قال الشيخ ابن عطاء الله رضي الله عنه:
Syaikh Ibnu Athaillah ra. berkata:
(إِلَهِي: قَدْ دَفَعَتْنِيَ الْعَوَالِمُ إِلَيْكَ،...)
(Wahai Tuhanku, sungguh berbagai alam telah mendorongku menuju kepada-Mu...)
إِنَّمَا دَفَعَتْهُ الْعَوَالِمُ إِلَيْهِ لِمَا تَضَمَّنَتْهُ مِنَ السِّمَاتِ الْمُوحِشَةِ، كَمَا تَقَدَّمَ.
Sesungguhnya berbagai alam itu mendorongnya menuju kepada Allah karena alam mengandung berbagai sifat yang membuat hati merasa asing dan tidak tenteram, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
وَلَقَدْ أَحْسَنَ مَنْ قَالَ: «لَا وَحْشَةَ مَعَ اللهِ، وَلَا رَاحَةَ مَعَ غَيْرِ اللهِ».
Sungguh tepat orang yang mengatakan: “Tidak ada keterasingan bersama Allah, dan tidak ada ketenteraman bersama selain Allah.”
وَفِي هَذَا الْمَعْنَى أَنْشَدُوا:
Dalam makna inilah mereka melantunkan syair:
يَا قُرَّةَ الْعَيْنِ، سَلْ عَيْنِي هَلِ اكْتَحَلَتْ
بِمَنْظَرٍ حَسَنٍ مُذْ غِبْتَ عَنْ عَيْنِي
Wahai penyejuk mata, tanyalah mataku: apakah ia masih pernah bercelak dengan pemandangan yang indah sejak engkau pergi dari pandanganku?
(...وَقَدْ أَوْقَفَنِي عِلْمِي بِكَرَمِكَ عَلَيْكَ).
Dan pengetahuanku tentang kemurahan-Mu telah menghentikanku di hadapan-Mu.
إِذِ الْكَرِيمُ لَا تَتَخَطَّاهُ آمَالُ الْمُؤَمِّلِينَ، وَلَا يَتَوَجَّهُ نَحْوَ سِوَاهُ طَلَبُ الطَّالِبِينَ.
Sebab Zat Yang Maha Pemurah tidak akan dilampaui oleh harapan orang-orang yang berharap, dan permohonan orang-orang yang memohon tidak semestinya diarahkan kepada selain-Nya.
(إِلَهِي: كَيْفَ أَخِيبُ وَأَنْتَ أَمَلِي، أَمْ كَيْفَ أُهَانُ وَعَلَيْكَ مُتَّكَلِي)
Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku kecewa sedangkan Engkau adalah harapanku? Dan bagaimana mungkin aku terhina sedangkan kepada-Mu aku bersandar?
لَمَّا تَعَلَّقَ بِاللهِ تَعَالَى وَتَوَكَّلَ عَلَيْهِ، اسْتَبْعَدَ أَنْ يَخِيبَ أَمَلُهُ، أَوْ يَنَالَهُ هَوَانٌ يُؤُودُهُ تَحَمُّلُهُ.
Ketika ia telah bergantung kepada Allah Ta'ala dan bertawakal kepada-Nya, ia menganggap mustahil harapannya akan dikecewakan atau kehinaan akan menimpanya hingga ia tidak sanggup menanggungnya.
(إِلَهِي: كَيْفَ أَسْتَعِزُّ وَأَنْتَ فِي الذِّلَّةِ أَرْكَزْتَنِي، أَمْ كَيْفَ لَا أَسْتَعِزُّ وَإِلَيْكَ نَسَبْتَنِي...
Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku mencari kemuliaan sementara Engkau telah menempatkanku dalam kehinaan? Atau bagaimana mungkin aku tidak merasa mulia sementara Engkau telah menisbahkan diriku kepada-Mu?
...أَمْ كَيْفَ لَا أَفْتَقِرُ وَأَنْتَ الَّذِي فِي الْفَقْرِ أَقَمْتَنِي، أَمْ كَيْفَ أَفْتَقِرُ وَأَنْتَ الَّذِي بِجُودِكَ أَغْنَيْتَنِي)
Atau bagaimana mungkin aku tidak merasa membutuhkan-Mu, sementara Engkaulah yang menempatkanku dalam kefakiran? Atau bagaimana mungkin aku merasa membutuhkan selain-Mu, sementara dengan kemurahan-Mu Engkau telah membuatku berkecukupan?)
تَلَوُّنُهُ فِي هَذِهِ الْأَوْصَافِ الْمُتَضَادَّةِ لِمَا يَغْلِبُ عَلَيْهِ مِنْ مُشَاهَدَةِ مَا يُوجِبُهَا.
Perubahannya dalam ungkapan tentang sifat-sifat yang saling berlawanan ini terjadi karena ia lebih banyak menyaksikan berbagai keadaan yang menuntut munculnya sifat-sifat tersebut.
وَالذُّلَّةُ الْمُثْبَتَةُ هُنَا هِيَ: ذُلَّةُ الْخَلِيقَةِ وَالْعُبُودِيَّةِ.
Kehinaan yang dimaksudkan di sini adalah kehinaan sebagai makhluk dan sebagai hamba.
وَالنِّسْبَةُ الَّتِي أَشَارَ إِلَيْهَا هِيَ: سِرُّ الْخُصُوصِيَّةِ.
