.
كَالْمُذْنِبِ الْمُتَعَلِّقِ بِثِيَابِ مَنْ أَذْنَبَ إِلَيْهِ
Seperti seorang pendosa yang bergantung pada pakaian orang yang telah ia sakiti.
الْمُتَضَرِّعِ إِلَيْهِ فِي عَفْوِهِ عَنْهُ
Yang merendahkan diri kepadanya agar diampuni.
الْمُظْهِرِ لَهُ أَنَّهُ لَا مَلْجَأَ لَهُ مِنْهُ إِلَّا إِلَيْهِ
Yang menampakkan bahwa tidak ada tempat berlindung darinya kecuali kepadanya.
وَلَا مَفْزَعَ لَهُ إِلَّا كَرَمُهُ وَعَفْوُهُ
Dan tidak ada tempat berlari kecuali kepada kemurahan dan ampunannya.
وَأَنَّهُ لَا يُفَارِقُ ذَيْلَهُ إِلَّا بِالْعَفْوِ وَبَذْلِ الْأَمَانِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ
Dan bahwa ia tidak akan melepaskan diri darinya kecuali setelah mendapatkan ampunan dan jaminan keamanan di masa depan.
وَأَمَّا السَّعْيُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ فِي فِنَاءِ الْبَيْتِ فَإِنَّهُ يُضَاهِي تَرَدُّدَ الْعَبْدِ بِفِنَاءِ دَارِ الْمَلِكِ جَائِيًا وَذَاهِبًا مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى
Adapun sa‘i antara Shafa dan Marwah di pelataran Ka‘bah, maka itu menyerupai bolak-baliknya seorang hamba di halaman istana raja, datang dan pergi berulang kali.
إِظْهَارًا لِلْخُلُوصِ فِي الْخِدْمَةِ وَرَجَاءً لِلْمُلَاحَظَةِ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ كَالَّذِي دَخَلَ عَلَى الْمَلِكِ وَخَرَجَ وَهُوَ لَا يَدْرِي مَا الَّذِي يَقْضِي بِهِ الْمَلِكُ فِي حَقِّهِ مِنْ قَبُولٍ أَوْ رَدٍّ
Sebagai bentuk menampakkan ketulusan dalam pengabdian dan berharap diperhatikan dengan pandangan kasih sayang, seperti orang yang masuk kepada raja lalu keluar, sementara ia tidak tahu apa yang akan diputuskan raja tentang dirinya: diterima atau ditolak.
فَلَا يَزَالُ يَتَرَدَّدُ عَلَى فِنَاءِ الدَّارِ مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى يَرْجُو أَنْ يُرْحَمَ فِي الثَّانِيَةِ إِنْ لَمْ يُرْحَمْ فِي الْأُولَى
Maka ia terus bolak-balik di halaman istana, berharap agar dikasihi pada kesempatan kedua jika belum dikasihi pada yang pertama.
وَلْيَتَذَكَّرْ عِنْدَ تَرَدُّدِهِ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ تَرَدُّدَهُ بَيْنَ كِفَّتَيِ الْمِيزَانِ فِي عَرَصَاتِ الْقِيَامَةِ
Dan hendaknya ia mengingat ketika bolak-balik antara Shafa dan Marwah, akan bolak-baliknya antara dua daun timbangan di padang kiamat.
وَلْيُمَثِّلِ الصَّفَا بِكَفَّةِ الْحَسَنَاتِ وَالْمَرْوَةَ بِكَفَّةِ السَّيِّئَاتِ
Dan hendaknya ia membayangkan Shafa sebagai timbangan kebaikan dan Marwah sebagai timbangan keburukan.
وَلْيَتَذَكَّرْ تَرَدُّدَهُ بَيْنَ الْكِفَّتَيْنِ نَاظِرًا إِلَى الرُّجْحَانِ وَالنُّقْصَانِ مُتَرَدِّدًا بَيْنَ الْعَذَابِ وَالْمَغْفِرَانِ
Dan hendaknya ia mengingat bolak-baliknya antara dua timbangan itu, memperhatikan mana yang lebih berat atau ringan, dalam keadaan antara azab dan ampunan.
