Senin, 13 April 2026

Shalawat Nuridzati

 



"Ya Rabb, berikanlah rahmat keselamatan dan berkah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. (Beliau) merupakan cahaya Dzat (Allah) dan merupakan rahasia yang mengalir pada seluruh nama dan sifat dan berikanlah pula salam sejahtera, barokah atas keluarga dan para sahabatnya."

Munajat Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Kitab Al-Hikam (on progress)

Munajat 1 

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:

01 – إِلٰهِي أَنَا الْفَقِيرُ فِي غِنَايَ، فَكَيْفَ لَا أَكُونُ فَقِيرًا فِي فَقْرِي؟ إِلٰهِي أَنَا الْجَاهِلُ فِي عِلْمِي، فَكَيْفَ لَا أَكُونُ جَهُولًا فِي جَهْلِي؟

Wahai Tuhanku, aku adalah seorang fakir bahkan dalam keadaanku yang berkecukupan, maka bagaimana mungkin aku tidak menjadi fakir dalam kefakiranku? Wahai Tuhanku, aku adalah orang bodoh bahkan dalam ilmuku, maka bagaimana mungkin aku tidak menjadi sangat bodoh dalam kebodohanku?


Syarah Syaikh Ibnu Abbad Ar-Rundi


الْعَبْدُ مَوْصُوفٌ بِصِفَاتِ النَّقْصِ، وَهِيَ ذَاتِيَّةٌ لَهُ.

Seorang hamba disifati dengan sifat-sifat kekurangan, dan sifat-sifat itu melekat pada hakikat dirinya.


وَالْكَمَالُ الْعَارِضُ لَهُ وَالْمَنْسُوبُ إِلَيْهِ نُقْصَانٌ عَلَى التَّحْقِيقِ.

Sedangkan kesempurnaan yang datang kepadanya dan dinisbatkan kepadanya, pada hakikatnya tetaplah merupakan kekurangan.

وَمِنْ ثَمَّ كَانَ مَا ذَكَرَهُ الْمُؤَلِّفُ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى –

Oleh karena itu, apa yang disebutkan oleh sang penulis—semoga Allah Ta‘ala merahmatinya—

مِنْ كَوْنِهِ فَقِيرًا فِي غِنَاهُ، وَجَاهِلًا فِي عِلْمِهِ، صَحِيحًا مُسْتَقِيمًا،

bahwa dirinya fakir dalam kecukupannya dan bodoh dalam ilmunya adalah benar dan lurus,

وَكَأَنَّهُ قَصَدَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – بِهٰذَا الِاعْتِرَافِ دَوَامَ الِاضْطِرَارِ،

dan seakan-akan beliau—radhiyallahu ‘anhu—dengan pengakuan ini bermaksud menyatakan keterpaksaan yang terus-menerus,


وَلُزُومَ الْفَاقَةِ وَالِافْتِقَارِ،

serta keharusan berada dalam keadaan fakir dan membutuhkan,


وَأَنَّهُ لَا اسْتِغْنَاءَ لَهُ عَنْ مَوْلَاهُ عَزَّ وَجَلَّ،

dan bahwa tidak ada baginya sedikit pun kemandirian dari Tuhannya Azza wa Jalla.


وَلَا يَنْفَكُّ مِنَ الِاحْتِيَاجِ إِلَيْهِ وَالتَّعَلُّقِ بِهِ،

dan ia tidak pernah lepas dari kebutuhan dan ketergantungan kepada-Nya,


وَالسُّؤَالِ وَالطَّلَبِ مِنْهُ فِي كُلِّ حَالٍ مِنْ أَحْوَالِهِ،

serta dari meminta dan memohon kepada-Nya dalam setiap keadaan yang ia alami,


كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ:

sebagaimana dikatakan oleh sebagian mereka:


إِنِّي إِلَيْكَ مَدَى الْأَنْفَاسِ مُحْتَاجٌ

لَوْ كَانَ فِي مَفْرِقِي الْإِكْلِيلُ وَالتَّاجُ

“Sesungguhnya aku membutuhkan-Mu sepanjang hela nafasku,

meskipun di kepalaku tersemat mahkota dan perhiasan.”


وَهٰذَا مِنْهُ دَلِيلٌ عَلَى تَحَقُّقِهِ فِي مَقَامِ الْعُبُودِيَّةِ،

Dan hal ini darinya merupakan bukti bahwa ia telah merealisasikan maqam kehambaan,


الَّتِي اقْتَضَتْهَا عَظَمَةُ الرُّبُوبِيَّةِ.

yang dituntut oleh keagungan ketuhanan.


وَتَقْدِيمُهُ لِهٰذِهِ الْمَعَانِي بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِهِ وَمُنَاجَاتِهِ فِي غَايَةِ الْحُسْنِ.

Mendahulukan makna-makna ini sebelum doa dan munajatnya adalah sesuatu yang sangat indah.


قَالَ سَيِّدِي أَبُو الْحَسَنِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Sayyidi Abu al-Hasan radhiyallahu ‘anhu berkata:


«مَا طَلَبْتُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِلَّا وَقَدَّمْتُ إِسَاءَتِي أَمَامِي».

“Aku tidak pernah meminta sesuatu kepada Allah kecuali aku mendahulukan keburukan diriku di hadapanku.”


يُرِيدُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Yang beliau maksud—radhiyallahu ‘anhu—adalah:


لَا يَطْلُبُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا بِوَصْفٍ يَسْتَحِقُّ بِهِ الْعَطَاءَ،

ia tidak meminta sesuatu kepada Allah dengan sifat yang membuatnya layak menerima pemberian,


بَلْ لَا يَكُونُ طَلَبُهُ وُجُودَ فَضْلِهِ إِلَّا بِفَضْلِهِ.

bahkan permintaannya terhadap limpahan karunia Allah pun semata-mata karena karunia Allah itu sendiri.


وَقَالَ أَبُو عُثْمَانَ، رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ،

Abu ‘Utsman radhiyallahu Ta‘ala ‘anhu berkata,


فِي قَوْلِهِ تَعَالَى:

dalam penafsiran firman Allah Ta‘ala:


﴿ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً﴾ [الأَعْرَافِ: ٥٥]

“Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan penuh kerendahan dan secara tersembunyi.” (al-A‘raf: 55)


التَّضَرُّعُ فِي الدُّعَاءِ:أَنْ لَا تُقَدِّمَ إِلَيْهِ أَفْعَالَكَ،

Makna tadharru‘ dalam doa adalah: engkau tidak mendahulukan amal-amalmu kepada-Nya,


وَصَلَوَاتِكَ وَصِيَامَكَ وَقِيَامَكَ وَقِرَاءَتَكَ،

baik salat, puasa, qiyam, maupun bacaanmu,


ثُمَّ تَدْعُو عَلَى أَثَرِهِ،

kemudian baru berdoa setelah itu,


إِنَّمَا التَّضَرُّعُ أَنْ تُقَدِّمَ إِلَيْهِ افْتِقَارَكَ،

melainkan tadharru‘ itu adalah engkau mendahulukan kefakiranmu,


وَعَجْزَكَ وَضَرُورَتَكَ وَفَاقَتَكَ، وَقِلَّةَ حِيلَتِكَ،

kelemahanmu, kebutuhanmu, dan kefakiranmu,

serta sedikitnya daya dan upayamu,


ثُمَّ تَدْعُو بِلَا عِلَاقَةٍ وَلَا سَبَبٍ، فَيُرْفَعُ دُعَاؤُكَ.

kemudian engkau berdoa tanpa sandaran dan sebab apa pun, maka doamu akan diangkat.


وَقَالَ الْوَاسِطِيُّ، رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ:

Al-Wasithi radhiyallahu Ta‘ala ‘anhu berkata:


«تَضَرُّعًا: بِذُلِّ الْعُبُودِيَّةِ وَخَلْعِ الِاسْتِطَالَةِ».

“Tadharru‘ adalah merendahkan diri dengan kehambaan dan menanggalkan perasaan lebih dan merasa berjasa.”


وَقَالَ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Sahl bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata:


«مَا أَظْهَرَ عَبْدٌ فَقْرَهُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَىٰ فِي وَقْتِ الدُّعَاءِ، فِي شَيْءٍ يَحِلُّ بِهِ،

“Tidaklah seorang hamba menampakkan kefakirannya kepada Allah Ta‘ala saat berdoa, dalam suatu perkara yang menimpanya,


إِلَّا قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ : لَوْلَا أَنَّهُ لَا يَحْتَمِلُ كَلَامِي لَأَجَبْتُهُ: لَبَّيْكَ».

kecuali Allah berfirman kepada para malaikat-Nya: “Seandainya ia mampu menanggung firman-Ku, niscaya Aku akan menjawabnya: ‘Aku penuhi panggilanmu.’”


Munajat 2:

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:


02 – إِلٰهِي إِنَّ اخْتِلَافَ تَدْبِيرِكَ، وَسُرْعَةَ حُلُولِ مَقَادِيرِكَ، مَنَعَا عِبَادَكَ الْعَارِفِينَ بِكَ عَنِ السُّكُونِ إِلَىٰ عَطَاءٍ، وَالْيَأْسِ مِنْكَ فِي بَلَاءٍ.

Wahai Tuhanku, sesungguhnya perbedaan dalam pengaturan-Mu, dan cepatnya datang ketentuan-ketentuan-Mu, telah menghalangi hamba-hamba-Mu yang mengenal-Mu dari bersandar tenang kepada suatu pemberian, dan dari berputus asa kepada-Mu ketika berada dalam cobaan.


Syarah:


تَلْوِينُ الْأَحْكَامِ عَلَى الْعِبَادِ، يَقْتَضِي أَنْ لَا يُسَاكِنُوا حَالًا سَارَّةً يَكُونُونَ عَلَيْهَا،

Pergantian berbagai ketetapan terhadap para hamba, menuntut agar mereka tidak menetap tenang pada satu keadaan menyenangkan yang sedang mereka alami,


وَلَا يَيْأَسُوا فِي حَالٍ ضَارَّةٍ تَنْزِلُ بِهِمْ، مِنْ وُجُودِ الْفَرَحِ وَالرَّاحَةِ.

dan agar mereka tidak berputus asa dalam keadaan menyulitkan yang menimpa mereka, baik karena adanya kegembiraan maupun kenyamanan.


وَهٰذَا مَحْضُ تَعَلُّقٍ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَهُوَ نَعْتُ الْعَارِفِينَ.

Dan ini adalah keterikatan yang murni kepada Allah Azza wa Jalla, dan inilah sifat orang-orang yang arif (mengenal Allah).


Munajat 3:

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:


03 – إِلٰهِي مِنِّي مَا يَلِيقُ بِلُؤْمِي، وَمِنْكَ مَا يَلِيقُ بِكَرَمِكَ.

Wahai Tuhanku, dariku muncul apa yang sesuai dengan kehinaanku, dan dari-Mu muncul apa yang sesuai dengan kemuliaan dan kedermawanan-Mu.

Syarah:

لُؤْمُ الْعَبْدِ الَّذِي رُكِّبَ عَلَيْهِ، يَقْتَضِي مِنْهُ مُبَارَزَةَ مَوْلَاهُ بِالْعَظَائِمِ وَالْكَبَائِرِ.

Kehinaan hamba yang telah melekat pada dirinya,
menyebabkannya berani menentang Tuhannya dengan dosa-dosa besar dan pelanggaran berat.

وَكَرَمُ الْمَوْلَى الَّذِي هُوَ مُتَّصِفٌ بِهِ، يَقْتَضِي مِنْهُ التَّجَاوُزَ وَالْعَفْوَ عَنْ عَبْدِهِ، وَقَبُولَ عُذْرِهِ.

Sedangkan kemurahan Sang Tuan yang menjadi sifat-Nya, menuntut-Nya untuk melampaui kesalahan dan memaafkan hamba-Nya, serta menerima alasan dan pengakuannya.

وَهٰذَا الْكَلَامُ مِنْ أَلْطَفِ وُجُوهِ السُّؤَالِ وَالرَّغْبَةِ، وَهُوَ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ.

Ungkapan ini termasuk bentuk permohonan dan harapan yang paling halus, dan ia merupakan bagian dari adab dalam berdoa.

يُحْكَى أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِبَعْضِ الْأَنْبِيَاءِ، عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ:

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada salah seorang nabi—shalawat dan salam atas mereka—:


قُلْ لَهُ: كَمْ أُخَالِفُهُ وَأَعْصِيهِ، وَهُوَ لَا يُعَاقِبُنِي!

“Sampaikan kepada-Nya: betapa sering aku menyelisihi dan mendurhakai-Nya, namun Dia tidak menghukumku!”

فَأَوْحَى اللَّهُ تَعَالَىٰ إِلَىٰ ذٰلِكَ النَّبِيِّ:

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada nabi tersebut:

قُلْ لِفُلَانٍ: لِتَعْلَمَ أَنِّي أَنَا، وَأَنْتَ أَنْتَ.

“Katakan kepada si fulan: agar engkau mengetahui bahwa Aku adalah Aku, dan engkau adalah engkau.”

Munajat 4:

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:


04) – إِلٰهِي وَصَفْتَ نَفْسَكَ بِاللُّطْفِ وَالرَّأْفَةِ بِي قَبْلَ وُجُودِ ضَعْفِي، أَفَتَمْنَعُنِي مِنْهُمَا بَعْدَ وُجُودِ ضَعْفِي؟

Wahai Tuhanku, Engkau telah mensifati diri-Mu dengan kelembutan dan kasih sayang kepadaku sebelum adanya kelemahanku, maka apakah Engkau akan menghalangiku dari keduanya setelah nyata kelemahanku?

Syarah:

اللُّطْفُ وَالرَّأْفَةُ وَصْفَانِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،

Lembut (al-luṭf) dan kasih sayang (ar-ra’fah) adalah dua sifat Allah Azza wa Jalla,

اتَّصَفَ بِهِمَا فِي الْأَزَلِ قَبْلَ وُجُودِ ضَعْفِ الْعَبْدِ وَفَاقَتِهِ وَحَاجَتِهِ.

yang telah Dia sandangkan pada diri-Nya sejak azali, sebelum adanya kelemahan, kefakiran, dan kebutuhan hamba.


وَهُمَا مُقْتَضِيَانِ لِوُجُودِ آثَارِهِمَا فِيمَا لَا يَزَالُ بَعْدَ وُجُودِ ذَاتِ الْعَبْدِ وَصِفَاتِهِ.