Adapun penisbahan yang beliau isyaratkan adalah rahasia kekhususan sebagai hamba pilihan Allah.
وَالِافْتِقَارُ بِمَعْنَى الذِّلَّةِ، وَالِاسْتِغْنَاءُ بِمَعْنَى الْعِزَّةِ.
Kefakiran di sini bermakna kerendahan diri, sedangkan merasa berkecukupan bermakna kemuliaan.
قَالَ بَعْضُهُمْ: «رَأَيْتُ ذُلَّ كُلِّ ذِي ذُلٍّ، فَزَادَ ذُلِّي عَلَى ذُلِّهِمْ، وَنَظَرْتُ عِزَّ كُلِّ ذِي عِزٍّ، فَزَادَ عِزِّي عَلَى عِزِّهِمْ».
Sebagian mereka berkata: “Aku melihat kehinaan setiap orang yang hina, ternyata kehinaanku melebihi kehinaan mereka. Dan aku memandang kemuliaan setiap orang yang mulia, ternyata kemuliaanku melebihi kemuliaan mereka.”
وقال الشبلي رضي الله تعالى عنه:
لَقَدْ ذَلَلْتُ حَتَّى عَزَّ فِي ذُلِّي كُلُّ ذِي ذُلٍّ، وَعَزَزْتُ حَتَّى مَا تَعَزَّزَ أَحَدٌ إِلَّا بِي وَبِمَنْ بِهِ تَعَزَّزْتُ.
Sungguh, aku telah merendahkan diriku sedemikian rupa hingga dalam kerendahan diriku, setiap orang yang hina menjadi mulia; dan aku telah menjadi mulia sedemikian rupa hingga tidak ada seorang pun yang mencari kemuliaan kecuali melalui diriku dan melalui Zat yang dengannya aku memperoleh kemuliaan.
(إِلَهِي أَنْتَ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُكَ، تَعَرَّفْتَ لِكُلِّ شَيْءٍ فَمَا جَهِلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الَّذِي تَعَرَّفْتَ إِلَيَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ، فَرَأَيْتُكَ ظَاهِرًا فِي كُلِّ شَيْءٍ، فَأَنْتَ الظَّاهِرُ لِكُلِّ شَيْءٍ).
Wahai Tuhanku, Engkaulah Zat yang tiada Tuhan selain Engkau. Engkau memperkenalkan diri-Mu kepada segala sesuatu, maka tidak ada sesuatu pun yang tidak mengenal-Mu. Dan Engkaulah yang memperkenalkan diri-Mu kepadaku melalui segala sesuatu, sehingga aku melihat-Mu tampak dalam segala sesuatu. Maka Engkaulah Yang Mahanyata bagi segala sesuatu.
هَذَا كُلُّهُ تَقَدَّمَ مَعْنَاهُ وَلَفْظُهُ فِي كَلَامِ الْمُؤَلِّفِ عَلَى غَايَةِ الْكَمَالِ وَالتَّمَامِ.
Semua ini, baik makna maupun lafaznya, telah dijelaskan sebelumnya dalam perkataan sang pengarang dengan uraian yang sangat sempurna dan lengkap.
وَالْحَاصِلُ مِنْهُ أَنَّ الظُّهُورَ التَّامَّ لِلَّهِ تَعَالَى بِكُلِّ اعْتِبَارٍ.
Kesimpulan dari semua itu adalah bahwa Allah Ta'ala benar-benar tampak secara sempurna dalam setiap aspek dan dari setiap sudut pandang.
ثُمَّ إِنَّهُ عَبَّرَ هُنَا عَنْ ذَلِكَ بِعِبَارَةٍ لَمْ يَذْكُرْهَا فِيمَا تَقَدَّمَ، وَهُوَ قَوْلُهُ:
Kemudian di sini beliau mengungkapkan makna tersebut dengan suatu ungkapan yang belum beliau gunakan sebelumnya, yaitu perkataan beliau:
قال الشيخ ابن عطاء الله رضي الله عنه:
(إِلٰهِي يَا مَنْ اسْتَوَى بِرَحْمَانِيَّتِهِ عَلَىٰ عَرْشِهِ، فَصَارَ الْعَرْشُ غَيْبًا فِي رَحْمَانِيَّتِهِ، كَمَا صَارَتِ الْعَوَالِمُ غَيْبًا فِي عَرْشِهِ، مَحَقْتَ الْآثَارَ بِالْآثَارِ، وَمَحَوْتَ الْأَغْيَارَ بِمُحِيطَاتِ أَفْلَاكِ الْأَنْوَارِ)
(Wahai Tuhanku, wahai Zat yang dengan sifat Rahmāniyyah-Nya berkuasa atas ‘Arsy-Nya, sehingga ‘Arsy menjadi sesuatu yang gaib di dalam Rahmāniyyah-Nya, sebagaimana seluruh alam menjadi sesuatu yang gaib di dalam ‘Arsy-Nya. Engkau menghapus bekas-bekas dengan bekas-bekas, dan Engkau melenyapkan segala selain-Mu dengan lingkaran-lingkaran cakrawala cahaya.)
كَلَامُهُ أَشَارَ بِهٰذَا إِلَىٰ مَعْنَىٰ قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ﴾ [طٰهٰ: ٥]، وَقَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمٰنُ﴾ [الْفُرْقَانِ: ٥٩].