وَأَمَّا الْوُقُوفُ بِعَرَفَةَ فَاذْكُرْ بِمَا تَرَى مِنِ ازْدِحَامِ الْخَلْقِ وَارْتِفَاعِ الْأَصْوَاتِ وَبِاخْتِلَافِ اللُّغَاتِ وَاتِّبَاعِ الْفِرَقِ أَئِمَّتَهُمْ فِي التَّرَدُّدَاتِ عَلَى الْمَشَاعِرِ اقْتِفَاءً لَهُمْ وَسَيْرًا بِسَيْرِهِمْ
Adapun wukuf di Arafah, maka ingatlah dengan apa yang engkau lihat berupa berdesaknya manusia, kerasnya suara, beragamnya bahasa, dan mengikuti kelompok-kelompok kepada para pemimpinnya dalam berpindah-pindah di tempat-tempat ibadah, sebagai bentuk mengikuti dan meneladani mereka.
عَرَصَاتِ الْقِيَامَةِ وَاجْتِمَاعَ الْأُمَمِ مَعَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَئِمَّةِ وَاقْتِفَاءَ كُلِّ أُمَّةٍ نَبِيَّهَا وَطَمَعَهُمْ فِي شَفَاعَتِهِمْ وَتَحَيُّرَهُمْ فِي ذَلِكَ الصَّعِيدِ الْوَاحِدِ بَيْنَ الرَّدِّ وَالْقَبُولِ
(ingatlah) padang kiamat, berkumpulnya umat-umat bersama para nabi dan pemimpin mereka, serta setiap umat mengikuti nabinya, berharap syafaat mereka, dan kebingungan mereka di satu tempat itu antara ditolak dan diterima.
وَإِذَا تَذَكَّرْتَ ذَلِكَ فَأَلْزِمْ قَلْبَكَ الضَّرَاعَةَ وَالِابْتِهَالَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَتُحْشَرَ فِي زُمْرَةِ الْفَائِزِينَ الْمَرْحُومِينَ
Jika engkau mengingat itu, maka ikatlah hatimu dengan kerendahan dan doa kepada Allah agar engkau dikumpulkan bersama orang-orang yang beruntung dan dirahmati.
وَحَقِّقْ رَجَاءَكَ بِالْإِجَابَةِ فَالْمَوْقِفُ شَرِيفٌ
Dan kuatkan harapanmu akan dikabulkan, karena tempat itu mulia.
وَالرَّحْمَةُ إِنَّمَا تَصِلُ مِنْ حَضْرَةِ الْجَلَالِ إِلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ بِوَاسِطَةِ الْقُلُوبِ الْعَزِيزَةِ مِنْ أَوْتَادِ الْأَرْضِ
Dan sesungguhnya rahmat itu sampai dari hadirat keagungan kepada seluruh makhluk melalui perantara hati-hati mulia dari para penyangga bumi.
وَلَا يَنْفَكُّ الْمَوْقِفُ عَنْ طَبَقَةٍ مِنَ الْأَبْدَالِ وَالْأَوْتَادِ وَطَبَقَةٍ مِنَ الصَّالِحِينَ وَأَرْبَابِ الْقُلُوبِ
Dan tempat itu tidak pernah kosong dari kelompok para abdal, autad, serta orang-orang saleh dan pemilik hati.
فَإِذَا اجْتَمَعَتْ هِمَمُهُمْ وَتَجَرَّدَتْ لِلضَّرَاعَةِ وَالِابْتِهَالِ قُلُوبُهُمْ
Apabila tekad mereka berkumpul dan hati mereka bersungguh-sungguh dalam doa dan kerendahan diri,
وَارْتَفَعَتْ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ أَيْدِيهِمْ وَامْتَدَّتْ إِلَى أَعْنَاقِهِمْ وَشَخَصَتْ نَحْوَ السَّمَاءِ أَبْصَارُهُمْ
dan tangan mereka terangkat kepada Allah, leher mereka menengadah, serta pandangan mereka tertuju ke langit,
مُجْتَمِعِينَ بِهِمَّةٍ وَاحِدَةٍ عَلَى طَلَبِ الرَّحْمَةِ
dalam satu tekad untuk memohon rahmat,
فَلَا تَظُنَّنَّ أَنَّهُ يَخِيبُ أَمَلُهُمْ وَيَضِيعُ سَعْيُهُمْ وَيُدَّخَرُ عَنْهُمْ رَحْمَةٌ تَغْمُرُهُمْ
maka janganlah engkau mengira harapan mereka akan sia-sia, usaha mereka akan hilang, dan rahmat akan ditahan dari mereka.
وَلِذَلِكَ قِيلَ إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الذُّنُوبِ أَنْ يَحْضُرَ عَرَفَاتٍ وَيَظُنَّ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمْ يَغْفِرْ لَهُ
Oleh karena itu dikatakan: termasuk dosa besar adalah seseorang hadir di Arafah lalu mengira bahwa Allah tidak mengampuninya.