Kedua sifat itu meniscayakan adanya pengaruh-pengaruhnya secara terus-menerus setelah adanya diri hamba dan sifat-sifatnya.

هِيَ إِسْبَاغُ نِعَمِهِ عَلَيْهِ، وَإِيصَالُ أَفْضَالِهِ إِلَيْهِ،

yaitu melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya dan menyampaikan keutamaan-keutamaan-Nya kepadanya,


فَكَيْفَ يُتَصَوَّرُ إِذْ ذَاكَ مَنْعُهُ إِيَّاهُمَا؟

maka bagaimana mungkin pada saat itu dapat dibayangkan Dia akan menahan kedua sifat tersebut darinya?

Munajat 5:

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:

05 – إِلٰهِي، إِنْ ظَهَرَتِ الْمَحَاسِنُ مِنِّي فَبِفَضْلِكَ، وَلَكَ الْمِنَّةُ عَلَيَّ، وَإِنْ ظَهَرَتِ الْمَسَاوِئُ فَبِعَدْلِكَ، وَلَكَ الْحُجَّةُ عَلَيَّ.

Wahai Tuhanku, bila kebaikan tampak dariku, maka itu karena karunia-Mu, dan bagi-Mu segala anugerah atasku, dan bila keburukan tampak dariku, maka itu karena keadilan-Mu, dan Engkau memiliki hujjah atasku.

Syarah:

ظُهُورُ الْمَحَاسِنِ عَلَى الْعَبْدِ، وَهِيَ أَنْوَاعُ الطَّاعَاتِ وَالْحَسَنَاتِ وَالصِّفَاتِ الْمَحْمُودَاتِ،

Tampaknya kebaikan pada diri seorang hamba, yaitu berbagai bentuk ketaatan, kebaikan, dan sifat-sifat terpuji,


فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، وَالْمِنَّةُ لَهُ عَلَيْهِ لِعَدَمِ اسْتِحْقَاقِهِ ذٰلِكَ.

adalah karunia dari Allah Ta‘ala, dan anugerah itu sepenuhnya milik-Nya, karena hamba tidak berhak atasnya.

وَظُهُورُ الْمَسَاوِئِ مِنْهُ، وَهِيَ: ضُرُوبُ الْمَعَاصِي، وَالسَّيِّئَاتِ، وَالْأَوْصَافِ الْمَذْمُومَاتِ، عَدْلٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى؛

Adapun tampaknya keburukan darinya,
yaitu berbagai jenis maksiat, dosa, dan sifat-sifat tercela, itu adalah keadilan dari Allah Ta‘ala,

إِذْ لَهُ أَنْ يَفْعَلَ مَا يَشَاءُ بِعَبْدِهِ، وَالْحُجَّةُ لَهُ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ رَبٌّ وَهُوَ عَبْدٌ.

karena Dia berhak melakukan apa saja terhadap hamba-Nya, dan hujjah sepenuhnya milik-Nya, sebab Dia adalah Tuhan dan hamba hanyalah hamba.

وَمُنَاجَاةُ الْعَبْدِ لِمَوْلَاهُ بِهٰذَا الْكَلَامِ مِنْ أَحْسَنِ الْمُنَاجَاةِ،

Munajat seorang hamba kepada Tuhannya dengan ungkapan ini termasuk munajat yang paling indah,

وَهِيَ مُقْتَضِيَةٌ لِوُجُودِ إِسْعَافِهِ لَهُ، وَمُوَالَاةِ أَلْطَافِهِ عَلَيْهِ، لِمَا فِيهَا مِنَ الثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى عَلَىٰ بِسَاطِ قُرْبِهِ،

dan sangat berpeluang menghadirkan pertolongan-Nya serta kesinambungan kelembutan-Nya kepadanya, karena di dalamnya terdapat pujian kepada Allah Ta‘ala di hamparan kedekatan-Nya,

وَذِكْرِ صِفَاتِهِ الْعُلْيَا، وَالتَّعَلُّقِ بِهَا،

penyebutan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi, dan keterikatan dengannya,

وَالِاعْتِرَافِ لَهُ بِالنِّعَمِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ،

serta pengakuan atas nikmat-nikmat lahir dan batin dari-Nya,

وَلِمَا فِيهَا أَيْضًا مِنْ رُؤْيَةِ ضَعْفِ النَّفْسِ،

dan juga karena di dalamnya terdapat kesadaran akan kelemahan jiwa,

وَالْإِقْرَارِ عَلَيْهَا بِالنَّقْصِ وَالْقُصُورِ،

pengakuan atas kekurangan dan ketidakmampuannya,

وَإِنْزَالِهَا مَنْزِلَتَهَا مِنَ الذُّلَّةِ وَالْمَهَانَةِ.

serta menempatkannya pada posisi kehinaan dan kerendahan yang semestinya.

وَقَدْ قَالَ بَعْضُهُمْ: تَعَلَّقَ شَابٌّ بِأَسْتَارِ الْكَعْبَةِ وَقَالَ:

Sebagian mereka berkata: seorang pemuda berpegang pada kain penutup Ka‘bah lalu berkata:

إِلٰهِي، لَا لَكَ شَرِيكٌ فَيُؤْتَى، وَلَا وَزِيرَ لَكَ فَيُرْشَى، إِنْ أَطَعْتُكَ فَبِفَضْلِكَ وَلَكَ الْمِنَّةُ عَلَيَّ،

Wahai Tuhanku, tidak ada sekutu bagi-Mu sehingga dapat diberi (suap), dan tidak ada pembantu bagi-Mu sehingga dapat disogok, jika aku taat kepada-Mu, maka itu karena karunia-Mu dan anugerah-Mu atasku,

وَإِنْ عَصَيْتُكَ فَبِعَدْلِكَ وَلَكَ الْحُجَّةُ عَلَيَّ، فَبِإِثْبَاتِ حُجَّتِكَ عَلَيَّ،

jika aku bermaksiat kepada-Mu, maka itu karena keadilan-Mu dan hujjah sepenuhnya milik-Mu, maka dengan tetapnya hujjah-Mu atasku,

وَانْقِطَاعِ حُجَّتِي لَدَيْكَ إِلَّا مَا غَفَرْتَ لِي، فَسَمِعَ هَاتِفًا يَقُولُ: «الْفَتَى عَتِيقٌ مِنَ النَّارِ».

dan terputusnya hujjahku di hadapan-Mu kecuali ampunan-Mu, maka terdengarlah suara yang berkata: “Pemuda itu telah dibebaskan dari neraka.”

Munajat 6:

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:


 -6 إِلٰهِي، كَيْفَ تَكِلُنِي إِلَىٰ نَفْسِي وَقَدْ تَوَكَّلْتُ عَلَيْكَ،  وَكَيْفَ أُضَامُ وَأَنْتَ النَّاصِرُ لِي، أَمْ كَيْفَ أَخِيبُ وَأَنْتَ الْحَفِيُّ بِي؟

Wahai Tuhanku, bagaimana Engkau menyerahkanku kepada diriku sendiri padahal aku telah bertawakal kepada-Mu, 
dan bagaimana aku terzalimi sementara Engkau adalah penolongku, atau bagaimana aku akan gagal sementara Engkau Maha Lembut kepadaku?


Syarah:

الْوَكِيلُ، وَالنَّاصِرُ، وَالْحَفِيُّ: أَسْمَاءٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،

Al-Wakīl, An-Nāṣir, dan Al-Ḥafiyy adalah nama-nama Allah Azza wa Jalla

وَهِيَ مُقْتَضِيَةٌ لِوُجُودِ آثَارِهَا، مِنْ وُجُودِ الْكِفَايَةِ وَالْمَنْعَةِ،

yang meniscayakan hadirnya dampak-dampaknya,
berupa kecukupan dan perlindungan,

وَالظَّفَرِ بِغَايَةِ الْمَقْصُودِ وَالْبُغْيَةِ، فَكَيْفَ يُتَصَوَّرُ انْفِكَاكُ ذٰلِكَ عَنِ الْعَبْدِ عِنْدَ وُجُودِ حَاجَتِهِ،

serta tercapainya tujuan dan harapan tertinggi,
maka bagaimana mungkin semua itu terpisah dari seorang hamba saat ia berada dalam kebutuhan,

كَمَا تَقَدَّمَ فِي اللُّطْفِ وَالرَّأْفَةِ.

sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan tentang kelembutan dan kasih sayang.


الرَّأْفَةُ: أَرَقُّ الرَّحْمَةِ وَمِنَ اللَّهِ: دَفْعُ السُّوءِ

Ra’fah adalah bentuk kasih sayang yang paling halus. Dari Allah, maknanya adalah menolak keburukan.

الضَّيْمُ: انْتِقَاصُ الْحَقِّ

Ḍaym berarti pengurangan atau penzhaliman hak.

الْحَفِيُّ: اللَّطِيفُ
Al-Ḥafiyy berarti Yang Maha Lembut.


وَلُطْفُهُ بِعَبْدِهِ: عِلْمُهُ بِدَقَائِقِ مَصَالِحِهِ وَخَفِيَّاتِ مَآرِبِهِ،

Dan kelembutan Allah kepada hamba-Nya adalah pengetahuan-Nya terhadap hal-hal yang sangat halus dari kemaslahatan hamba serta kebutuhan-kebutuhannya yang tersembunyi.

وَإِيصَالُ ذٰلِكَ إِلَيْهِ بِرِفْقٍ،

Dan penyampaian semua itu kepada hamba tersebut dengan penuh kelembutan.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ﴾ [الشورى: ١٩]

Dan Allah Ta'ala berfirman: “Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Asy-Syūrā: 19)

Munajat 7:

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:

.........................

Kamis, 14 November 2024

Bagian Ketiga dari Kebersihan: Membersihkan Kotoran yang Terlihat (Dari Kitab Ihya Ulumiddin)

Kebersihan dari kotoran yang terlihat terbagi menjadi dua jenis: 

A. Kotoran dan bagian tubuh

Berikut adalah jenis-jenis kotoran yang sering muncul:

  1. Kotoran di Rambut Kepala: Kotoran dan kutu yang menempel di rambut kepala dianjurkan untuk dibersihkan dengan mencuci, menyisir, dan mengoleskan minyak rambut agar terlihat rapi. Nabi Muhammad ﷺ sering meminyaki dan menyisir rambutnya secara teratur, serta menyarankan umatnya untuk merawat rambut. Beliau bersabda, “Barang siapa memiliki rambut, maka hendaklah ia merawatnya,” yang artinya membersihkan dari kotoran. Ketika seseorang datang kepada beliau dengan rambut acak-acakan, beliau menegur dan berkata bahwa orang tersebut sebaiknya menyisir rambutnya agar terlihat rapi, supaya tidak menyerupai syaitan.
  2. Kotoran di Telinga: Kotoran yang berkumpul di sekitar lipatan telinga bisa dihilangkan dengan mengusap bagian yang tampak. Untuk kotoran di dalam telinga, disarankan membersihkannya dengan lembut setelah keluar dari kamar mandi, karena jika menumpuk, bisa merusak pendengaran.
  3. Kotoran di Dalam Hidung: Kotoran dan lendir yang mengering di dalam hidung sebaiknya dibersihkan dengan cara menghirup air dan kemudian membuangnya (istinsyaq dan istinthar).
  4. Kotoran di Gigi dan Lidah: Kotoran yang menempel di gigi dan ujung lidah dapat dihilangkan dengan bersiwak atau berkumur-kumur.
  5. Kotoran di Janggut: Kotoran atau kutu yang bisa menumpuk di janggut apabila tidak dirawat, disarankan untuk dibersihkan dengan mencuci dan menyisirnya. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan sisir dan cermin, baik dalam perjalanan maupun di rumah. Terdapat riwayat bahwa beliau ﷺ biasa menyisir janggutnya dua kali sehari.
Nabi ﷺ juga memperhatikan kebersihan janggutnya, bahkan di hadapan orang banyak, untuk menjaga penampilan dan memberi kesan baik. Aisyah رضي الله عنها pernah menceritakan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ merapikan rambut dan janggutnya di depan bejana sebelum bertemu dengan orang-orang. Ketika Aisyah bertanya mengapa beliau melakukan hal itu, Nabi ﷺ menjawab bahwa Allah mencintai seorang hamba yang memperhatikan penampilannya di hadapan orang lain. Hal ini tidaklah menunjukkan kecintaan terhadap hiasan, tetapi beliau melakukan hal tersebut agar tidak menimbulkan penilaian buruk dari masyarakat yang mungkin menghambat dakwah.

Dengan demikian, para ulama yang berdakwah juga perlu menjaga penampilan yang tidak menimbulkan ketidaksukaan orang, karena kesan pertama seringkali penting untuk membuka hati orang. Apa yang kita lakukan dengan niat yang benar untuk Allah, seperti berpenampilan rapi, akan mendapatkan pahala sesuai tujuan yang lurus tersebut.

Menjaga Kebersihan Jenggot dan Menghindari Sikap Acuh Tak Acuh dalam Penampilan

Menjaga penampilan agar rapi itu disukai, dan membiarkan rambut acak-acakan dalam jenggot dengan alasan zuhud atau tidak peduli terhadap diri sendiri adalah hal yang tidak disarankan. Namun, jika seseorang meninggalkannya karena lebih sibuk dengan hal-hal yang lebih penting, itu diperbolehkan. Hal-hal ini adalah urusan batin antara seorang hamba dan Allah SWT, dan Allah Maha Mengetahui niat sebenarnya.

Banyak orang awam yang melakukan tindakan ini karena ingin dipandang oleh manusia, dan menganggapnya sebagai kebaikan. Contohnya, ada ulama yang memakai pakaian mewah dan mengaku niatnya adalah untuk menentang orang-orang yang berbuat bid’ah, tetapi hakikatnya akan terbuka pada hari ketika rahasia disingkap. Saat itu, kebenaran niat akan terlihat.

B. Kebersihan Bagian Tubuh Lainnya

  1. Kotoran di Buku-Buku Jari: Kotoran seringkali menumpuk di lipatan jari, terutama karena kebiasaan orang Arab yang jarang mencuci tangan setelah makan. Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk mencuci bagian-bagian tersebut.

  2. Membersihkan Kotoran di Ujung Jari dan di Bawah Kuku: Nabi ﷺ memerintahkan orang Arab untuk membersihkan kotoran di ujung jari dan di bawah kuku karena pada waktu itu jarang tersedia alat pemotong kuku. Nabi ﷺ menetapkan waktu maksimal 40 hari untuk memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan.