Dengan ungkapan ini, beliau mengisyaratkan kepada makna firman Allah Ta‘ala: ‘Ar-Rahmān beristiwa di atas ‘Arsy’ (QS. Ṭāhā [20]: 5), dan firman-Nya: ‘Kemudian Ar-Rahmān beristiwa di atas ‘Arsy’ (QS. Al-Furqān [25]: 59).
وَرَحْمَانِيَّةُ اللَّهِ: كَوْنُهُ رَحْمَانًا.
Rahmāniyyah Allah adalah keadaan bahwa Dia bersifat sebagai Ar-Rahmān.
وَالرَّحْمٰنُ اسْمُ اللَّهِ تَعَالَىٰ يَقْتَضِي وُجُودَ كُلِّ مَوْجُودٍ، وَهُوَ مُشْتَقٌّ مِنَ الرَّحْمَةِ.
Ar-Rahmān adalah salah satu nama Allah Ta‘ala yang mengandung tuntutan adanya setiap yang ada; dan nama tersebut berasal dari kata raḥmah (kasih sayang).
وَالرَّحْمَةُ هَاهُنَا هِيَ الرَّحْمَةُ الْعَامَّةُ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، كَمَا وَسِعَ عِلْمُهُ كُلَّ شَيْءٍ، فِي قَوْلِهِ تَعَالَىٰ مُخْبِرًا عَنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ، إِذْ قَالُوا: ﴿رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا﴾ [غَافِرٍ: ٧].
Rahmat yang dimaksud di sini adalah rahmat yang bersifat umum, yang meliputi segala sesuatu, sebagaimana ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta‘ala yang mengabarkan tentang para malaikat pemikul ‘Arsy ketika mereka berdoa: ‘Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu’ (QS. Ghāfir [40]: 7).
وَلِذٰلِكَ دَخَلَتْ تَحْتَ مُقْتَضَى اسْمِهِ «الرَّحْمٰنِ» جَمِيعُ أَسْمَائِهِ تَعَالَى الْإِيجَادِيَّةِ.
Oleh karena itu, di bawah konsekuensi nama-Nya, Ar-Rahmān, tercakup seluruh nama-Nya Ta‘ala yang berkaitan dengan penciptaan dan pengadaan segala sesuatu.
وَيُفْهَمُ مِنْ مَعْنَى «الِاسْتِوَاءِ» الْقَهْرُ وَالْغَلَبَةُ.
Dari makna istiwā’ dapat dipahami makna penguasaan dan kemenangan.
وَمُقْتَضَاهُمَا فِي حَقِّ اللَّهِ تَعَالَىٰ أَنْ لَا يَكُونَ لِغَيْرِهِ وُجُودٌ مَعَ وُجُودِهِ، وَلَا ظُهُورٌ مَعَ ظُهُورِهِ.
Konsekuensi keduanya dalam hak Allah Ta‘ala adalah bahwa tidak ada sesuatu selain-Nya yang memiliki wujud yang berdiri sendiri di hadapan Wujud-Nya, dan tidak ada sesuatu yang memiliki penampakan hakiki di hadapan Penampakan-Nya.
فَلَا جَرَمَ لَمَّا كَانَ الْحَقُّ مُسْتَوِيًا بِرَحْمَانِيَّتِهِ عَلَىٰ عَرْشِهِ، الَّذِي الْعَوَالِمُ كُلُّهَا فِي طَيِّهِ، كَانَ الْعَرْشُ غَيْبًا فِي الرَّحْمَانِيَّةِ مُنْدَرِجًا فِيهَا.
Oleh karena itu, ketika Al-Ḥaqq beristiwa dengan Rahmāniyyah-Nya atas ‘Arsy-Nya, yang di dalam liputannya seluruh alam berada, maka ‘Arsy itu menjadi sesuatu yang gaib di dalam Rahmāniyyah dan tercakup di dalamnya.
وَالْعَوَالِمُ كُلُّهَا غَيْبٌ فِي الْعَرْشِ؛ لِأَنَّهَا فِي طَيِّهِ.
Dan seluruh alam menjadi sesuatu yang gaib di dalam ‘Arsy, karena seluruhnya berada dalam liputan ‘Arsy.
فَلَا ظُهُورَ إِذَنْ لِلْعَرْشِ، وَلَا لِلْعَوَالِمِ، وَإِنَّمَا الظُّهُورُ التَّامُّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Dengan demikian, tidak ada penampakan hakiki bagi ‘Arsy, dan tidak pula bagi seluruh alam; yang ada hanyalah penampakan yang sempurna bagi Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia.
مَحَقْتَ الْآثَارَ بِالْآثَارِ، كَمَا بَيْنَ الْعَوَالِمِ وَالْعَرْشِ.
Engkau menghapus bekas-bekas dengan bekas-bekas, sebagaimana hubungan antara alam-alam dan ‘Arsy.
وَمَحَوْتَ الْأَغْيَارَ بِمُحِيطَاتِ أَفْلَاكِ الْأَنْوَارِ، كَمَا بَيْنَ الْعَرْشِ وَالرَّحْمَانِيَّةِ.
Dan Engkau melenyapkan segala sesuatu selain-Mu dengan lingkaran-lingkaran cakrawala cahaya, sebagaimana hubungan antara ‘Arsy dan Rahmāniyyah.