وَكَأَنَّ اجْتِمَاعَ الْهِمَمِ وَالِاسْتِظْهَارَ بِمُجَاوَرَةِ الْأَبْدَالِ وَالْأَوْتَادِ الْمُجْتَمِعِينَ مِنْ أَقْطَارِ الْبِلَادِ هُوَ سِرُّ الْحَجِّ وَغَايَةُ مَقْصُودِهِ
Seakan-akan berkumpulnya tekad dan dukungan dengan keberadaan para abdal dan autad dari berbagai penjuru adalah rahasia haji dan puncak tujuannya.
فَلَا طَرِيقَ إِلَى اسْتِدْرَارِ رَحْمَةِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مِثْلُ اجْتِمَاعِ الْهِمَمِ وَتَعَاوُنِ الْقُلُوبِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ
Maka tidak ada jalan untuk menarik rahmat Allah seperti berkumpulnya tekad dan kerja sama hati dalam satu waktu.
وَأَمَّا رَمْيُ الْجِمَارِ فَاقْصِدْ بِهِ الِانْقِيَادَ لِلْأَمْرِ إِظْهَارًا لِلرِّقِّ وَالْعُبُودِيَّةِ وَانْتِهَاضًا لِمُجَرَّدِ الِامْتِثَالِ مِنْ غَيْرِ حَظٍّ لِلْعَقْلِ وَالنَّفْسِ فِيهِ
Adapun melempar jumrah, maka niatkanlah sebagai bentuk kepatuhan terhadap perintah, menampakkan kehinaan diri dan penghambaan, serta bangkit untuk semata-mata melaksanakan perintah tanpa campur tangan akal dan nafsu.
ثُمَّ اقْصِدْ بِهِ التَّشَبُّهَ بِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ حَيْثُ عَرَضَ لَهُ إِبْلِيسُ لَعَنَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي ذَلِكَ الْمَوْضِعِ لِيُدْخِلَ عَلَى حَجِّهِ شُبْهَةً أَوْ يَفْتِنَهُ بِمَعْصِيَةٍ
Kemudian niatkan pula untuk meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika Iblis menampakkan diri kepadanya di tempat itu untuk memasukkan keraguan dalam hajinya atau menjerumuskannya dalam maksiat.
فَأَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَرْمِيَهُ بِالْحِجَارَةِ طَرْدًا لَهُ وَقَطْعًا لِأَمَلِهِ
Maka Allah memerintahkannya untuk melemparinya dengan batu sebagai bentuk pengusiran dan pemutusan harapannya.
فَإِنْ خَطَرَ لَكَ أَنَّ الشَّيْطَانَ عَرَضَ لَهُ وَشَاهَدَهُ فَلِذَلِكَ رَمَاهُ وَأَمَّا أَنَا فَلَيْسَ يَعْرِضُ لِي الشَّيْطَانُ
Jika terlintas dalam benakmu bahwa setan benar-benar menampakkan diri kepada Ibrahim sehingga ia melemparinya, sedangkan aku tidak melihat setan,
فَاعْلَمْ أَنَّ هَذَا الْخَاطِرَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَنَّهُ هُوَ الَّذِي أَلْقَاهُ فِي قَلْبِكَ لِيُفَتِّرَ عَزْمَكَ فِي الرَّمْيِ
maka ketahuilah bahwa lintasan itu dari setan, dan dialah yang menanamkannya dalam hatimu untuk melemahkan tekadmu dalam melempar.
وَيُخَيِّلَ إِلَيْكَ أَنَّهُ فِعْلٌ لَا فَائِدَةَ فِيهِ وَأَنَّهُ يُضَاهِي اللَّعِبَ فَلَا تَشْتَغِلْ بِهِ
Dan ia membisikkan kepadamu bahwa perbuatan itu tidak ada manfaatnya dan menyerupai permainan, sehingga engkau tidak melakukannya.
فَاطْرُدْهُ عَنْ نَفْسِكَ بِالْجِدِّ وَالتَّشْمِيرِ فِي الرَّمْيِ فِيهِ بِرَغْمِ أَنْفِ الشَّيْطَانِ
Maka usirlah ia dari dirimu dengan kesungguhan dan semangat dalam melempar, sebagai bentuk penghinaan terhadap setan.