  3. Membersihkan Tubuh dari Keringat dan Debu Jalanan: Kotoran yang menempel di tubuh akibat keringat dan debu dapat dihilangkan dengan mandi. Para sahabat Nabi ﷺ pun mandi di pemandian umum di Syam.

Tata Cara Mandi di Pemandian Umum

Mandi di tempat umum memiliki manfaat, seperti membersihkan tubuh dan mengingatkan pada panas api (neraka), tetapi juga memiliki risiko seperti memperlihatkan aurat dan bisa mengurangi rasa malu. Oleh karena itu, dibolehkan mandi di pemandian umum asalkan menjaga aturan, yakni menutup aurat dan menghindari menyentuh atau melihat aurat orang lain. Terdapat dua kewajiban bagi seseorang yang mandi di tempat umum: pertama, menjaga auratnya dari pandangan dan sentuhan orang lain; kedua, menjaga aurat orang lain dengan tidak melihat atau membiarkan aurat mereka terbuka.

Perlu diketahui bahwa dalam hal ini, niat yang tulus kepada Allah lebih utama daripada kesan yang ingin ditampilkan di hadapan manusia.

Etika dan Niat dalam Memasuki Pemandian Umum

Tidak ada alasan untuk tidak mengingatkan sesama dalam hal kebaikan, karena setiap hati akan terpengaruh oleh nasihat dan terjaga dari hal-hal yang dilarang. Meski nasihat mungkin tampak kecil, ia mampu menciptakan kesan buruk terhadap keburukan dan menjauhkan diri darinya. Oleh karena itu, tidak boleh meninggalkan nasihat dan peringatan.

Untuk menghindari godaan, sebaiknya berhati-hati dalam memasuki pemandian umum, karena sering kali di sana terdapat aurat yang terbuka, terutama bagian antara pusar hingga di atas kemaluan yang menurut syariat dianggap sebagai aurat.

Para ulama menyarankan agar pemandian umum dalam keadaan kosong atau terbatas pada orang-orang yang menjaga aurat. Ibnu Umar r.a. pernah terlihat di dalam pemandian umum, menghadap dinding dan menutup matanya dengan kain. Ada pula yang menyarankan agar mengenakan dua kain, satu untuk menutupi aurat dan satu lagi untuk menutup kepala serta menjaga mata.

Tata Cara Memasuki Pemandian Umum Berdasarkan Sunah

Berikut adalah beberapa sunah yang perlu diperhatikan dalam memasuki pemandian umum:

  1. Niat: Memasuki pemandian dengan niat membersihkan diri sebagai bentuk kecintaan kepada kebersihan dan persiapan untuk beribadah, bukan untuk kesenangan duniawi atau sekadar mengikuti hawa nafsu.

  2. Membayar Sebelum Masuk: Sebaiknya memberikan upah kepada penjaga pemandian sebelum masuk untuk menghindari ketidakjelasan dalam pembayaran.

  3. Memasuki dengan Kaki Kiri: Memasuki pemandian dengan kaki kiri sambil mengucapkan, "Bismillahirrahmanirrahim, aku berlindung kepada Allah dari najis, kotoran, dan godaan setan yang terkutuk."

  4. Menggunakan Pemandian Saat Kosong: Berusaha masuk pada waktu yang sepi atau memastikan pemandian hanya diisi oleh orang-orang yang menjaga aurat mereka.

  5. Menutup Mata: Menjaga pandangan dari tubuh yang terbuka, karena gerakan dan perubahan posisi dapat menyebabkan aurat terlihat.

  6. Mencuci Kedua Lengan Saat Masuk: Mencuci kedua lengan saat masuk ke area pemandian.

  7. Menunggu untuk Berkeringat: Tidak langsung masuk ke ruangan panas, tetapi menunggu hingga berkeringat di ruangan pertama.

  8. Menghemat Penggunaan Air: Tidak berlebihan dalam menggunakan air, cukup sesuai kebutuhan, terutama air panas karena biaya dan tenaga untuk menyediakannya.

  9. Mengambil Pelajaran dari Panasnya Pemandian: Merasakan panasnya pemandian sebagai pengingat siksa api neraka, dan membayangkan diri sedang berada di dalam panas yang menyerupai keadaan di neraka untuk meningkatkan kesadaran dan ketakwaan.

Orang yang bijak akan selalu mengingat akhirat dalam setiap momen hidupnya. Pandangannya terhadap segala sesuatu, termasuk air, api, dan hal-hal lainnya, harus diambil sebagai pelajaran dan peringatan, karena segala yang terlihat adalah tanda untuk mengingat dan mengambil hikmah dari-Nya.

Tata Cara Tayamum (Dari Kitab Ihya Ulumiddin)

 Tata Cara Tayamum

Jika tidak bisa menggunakan air karena tidak tersedia setelah mencari, adanya bahaya, air diperlukan untuk minum dirinya atau temannya, atau airnya milik orang lain yang tidak mau menjualnya dengan harga wajar, atau ada luka yang dapat memburuk jika menggunakan air, maka tunggu sampai waktu salat tiba.

  1. Niatkan tayamum untuk mendapatkan izin melakukan salat.
  2. Letakkan tangan di atas tanah yang bersih berdebu, lalu tepuk tangan tersebut dan usapkan ke seluruh wajah.
  3. Tepuk sekali lagi, pisahkan jari-jari, lalu usapkan tangan kanan ke lengan kiri sampai ke siku, lalu balikkan telapak tangan ke arah lengan dan gosok kembali ke arah pergelangan tangan, lanjutkan dengan ibu jari.
  4. Lakukan hal yang sama pada lengan yang lain dan gosokkan kedua telapak tangan serta sela-sela jari.

Jika tayamum dilakukan untuk salat fardhu, maka dibolehkan menggunakannya juga untuk salat sunnah. Namun, jika ingin melakukan dua salat fardhu, ulangi tayamum untuk salat kedua.

Tata Cara Mandi Wajib (Dari Kitab Ihya Ulumiddin)

Tata Cara Mandi Wajib
  1. Letakkan wadah air di sebelah kanan.
  2. Sebutkan nama Allah (Bismillah) dan cuci tangan tiga kali.
  3. Bersihkan kemaluan sebagaimana telah dijelaskan, dan hilangkan najis yang mungkin ada di badan.
  4. Berwudhu seperti untuk salat, kecuali membasuh kaki yang ditunda sampai akhir mandi. Jika kaki sudah dibasuh dan diletakkan di tanah, itu akan membuat air menjadi sia-sia.
  5. Siram air ke kepala tiga kali, lalu ke sisi kanan tubuh tiga kali, kemudian sisi kiri tiga kali.
  6. Gosok bagian depan tubuh dan sela-sela rambut di kepala serta janggut, memastikan air sampai ke akar rambut, baik tebal atau tipis.
  7. Bagi perempuan, tidak wajib membuka ikatan rambut kecuali jika tahu bahwa air tidak mencapai sela-sela rambut.

Wudhu dan Hal-hal Penting Lainnya dalam Mandi Wajib

  1. Berhati-hatilah agar tidak menyentuh kemaluan saat mandi. Jika terjadi, maka ulangi wudhu.
  2. Jika sudah wudhu sebelum mandi, tidak perlu mengulangnya setelah mandi.

Dua hal yang wajib dalam mandi adalah niat dan membasuh seluruh tubuh. Rukun wudhu adalah niat, mencuci wajah, mencuci tangan hingga siku, mengusap bagian kepala, mencuci kaki hingga mata kaki, dan melakukannya secara berurutan. Muwalah (kesinambungan) tidak wajib.

Penyebab Mandi Wajib

Mandi wajib dilakukan karena empat sebab:

  1. Keluar mani,
  2. Pertemuan dua kemaluan (hubungan suami-istri),
  3. Haid, dan
  4. Nifas.
Mandi Sunnah

Selain itu, mandi yang disunnahkan termasuk mandi untuk salat Jumat, dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), ihram, wuquf di Arafah, memasuki Mekah, tiga hari tasyrik, tawaf wada’, masuk Islam bagi non-muslim yang tidak dalam keadaan junub, bangun dari gila, serta setelah memandikan jenazah.

Senin, 23 September 2024

Qodlo dan Qodar dengan Penjelasan Kontemporer || Hikmah 3: Syarah Al-Hikam Dr. M. Said Ramadhan Al-Buthi

 الحِكْمَةُ الثَّالِثَةُ: Hikmah Ketiga

 "سَوَابِقُ الهِمَمِ لَا تَخْرِقُ أَسْوَارَ الأَقْدَارِ"

"Semangat yang kuat tidak dapat menembus dinding takdir".

هَذِهِ الحِكْمَةُ ذَيْلٌ وَتَتِمَّةٌ لِلحِكْمَةِ الَّتِي قَبْلَهَا، وَفِيهَا أَجْوِبَةٌ عَنْ أَسْئِلَةٍ تُثِيرُهَا الحِكْمَةُ الَّتِي قَبْلَهَا فِي الذِّهْنِ. وَدَعُونَا نُفَسِّرُ أَوَّلًا هَذِهِ الحِكْمَةَ تَفْسِيرًا مُحَمَّلًا فِي حُدُودِ المَعْنَى المُتَبَادِرِ مِنْهَا.

Hikmah ini merupakan lanjutan dan pelengkap dari hikmah sebelumnya (hikmah kedua "Keinginanmu untuk mengejar sebab-sebab dunia, padahal Allah telah menempatkanmu dalam keadaan terlepas dari keterikatan dunia, merupakan kemunduran dari cita-cita yang tinggi"), serta di dalamnya terdapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul dari hikmah sebelumnya di benak kita. Mari kita jelaskan terlebih dahulu hikmah ini dalam batasan makna yang tampak.

«سَوَابِقُ الهِمَمِ لَا تَخْرِقُ أَسْوَارَ القَدَرِ» الهِمَمُ هِيَ العَزَائِمُ الَّتِي يُمْتِعُ اللهُ بِهَا النَّاسَ فِي مَجَالِ الإِقْبَالِ عَلَى شُؤُونِهِمْ، مِنْ تِجَارَةٍ وَصِنَاعَةٍ وَدِرَاسَةٍ وَنَحْوِهَا. هَذِهِ الهِمَمُ أَوِ العَزَائِمُ، مَهْمَا اشْتَدَّتْ وَقَوِيَتْ، فِي نُفُوسِ أَصْحَابِهَا، فَإِنَّهَا لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَخْتَرِقَ أَسْوَارَ الأَقْدَارِ. 

"Semangat yang kuat tidak dapat menembus dinding takdir", semangat yang dimaksud di sini adalah tekad kuat yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia dalam urusan-urusan hidupnya, seperti perdagangan, industri, studi, dan sebagainya. Tekad atau semangat ini, sekuat dan sekeras apapun dalam jiwa pemiliknya, tidak akan mampu menembus dinding-dinding takdir. 

وَالأَسْوَارُ جَمْعُ سُورٍ، وَهُوَ السُّورُ المَعْرُوفُ الَّذِي يُحِيطُ بِالبَلْدَةِ. شَبَّهَ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ القَدَرَ الَّذِي قَدَّرَهُ اللهُ فِي غَيْبِهِ عَلَيْكَ وَعَلَيَّ، بِسُورٍ مُحْكَمٍ عَالٍ غَلِيظٍ يُحِيطُ بِالبَلْدَةِ، فَمَهْمَا أَرَادَ الأَعْدَاءُ أَنْ يَخْتَرِقُوهُ مِنْ هُنَا أَوْ هُنَاكَ لَنْ يَسْتَطِيعُوا إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا. أَيْ فَأَنْتَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تُلْغِيَ أَوْ تَقْفِزَ فَوْقَ أَقْدَارِ اللهِ تَعَالَى بِهِمَمِكَ وَمُحَاوَلَاتِكَ مَهْمَا أُوتِيتَ مِنْ بَرَاعَةِ الحِيلَةِ وَخَوَارِقِ القُوَّةِ.

"Dinding (aswar)" adalah bentuk jamak dari "sur", yang berarti tembok yang mengelilingi suatu kota. Ibn Athaillah mengibaratkan takdir yang Allah tentukan dalam ilmu ghaib-Nya untukmu dan untukku sebagai tembok yang kokoh, tinggi, dan tebal yang mengelilingi kota. Seberapa besar pun musuh berusaha untuk menembusnya dari sana-sini, mereka tidak akan mampu melakukannya.

Artinya, engkau tidak bisa menghilangkan atau melompati takdir Allah dengan semangat atau usahamu, betapapun engkau diberi kecerdikan atau kekuatan luar biasa.

وَالمَعْنَى الَّذِي يَرْمِي إِلَيْهِ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ هُوَ التَّالِي: يَا ابْنَ آدَمَ اكْدَحْ كَمَا تُحِبُّ وَابْحَثْ عَنِ النَّتَائِجِ كَمَا تَشَاءُ وَمَارِسِ الأَسْبَابَ فِي عَالَمِهَا الَّذِي أَقَامَكَ اللهُ فِيهِ، جَهْدَ اسْتِطَاعَتِكَ، وَلَكِنْ فَلْتَعْلَمْ أَنَّ الأَسْبَابَ الَّتِي تَتَعَامَلُ مَعَهَا، مَهْمَا كَانَتْ ذَاتَ مَضَاءٍ وَفَاعِلِيَّةٍ فِيمَا يَبْدُو لَكَ، تَتَحَوَّلُ إِلَى ظَوَاهِرَ مَيِّتَةٍ، إِنْ هِيَ عَارَضَتْ قَضَاءَ اللهِ وَحُكْمَهُ المُبْرَمِينَ فِي سَابِقِ غَيْبِهِ.

Makna yang ingin disampaikan oleh Ibn Athaillah adalah sebagai berikut: Wahai anak Adam, berusahalah sekuat yang kamu inginkan, cari hasilnya sebaik yang kamu bisa, dan jalani sebab-sebab di dunia ini yang telah Allah tempatkan kamu di dalamnya dengan segenap kemampuanmu. Namun, ketahuilah bahwa sebab-sebab yang kamu hadapi, seberapa pun tampak kuat dan efektif di matamu, akan menjadi fenomena yang tidak berarti jika bertentangan dengan takdir dan hukum Allah yang telah ditetapkan dalam ilmu Ghaib-Nya.