وَمُحِيطَاتُ أَفْلَاكِ الْأَنْوَارِ هِيَ أَسْمَاءُ اللَّهِ الْحُسْنَىٰ، وَاللَّهُ تَعَالَىٰ أَعْلَمُ.
Dan lingkaran-lingkaran cakrawala cahaya itu adalah nama-nama Allah yang indah (al-Asmā’ al-Ḥusnā). Dan Allah Ta‘ala lebih mengetahui.
ثم قال الشيخ ابن عطاء الله رضي اللّه عنه :
(إِلٰهِي يَا مَنْ احْتَجَبَ فِي سُرَادِقَاتِ عِزِّهِ عَنْ أَنْ تُدْرِكَهُ الْأَبْصَارُ، يَا مَنْ تَجَلَّى بِكَمَالِ بَهَائِهِ فَتَحَقَّقَتْ عَظَمَتُهُ الْأَسْرَارُ. كَيْفَ تَخْفَى وَأَنْتَ الظَّاهِرُ، أَمْ كَيْفَ تَغِيبُ وَأَنْتَ الرَّقِيبُ الْحَاضِرُ؟)
(Wahai Tuhanku, wahai Zat yang bersembunyi di balik tabir-tabir kemuliaan-Nya sehingga tidak mungkin pandangan mata menangkap-Nya. Wahai Zat yang menampakkan diri melalui kesempurnaan keindahan-Nya sehingga rahasia-rahasia hati mengenali keagungan-Nya. Bagaimana mungkin Engkau tersembunyi, sedangkan Engkaulah Yang Maha Nyata? Atau bagaimana mungkin Engkau gaib, sedangkan Engkaulah Yang Maha Mengawasi dan senantiasa hadir?)
عِزَّةُ اللَّهِ تَعَالَىٰ اقْتَضَتْ كَوْنَ كُلِّ مَا سِوَاهُ مَحْجُوبًا عَنْ رُؤْيَتِهِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Keagungan dan kemuliaan Allah Ta‘ala menghendaki bahwa segala sesuatu selain-Nya terhalang dari kemampuan melihat Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia.
فَإِنَّ الْعَزِيزَ مَعْنَاهُ الْمَنِيعُ الَّذِي لَا يُوصَلُ إِلَيْهِ.
Sebab, Al-‘Azīz berarti Zat Yang Mahaperkasa dan tak tertembus, yang tidak mungkin dicapai.
يُقَالُ: «حِصْنٌ عَزِيزٌ» إِذَا تَعَذَّرَ الْوُصُولُ إِلَيْهِ.
Dikatakan ḥiṣnun ‘azīz (benteng yang kokoh) apabila sulit atau mustahil untuk mencapainya.
وَقِيلَ: الْعَزِيزُ: الَّذِي لَا يَرْتَقِي إِلَيْهِ وَهْمٌ طَمَعًا فِي تَقْدِيرِهِ، وَلَا يَسْمُو إِلَىٰ صَمَدِيَّتِهِ فَهْمٌ قَصْدًا إِلَىٰ تَصْوِيرِهِ.
Dikatakan pula: Al-‘Azīz adalah Zat yang tidak dapat dijangkau oleh angan-angan, karena berusaha menentukan hakikat-Nya; dan tidak ada pemahaman yang mampu mencapai sifat ṣamadiyyah-Nya dengan tujuan membentuk gambaran tentang-Nya.
وَقِيلَ: الْعَزِيزُ: مَنْ ضَلَّتِ الْعُقُولُ فِي بِحَارِ تَعْظِيمِهِ، وَحَارَتِ الْأَلْبَابُ دُونَ إِدْرَاكِ نَعْتِهِ، وَكَلَّتِ الْأَلْسِنَةُ عَنْ اسْتِيفَاءِ مَدْحِ جَلَالِهِ، وَوَصْفِ جَمَالِهِ.
Dikatakan pula: Al-‘Azīz adalah Zat yang akal-akal manusia tersesat dalam lautan pengagungan kepada-Nya, hati dan pikiran kebingungan untuk memahami sifat-sifat-Nya, dan lidah-lidah tidak mampu menyempurnakan pujian terhadap keagungan-Nya maupun menggambarkan keindahan-Nya.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَىٰ نَفْسِكَ».
Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku tidak mampu menghitung seluruh pujian yang layak bagi-Mu. Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri."
وَذِكْرُ السَّرَادِقَاتِ مُضَافَةً إِلَىٰ عِزِّهِ، وَاحْتِجَابِهِ فِيهَا، مَجَازٌ حَسَنٌ.
Penyebutan sarādiqāt (tabir-tabir atau tirai-tirai) yang disandarkan kepada kemuliaan-Nya, serta penyebutan bahwa Dia terhijab di dalamnya, merupakan ungkapan majazi yang indah.
يَا مَنْ تَجَلَّى بِكَمَالِ بَهَائِهِ فَتَحَقَّقَتْ عَظَمَتُهُ الْأَسْرَارُ.
Wahai Zat yang menampakkan diri melalui kesempurnaan keindahan-Nya, sehingga rahasia-rahasia hati menyadari keagungan-Nya.
كَمَالُ بَهَائِهِ: مَحَاسِنُ صِفَاتِهِ وَأَسْمَائِهِ، فَبِظُهُورِ ذٰلِكَ وَتَجَلِّيهِ تَحَقَّقَتْ عَظَمَتُهُ أَسْرَارُ الْعَارِفِينَ.