وَاعْلَمْ أَنَّكَ فِي الظَّاهِرِ تَرْمِي الْحَصَى إِلَى الْعَقَبَةِ وَفِي الْحَقِيقَةِ تَرْمِي بِهِ وَجْهَ الشَّيْطَانِ وَتَقْصِمُ بِهِ ظَهْرَهُ
Dan ketahuilah bahwa secara lahir engkau melempar batu ke arah jumrah, tetapi hakikatnya engkau melempar wajah setan dan mematahkan punggungnya.
إِذْ لَا يَحْصُلُ إِرْغَامُ أَنْفِهِ إِلَّا بِامْتِثَالِكَ أَمْرَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تَعْظِيمًا لَهُ بِمُجَرَّدِ الْأَمْرِ مِنْ غَيْرِ حَظٍّ لِلنَّفْسِ وَالْعَقْلِ فِيهِ
Karena tidak akan terhina setan kecuali dengan pelaksanaan perintah Allah semata, sebagai bentuk pengagungan kepada-Nya tanpa campur tangan nafsu dan akal.
وَأَمَّا ذَبْحُ الْهَدْيِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ تَقَرُّبٌ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِحُكْمِ الِامْتِثَالِ
Adapun menyembelih hewan kurban (hadyu), maka ketahuilah bahwa itu adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah karena ketaatan.
فَأَكْمِلِ الْهَدْيَ وَارْجُ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ بِكُلِّ جُزْءٍ مِنْهُ جُزْءًا مِنْكَ مِنَ النَّارِ
Maka sempurnakanlah hewan kurbanmu dan berharaplah agar Allah membebaskan setiap bagian darinya sebagai penebus bagian dirimu dari api neraka.
فَهَكَذَا وَرَدَ الْوَعْدُ فَكُلَّمَا كَانَ الْهَدْيُ أَكْبَرَ وَأَجْزَاؤُهُ أَوْفَرَ كَانَ فِدَاؤُكَ مِنَ النَّارِ أَعَمَّ
Demikianlah janji yang datang, maka semakin besar hewan kurban dan semakin banyak bagiannya, semakin luas pula tebusanmu dari neraka.
وَأَمَّا زِيَارَةُ الْمَدِينَةِ فَإِذَا وَقَعَ بَصَرُكَ عَلَى حِيطَانِهَا فَتَذَكَّرْ أَنَّهَا الْبَلْدَةُ الَّتِي اخْتَارَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Adapun mengunjungi Madinah, maka ketika pandanganmu jatuh pada dinding-dindingnya, ingatlah bahwa itu adalah negeri yang Allah pilih untuk Nabi-Nya.
وَجَعَلَ إِلَيْهَا هِجْرَتَهُ
Dan menjadikannya tempat hijrah beliau.
وَأَنَّهَا دَارُهُ الَّتِي شُرِعَ فِيهَا فَرَائِضُ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسُنَّتُهُ
Dan bahwa itu adalah rumah beliau, tempat ditetapkannya kewajiban-kewajiban dari Tuhannya serta sunnahnya.
وَجَاهَدَ عَدُوَّهُ وَأَظْهَرَ بِهَا دِينَهُ
Dan di sana beliau berjihad melawan musuhnya serta menampakkan agamanya.
حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
Hingga Allah mewafatkannya.
ثُمَّ جَعَلَ تُرْبَتَهُ فِيهَا وَتُرْبَةَ وَزِيرَيْهِ الْقَائِمَيْنِ بِالْحَقِّ بَعْدَهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
Kemudian Allah menjadikan kuburnya di sana, serta kubur dua sahabat dekatnya yang menegakkan kebenaran setelah beliau.
ثُمَّ مَثِّلْ فِي نَفْسِكَ مَوَاقِعَ أَقْدَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ تَرَدُّدَاتِهِ فِيهَا
Kemudian bayangkan dalam dirimu tempat-tempat pijakan kaki Rasulullah ﷺ ketika beliau berjalan di sana.
وَأَنَّهُ مَا مِنْ مَوْضِعِ قَدَمٍ تَطَؤُهُ إِلَّا وَهُوَ مَوْضِعُ أَقْدَامِهِ الْعَزِيزَةِ
Dan bahwa tidak ada satu tempat pun yang engkau pijak kecuali itu adalah tempat pijakan kaki beliau yang mulia.
فَلَا تَضَعْ قَدَمَكَ عَلَيْهِ إِلَّا عَنْ سَكِينَةٍ وَوَجَلٍ
Maka janganlah engkau meletakkan kakimu di atasnya kecuali dengan ketenangan dan rasa takut (khusyuk).