وَبَادِئَ ذِي بَدْءٍ يَجِبُ أَنْ نَتَبَيَّنَ بِدِقَّةٍ مَعْنَى كُلٍّ مِنَ القَضَاءِ وَالقَدَرِ: مِـنْ أَكْثَرِ الَّذِينَ فَهِمُوا كُلًّا مِنْهُمَا فَهْمًا بَاطِلًا بَلْ مُنْكِسًا. وَلَقَدْ حَمَلَنِي الفَهْمُ الذَّرِيعُ بِحَقِيقَتِهِمَا عَلَى أَنْ أُخْرِجَ كِتَابِي الَّذِي أَصْدَرْتُهُ قَبْلَ عِدَّةِ سِنِينٍ: (الإِنْسَانُ مُسَيَّرٌ أَمْ مُخَيَّرٌ) إِذْ بَسَطْتُ فِيهِ هَذَا المَوْضُوعَ وَأَخْرَجْتُهُ مِنْ دَائِرَةِ التَّعْقِيدِ جَهْدَ اسْتِطَاعَتِي، وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ لَعِبَ دَوْرَهُ فِي إِزَالَةِ الغُمُوضِ الَّذِي تَطَاوَلَ أَمَدُهُ عَلَى هَذَا المَوْضُوعِ.

Pertama-tama, kita harus memahami dengan tepat makna dari qadha dan qadar, karena banyak orang yang telah salah memahami keduanya, bahkan sampai terbalik. Pemahaman mendalam terhadap hakikat keduanya telah mendorong saya untuk menulis buku saya beberapa tahun yang lalu berjudul "Apakah Manusia Ditentukan atau Diberi Pilihan?", di mana saya membahas topik ini dengan upaya maksimal untuk menjelaskannya dari kerumitan. Saya berharap buku tersebut telah memainkan perannya dalam menghilangkan kerancuan yang sudah lama membayangi topik ini.

وَهَا أَنَا، بِهَذِهِ المُنَاسَبَةِ، أَعُودُ إِلَى بَيَانِ مَعْنَى كُلٍّ مِنَ القَضَاءِ وَالقَدَرِ، مَعْنًى يُزِيلُ عَنْهُمَا اللَّبْسَ وَالغُمُوضَ، وَيَقْطَعُ دَابِرَ المُشْكِلَاتِ الوَهْمِيَّةِ الَّتِي يَقُومُ وَيَقْعُدُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ بِهَا. قَضَاءُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: عِلْمُهُ الأَزَلِيُّ بِكُلِّ مَا سَيَجْرِي فِي المُسْتَقْبَلِ. أَمَّا القَدَرُ فَهُوَ: وُقُوعُ الأَشْيَاءِ وَجَرَيَانُهَا، طِبْقًا لِعِلْمِ اللهِ الأَزَلِيِّ بِهَا.

Dan kini, dalam kesempatan ini, saya kembali untuk menjelaskan makna dari qadha dan qadar dengan cara yang menghilangkan kesalahpahaman dan kebingungan, serta memutus akar masalah yang bersifat khayalan yang sering diperdebatkan banyak orang. Qadha Allah SWT adalah pengetahuan-Nya yang azali tentang segala sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Sedangkan qadar adalah terjadinya sesuatu sesuai dengan ilmu Allah yang azali tersebut.

إِذَنْ عِلْمُ اللهِ بِالأَحْدَاثِ الكَوْنِيَّةِ قَبْلَ وُقُوعِهَا هُوَ (القَضَاءُ) فَإِذَا وَقَعَتْ (لَنْ تَقَعَ إِلَّا مُطَابِقَةً لِعِلْمِ اللهِ) فَذَلِكَ هُوَ القَدَرُ.

Jadi, ilmu Allah tentang peristiwa alam sebelum kejadiannya adalah qadha, dan ketika peristiwa itu terjadi (tidak akan terjadi kecuali sesuai dengan ilmu Allah), itulah yang disebut qadar.

إِنَّ القَضَاءَ الَّذِي يَتَحَوَّلُ اسْمُهُ لَدَى الوُقُوعِ إِلَى (قَدَرٍ) مِنْهُ مَا يَقَعُ بِحُكْمِ اللهِ دُونَ أَنْ يَكُونَ لِلإِرَادَةِ البَشَرِيَّةِ مَدْخَلٌ أَوْ أَثَرٌ فِي وُجُودِهِ، مِثْلُ أَنْوَاعِ المَوْتِ وَمَرَضٍ وَعَاهَاتٍ، وَمِثْلُ الحَوَادِثِ الكَوْنِيَّةِ مِثْلُ زَلَازِلَ وَخَسْفٍ وَإِعْصَارٍ وَفَيَضَانَاتٍ. وَمِنْهُ مَا يَتِمُّ ظُهُورُهُ بِخَلْقِ اللهِ وَلَكِنْ عَلَى أَثَرِ إِرَادَةٍ وَقَصْدٍ مِنَ الإِنْسَانِ إِلَى ذَلِكَ، كَالتَّصَرُّفَاتِ الاِخْتِيَارِيَّةِ الَّتِي تَصْدُرُ مِنَ الإِنْسَانِ وَالمُتَمَثِّلَةِ فِي أَنْشِطَتِهِ التِّجَارِيَّةِ وَالصِّنَاعِيَّةِ وَالاجْتِمَاعِيَّةِ عَلَى اخْتِلَافِهَا، وَفِي طَاعَاتِهِ وَقُرُبَاتِهِ الدِّينِيَّةِ مِنْ صَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَحَجٍّ وَنَحْوِ ذَلِكَ.

Qadha yang ketika terjadi berubah menjadi qadar ini, ada yang terjadi semata-mata atas kehendak Allah tanpa adanya campur tangan atau pengaruh dari kehendak manusia, seperti kematian, penyakit, cacat, dan peristiwa alam seperti gempa bumi, longsor, angin topan, dan banjir. Ada juga yang muncul melalui ciptaan Allah, namun disertai dengan kehendak dan niat manusia, seperti perbuatan pilihan manusia yang tercermin dalam aktivitas perdagangan, industri, sosial, dan sebagainya, serta dalam ketaatan dan ibadahnya seperti salat, puasa, haji, dan ibadah lainnya.

وَالمُهِمُّ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ كُلًا هَذَيْنِ النَّوْعَيْنِ دَاخِلٌ فِي مَعْنَى قَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ إِذْ كُلُّ ذَلِكَ إِنَّمَا يَجْرِي بِعِلْمِ اللهِ وَخَلْقِهِ، وَأَنْ تَعْلَمَ أَنَّ خُضُوعَ كُلِّ شَيْءٍ لِسُلْطَانِ قَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ، لَا عِلَاقَةَ لَهُ بِاخْتِيَارِ الإِنْسَانِ وَجَبْرِهِ. وَلَسْنَا الآنَ بِصَدَدِ بَسْطِ القَوْلِ فِي هَذَا المَوْضُوعِ الَّذِي لَهُ مَجَالُهُ الخَاصُّ بِهِ.

Yang penting adalah kamu harus tahu bahwa kedua jenis peristiwa ini termasuk dalam makna qadha dan qadar Allah. Sebab, semua itu terjadi dengan ilmu dan ciptaan Allah. Dan juga, kamu harus memahami bahwa tunduknya segala sesuatu kepada kekuasaan qadha dan qadar Allah tidak ada hubungannya dengan pilihan atau paksaan manusia. Saat ini, kita tidak sedang membahas secara mendetail tentang topik ini, yang memiliki ruang pembahasannya sendiri.

وَالآنَ، مَا عِلَاقَةُ كَلَامِ ابْنِ عَطَاءِ اللهِ هُنَا بِالحِكْمَةِ الَّتِي فَرَغْنَا الآنَ مِنْ شَرْحِهَا؟ إِلَيْكَ الجَوَابُ:

Sekarang, apa hubungannya perkataan Ibnu Atha'illah di sini dengan hikmah yang baru saja kita jelaskan? Inilah jawabannya:

رُبَّ شَخْصٍ يَعْكِفُ عَلَى سَبَبٍ مِنْ أَسْبَابِ الرِّزْقِ مَثَلًا، يَنْصَرِفُ إِلَيْهِ وَيَتَعَامَلُ مَعَهُ. وَيَتَبَيَّنُ لَدَى النَّظَرِ أَنَّهُ سَبَبٌ غَيْرُ مَشْرُوعٍ، فَإِنْ جَاءَ مَنْ نَصَحَهُ بِالابْتِعَادِ عَنْهُ وَبِعَدَمِ التَّعَامُلِ مَعَهُ لِعَدَمِ شَرْعِيَّتِهِ، نَاقَشَهُ قَائِلًا: إِنَّ التَّسَبُّبَ لِلرِّزْقِ مَشْرُوعٌ وَمَطْلُوبٌ، وَإِنَّ اللهَ يَكْرَهُ العَبْدَ البَطَّالَ. وَرُبَّمَا قَالَ: إِنِّي مُلْتَزِمٌ بِحِكْمَةِ ابْنِ عَطَاءِ اللهِ.

Mungkin ada seseorang yang tekun bekerja dengan salah satu sebab rezeki, mengabdikan dirinya dan berusaha dengannya. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, ternyata sebab tersebut tidak sesuai dengan syariat. Ketika ada yang menasihatinya untuk menjauhi dan tidak melanjutkan sebab itu karena tidak sesuai dengan syariat, ia mungkin membalas dengan mengatakan: "Berusaha mencari rezeki itu dibenarkan dan dianjurkan, serta Allah tidak menyukai hamba yang malas." Bahkan, mungkin ia berkata: "Saya mengikuti hikmah Ibnu Atha'illah."

فَقَدْ أَقَامَنِي اللهُ فِي عَالَمِ الأَسْبَابِ، وَمِنْ ثَمَّ فَلَا بُدَّ أَنْ أَتَعَامَلَ مَعَهَا.

وَالجَوَابُ يَتَمَثَّلُ فِي هَذَا الِاسْتِدْرَاكِ الَّذِي يَأْتِي ذَيْلًا لِلحِكْمَةِ الثَّانِيَةِ: «سَوَابِقُ الهِمَمِ لَا تَخْرِقُ أَسْوَارَ الأَقْدَارِ».

Dia berkata, "Allah telah menempatkan saya di dunia sebab-akibat, maka saya harus berurusan dengan sebab-sebab tersebut."

Jawabannya ada dalam penjelasan tambahan yang mengikuti hikmah kedua: "Himpunan kehendak tidak dapat menembus tembok takdir."

أَي عِنْدَمَا تَجِدُ أَنَّكَ تَتَعَامَلُ مَعَ أَسْبَابٍ غَيْرِ مَشْرُوعَةٍ، كَأَنْ تَجِدَ نَفْسَكَ فِي بَلَدٍ يَفُورُ بِالمُحَرَّمَاتِ، وَنَظَرْتَ، فَإِذَا أَنْتَ مُنْسَاقٌ فِيهِ إِلَى ارْتِكَابِ المُوبِقَاتِ، فَإِنَّ عَلَيْكَ أَنْ تَنْفُضَ يَدَكَ عَنْ تِجَارَاتِكَ وَأَنْشِطَتِكَ المَالِيَّةِ كُلِّهَا عَلَى اخْتِلَافِهَا، وَأَنْ تَرْحَلَ إِلَى مَكَانٍ لَا تُلَاحِقُكَ فِيهِ المَعَاصِي وَالآثَامُ.

Artinya, ketika kamu menemukan dirimu berurusan dengan sebab-sebab yang tidak sah, seperti saat kamu berada di sebuah negeri yang dipenuhi dengan hal-hal yang diharamkan, dan setelah melihatnya, kamu menyadari bahwa kamu sedang terseret untuk melakukan dosa-dosa besar, maka kamu harus melepaskan dirimu dari segala bentuk perdagangan dan aktivitas keuanganmu, apa pun bentuknya, dan pergi ke tempat di mana dosa-dosa dan kesalahan tidak mengejarmu.

فَإِذَا قَالَ لَكَ الشَّيْطَانُ: وَهَذَا السَّبَبُ الَّذِي قَيَّضَهُ اللهُ لِرِزْقِكَ، أَنَّى لَكَ البَدِيلُ عَنْهُ إِنْ أَنْتَ أَغْلَقْتَ السَّبِيلَ إِلَيْهِ عَلَى نَفْسِكَ؟ فَقُلْ لَهُ: وَمِنْ أَيْنَ لَكَ أَنَّ تِجَارَتِي أَوْ وَظِيفَتِي فِي تِلْكَ البَلْدَةِ هِيَ مَصْدَرُ نَعِيمِي وَعَيْشِي الحَقِيقِيِّ؟! أَنَّى لِهَذَا الوَهْمِ أَنْ يُبَصِّرَ عَلَيَّ وَأَنَا مَا زِلْتُ أَعِيشُ مَعَ قَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ﴾ [الذَّارِيَات: ٥٨] وَمَعَ قَوْلِهِ: ﴿فَابْتَغُوا عِنْدَ اللهِ الرِّزْقَ﴾ [العَنْكَبُوتِ: ١٧]...

Jika setan membisikkan kepadamu, "Ini adalah sebab yang Allah sediakan untuk rezekimu, dari mana kamu akan mendapatkan penggantinya jika kamu menutup jalan ini bagi dirimu sendiri?" Maka katakan padanya, "Dari mana kamu tahu bahwa perdagangan atau pekerjaanku di negeri tersebut adalah sumber kebahagiaanku dan kehidupan yang sesungguhnya? Bagaimana mungkin ilusi ini mengaburkan pandanganku sementara aku masih hidup dengan firman Allah: 'Sesungguhnya Allah, Dialah Pemberi rezeki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh' (QS. Adz-Dzariyat: 58) dan dengan firman-Nya: 'Maka carilah rezeki di sisi Allah' (QS. Al-Ankabut: 17)... 

 وَمَعَ قَوْلِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الحَدِيثِ الَّذِي سَنَفُصِّلُ عَلَيْهِ: «إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ المَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكِتَابَةِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٍّ أَوْ سَعِيدٍ».

Serta dengan sabda Rasulullah SAW dalam hadits yang akan kita rinci: 'Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian menjadi 'alaqah selama itu juga, lalu menjadi mudhghah selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat dan ditiupkanlah ruh kepadanya, dan diperintahkan untuk menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah dia akan sengsara atau bahagia.'"