Kesempurnaan keindahan-Nya adalah keindahan sifat-sifat dan nama-nama-Nya. Dengan tampaknya dan tersingkapnya keindahan tersebut, rahasia-rahasia batin para ‘ārif (orang-orang yang mengenal Allah) menyadari keagungan-Nya.
كَيْفَ تَخْفَى وَأَنْتَ الظَّاهِرُ، أَمْ كَيْفَ تَغِيبُ وَأَنْتَ الرَّقِيبُ الْحَاضِرُ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ وَبِهِ أَسْتَعِينُ.
Bagaimana mungkin Engkau tersembunyi, sedangkan Engkaulah Yang Maha Nyata? Atau bagaimana mungkin Engkau gaib, sedangkan Engkaulah Yang Maha Mengawasi dan senantiasa hadir? Allah-lah yang memberikan taufik, dan kepada-Nya aku memohon pertolongan.
هٰذَا كُلُّهُ بَيِّنٌ لَا إِشْكَالَ فِيهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَقَدْ تَقَدَّمَ مَعْنَاهُ غَيْرَ مَرَّةٍ مِنْ كَلَامِ الْمُؤَلِّفِ، رَحِمَهُ اللَّهُ.
Semua ini sudah jelas dan tidak ada persoalan di dalamnya. Segala puji bagi Allah. Makna pembahasan ini juga telah dikemukakan oleh penulis—semoga Allah merahmatinya—lebih dari sekali dalam perkataan-perkataannya yang telah terdahulu.
قال مؤلف هذا الكتاب:
Penulis kitab ini berkata:
وَقَدْ نَجَزَ بِحَمْدِ اللَّهِ مَا أَرَدْنَاهُ، وَبَلَغْنَا الْغَرَضَ الَّذِي قَصَدْنَاهُ، وَلَا حَوْلَ لَنَا فِي ذَلِكَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.
Dengan memuji Allah, apa yang kami kehendaki telah selesai, dan kami telah mencapai tujuan yang kami maksudkan. Kami tidak memiliki daya dan kekuatan sedikit pun dalam hal itu kecuali dengan pertolongan Allah.
وَبِذَلِكَ تَبَيَّنَ مَا عِنْدِي فِي مَسَائِلِ الْكِتَابِ، وَاللَّهُ تَعَالَى الْهَادِي لِلصَّوَابِ.
Dengan demikian, telah menjadi jelas apa yang menurut pandangan saya mengenai persoalan-persoalan dalam kitab ini. Dan Allah Ta‘ala-lah yang memberi petunjuk kepada kebenaran.
وَقَدْ تَقَدَّمَ فِي أَوَّلِ هَذَا التَّنْبِيهِ أَنِّي لَمْ أَقْصِدْ فِيهِ إِلَّا هَذَا الْمَعْنَى، وَلَمْ نَلْتَزِمْ كَوْنَ مَا ذَكَرْنَاهُ صَحِيحَ الْمَبْنَى، حَتَّى نَحْتَاجَ إِلَى نَصْبِ الْأَدِلَّةِ وَالْبَرَاهِينِ عَلَى مَا ادَّعَيْنَاهُ فِيهِ.
Telah dijelaskan pada bagian awal dari kitab ini bahwa saya tidak bermaksud di dalamnya kecuali makna tersebut. Kami juga tidak berkomitmen bahwa apa yang kami kemukakan pasti benar secara bangunan argumentasinya, sehingga kami harus menghadirkan dalil-dalil dan bukti-bukti untuk membuktikan apa yang kami kemukakan di dalamnya.
صَحِيحَ الْمَبْنَى secara harfiah berarti “benar bangunannya”; dalam konteks ini maksudnya adalah benar secara konstruksi pemikiran atau argumentasinya.
وَإِنَّمَا سُقْنَا ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ حِكَايَةِ مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ.
Sesungguhnya kami hanya menyampaikan hal tersebut sebagai bentuk penggambaran atau penuturan terhadap salah satu pandangan dari berbagai pandangan yang ada.
وَلِلْمَحْكِيِّ لَهُ ذَلِكَ أَنْ يُصَحِّحَهُ أَوْ يُبْطِلَهُ، إِنْ أَحَبَّ.
Maka, orang yang kepadanya pandangan tersebut dinisbatkan memiliki hak untuk membenarkannya ataupun membatalkannya, jika ia menghendaki.
وَمَا وَقَعَ فِيهِ مِنْ تَوَخِّي اسْتِدْلَالٍ عَلَى مَطْلَبٍ مِنَ الْمَطَالِبِ فَأَنَا فِي ذَلِكَ مُتَبَرِّعٌ.
Adapun apabila di dalamnya terdapat upaya mencari dalil untuk mendukung suatu persoalan, maka dalam hal itu saya melakukannya secara sukarela, bukan karena hal itu merupakan suatu kewajiban atas saya.
فَإِنْ صَحَّ ذَلِكَ الدَّلِيلُ فَهُوَ الْمَطْلُوبُ، وَإِنْ بَطَلَ لَمْ يَلْزَمْ مِنْ بُطْلَانِهِ بُطْلَانُ الْمَدْلُولِ.
Jika dalil tersebut benar, maka itulah yang diharapkan. Namun jika dalil tersebut ternyata tidak benar, tidak berarti bahwa ketidakbenaran dalil itu otomatis menyebabkan gugurnya kesimpulan yang didalilinya.