وَتَذَكَّرْ مَشْيَهُ وَتَخَطِّيهِ فِي سِكَكِهَا
Dan ingatlah cara berjalan beliau serta langkah-langkahnya di jalan-jalannya.
وَتَصَوَّرْ خُشُوعَهُ وَسَكِينَتَهُ فِي الْمَشْيِ
Dan bayangkan kekhusyukan serta ketenangan beliau dalam berjalan.
وَمَا اسْتَوْدَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ قَلْبَهُ مِنْ عَظِيمِ مَعْرِفَتِهِ وَرِفْعَةِ ذِكْرِهِ
Dan apa yang Allah titipkan dalam hatinya berupa ma‘rifat yang agung dan kemuliaan dzikir kepada-Nya.
مَعَ ذِكْرِهِ تَعَالَى حَتَّى قَرَنَهُ بِذِكْرِ نَفْسِهِ
Bersamaan dengan dzikir kepada Allah hingga Allah mengaitkan (nama Nabi) dengan penyebutan nama-Nya.
وَإِحْبَاطِهِ عَمَلَ مَنْ هَتَكَ حُرْمَتَهُ وَلَوْ بِرَفْعِ صَوْتِهِ فَوْقَ صَوْتِهِ
Dan Allah menggugurkan amal orang yang melanggar kehormatannya meskipun hanya dengan meninggikan suara di atas suaranya.
ثُمَّ تَذَكَّرْ مَا مَنَّ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ عَلَى الَّذِينَ أَدْرَكُوا صُحْبَتَهُ وَسَعِدُوا بِمُشَاهَدَتِهِ وَاسْتِمَاعِ كَلَامِهِ
Kemudian ingatlah nikmat Allah kepada orang-orang yang sempat bersahabat dengan beliau, berbahagia melihatnya, dan mendengar ucapannya.
وَأَعْظِمْ تَأَسُّفَكَ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنْ صُحْبَتِهِ وَصُحْبَةِ أَصْحَابِهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
Dan besarkanlah rasa penyesalanmu atas apa yang luput darimu berupa kebersamaan dengan beliau dan para sahabatnya.
ثُمَّ اذْكُرْ أَنَّكَ قَدْ فَاتَتْكَ رُؤْيَتُهُ فِي الدُّنْيَا
Kemudian ingatlah bahwa engkau telah kehilangan kesempatan melihat beliau di dunia.
وَأَنَّكَ مِنْ رُؤْيَتِهِ فِي الْآخِرَةِ عَلَى خَطَرٍ
Dan bahwa engkau dalam bahaya tidak dapat melihatnya di akhirat.
وَأَنَّكَ رُبَّمَا لَا تَرَاهُ إِلَّا بِحَسْرَةٍ
Dan mungkin engkau tidak melihatnya kecuali dengan penyesalan.
وَقَدْ حِيلَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ قَبُولِهِ إِيَّاكَ بِسُوءِ عَمَلِكَ
Dan bisa jadi engkau terhalang dari diterima olehnya karena buruknya amalmu.
كَمَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرْفَعُ اللَّهُ إِلَيَّ أَقْوَامًا فَيَقُولُونَ يَا مُحَمَّدُ
Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda: akan diangkat kepadaku beberapa kaum, lalu mereka berkata: wahai Muhammad.
فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي
Maka aku berkata: wahai Tuhanku, mereka adalah sahabatku.
فَيَقُولُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
Maka Allah berfirman: engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan setelahmu.
فَأَقُولُ بُعْدًا وَسُحْقًا
Maka aku berkata: jauh dan binasalah mereka.
فَإِنْ تَرَكْتَ حُرْمَةَ شَرِيعَتِهِ وَلَوْ فِي دَقِيقَةٍ مِنَ الدَّقَائِقِ
Jika engkau meninggalkan kehormatan syariatnya walau sesaat saja,
فَلَا تَأْمَنْ أَنْ يُحَالَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ بِعُدُولِكَ عَنْ مَحَجَّتِهِ
maka jangan merasa aman bahwa engkau tidak akan dihalangi darinya karena berpaling dari jalannya.
وَلْيَعْظُمْ مَعَ ذَلِكَ رَجَاؤُكَ أَنْ لَا يُحِيلَ اللَّهُ تَعَالَى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ
Dan hendaknya bersama itu harapanmu semakin besar agar Allah tidak menghalangi antara engkau dan beliau.
بَعْدَ أَنْ رَزَقَكَ الْإِيمَانَ وَأَشْخَصَكَ مِنْ وَطَنِكَ لِأَجْلِ زِيَارَتِهِ
Setelah Allah memberimu iman dan menggerakkanmu dari negerimu untuk mengunjunginya.