فَالرِّزْقُ الَّذِي سَيَأْتِيكَ مَسْطُورٌ فِي عِلْمِ اللهِ، فَهُوَ دَاخِلٌ فِي قَضَائِهِ،

وَلَنْ يَأْتِيَكَ مِنْهُ إِلَّا مَا هُوَ مَسْطُورٌ لَكَ فِي عِلْمِهِ وَغَيْبِهِ المَكْنُونِ، وَهَذَا هُوَ فَهْمُ القَضَاءِ الَّذِي يَتَّفِقُ مَعَ قَدَرِهِ. أَمَّا جُهُودُكَ وَنَشَاطَاتُكَ التِّجَارِيَّةُ، فَإِنَّمَا هِيَ خَادِمَةٌ لِمَا هُوَ مَسْطُورٌ فِي قَضَاءِ اللهِ وَحُكْمِهِ، وَلِلْقَدَرِ الَّذِي سَيَقَعُ مُطَابِقًا لِعِلْمِهِ.

Rezeki yang akan datang kepadamu telah tertulis dalam ilmu Allah, dan itu termasuk dalam ketetapan-Nya.

Tidak akan datang kepadamu selain apa yang telah tertulis untukmu dalam ilmu-Nya dan takdir-Nya yang tersembunyi. Inilah pemahaman tentang takdir yang sesuai dengan kehendak-Nya. Sedangkan upaya dan aktivitas bisnismu hanyalah pelayan bagi apa yang telah ditulis dalam ketetapan dan hukum Allah, serta takdir yang akan terjadi sesuai dengan ilmu-Nya.

فَرُدَّ عَلَى شَيْطَانِكَ الَّذِي يُوَسْوِسُ إِلَيْكَ: إِذَا كَانَ اللهُ قَدْ كَتَبَ لِي الغِنَى وَالرِّزْقَ الوَفِيرَ، فَلَسَوْفَ يَتْبَعُنِي هَذَا الَّذِي كَتَبَهُ اللهُ لِي أَيْنَمَا ذَهَبْتُ وَحَيْثُمَا وَجَدْتُ. وَإِنْ كَانَ اللهُ قَدْ كَتَبَ لِي فِي سَابِقِ عِلْمِهِ رِزْقًا قَلِيلًا وَمَحْدُودًا، فَلَسَوْفَ يَبْقَى قَلِيلًا كَمَا قَضَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، مَهْمَا غُصْتَ وَتَقَلَّبْتَ بَيْنَ المَشَارِيعِ التِّجَارِيَّةِ، وَمَهْمَا رَحَلْتَ وَانْتَقَعْتَ الرِّزْقَ فِي غَرْبِ العَالَمِ وَشَرْقِهِ. ذَلِكَ لِأَنَّ «سَوَابِقَ الهِمَمِ لَا تَخْرِقُ أَسْوَارَ الأَقْدَارِ» وَلَعَلَّكَ أَدْرَكْتَ الآنَ عِلَاقَةَ هَذِهِ الحِكْمَةِ بِالَّتِي قَبْلَهَا.

Jadi, tangkis bisikan setan yang berkata kepadamu: "Jika Allah telah menetapkan kekayaan dan rezeki yang melimpah bagiku, maka itu akan mengikutiku ke mana pun aku pergi dan di mana pun aku berada. Dan jika Allah telah menetapkan untukku rezeki yang sedikit dan terbatas dalam ilmu-Nya, maka itu akan tetap sedikit sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah, tidak peduli seberapa keras aku bekerja dan terlibat dalam proyek-proyek bisnis, dan tidak peduli ke mana aku pergi mencari rezeki di barat dan timur dunia."

Karena "kehendak yang kuat tidak dapat menembus tembok takdir." Dan sekarang kamu mungkin telah memahami hubungan antara hikmah ini dengan yang sebelumnya.

غَيْرَ أَنَّ هَذِهِ الحَقِيقَةَ قَدْ تُثِيرُ لَدَى بَعْضِ النَّاسِ السُّؤَالَ التَّالِي: إِذَنْ فِيمَ التَّعَامُلُ مَعَ الأَسْبَابِ، مَا دَامَ أَنَّهَا لَا تَخْرِقُ أَسْوَارَ الأَقْدَارِ؟ فِيمَ المَشْيُ فِي مَنَاكِبِ الأَرْضِ وَالسَّعْيُ مِنْ أَجْلِ الكَدْحِ وَالرِّزْقِ؟

Namun, kebenaran ini mungkin memunculkan pertanyaan berikut pada sebagian orang: "Kalau begitu, mengapa kita perlu berusaha dengan sebab-sebab yang ada, jika sebab-sebab tersebut tidak bisa menembus tembok takdir? Mengapa kita harus berjalan di berbagai penjuru bumi dan berusaha untuk mencari nafkah dan rezeki?"

وَالجَوَابُ أَنَّكَ تَتَعَامَلُ مَعَ الأَسْبَابِ الكَوْنِيَّةِ المُخْتَلِفَةِ فِي إِحْدَى حَالَتَيْنِ: الحَالَةُ الأُولَى أَنْ تَكُونَ الأَسْبَابُ المَشْرُوعَةُ كُلُّهَا بَعِيدَةً عَنْكَ غَيْرَ خَاضِعَةٍ لِنَشَاطِكَ وَجُهُودِكَ، إِذَنْ فَأَنْتَ فِي عَالَمِ التَّجْرِيدِ وَالمَطْلُوبُ مِنْكَ الِاسْتِسْلَامُ وَالِانْتِظَارُ. وَتَكَاثُرُ الأَسْبَابِ غَيْرِ المَشْرُوعَةِ فِي حُكْمِ العَدَمِ كَمَا ذَكَرْنَا، فَالمَطْلُوبُ مِنْكَ تَجَاهُلُهَا وَالِابْتِعَادُ عَنْهَا.

Jawabannya adalah, kamu berurusan dengan berbagai sebab duniawi dalam satu dari dua keadaan: keadaan pertama, ketika semua sebab yang sah tidak tersedia dan tidak berada dalam kendalimu atau upayamu, maka kamu berada di dunia tajrid, dan yang diminta darimu adalah berserah diri dan menunggu. Sementara, jika banyak sebab yang tidak sah secara syar'i, dalam hukum tidak ada, seperti yang telah disebutkan, maka yang diminta darimu adalah mengabaikannya dan menjauhinya.

الحَالَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ تَكُونَ الأَسْبَابُ المَشْرُوعَةُ مُوَفَّرَةً أَمَامَكَ وَمِنْ حَوْلِكَ، إِذَنْ فَيَنْبَغِي أَنْ تُقْبِلَ إِلَيْهَا وَأَنْ تَتَعَامَلَ مَعَهَا، لَا لِأَنَّهَا ذَاتُ فَاعِلِيَّةٍ أَوْ مُقَاوَمَةٍ لِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ، مَعَاذَ اللهِ !! .. بَلْ لِأَنَّ اللهَ لَمَّا أَقَامَكَ فِي خِضَمِّهَا فَقَدْ أَمَرَكَ بِالتَّعَامُلِ مَعَهَا، مَعَ اليَقِينِ الَّذِي يَجِبُ أَنْ لَا يُبَارِحَ عَقْلَكَ، مِنْ أَنَّ الفَاعِلِيَّةَ إِنَّمَا هِيَ لِإِرَادَةِ اللهِ وَحُكْمِهِ، لَا لِتِلْكَ الأَسْبَابِ الَّتِي تَتَعَامَلُ مَعَهَا وَكَأَنَّكَ تَعْتَمِدُ عَلَيْهَا. 

Keadaan kedua: jika sebab-sebab yang sah secara syar'i tersedia di hadapanmu dan di sekitarmu, maka seharusnya kamu mendekatinya dan berurusan dengannya. Bukan karena sebab-sebab tersebut memiliki daya atau bisa melawan takdir Allah, jauh dari itu! Namun, karena ketika Allah menempatkanmu di tengah-tengah sebab-sebab itu, Dia memerintahkanmu untuk berurusan dengannya, dengan keyakinan yang harus tetap ada dalam benakmu, bahwa daya dan pengaruh yang sebenarnya hanya milik kehendak dan hukum Allah, bukan sebab-sebab yang kamu hadapi seolah-olah kamu bergantung padanya.

أَيْ فَالإِقْبَالُ عَلَى الأَسْبَابِ المَشْرُوعَةِ بِالتَّعَامُلِ مَعَهَا وَالتَّقَيُّدِ بِهَا، إِنَّمَا هُوَ وَظِيفَةٌ أَقَامَنَا اللهُ عَلَيْهَا وَأَمَرَنَا بِهَا، فَالتَّعَامُلُ فِي الحَقِيقَةِ مَعَهُ، لَا مَعَهَا، وَالآثَارُ المُتَرَتِّبَةُ، إِنَّمَا هِيَ مِنْهُ عَزَّ وَجَلَّ، لَا مِنْهَا. وَهَذَا يَعْنِي أَنَّ الأَسْبَابَ خَدَمٌ لِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ، وَلَيْسَ القَضَاءُ وَالقَدَرُ خَادِمَيْنِ لِلأَسْبَابِ. وَهَذَا هُوَ المَعْنَى الَّذِي يَرْمِي إِلَيْهِ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ فِي حِكْمَتِهِ الثَّالِثَةِ هَذِهِ.

Artinya, mendekati sebab-sebab yang sah dan berurusan dengannya serta mengikutinya adalah tugas yang Allah tetapkan untuk kita dan perintahkan kepada kita. Pada hakikatnya, kita sedang berurusan dengan Allah, bukan dengan sebab-sebab itu. Dampak dan hasil yang terjadi berasal dari Allah, bukan dari sebab-sebab tersebut. Ini berarti bahwa sebab-sebab hanyalah pelayan bagi takdir dan ketetapan Allah, bukan sebaliknya, yakni takdir dan ketetapan Allah yang melayani sebab-sebab tersebut. Inilah makna yang dimaksudkan oleh Ibn Athaillah dalam hikmah ketiganya ini.

***

وَلْنَقِفْ عِنْدَ هَذِهِ الحَقِيقَةِ الَّتِي أَعْلَمُ أَنَّ كَثِيرًا مِنَ المُسْلِمِينَ لَمْ يَسْتَيْقِنُوهَا بَعْدُ، بَلْ رُبَّمَا تَفَاجَأَ بِاعْتِقَادٍ أَوْ تَصَوُّرٍ مُخَالِفٍ، لَدَى بَعْضِ عُلَمَاءِ المُسْلِمِينَ أَوِ المُشْتَغِلِينَ بِأَعْمَالِ الدَّعْوَةِ الإِسْلَامِيَّةِ؛ يُلِحُّ أَحَدُهُمْ عَلَى أَنَّ الأَسْبَابَ الكَوْنِيَّةَ الَّتِي نَتَعَامَلُ مَعَهَا، كَالنَّارِ وَالمَاءِ وَالسُّمِّ وَالدَّوَاءِ وَالطَّعَامِ. إِلَخْ تَحْتَوِي عَلَى فَاعِلِيَّةٍ كَامِنَةٍ فِي دَاخِلِهَا، فَإِنْ تَذَكَّرَ عَقِيدَتَهُ الإِيمَانِيَّةَ وَأَرَادَ أَنْ يَتَجَاوَبَ مَعَهَا، اسْتَدْرَكَ وَقَالَ: وَلَكِنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي أَوْدَعَ فِيهَا تِلْكَ القُوَّةَ أَوِ الفَاعِلِيَّةَ ! 

Mari kita berhenti sejenak pada kenyataan ini yang saya tahu bahwa banyak umat Islam belum benar-benar meyakininya. Bahkan, mungkin beberapa akan terkejut dengan keyakinan atau pemahaman yang berbeda, termasuk di kalangan para ulama muslim atau mereka yang terlibat dalam aktivitas dakwah Islam. Ada di antara mereka yang menekankan bahwa sebab-sebab alamiah yang kita hadapi, seperti api, air, racun, obat, makanan, dan lainnya, memiliki daya atau pengaruh yang tersembunyi di dalamnya. Jika mereka mengingat akidah keimanan mereka dan ingin selaras dengannya, mereka akan menambahkan: "Namun, Allah-lah yang menanamkan kekuatan atau daya tersebut di dalamnya."

وَأَنَا لَا أُرِيدُ أَنْ أُحَاكِمَ هَؤُلَاءِ النَّاسَ إِلَى مَنْطِقِ عُلَمَاءِ العَقِيدَةِ وَالكَلَامِ لِأَنَّ فِي هَؤُلَاءِ النَّاسِ مَنْ لَا يُقِيمُونَ وَزْنًا لِمَنْطِقِهِمْ وَلِكَثِيرٍ مِنْ أَقْوَالِهِمْ.

وَلَكِنِّي أُذَكِّرُهُمْ بِقَوَاطِعِ النُّصُوصِ القُرْآنِيَّةِ، ثُمَّ بِمَا تَقْتَضِيهِ عَقِيدَةُ التَّوْحِيدِ، أَيْ الِاعْتِقَادُ بِوَحْدَانِيَّةِ اللهِ مِنْ حَيْثُ الذَّاتُ وَالصِّفَاتُ.

Saya tidak berniat untuk memperdebatkan orang-orang ini dengan logika para ulama akidah dan ilmu kalam, karena di antara mereka ada yang tidak memberikan bobot pada logika dari banyak perkataan mereka. 

Namun, saya mengingatkan mereka dengan dalil-dalil yang tegas dari Al-Qur'an, kemudian dengan apa yang diharuskan oleh akidah tauhid, yaitu keyakinan tentang keesaan Allah, baik dalam hal zat maupun sifat-sifat-Nya.

أَمَّا قَوَاطِعُ النُّصُوصِ، فَأُذَكِّرُ مِنْهَا بِمَا يَلِي:

١ - قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: ﴿اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ﴾ [البَقَرَةِ: ٢٥٥]. وَصَفَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ ذَاتَهُ بِالقَيُّومِ، أَيْ القَائِمِ بِأَمْرِ الكَوْنِ كُلِّهِ عَلَى الدَّوَامِ وَالِاسْتِمْرَارِ. أَيْ فَمَا مِنْ شَيْءٍ يَتَحَرَّكُ أَوْ يُؤَثِّرُ أَوْ يَتَأَثَّرُ إِلَّا بِفَاعِلِيَّةٍ مُبَاشِرَةٍ مِنْهُ فِي سَائِرِ الآنَاتِ وَاللَّحَظَاتِ. فَأَيُّ فَاعِلِيَّةٍ إِذَنْ بَقِيَتْ بَعْدَ هَذَا لِلأَسْبَابِ؟

Adapun dalil-dalil yang tegas, saya mengingatkan dengan beberapa di antaranya sebagai berikut:

1. Firman Allah Ta'ala: "Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya)" (QS. Al-Baqarah: 255). Allah عز وجل menyifatkan diri-Nya sebagai "Al-Qayyum", yakni yang senantiasa mengurus seluruh urusan alam semesta secara terus menerus dan tanpa henti. Artinya, tidak ada sesuatu pun yang bergerak, mempengaruhi, atau terpengaruh kecuali dengan kekuatan langsung dari-Nya pada setiap saat dan detik. Maka, kekuatan apa yang tersisa untuk sebab-sebab setelah ini?