وَبَقِيَ الْمَذْهَبُ قَابِلًا لِلتَّصْحِيحِ أَوِ الْإِبْطَالِ مِنْ غَيْرِ أَنْ تَتَوَجَّهَ عَلَيَّ مُطَالَبَةٌ بِذَلِكَ.
Dengan demikian, pandangan tersebut tetap terbuka untuk dibenarkan ataupun dibatalkan, tanpa saya harus dituntut bertanggung jawab untuk memastikan salah satunya.
وَالَّذِي حَمَلَنِي عَلَى سُلُوكِ هَذَا السَّبِيلِ مَا فِيهِ مِنْ وُجْدَانِ السَّلَامَةِ لِي مِنَ الْخَطَرِ الَّذِي يَتَعَرَّضُ لَهُ كُلُّ مَنْ يَتَكَلَّمُ عَلَى طَرِيقِ التَّصَوُّفِ مِمَّنْ لَا تَحَقُّقَ لَهُ فِيهِ.
Hal yang mendorong saya menempuh cara ini adalah karena cara tersebut membuat saya lebih selamat dari bahaya yang dihadapi oleh setiap orang yang berbicara tentang jalan tasawuf, padahal ia sendiri belum benar-benar memiliki pengalaman atau penghayatan yang nyata terhadapnya.
وَيَدَّعِي صِحَّةَ مَا يَنْظُرُ بِعَقْلِهِ وَفَهْمِهِ، وَيَنْسِبُ ذَلِكَ إِلَى الْقَوْمِ.
Orang tersebut menganggap benar apa yang ia pahami melalui akal dan pemikirannya sendiri, kemudian menisbahkan pemahaman tersebut kepada para ahli tasawuf.
وَلَعَلَّ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ لَا يَصِحُّ عَنْهُمْ، فَيَكُونُ بِذَلِكَ مُفْتَرِيًا كَذَّابًا عَلَيْهِمْ.
Padahal, boleh jadi sebagian dari apa yang ia nisbahkan itu tidak benar-benar berasal dari mereka. Dengan demikian, ia menjadi orang yang berdusta dan mengada-adakan sesuatu atas nama mereka.
ثُمَّ فِيهِ مِنْ سُوءِ الْأَدَبِ مَعَهُمْ، وَالتَّقَدُّمِ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ مَا لَا يَقُومُ لَهُ شَيْءٌ.
Selain itu, di dalam tindakan tersebut terdapat sikap tidak beradab terhadap mereka dan tindakan mendahului mereka dalam berbicara mengenai sesuatu yang tidak layak dilakukan.
التَّقَدُّمُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ secara harfiah berarti “mendahului mereka di hadapan mereka”. Di sini maksudnya adalah berbicara atas nama para ahli tasawuf atau menetapkan sesuatu tentang ajaran mereka sebelum benar-benar memahami dan memiliki otoritas atasnya.
وَعِنْدَ ذَلِكَ يَكُونُ الْخَرَسُ وَالْبُكْمُ وَذَهَابُ الْحِسِّ وَالْحَرَكَةِ أَوْلَى بِهِ وَأَحْمَدَ عَاقِبَةً لَهُ.
Dalam keadaan demikian, diam, membisu, bahkan tidak berbicara dan tidak bergerak, justru lebih layak baginya dan lebih baik akibatnya.
لِتَخَلُّصِهِ بِذَلِكَ مِنْ شَرِّ لِسَانِهِ وَبَنَانِهِ.
Dengan demikian, ia dapat menyelamatkan dirinya dari keburukan yang dapat ditimbulkan oleh lisannya dan jemarinya.
لِسَانِهِ وَبَنَانِهِ — “lisannya dan jemarinya” — sangat menarik. Lisan menunjuk pada perkataan, sedangkan banān (jemari) dapat menunjuk pada tulisan. Jadi, bahayanya bukan hanya karena berbicara sembarangan, tetapi juga karena menuliskan dan menyebarkan pemahaman yang belum teruji.
ثُمَّ إِنَّ مَا قَصَدْنَاهُ مِنْ ذَلِكَ لَا يَمْنَعُ مِنْ حُصُولِ الْفَائِدَةِ لِمَنْ أَرَادَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا، وَوَفَّقَهُ لَهَا.
Kemudian, apa yang kami maksudkan dengan cara tersebut tidak menghalangi diperolehnya manfaat bagi orang yang Allah Ta‘ala kehendaki mendapatkan manfaat darinya dan yang Allah beri taufik untuk memperolehnya.
فَعَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَعْمَلَ عَلَى خَلَاصِ نَفْسِهِ.
Maka, seorang hamba hendaknya berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.
وَلَا يَلْزَمُهُ اتِّبَاعُ مَرْضَاةِ غَيْرِهِ.
Ia tidak wajib mengikuti sesuatu yang menyenangkan atau memuaskan hati orang lain.
فَقَدْ قِيلَ: «رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ».
Karena telah dikatakan: “Mencari keridaan semua manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai.”
وَنَحْنُ نَرْغَبُ إِلَى مَنْ وَقَعَ بَيْنَ يَدَيْهِ هَذَا التَّأْلِيفُ، وَظَهَرَ لَهُ فِيهِ خَطَأٌ أَوْ تَحْرِيفٌ، أَنْ يُصْلِحَ مِنْهُ مَا أَلْفَاهُ مُخْتَلًّا.