مِنْ غَيْرِ تِجَارَةٍ وَلَا حَظٍّ فِي الدُّنْيَا
Tanpa tujuan perdagangan atau kepentingan dunia.
بَلْ لِمَحْضِ حُبِّكَ لَهُ وَشَوْقِكَ إِلَى أَنْ تَنْظُرَ إِلَى آثَارِهِ وَإِلَى حَائِطِ قَبْرِهِ
Melainkan semata karena cintamu kepadanya dan kerinduanmu untuk melihat jejaknya serta dinding makamnya.
إِذْ سَمَحَتْ نَفْسُكَ بِالسَّفَرِ بِمُجَرَّدِ ذَلِكَ لَمَّا فَاتَتْكَ رُؤْيَتُهُ
Karena jiwamu rela melakukan perjalanan hanya untuk itu setelah engkau tidak dapat melihatnya.
فَمَا أَجْدَرَكَ بِأَنْ يَنْظُرَ اللَّهُ تَعَالَى إِلَيْكَ بِعَيْنِ الرَّحْمَةِ
Maka sangat layak bagimu Allah memandangmu dengan pandangan rahmat.
فَإِذَا بَلَغْتَ الْمَسْجِدَ فَاذْكُرْ أَنَّهَا الْعَرْصَةُ الَّتِي اخْتَارَهَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Jika engkau telah sampai di masjid, maka ingatlah bahwa itu adalah tempat yang Allah pilih untuk Nabi-Nya.
وَلِأَوَّلِ الْمُسْلِمِينَ وَأَفْضَلِهِمْ عِصَابَةً
Dan untuk generasi pertama kaum muslimin yang terbaik.
وَأَنَّ فَرَائِضَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ أَوَّلُ مَا أُقِيمَتْ فِي تِلْكَ الْعَرْصَةِ
Dan bahwa kewajiban-kewajiban Allah pertama kali ditegakkan di tempat itu.
وَأَنَّهَا جَمَعَتْ أَفْضَلَ خَلْقِ اللَّهِ حَيًّا وَمَيِّتًا
Dan bahwa tempat itu menghimpun makhluk terbaik, baik yang hidup maupun yang telah wafat.
فَلْيَعْظُمْ أَمَلُكَ فِي اللَّهِ سُبْحَانَهُ أَنْ يَرْحَمَكَ بِدُخُولِكَ إِيَّاهُ
Maka besarkanlah harapanmu kepada Allah agar Dia merahmatimu dengan masuk ke dalamnya.
فَادْخُلْهُ خَاشِعًا مُعَظِّمًا
Maka masuklah ke dalamnya dengan khusyuk dan penuh pengagungan.
وَمَا أَجْدَرَ هَذَا الْمَكَانَ بِأَنْ يَسْتَدْعِيَ الْخُشُوعَ مِنْ قَلْبِ كُلِّ مُؤْمِنٍ
Dan betapa pantas tempat ini menghadirkan kekhusyukan dari hati setiap orang beriman.
كَمَا حُكِيَ عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ أَنَّهُ قَالَ حَجَّ أُوَيْسٌ الْقَرَنِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ
Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Sulaiman bahwa ia berkata: Uwais al-Qarani ra. berhaji lalu memasuki Madinah.
فَلَمَّا وَقَفَ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ قِيلَ لَهُ هَذَا قَبْرُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Ketika ia berdiri di pintu masjid, dikatakan kepadanya: ini adalah kubur Nabi ﷺ.
فَغُشِيَ عَلَيْهِ
Maka ia pun pingsan.
فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ أَخْرِجُونِي فَلَيْسَ يَلِذُّ لِي بَلَدٌ فِيهِ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَدْفُونٌ
Ketika ia sadar, ia berkata: keluarkan aku, karena tidak terasa nikmat bagiku tinggal di negeri yang di dalamnya Muhammad ﷺ dimakamkan.
وَأَمَّا زِيَارَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْبَغِي أَنْ تَقِفَ بَيْنَ يَدَيْهِ كَمَا وَصَفْنَا
Adapun ziarah kepada Rasulullah ﷺ, hendaknya engkau berdiri di hadapannya sebagaimana telah kami jelaskan.
وَتَزُورَهُ مَيِّتًا كَمَا تَزُورُهُ حَيًّا
Dan engkau menziarahinya dalam keadaan wafat sebagaimana engkau menziarahinya ketika hidup.