٢ - قَوْلُ اللهِ تَعَالَى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالأَرْضُ بِأَمْرِهِ﴾ [الرُّومِ: ٢٥]. أَيْ أَنْ تَتَحَرَّكَ الأَفْلَاكُ وَالأَرْضُ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا قَدْ أُودِعَ فِيهَا، وَأَنْ تُؤَدِّيَ وَظَائِفَهَا الَّتِي أَنَاطَهَا اللهُ بِهَا، بِتَوْجِيهٍ وَأَمْرٍ مِنْهُ عَزَّ وَجَلَّ. وَلَا تَنْسَ أَنَّ كَلِمَةَ ﴿تَقُومَ﴾ فِي الآيَةِ، وَهِيَ فِعْلٌ مُضَارِعٌ، تَدُلُّ عَلَى الدَّوَامِ وَالِاسْتِمْرَارِ. أَيْ فَكُلُّ مَا تَرَاهُ مِنَ الحَرَكَاتِ وَالتَّبَدُّلَاتِ الكَوْنِيَّةِ، صَغُرَتْ أَمْ كَبُرَتْ، إِنَّمَا يَتِمُّ لَحْظَةً فَلَحْظَةً بِقُدْرَةٍ وَأَمْرٍ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. وَإِذَا تَأَمَّلْتَ فِي هَذَا الكَلَامِ الرَّبَّانِيِّ أَدْرَكْتَ أَنَّ مَا يَتَرَاءَى لَنَا أَنَّهُ أَسْبَابٌ لَيْسَ إِلَّا جُنُودًا مَحْكُومَةً بِسُلْطَانِ اللهِ وَأَمْرِهِ، تَتَلَقَّى القُدْرَةَ وَالفَاعِلِيَّةَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَحْظَةً فَلَحْظَةً، فَهَلْ بَقِيَتْ فِيهَا - مَعَ هَذَا التَّقْرِيرِ الإِلَهِيِّ - فَاعِلِيَّةٌ كَامِنَةٌ مُنْفَصِلَةٌ عَنِ الفَاعِلِ الأَوْحَدِ وَهُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ؟ 

2. Firman Allah Ta'ala: "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah berdirinya langit dan bumi dengan perintah-Nya" (QS. Ar-Rum: 25). Artinya, bergeraknya benda-benda langit, bumi, dan segala yang ada di antara keduanya serta apa yang terkandung di dalamnya, dan menjalankan fungsi-fungsi yang Allah tugaskan kepada mereka, semua itu terjadi atas petunjuk dan perintah dari-Nya عز وجل. Jangan lupa bahwa kata "berdiri" dalam ayat ini, yang merupakan kata kerja present tense, menunjukkan kesinambungan dan kelangsungan. Artinya, segala gerakan dan perubahan di alam semesta, baik yang kecil maupun besar, terjadi setiap saat dengan kekuatan dan perintah Allah عز وجل. Jika Anda merenungkan firman Tuhan ini, Anda akan menyadari bahwa apa yang tampak sebagai "sebab" hanyalah tentara yang tunduk di bawah kekuasaan dan perintah Allah, menerima kekuatan dan efektivitas dari-Nya setiap saat. Jadi, apakah setelah penjelasan ilahi ini masih ada kekuatan tersembunyi yang terpisah dari Sang Pelaku Tunggal, yaitu Allah عز وجل?

٣ - قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ﴾ [فَاطِر: ٤١]. تَأَمَّلْ مَرَّةً أُخْرَى فِي كَلِمَةِ ﴿يُمْسِكُ﴾ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى الدَّوَامِ وَالِاسْتِمْرَارِ. ثُمَّ انْظُرْ إِلَى القَرَارِ الرَّبَّانِيِّ الَّذِي تَنْطِقُ بِهِ الآيَةُ. إِنَّهَا تَقُولُ بِصَرِيحِ البَيَانِ:

كُلُّ مَا تَرَاهُ وَمَا لَا تَرَاهُ عَيْنُكَ مِنَ القَوَانِينِ وَالأَنْظِمَةِ الكَوْنِيَّةِ الَّتِي تُقِيمُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ عَلَى نَسَقِهَا وَنِظَامِهَا المَعْرُوفِ أَوِ المَدْرُوسِ، إِنَّمَا يَكْتَسِبُ الدَّوَامَ وَالِاسْتِقْرَارَ لَحْظَةً فَلَحْظَةً بِتَدْبِيرِ اللهِ وَحُكْمِهِ. وَلَوْ تَخَلَّى اللهُ عَنْهَا لَحْظَةً وَاحِدَةً لَتَهَاوَى وَانْدَثَرَ كُلُّ شَيْءٍ، وَهَيْهَاتَ عِنْدَئِذٍ لِكَائِنٍ أَوْ لِسَبَبٍ مَا أَنْ يَحِلَّ مَحَلَّ اللهِ فِي الفَاعِلِيَّةِ وَالتَّدْبِيرِ. إِذَنْ فَالَّذِي يَضُمُّ كُلَّ لَاحِقٍ مَعَ سَابِقٍ بِسِلْكِ مَا نُسَمِّيهِ السَّبَبِيَّةَ هُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَإِنَّمَا يَتِمُّ ذَلِكَ، كَمَا عَرَفْنَا الآنَ، لَحْظَةً فَلَحْظَةً. فَكَيْفَ تَكُونُ، وَالحَالَةُ هَذِهِ، فِي مَخْلُوقَاتِ الكَوْنِ أَيًّا كَانَتْ فَاعِلِيَّةٌ مُسْتَقِرَّةٌ كَامِنَةٌ؟

3. Firman Allah عز وجل: "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya tidak lenyap, dan sungguh jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya selain Dia" (QS. Fathir: 41). Perhatikan lagi kata "menahan" yang menunjukkan keberlanjutan dan kesinambungan. Kemudian, lihat keputusan ilahi yang disampaikan ayat ini. Ayat tersebut dengan jelas menyatakan:

Segala sesuatu yang kamu lihat atau yang tidak terlihat oleh matamu dari hukum-hukum dan sistem-sistem alam yang menegakkan langit dan bumi pada tatanan dan aturan yang dikenal atau dipelajari, hanya mendapatkan kelangsungan dan kestabilan setiap saat melalui pengaturan dan perintah Allah. Jika Allah meninggalkannya barang sekejap saja, maka segalanya akan runtuh dan hancur. Dan tidak mungkin ada makhluk atau sebab apa pun yang dapat menggantikan Allah dalam menjalankan kekuasaan dan pengaturan. Jadi, yang menyatukan setiap peristiwa dengan yang sebelumnya melalui apa yang kita sebut sebagai "sebab-akibat" adalah Allah عز وجل, dan hal itu terjadi, seperti yang telah kita ketahui, setiap saat. Maka, bagaimana mungkin ada kekuatan tetap yang tersembunyi di dalam makhluk-makhluk alam semesta, apa pun bentuknya?

٤ - قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الفُلْكِ المَشْحُونِ﴾ [يَس: ٤١]. إِذَا كَانَتْ فِي الفُلْكِ المَشْحُونِ الَّذِي يَمْخُرُ عُبَابَ البَحْرِ، فَاعِلِيَّةٌ كَامِنَةٌ مُسْتَقِرَّةٌ، فَلِمَاذَا نَسَبَ اللهُ حَمْلَ النَّاسِ المُحْتَشِدِينَ عَلَى ظَهْرِهَا وَفِي دَاخِلِهَا إِلَى ذَاتِهِ العَلِيَّةِ، وَلَمْ يَنْسِبْهُ إِلَى السَّفِينَةِ الَّتِي فِيهَا قُوَّةٌ مُسْتَقِرَّةٌ مُودَعَةٌ؟

إِنَّ الآيَةَ تُعْلِنُ أَنَّ الحَامِلَ لِلسَّفِينَةِ وَمَنْ فِيهَا إِنَّمَا هُوَ اللهُ. إِذَنْ فَقَدِ انْمَحَى وَهْمُ السَّبَبِيَّةِ الحَقِيقِيَّةِ فِيهَا، وَآلَتْ فَاعِلِيَّةُ الحَمْلِ وَالرِّعَايَةِ عَلَى الدَّوَامِ وَالِاسْتِمْرَارِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

4. Firman Allah عز وجل: “Dan tanda (kebesaran Kami) bagi mereka adalah bahwa Kami membawa keturunan mereka dalam kapal yang penuh muatan” (QS. Yasin: 41). Jika kapal yang berlayar di tengah lautan memiliki kekuatan laten yang mandiri, mengapa Allah menisbatkan pengangkutan manusia yang berada di atas dan di dalamnya kepada Diri-Nya Yang Maha Tinggi, dan tidak menisbatkannya kepada kapal yang dianggap memiliki kekuatan mandiri yang tersimpan?

Ayat ini menyatakan bahwa yang mengangkut kapal beserta isinya adalah Allah. Dengan demikian, hilanglah anggapan adanya sebab-akibat yang mandiri di dalam kapal tersebut, dan kekuatan untuk mengangkut serta melindungi terus-menerus adalah milik Allah عز وجل.

٥ - وَمِثْلُهُ، بَلْ أَوْضَحُ مِنْهُ، فِي الدَّلَالَةِ عَلَى الحَقِيقَةِ ذَاتِهَا قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَنْ سَيِّدِنَا نُوحٍ: ﴿وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ ، تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ﴾ [القَمَر: ١٣-١٤]. لَاحِظْ أَنَّ البَيَانَ الإِلَهِيَّ هُنَا عَبَّرَ عَنِ السَّفِينَةِ بِمَا تَحْمِلُهُ فِي وَهْمِنَا مِنْ قُوَّةٍ وَفَاعِلِيَّةٍ، بِمَجْمُوعَةِ أَلْوَاحٍ خَشَبِيَّةٍ وَمَسَامِيرَ، لِيُهَوِّنَ لَنَا مِنْ شَأْنِهَا، وَلِيُؤَكِّدَ لَنَا بِهَذَا التَّصْوِيرِ البَلِيغِ أَنَّهَا بِحَدِّ ذَاتِهَا أَقَلُّ مِنْ أَنْ تُحَقِّقَ شَيْئًا أَوْ تَقِلَّ لَاجِئًا عَلَى ظَهْرِهَا، ضِمْنَ ذَلِكَ الطُّوفَانِ الشَّامِلِ وَتِلْكَ الأَمْوَاجِ العَاتِيَةِ، وَلَكِنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي حَمَلَهُمْ وَحَفِظَهُمْ وَأَنْجَاهُمْ عَلَيْهَا. إِذَنْ فَقَدْ عَادَتِ السَّفِينَةُ شَكْلًا لَا مَضْمُونَ لَهُ أَمَامَ سُلْطَانِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

5. Dan hal yang serupa, bahkan lebih jelas dalam menunjukkan kebenaran yang sama, adalah firman Allah عز وجل tentang Nabi Nuh: "Dan Kami angkut dia (Nuh) di atas (kapal) yang terbuat dari papan-papan dan paku, yang berlayar dengan pengawasan Kami, sebagai balasan bagi orang yang diingkari (oleh kaumnya)" (QS. Al-Qamar: 13-14). Perhatikan bahwa penjelasan ilahi di sini menyebutkan kapal dengan apa yang kita bayangkan sebagai kekuatan dan fungsinya, yaitu kumpulan papan kayu dan paku. Ini untuk merendahkan kedudukan kapal di hadapan kita, dan menegaskan dengan gambaran yang mendalam bahwa kapal itu sendiri tidak lebih dari sekadar benda yang sangat sederhana, yang tidak mungkin dapat mencapai apa pun atau membawa orang yang berlindung di atasnya di tengah-tengah banjir yang dahsyat dan gelombang besar itu. Namun, Allah-lah yang mengangkut mereka, melindungi mereka, dan menyelamatkan mereka dengan kapal itu. Jadi, kapal tersebut hanyalah bentuk tanpa kekuatan apa pun di hadapan kekuasaan Allah عز وجل.

٦ - وَتَتَجَسَّدُ هَذِهِ الحَقِيقَةُ الَّتِي تَلْتَقِي هَذِهِ الآيَاتُ عَلَى تَقْرِيرِهَا وَتَأْكِيدِهَا، فِي الكَلِمَةِ القُدُسِيَّةِ الَّتِي عَلَّمَنَا إِيَّاهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَمَرَنَا بِتَكْرَارِ النُّطْقِ بِهَا وَالتَّشَبُّعِ بِمَعْنَاهَا، وَهِيَ: «لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ». 

6. Kebenaran ini, yang ditegaskan dan disepakati oleh ayat-ayat tersebut, diwujudkan dalam kalimat yang mulia yang diajarkan kepada kita oleh Rasulullah ﷺ dan memerintahkan kita untuk mengulanginya serta menghayati maknanya, yaitu: "La hawla wa la quwwata illa billah" (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).

فَانْظُرْ إِلَى هَذِهِ الجُمْلَةِ الجَامِعَةِ، كَيْفَ نَفَتْ جِنْسَ الحَوْلِ كُلَّهُ وَالقُوَّةَ كُلَّهَا، عَنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَفِي كُلِّ لَحْظَةٍ، لِتَحْصُرَهُمَا فِي ذَاتِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. وَالْمُرَادُ بِالحَوْلِ الحَرَكَةُ الَّتِي تَنْبَعِثُ مِنْ وُجُودِ القُدْرَةِ، فَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي نَفْيِ القُوَّةِ الَّتِي تَبْعَثُ عَلَى الحَرَكَةِ وَالتَّبَدُّلِ، عَنْ كُلِّ المَخْلُوقَاتِ أَيًّا كَانَتْ، وَإِثْبَاتِهَا لِلَّهِ وَحْدَهُ؛ فَإِنْ رَأَيْتَ انْتِشَارَ حَرَكَةٍ دَائِبَةٍ فِي المُكَوِّنَاتِ كُلِّهَا، فَإِنَّمَا انْبَعَثَتْ فِيهَا الحَرَكَةُ بِقُوَّةٍ مُرْسَلَةٍ إِلَيْهَا مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَحْظَةً فَلَحْظَةً. تَمَامًا كَانْتِشَارِ الضَّوْءِ الَّذِي يَسْرِي نَهَارًا فِي كُلِّ مَا تَرَاهُ مِنْ حَوْلِكَ، إِنَّمَا هُوَ مِنْ سَرَيَانِ الأَشِعَّةِ الَّتِي تَتَّجِهُ إِلَيْهَا مِنَ الشَّمْسِ لَحْظَةً فَلَحْظَةً، فَلَوْ تَقَلَّصَتْ عَنْهَا هَذِهِ الأَشِعَّةُ لاَكْتَسَتْ مِنْ ذَلِكَ ظَلَامًا دَامِسًا.