Kami berharap kepada siapa pun yang sampai kepadanya karya tulis ini, lalu ia menemukan di dalamnya suatu kesalahan atau penyimpangan, agar ia memperbaiki bagian yang menurutnya tidak tepat.
وَأَنْ يَنْتَهِجَ مِنَ الِاعْتِذَارِ عَنْهُ الطَّرِيقَةَ الْمُثْلَى.
Dan hendaknya ia menempuh cara yang terbaik dalam memberikan koreksi atau menyampaikan keberatan terhadapnya.
وَإِنْ ظَهَرَ لَهُ أَنْ يَضَعَ فِي ذَلِكَ تَأْلِيفًا يَتَضَمَّنُ تَنْبِيهًا وَتَعْرِيفًا، فَذَلِكَ مِنَ الْمَذَاهِبِ الَّتِي تُرْتَضَى، وَمِمَّا لَمْ يَزَلْ مِنْ شَأْنِ مَنْ قَدْ مَضَى.
Dan jika menurutnya perlu menyusun sebuah karya tersendiri mengenai hal tersebut yang berisi penjelasan dan klarifikasi, maka cara demikian termasuk cara yang dapat diterima dan merupakan tradisi yang telah lama dilakukan oleh para ulama terdahulu.
تَنْبِيهًا وَتَعْرِيفًا secara harfiah berarti “memberikan peringatan dan penjelasan”; konteksnya adalah mengoreksi, menjelaskan, dan meluruskan sesuatu yang dianggap keliru.
وَنَحْنُ نَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى مِمَّا يَعْلَمُهُ مِنَّا مِنَ التَّعَدِّي وَالْجُرْأَةِ فِيمَا تَعَرَّضْنَا لَهُ مِنْ بَيَانِ كَلَامِ الْأَوْلِيَاءِ، وَالرَّاسِخِينَ مِنَ الْعُلَمَاءِ.
Kami memohon ampun kepada Allah Ta‘ala atas segala bentuk pelampauan batas dan keberanian yang tidak semestinya yang Dia ketahui berasal dari kami, khususnya dalam upaya kami menjelaskan perkataan para wali dan para ulama yang mendalam ilmunya.
وَتَقْرِيرِ عِبَارَاتِهِمْ وَإِشَارَاتِهِمْ مِنْ غَيْرِ اطِّلَاعٍ مِنَّا عَلَى كُنْهِهَا، وَلَا بَصِيرَةٍ فِيهَا.
Dan juga atas tindakan kami dalam menetapkan atau menjelaskan ungkapan dan isyarat mereka, padahal kami tidak benar-benar mengetahui hakikat terdalamnya dan tidak memiliki pemahaman yang mendalam mengenai hal tersebut.
كُنْهُهَا = hakikat terdalam, esensi, atau kenyataan yang sebenarnya.
بَصِيرَة di sini bukan sekadar “penglihatan”, tetapi pemahaman yang mendalam dan kejernihan dalam melihat hakikat suatu perkara.
وَنَسْتَغْفِرُهُ أَيْضًا مِمَّا أَقْدَمْنَا عَلَيْهِ مِنْ إِظْهَارِ مَا سَتَرُوهُ، وَإِعْلَانِ مَا أَسَرُّوهُ.
Kami juga memohon ampun kepada-Nya atas tindakan kami menampakkan apa yang mereka sembunyikan dan mengungkapkan apa yang mereka rahasiakan.
Ini menunjukkan adab yang sangat tinggi terhadap pengalaman spiritual para wali dan orang-orang saleh. Tidak semua pengalaman atau keadaan batin yang mereka alami dimaksudkan untuk dibuka kepada publik.
وَنَسْتَغْفِرُهُ أَيْضًا مِمَّا وَقَعَ مِنَّا فِيهِ مِنْ ذِكْرِ أَحْوَالِ الْأَوْلِيَاءِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَمَقَامَاتِهِمْ.
Kami juga memohon ampun kepada-Nya atas apa yang telah kami lakukan dalam menyebutkan keadaan-keadaan para wali, semoga Allah meridai mereka, dan maqam-maqam spiritual mereka.
وَتَحْرِيضِنَا عَلَى سُلُوكِ طَرِيقِهِمُ الْمُسْتَقِيمِ مَعَ إِفْلَاسِنَا مِنْ جَمِيعِ ذَلِكَ، وَعَدَمِ احْتِظَائِنَا بِهِ.
Dan juga atas tindakan kami mendorong orang lain untuk menempuh jalan lurus mereka, sementara kami sendiri tidak memiliki bekal dari semua itu dan tidak memperoleh bagian darinya.
إِفْلَاسِنَا secara harfiah berarti “kefakiran/kebangkrutan kami”. Di sini maksudnya adalah merasa tidak memiliki modal spiritual sebagaimana yang kami bicarakan.
احْتِظَاء berarti memperoleh bagian, keuntungan, atau keberuntungan. Jadi عَدَمِ احْتِظَائِنَا بِهِ = kami sendiri tidak memperoleh bagian dari keadaan spiritual tersebut.
وَنَسْأَلُهُ مَعَ ذَلِكَ أَنْ لَا يُؤَاخِذَنَا بِمَا انْطَوَتْ عَلَيْهِ ضَمَائِرُنَا.
Meskipun demikian, kami memohon kepada-Nya agar Dia tidak menghukum kami karena apa yang tersembunyi di dalam hati dan batin kami.