وَلَا تَقْرَبْ مِنْ قَبْرِهِ إِلَّا كَمَا كُنْتَ تَقْرَبُ مِنْ شَخْصِهِ الْكَرِيمِ لَوْ كَانَ حَيًّا
Dan janganlah engkau mendekati kuburnya kecuali sebagaimana engkau dahulu mendekati dirinya yang mulia seandainya beliau masih hidup.
وَكَمَا كُنْتَ تَرَى الْحُرْمَةَ فِي أَنْ لَا تَمَسَّ شَخْصَهُ وَلَا تُقَبِّلَهُ بَلْ تَقِفُ مِنْ بُعْدٍ مَاثِلًا بَيْنَ يَدَيْهِ
Sebagaimana engkau memandang bahwa menjaga adab adalah tidak menyentuh tubuhnya dan tidak menciumnya, melainkan berdiri dari kejauhan di hadapannya,
فَكَذَلِكَ فَافْعَلْ
maka demikian pula lakukanlah.
فَإِنَّ الْمَسَّ وَالتَّقْبِيلَ لِلْمَشَاهِدِ عَادَةُ النَّصَارَى وَالْيَهُودِ
Karena menyentuh dan mencium tempat-tempat ziarah adalah kebiasaan orang Nasrani dan Yahudi.
وَاعْلَمْ أَنَّهُ عَالِمٌ بِحُضُورِكَ وَقِيَامِكَ وَزِيَارَتِكَ
Dan ketahuilah bahwa beliau mengetahui kehadiranmu, berdirimu, dan ziarahmu.
وَأَنَّهُ يُبَلَّغُ سَلَامُكَ وَصَلَاتُكَ
Dan bahwa salam serta shalawatmu disampaikan kepadanya.
فَمَثِّلْ صُورَتَهُ الْكَرِيمَةَ فِي خَيَالِكَ مَوْضُوعًا فِي اللَّحْدِ بِإِزَائِكَ
Maka bayangkanlah sosoknya yang mulia dalam benakmu seakan berada di dalam liang lahat di hadapanmu.
وَأَحْضِرْ عَظِيمَ رُتْبَتِهِ فِي قَلْبِكَ
Dan hadirkanlah keagungan derajatnya dalam hatimu.
فَقَدْ رُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَكَّلَ بِقَبْرِهِ مَلَكًا يُبَلِّغُهُ سَلَامَ مَنْ سَلَّمَ عَلَيْهِ مِنْ أُمَّتِهِ
Karena telah diriwayatkan darinya ﷺ bahwa Allah menugaskan seorang malaikat di kuburnya untuk menyampaikan salam orang yang memberi salam dari umatnya.
وَهَذَا فِي حَقِّ مَنْ لَمْ يَحْضُرْ قَبْرَهُ
Dan ini berlaku bagi orang yang tidak hadir di kuburnya.
فَكَيْفَ بِمَنْ فَارَقَ الْوَطَنَ وَقَطَعَ الْبَوَادِي شَوْقًا إِلَى لِقَائِهِ
Maka bagaimana dengan orang yang meninggalkan kampung halaman dan menempuh perjalanan jauh karena rindu untuk bertemu dengannya.
وَاكْتَفَى بِمُشَاهَدَةِ مَشْهَدِهِ الْكَرِيمِ إِذْ فَاتَهُ مُشَاهَدَةُ غُرَّتِهِ الْكَرِيمَةِ
Dan ia hanya dapat menyaksikan makamnya yang mulia karena telah terlewat kesempatan melihat wajahnya yang mulia.
وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Dan Nabi ﷺ bersabda: barang siapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.
فَهَذَا جَزَاؤُهُ فِي الصَّلَاةِ عَلَيْهِ بِلِسَانِهِ
Maka itu balasan bagi orang yang bershalawat kepadanya dengan lisannya.
فَكَيْفَ بِالْحُضُورِ لِزِيَارَتِهِ بِبَدَنِهِ
Lalu bagaimana dengan hadir secara langsung untuk menziarahinya dengan tubuhnya.
ثُمَّ ائْتِ مِنْبَرَ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Kemudian datanglah ke mimbar Rasulullah ﷺ.
وَتَوَهَّمْ صُعُودَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِنْبَرَ
Dan bayangkan Nabi ﷺ sedang naik ke mimbar.
وَمَثِّلْ فِي قَلْبِكَ طَلْعَتَهُ الْبَهِيَّةَ كَأَنَّهَا عَلَى الْمِنْبَرِ
Dan hadirkan dalam hatimu penampilan beliau yang indah seakan-akan beliau berada di atas mimbar itu.