Perhatikanlah kalimat yang menyeluruh ini, bagaimana ia meniadakan segala jenis daya dan kekuatan dari segala sesuatu dan pada setiap saat, untuk mengkhususkannya hanya pada Dzat Allah SWT. Maksud dari "al-hawl" adalah gerakan yang muncul dari adanya kekuatan, sehingga ini adalah penegasan kuat bahwa segala kekuatan yang mendorong gerakan dan perubahan tidak ada pada makhluk apa pun, melainkan hanya pada Allah semata. Maka, jika kamu melihat gerakan terus-menerus dalam segala ciptaan, sesungguhnya gerakan itu hanya terjadi karena kekuatan yang dikirimkan Allah kepada mereka setiap saat. Hal ini persis seperti sinar yang menyebar di siang hari pada segala yang kamu lihat di sekitarmu. Itu terjadi karena cahaya yang terpancar dari matahari terus mengalir ke mereka setiap saat. Jika sinar itu berhenti, mereka akan tenggelam dalam kegelapan yang pekat.

بَقِيَ أَنْ أَلْفِتَ النَّظَرَ إِلَى المَنْطِقِ العِلْمِيِّ الَّذِي تَقْتَضِيهِ عَقِيدَةُ تَوْحِيدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ حَيْثُ ذَاتُهُ وَصِفَاتُهُ وَأَفْعَالُهُ. يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ اللهَ وَاحِدٌ فِي ذَاتِهِ فَلَيْسَ فِي الْكَوْنِ إِلٰهٌ مِنْ دُونِهِ، وَأَنْ يُعْلَمَ أَنَّهُ وَاحِدٌ فِي صِفَاتِهِ فَلَا يُشَارِكُهُ مُشَارَكَةً حَقِيقِيَّةً فِي شَيْءٍ مِنْ صِفَاتِهِ أَحَدٌ، وَأَنْ يُعْلَمَ أَنَّهُ وَاحِدٌ فِي أَفْعَالِهِ، أَيْ فَهُوَ وَحْدَهُ الْخَالِقُ وَالصَّانِعُ فَلَا يُشَارِكُهُ فِي الْخَلْقِ وَالصَّنْعِ أَحَدٌ.

Tinggal satu hal lagi yang perlu diperhatikan, yaitu logika ilmiah yang diharuskan oleh akidah tauhid Allah SWT dari segi Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Harus dipahami bahwa Allah itu Esa dalam Dzat-Nya, sehingga tidak ada Tuhan di alam ini selain Dia. Juga harus dipahami bahwa Dia Esa dalam sifat-sifat-Nya, sehingga tidak ada satu pun yang benar-benar berbagi sifat-sifat-Nya dengan-Nya. Dan harus dipahami bahwa Dia Esa dalam perbuatan-Nya, artinya hanya Dia yang mencipta dan mengatur, tidak ada satu pun yang berbagi dalam penciptaan dan pengaturan dengan-Nya.

فَإِذَا جَاءَ مَنْ يَعْتَقِدُ أَنَّ فِي النَّارِ مَثَلًا قُوَّةً مُحْرِقَةً أَوْدَعَهَا اللهُ فِيهَا، ثُمَّ تَرَكَهَا، فَهِيَ بِهَذِهِ الْقُوَّةِ الْكَامِنَةِ فِي دَاخِلِهَا تُحْرِقُ، فَذٰلِكَ يَعْنِي أَنَّ فِي الْكَوْنِ قُوَّةً مُحْرِقَةً مُسْتَقِلَّةً بِذَاتِهَا، كُلُّ مَا فِي الْأَمْرِ أَنَّ اللهَ جَاءَ بِهَا وَوَضَعَهَا فِي النَّارِ لِتُمَارِسَ بِهَا وَظِيفَةَ الْإِحْرَاقِ. إِذَنْ فَقَدْ أَثْبَتَتْ هٰذِهِ الْعَقِيدَةُ أَنَّ فِي الْكَوْنِ قُوَّةً غَيْرَ قُوَّةِ اللهِ تُشَارِكُهُ فِي إِقَامَةِ نِظَامِ الْكَوْنِ وَحُكْمِهِ وَهِيَ قُوَّةُ الْإِحْرَاقِ. 

Jika ada yang meyakini bahwa api, misalnya, memiliki kekuatan membakar yang ditanamkan oleh Allah di dalamnya, kemudian Allah meninggalkannya sehingga api tersebut membakar dengan kekuatan laten di dalamnya, maka keyakinan ini berarti bahwa di alam semesta terdapat kekuatan membakar yang mandiri. Intinya, Allah hanya memberikan kekuatan itu dan menaruhnya di dalam api agar api bisa melaksanakan fungsinya untuk membakar. Maka, akidah ini menetapkan bahwa ada kekuatan lain selain kekuatan Allah yang ikut berperan dalam mengatur dan menjaga sistem alam semesta, yaitu kekuatan membakar.

وَتُصْبِحُ النَّارُ عِنْدَئِذٍ كَالْعَقْلِ الْإِلِكْتُرُونِيِّ الَّذِي يُلَقَّمُ الْمَعْلُومَاتِ لِيَعُودَ فَيَنْطِقَ أَوْ يُذَكِّرَ بِهَا. وَيُصْبِحُ عِنْدَئِذٍ الْقَوْلُ فِي الدَّوَاءِ وَفَاعِلِيَّتِهِ، وَالْقَوْلُ فِي السُّمِّ وَفَاعِلِيَّتِهِ، وَالْقَوْلُ فِي الطَّعَامِ وَفَاعِلِيَّتِهِ، كَهٰذَا الَّذِي قُلْنَاهُ عَنِ النَّارِ وَالْإِحْرَاقِ، فِي وَهْمِ هٰؤُلَاءِ النَّاسِ... وَتُصْبِحُ سَائِرُ الْقُوَى وَالْقُدَرِ عِنْدَئِذٍ مُسْتَقِلَّةً فِي وُجُودِهَا وَتَأْثِيرِهَا عَنْ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. وَإِنَّمَا يَكُونُ عَمَلُ اللهِ تِجَاهَهَا مُجَرَّدَ الِاسْتِعَانَةِ بِهَا إِذْ يُوَزِّعُهَا بَيْنَ الْأَشْيَاءِ وَيُودِعُ كُلًّا مِنْهَا فِي الْمَكَانِ الَّذِي يَرَاهُ مُنَاسِبًا لَهُ! وَهَلْ هٰذَا إِلَّا شِرْكٌ صَارِخٌ وَصَرِيحٌ؟

وَهَلْ تَقِفُ النُّصُوصُ الْقُرْآنِيَّةُ الَّتِي أَتَيْنَا عَلَيْهَا مِنْ هٰذَا التَّصَوُّرِ، إِلَّا مَوْقِفَ النَّقِيضِ مِنَ النَّقِيضِ؟!

Kemudian, api menjadi seperti komputer elektronik yang dimasukkan data untuk kemudian mengeluarkan atau mengingatkan kembali data tersebut. Demikian juga, pandangan tentang obat dan efektivitasnya, tentang racun dan efeknya, serta tentang makanan dan pengaruhnya menjadi serupa dengan apa yang telah kita bicarakan tentang api dan pembakarannya, dalam pandangan orang-orang ini. Semua kekuatan dan kemampuan lainnya kemudian dianggap independen dalam keberadaan dan pengaruhnya dari Allah SWT. Peran Allah, dalam pandangan ini, hanyalah sekadar memanfaatkan kekuatan-kekuatan tersebut, mendistribusikannya di antara benda-benda, dan menempatkannya di tempat yang dianggapnya sesuai! Bukankah ini merupakan syirik yang terang-terangan dan jelas?

Dan apakah teks-teks Al-Qur'an yang telah kita sebutkan tidak berdiri dalam oposisi yang mutlak terhadap pandangan seperti ini?

***

وَقَدْ عَلِمْتَ الْجَوَابَ عَنْ سُؤَالِ مَنْ قَدْ يَقُولُ: فَفِيمَ التَّعَامُلُ مَعَ الْأَسْبَابِ إِذَنْ؟ وَلِمَاذَا لَا نَخْتَرِقُهَا جَمِيعًا لِنَتَعَامَلَ بَدَلًا مِنْهَا مَعَ اللهِ، وَنَنْتَظِرَ حُكْمَهُ وَسُلْطَانَهُ فِي كُلِّ مَا نَحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنْ غِذَاءٍ وَدَوَاءٍ، وَنَجَاةٍ مِمَّا نَتَوَهَّمُهُ سَبَبًا لِلْمَصَائِبِ أَوِ الْآلَامِ؟

إِنَّ الْجَوَابَ يَتَلَخَّصُ فِي أَنَّ التَّعَامُلَ مَعَ اللهِ إِنَّمَا يَكُونُ بِالِانْسِجَامِ مَعَ أَوَامِرِهِ وَالتَّعَامُلِ مَعَ نِظَامِهِ الَّذِي أَقَامَ هٰذَا الْكَوْنَ عَلَى أَسَاسِهِ.

Dan sekarang kamu sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan seseorang yang mungkin berkata: "Kalau begitu, untuk apa berurusan dengan sebab-sebab? Mengapa kita tidak melangkah melewatinya semuanya dan berurusan langsung dengan Allah, serta menunggu perintah dan kekuasaan-Nya dalam semua yang kita butuhkan, baik itu makanan, obat, maupun keselamatan dari apa yang kita bayangkan sebagai penyebab bencana atau rasa sakit?"

Jawabannya adalah bahwa berurusan dengan Allah sebenarnya adalah dengan selaras mengikuti perintah-perintah-Nya dan berinteraksi dengan sistem-Nya yang telah Dia tetapkan sebagai dasar bagi alam semesta ini.

وَقَدْ أَمَرَنَا إِذَا جُعْنَا أَنْ نَأْكُلَ، وَإِذَا ظَمِئْنَا أَنْ نَشْرَبَ، وَإِذَا مَرِضْنَا أَنْ نَبْحَثَ عَنِ الدَّوَاءِ، وَأَنْ نَأْخُذَ حِذْرَنَا مِمَّا يَبْدُو أَنَّهُ سَبَبٌ لِلْآلَامِ أَوِ الْهَلَاكِ أَوِ الْأَسْقَامِ. ثُمَّ أَمَرَنَا أَنْ نَعْلَمَ عِلْمَ الْيَقِينِ أَنَّ لَا فَاعِلِيَّةَ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنَّ لَا تَأْثِيرَ إِلَّا بِحُكْمِ اللهِ، وَأَنْ نَعْلَمَ أَنَّ اللهَ هُوَ الْخَالِقُ لِكُلِّ شَيْءٍ وَالْآمِرُ لَهُ بِأَدَاءِ الْوَظِيفَةِ الَّتِي وُكِلَتْ إِلَيْهِ: ﴿أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ﴾ [الْأَعْرَافِ: ٥٤].

أَمَرَنَا أَنْ نَتَعَامَلَ مَعَ مَا يَبْدُو لَنَا أَنَّهُ سَبَبٌ وَعِلَّةٌ، وَأَمَرَنَا فِي الْوَقْتِ ذَاتِهِ أَنْ نَعْلَمَ أَنَّ «سَوَابِقَ الْهِمَمِ لَا تَخْرِقُ أَسْوَارَ الْأَقْدَارِ».

Allah telah memerintahkan kita bahwa ketika kita lapar, kita harus makan, dan ketika kita haus, kita harus minum. Jika kita sakit, kita diperintahkan untuk mencari obat, serta menjaga diri dari apa yang tampaknya menjadi penyebab rasa sakit, kehancuran, atau penyakit. Namun, Allah juga memerintahkan kita untuk meyakini dengan kepastian bahwa tidak ada daya atau kekuatan kecuali dari-Nya, dan bahwa tidak ada efek yang terjadi kecuali dengan izin Allah. Kita harus memahami bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah yang memerintahkan setiap hal untuk melaksanakan fungsinya: _“Ketahuilah, milik-Nyalah penciptaan dan perintah”_ (Al-A'raf: 54).

Allah memerintahkan kita untuk berurusan dengan apa yang tampaknya menjadi sebab dan akibat, tetapi pada saat yang sama, kita juga diperintahkan untuk memahami bahwa _"Tekad yang kuat tidak dapat menembus dinding takdir."_

وَكَمْ يَتَجَلَّى انْسِجَامُ هٰذِهِ الشَّرِيعَةِ الَّتِي كَلَّفَنَا اللهُ بِهَا، مَعَ الْحَقِيقَةِ الِاعْتِقَادِيَّةِ الَّتِي عَلَّمَنَا اللهُ إِيَّاهَا، فِي خِطَابِ اللهِ لِمَرْيَمَ عَلَيْهَا السَّلَامُ عِنْدَمَا أَلْجَأَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ: ﴿.. وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا﴾ [مَرْيَمَ: ٢٥]. كَانَتِ النَّخْلَةُ السَّحُوقُ عَارِيَةً إِذْ ذَاكَ مِنْ أَيِّ ثَمَرٍ عَلَيْهَا، فَأَنْبَتَ اللهُ فِيهَا لِلتَّوِّ الرُّطَبَ الْجَنِيَّ، أَيْ الطَّازَجَ، وَلَا شَكَّ أَنَّ إِلَهَهَا الَّذِي أَكْرَمَهَا بِهٰذِهِ الْخَارِقَةِ قَفْزًا فَوْقَ نِظَامِ الْأَسْبَابِ وَالْمُسَبِّبَاتِ، كَانَ قَادِرًا عَلَى أَنْ يُسْقِطَ فِي حِجْرِهَا مِنْ ذٰلِكَ الرُّطَبِ الْجَنِيِّ، مَا شَاءَ فِي الْوَقْتِ الْمُنَاسِبِ. 