وَقَدْ أَحْدَقَ بِهِ الْمُهَاجِرُونَ وَالْأَنْصَارُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
Dan para Muhajirin dan Anshar telah mengelilinginya.
وَهُوَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحُثُّهُمْ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِخُطْبَتِهِ
Dan beliau ﷺ mendorong mereka untuk taat kepada Allah dengan khutbahnya.
وَسَلِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُفَرِّقَ فِي الْقِيَامَةِ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ
Dan mohonlah kepada Allah agar tidak memisahkan antara engkau dan beliau pada hari kiamat.
فَهَذِهِ وَظِيفَةُ الْقَلْبِ فِي أَعْمَالِ الْحَجِّ
Maka inilah tugas hati dalam amalan haji.
فَإِذَا فَرَغَ مِنْهَا كُلِّهَا فَيَنْبَغِي أَنْ يَلْزَمَ قَلْبَهُ الْحُزْنُ وَالْهَمُّ وَالْخَوْفُ
Jika ia telah selesai dari semuanya, maka hendaknya hatinya diliputi kesedihan, kegelisahan, dan rasa takut.
وَأَنَّهُ لَيْسَ يَدْرِي أَقُبِلَ مِنْهُ حَجُّهُ وَأُثْبِتَ فِي زُمْرَةِ الْمَحْبُوبِينَ أَمْ رُدَّ حَجُّهُ وَأُلْحِقَ بِالْمَطْرُودِينَ
Dan bahwa ia tidak tahu apakah hajinya diterima sehingga termasuk golongan yang dicintai, atau ditolak sehingga termasuk golongan yang dijauhkan.
وَلْيَتَعَرَّفْ ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ وَأَعْمَالِهِ
Dan hendaknya ia mengenali hal itu dari hatinya dan amal-amalnya.
فَإِنْ صَادَفَ قَلْبَهُ قَدِ ازْدَادَ تَجَافِيًا عَنْ دَارِ الْغُرُورِ وَانْصِرَافًا إِلَى دَارِ الْأُنْسِ بِاللَّهِ تَعَالَى
Jika ia mendapati hatinya semakin menjauh dari dunia yang menipu dan semakin condong ke negeri keakraban dengan Allah,
وَوَجَدَ أَعْمَالَهُ قَدِ اتَّزَنَتْ بِمِيزَانِ الشَّرْعِ
Dan ia melihat amal-amalnya telah seimbang dengan timbangan syariat,
فَلْيَثِقْ بِالْقَبُولِ
Maka hendaklah ia yakin akan penerimaan.
فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَقْبَلُ إِلَّا مَنْ أَحَبَّهُ
Karena Allah tidak menerima kecuali dari orang yang Dia cintai.
وَمَنْ أَحَبَّهُ تَوَلَّاهُ
Dan siapa yang Dia cintai, maka Dia akan melindunginya.
وَأَظْهَرَ عَلَيْهِ آثَارَ مَحَبَّتِهِ
Dan menampakkan padanya tanda-tanda kecintaan-Nya.
وَكَفَّ عَنْهُ سَطْوَةَ عَدُوِّهِ إِبْلِيسَ لَعَنَهُ اللَّهُ
Dan menahan darinya serangan musuhnya, yaitu Iblis yang terlaknat.
فَإِذَا ظَهَرَ ذَلِكَ عَلَيْهِ دَلَّ عَلَى الْقَبُولِ
Jika hal itu tampak padanya, maka itu menunjukkan penerimaan.
وَإِنْ كَانَ الْأَمْرُ الْآخَرُ بِخِلَافِهِ
Dan jika keadaannya sebaliknya,
فَيُوشِكُ أَنْ يَكُونَ حَظُّهُ مِنْ سَفَرِهِ الْعَنَاءُ وَالتَّعَبُ
maka hampir saja bagian yang ia peroleh dari perjalanannya hanyalah kelelahan dan kesusahan.
نَعُوذُ بِاللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ ذَلِكَ
Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.
تَمَّ كِتَابُ أَسْرَارِ الْحَجِّ
Telah selesai kitab Rahasia-rahasia Haji.
يَتْلُوهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى كِتَابُ آدَابِ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ
Dan setelahnya, insyaAllah, akan diikuti dengan kitab Adab Membaca Al-Qur’an.
[كِتَابُ آدَابِ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ]
Kitab Adab Tilawah Al-Qur’an.
.......
Posted in:
0 comments:
Posting Komentar