Betapa jelasnya keselarasan antara syariat yang telah Allah bebankan kepada kita dengan keyakinan yang telah Allah ajarkan kepada kita, dalam firman-Nya kepada Maryam 'alaihassalam ketika rasa sakit melahirkannya membawa dia ke batang pohon kurma: _"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu"_ (Maryam: 25). Pada saat itu, pohon kurma tersebut tandus tanpa buah, namun Allah segera menumbuhkan buah kurma yang segar di atasnya. Tidak diragukan lagi, Tuhan yang memuliakan Maryam dengan mukjizat ini, yang melampaui hukum sebab-akibat, pasti mampu menjatuhkan buah kurma segar itu ke pangkuannya pada waktu yang tepat tanpa Maryam harus menggoyang batang pohon tersebut.

وَلَكِنَّهُ عَلَى الرَّغْمِ مِنْ يَقِينِنَا جَمِيعًا بِقُدْرَتِهِ هٰذِهِ، قَالَ لَهَا: ﴿وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ﴾! فَمَاذَا عَسَى أَنْ تُؤَثِّرَ يَدُهَا الضَّعِيفَةُ بِالْجِذْعِ الرَّاسِخِ فِي تُخُومِ الْأَرْضِ الْمُتَصَلِّبِ الثَّابِتِ كَدِعَامَةِ الْبِنَاءِ؟! مُجَرَّدُ وَظِيفَةٍ كَلَّفَهَا اللهُ بِهَا، يَنْبَغِي أَنْ تُنَفِّذَهَا فِي مَجَالِ التَّشْرِيعِ وَالنِّظَامِ، تَأَدُّبًا مَعَ التَّوْجِيهِ الرَّبَّانِيِّ وَتَجَاوُبًا مَعَ مُقْتَضَيَاتِ الْعُبُودِيَّةِ لِلَّهِ. أَمَّا الْيَقِينُ.. أَمَّا الْحَقِيقَةُ الِاعْتِقَادِيَّةُ، فَهِيَ أَنَّ خَالِقَ الرُّطَبِ فِي أَعْلَى شَجَرَةِ النَّخْلِ الْبَاسِقَةِ فِي غَيْرِ مِيعَادِهِ هُوَ اللهُ، وَأَنَّ الَّذِي يُسْقِطُهَا فِي حِجْرِ مَرْيَمَ ثَمَرًا طَيِّبًا جَنِيًّا هُوَ اللهُ.

Namun, meskipun kita semua yakin akan kekuasaan-Nya, Dia tetap berkata kepada Maryam: _"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu."_ Apa yang bisa dilakukan oleh tangannya yang lemah terhadap batang pohon yang kokoh tertancap dalam di bumi, sekuat fondasi bangunan? Ini hanyalah tugas yang Allah bebankan kepadanya, yang harus dilaksanakan sebagai bagian dari hukum dan aturan yang ditetapkan, sebagai bentuk ketaatan pada petunjuk ilahi dan kepatuhan dalam penghambaan kepada Allah. Adapun keyakinan dan hakikat keimanan, adalah bahwa yang menciptakan buah kurma di puncak pohon kurma yang tinggi di luar musimnya adalah Allah, dan yang menjatuhkannya ke pangkuan Maryam sebagai buah yang baik dan segar juga adalah Allah.

***

وَانْظُرْ إِلَى الْأَثَرِ التَّرْبَوِيِّ الَّذِي يَتْرُكُهُ التَّعَامُلُ الشَّرْعِيُّ مَعَ الْأَسْبَابِ، مَعَ الِاعْتِقَادِ الْجَازِمِ بِأَنَّ لَا فَاعِلِيَّةَ فِيهَا وَبِأَنَّهَا خَادِمٌ لِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ، إِنَّهُ أَثَرٌ تَرْبَوِيٌّ رَائِعٌ يُحَقِّقُهُ هٰذَا الْاِنْسِجَامُ عَلَى مُسْتَوَى كُلٍّ مِنَ النَّفْسِ وَالصِّحَّةِ الْجِسْمِيَّةِ، وَرَاحَةِ الْفِكْرِ وَالْبَالِ.

Perhatikanlah dampak pendidikan yang ditinggalkan oleh interaksi syariat dengan sebab-sebab, bersamaan dengan keyakinan yang teguh bahwa sebab-sebab tersebut tidak memiliki efektivitas sendiri dan hanyalah pelayan bagi ketentuan dan takdir Allah. Ini adalah dampak pendidikan yang luar biasa yang tercipta dari keselarasan ini, baik pada tingkat jiwa, kesehatan fisik, serta ketenangan pikiran dan hati.

إِنْ كَانَ فِي قَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ أَنْ يُثْمِرَ تَعَامُلُكَ مَعَ الْأَسْبَابِ، وَأَنْ تَصِلَ مِنْ وَرَائِهِ إِلَى مَا تَبْتَغِيهِ، فَاضَ فُؤَادُكَ يَقِينًا بِأَنَّ الْمُتَفَضِّلَ هُوَ اللهُ، وَمِنْ ثَمَّ لَا بُدَّ أَنْ يَلْهَجَ لِسَانُكَ بِشُكْرِهِ وَحَمْدِهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ.

Jika dalam ketetapan dan takdir Allah hasil dari interaksimu dengan sebab-sebab itu membuahkan hasil dan engkau mencapai apa yang engkau inginkan, maka hatimu akan dipenuhi keyakinan bahwa yang memberi karunia adalah Allah. Oleh karena itu, lidahmu tidak bisa tidak melafalkan rasa syukur, pujian, dan sanjungan kepada-Nya.

وَإِنْ كَانَ فِي قَضَائِهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا تَصِلَ مِنْ وَرَاءِ تَعَامُلِكَ مَعَ الْأَسْبَابِ إِلَى مَا تَبْتَغِيهِ، فَلَسَوْفَ تَعْلَمَ أَنَّ الْمَسْأَلَةَ عَائِدَةٌ إِلَى قَضَاءِ اللهِ وَحُكْمِهِ، وَمِنْ ثَمَّ فَلَنْ تُحِيلَ الْأَمْرَ إِلَى جَهْلٍ مِنْكَ بِاسْتِخْدَامِ الْأَسْبَابِ عَلَى نَحْوٍ أَدَقَّ، أَوْ إِلَى عَجْزٍ مِنْكَ فِي التَّحَايُلِ عَلَى الْمَوَانِعِ وَالْمُشْكِلَاتِ الَّتِي وَاجَهَتْكَ، أَوْ إِلَى افْتِرَاضَاتٍ بِأَنَّكَ لَوْ فَعَلْتَ كَذَا... لَمَا كَانَ كَذَا... وَأَنَّكَ لَوْ تَدَارَكْتَ الْأَمْرَ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي فَعَلَهُ فُلَانٌ لَنَجَحْتَ كَمَا نَجَحَ، وَلَمَا وَقَعْتَ فِي مُغَبَّةِ الْعَجَلَةِ الَّتِي دَاهَمَتْكَ.

Dan jika dalam ketetapan Allah Yang Maha Mulia engkau tidak mencapai apa yang engkau inginkan meskipun telah berusaha menggunakan sebab-sebab, maka engkau akan mengetahui bahwa urusannya kembali kepada ketetapan dan keputusan Allah. Oleh karena itu, engkau tidak akan menyalahkan ketidaktahuanmu dalam menggunakan sebab-sebab dengan lebih cermat, atau menyalahkan ketidakmampuanmu mengatasi hambatan dan masalah yang engkau hadapi, atau berasumsi bahwa jika engkau melakukan ini atau itu, maka hasilnya akan berbeda. Atau jika engkau bertindak seperti yang dilakukan orang lain, engkau akan berhasil seperti dia dan tidak terjebak dalam kesalahan terburu-buru yang telah menimpamu.

وَكَمْ فِي هٰذِهِ الْأَوْهَامِ الَّتِي تَهَيْمِنُ عَلَى أَفْكَارِ كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ، مَا يُرْجِمُهُمْ فِي أَمْرَاضٍ جِسْمِيَّةٍ، أَوْ كَآبَةٍ نَفْسِيَّةٍ، أَوْ إِرْهَاقٍ فِكْرِيٍّ.

Dan betapa banyak dari khayalan-khayalan ini, yang mendominasi pikiran banyak orang, yang akhirnya melemparkan mereka ke dalam penyakit fisik, depresi mental, atau kelelahan pikiran.

وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ الَّذِي جَمَعَ بَيْنَ الِانْقِيَادِ السُّلُوكِيِّ لِأَحْكَامِ الشَّرْعِ وَالْيَقِينِ الِاعْتِقَادِيِّ بِحَقِيقَةِ الْقَضَاءِ الْإِلٰهِيِّ، يَبْقَى فِي نَجْوَةٍ وَسَلَامَةٍ مِنْ هٰذِهِ الْمَصَائِبِ وَالْآلَامِ. إِذْ يَعْلَمُ أَنَّ هٰذَا الَّذِي وَقَعَ إِنَّمَا هُوَ نَتِيجَةٌ لِقَضَاءِ اللهِ وَحُكْمِهِ الَّذِي لَا بُدَّ أَنْ يُلْحِقَهُ وَيَقَعَ بِهِ أَيْنَمَا ذَهَبَ وَبِأَيِّ حِيلَةٍ أَوْ سَبَبٍ تَمَسَّكَ.

Namun, seorang mukmin yang memadukan antara kepatuhan perilaku terhadap hukum syariat dan keyakinan akidah terhadap hakikat ketentuan ilahi, akan tetap terlindungi dan selamat dari bencana dan penderitaan ini. Karena ia mengetahui bahwa apa yang terjadi hanyalah hasil dari ketetapan dan keputusan Allah yang pasti akan terjadi dan tidak bisa dihindari, ke mana pun ia pergi dan dengan cara atau sebab apa pun yang diusahakan.

فَإِذَا كَانَ ذَا ثِقَةٍ بِاللهِ وَرِضًا عَنْهُ؛ ازْدَادَ رَاحَةً وَطُمَأْنِينَةً وَيَقِينًا بِأَنَّ مَا اِنْتَهَى إِلَيْهِ هُوَ الْخَيْرُ.

وَلَسَوْفَ يَكُونَ عِنْدَئِذٍ مَظْهَرُ انْقِيَادٍ لِوَصِيَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِي يَقُولُ فِيهَا: «... اسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ. وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ» (١).

Maka jika seseorang memiliki kepercayaan penuh kepada Allah dan ridha atas ketetapan-Nya, ia akan semakin merasakan ketenangan, ketenteraman, dan keyakinan bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik baginya. Pada saat itu, ia akan menjadi contoh kepatuhan terhadap wasiat Rasulullah ﷺ yang berkata, "Mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah. Jika sesuatu menimpamu, jangan katakan, 'Seandainya aku melakukan ini, pasti hasilnya akan begini,' karena 'seandainya' membuka pintu perbuatan setan. Namun katakanlah, 'Allah telah menetapkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.'"

أَخِيرًا يَجِبُ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ خُضُوعَ الْأَسْبَابِ لِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ، لَا يَعْنِي أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَمْلِكُ إِذَنْ أَيَّ اخْتِيَارٍ أَمَامَ قَضَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، بَلْ إِنَّ مَسْأَلَةَ الْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ لَا عِلَاقَةَ لَهَا بِاخْتِيَارِ الْإِنْسَانِ وَلَا بِعَدَمِ اخْتِيَارِهِ.

Akhirnya, kamu harus memahami bahwa ketundukan sebab-sebab kepada ketetapan dan takdir Allah tidak berarti bahwa manusia tidak memiliki pilihan dalam menghadapi takdir Allah Yang Maha Kuasa. Masalah takdir tidak ada hubungannya dengan pilihan manusia atau ketiadaan pilihan tersebut.

وَلَعَلَّكَ تَبَيَّنْتَ هٰذَا مِنْ فَاتِحَةِ حَدِيثِنَا عَنْ هٰذِهِ الْحِكْمَةِ، عِنْدَمَا عَرَّفْنَا كُلًّا مِنَ الْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ، وَنَبَّهْنَا إِلَى الْوَهْمِ الَّذِي يَقَعُ فِيهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فِي فَهْمِ مَعْنَى كُلٍّ مِنْهُمَا.

Anda mungkin telah melihat ini dari awal percakapan kami tentang kebijaksanaan ini, ketika kami mengetahui qodlo dan takdir, dan mengingatkan kami akan ilusi bahwa banyak orang jatuh ke dalam memahami arti masing-masing qodlo dan takdir.

وَمَعَ ذٰلِكَ فَإِنَّ الْأَمْرَ يَحْتَاجُ إِلَى بَيَانٍ أَكْثَرَ تَفْصِيلًا. غَيْرَ أَنَّ الْمَجَالَ هُنَا لَا يَتَّسِعُ لِأَكْثَرَ مِمَّا ذَكَرْنَا. فَإِنْ كُنْتَ لَمْ تَصِلْ إِلَى قَنَاعَةٍ تَامَّةٍ فِي هٰذِهِ الْمَسْأَلَةِ بَعْدُ، فَارْجِعْ فِي الْوُقُوفِ عَلَى تَفْصِيلٍ وَافٍ لَهَا، وَابْتِغَاءَ الْوُصُولِ إِلَى فَهْمٍ ثُمَّ قَنَاعَةٍ تَامَّةٍ بِالْحَقِّ الَّذِي أَوْجَزْتُ بَيَانَهُ بِشَأْنِهَا، إِلَى كِتَابِي (الْإِنْسَانُ مُسَيَّرٌ أَمْ مُخَيَّرٌ).

Namun, diperlukan pernyataan yang lebih rinci. Namun, tidak ada ruang di sini untuk lebih dari yang telah kami sebutkan. Jika Anda belum mencapai keyakinan penuh dalam hal ini, maka bacalah detail lengkapnya, dan untuk mencapai pemahaman dan keyakinan penuh tentang kebenaran yang saya uraikan pernyataannya tentang hal itu, ke buku saya (Al-Insan: Musayyarun am Mukhoyyarun).
---
(١) رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ. وَأَوَّلُهُ: «الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ».

(1) Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Hurairah. Pertama, "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dikasihi Allah daripada orang mukmin yang lemah."

---
(Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Al-Hikam al-'Atha`iyyah Syarh wa Tahlil, Jilid 1 Halaman 60-72)

* Catatan: Apabila ada kesalahan dalam penulisan arab dan terjemahan di atas, mohon dikoreksi melalui kolom komentar di bawah. Terima kasih!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More