وَأَكَنَّتْهُ سَرَائِرُنَا مِنْ أَنْوَاعِ الْقَبَائِحِ وَالْمَعَايِبِ الَّتِي يَعْلَمُهَا مِنَّا وَلَا نَعْلَمُهَا.
Yaitu berbagai macam keburukan dan cela yang Dia ketahui ada pada diri kami, sementara kami sendiri tidak mengetahuinya.
أَوْ نَعْلَمُهَا وَلَا تَسْمَحُ نُفُوسُنَا بِالتَّنَقِّي مِنْهَا، وَالتَّنَزُّهِ عَنْهَا.
Ataupun keburukan yang sebenarnya kami ketahui, tetapi jiwa kami tidak bersedia membersihkan diri darinya dan menjauhkan diri darinya.
اغْتِرَارًا مِنَّا بِحَمْلِهِ، وَاسْتِهَانَةً بِنَظَرِهِ وَعِلْمِهِ.
Hal itu terjadi karena kami terlena oleh kesanggupan Allah menanggung dan menangguhkan akibatnya, serta karena kami meremehkan pengawasan dan pengetahuan-Nya.
اغْتِرَارًا مِنَّا بِحَمْلِهِ dapat dipahami sebagai tertipu oleh sifat Allah yang Maha Menanggung/Menangguhkan, sehingga manusia merasa aman untuk tetap melakukan keburukan.
وَاسْتِهَانَةً بِنَظَرِهِ وَعِلْمِهِ sangat dalam: seseorang bisa mengetahui bahwa Allah melihat dan mengetahui, tetapi dalam praktiknya ia meremehkan pengawasan dan pengetahuan Allah.
وَنَرْغَبُ إِلَيْهِ، جَلَّ وَعَلَا، أَنْ يَمُنَّ عَلَيْنَا بِتَوْبَةٍ تَمْحُو عَنَّا كُلَّ حُوبَةٍ.
Dan kami memohon dengan penuh harap kepada-Nya, Mahasuci dan Mahatinggi Dia, agar Dia menganugerahkan kepada kami suatu tobat yang menghapus dari kami setiap dosa.
حُوبَةٌ berarti dosa, kesalahan, atau perbuatan tercela yang menimbulkan beban dan akibat buruk.
حَتَّى تَنْقَلِبَ أَعْدَاؤُنَا عَنَّا خَائِبِينَ خَاسِئِينَ دَاخِرِينَ صَاغِرِينَ.
Sehingga musuh-musuh kami berpaling dari kami dalam keadaan kecewa, merugi, terhina, tunduk, dan rendah.
Nuansa beberapa katanya:
خَائِبِينَ = kecewa, gagal memperoleh apa yang diharapkan.
خَاسِئِينَ = terusir atau terhina.
دَاخِرِينَ = tunduk dan dipaksa merendah.
صَاغِرِينَ = berada dalam keadaan hina dan rendah.
لَمْ يَنَالُوا مِنْ تَحَقُّقِ إِرَادَاتِهِمْ فِينَا مَطْلَبًا.
Mereka tidak memperoleh sedikit pun dari apa yang mereka inginkan terhadap kami.
وَلَمْ يَبْلُغُوا مِنْ عَدَمِ إِسْعَافِهِ إِيَّانَا بِمَا طَلَبْنَاهُ مِنْهُ مَأْرَبًا.
Dan mereka tidak mencapai tujuan yang mereka kehendaki berupa tidak diberinya kami pertolongan oleh-Nya atas apa yang kami mohonkan kepada-Nya.
Maksud keseluruhannya: musuh-musuh itu gagal mewujudkan kehendak mereka terhadap kami dan gagal pula melihat Allah membiarkan kami tanpa pertolongan-Nya.
وَأَنْ يَشْمَلَ فِي ذَلِكَ مَعَنَا كُلَّ مَنْ أَمَّنَ عَلَى هَذَا الدُّعَاءِ مِمَّنْ سَمِعَهُ.
Dan semoga Dia memasukkan bersama kami dalam karunia tersebut setiap orang yang mengucapkan “Amin” atas doa ini setelah mendengarnya.
وَمِمَّنْ دَعَا لَنَا بِمِثْلِهِ مِنْ إِخْوَانِنَا الْمُسْلِمِينَ.
Demikian pula saudara-saudara kami sesama Muslim yang mendoakan kami dengan doa yang serupa.
وَنَتَوَسَّلُ إِلَيْهِ فِي بُلُوغِ الْأَمَلِ وَالْوُصُولِ إِلَى الْمُبْتَغَى الْأَجَلِّ.
Dan kami bertawassul kepada-Nya agar kami dapat mencapai harapan dan sampai kepada tujuan yang paling mulia.
بِمَنْ صَرَفَنَا بِهِ عَنْ كُلِّ جُحُودٍ وَكُفُورٍ.
Yaitu melalui beliau yang dengannya Allah memalingkan kami dari setiap bentuk pengingkaran dan kekufuran.
وَأَخْرَجَنَا عَلَى يَدَيْهِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ.
Dan melalui tangan beliau Allah mengeluarkan kami dari berbagai kegelapan menuju cahaya.
سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ.
Beliau adalah junjungan dan pemimpin kami, Muhammad, penutup para nabi.
وَإِمَامِ الْمُرْسَلِينَ.
Dan pemimpin para rasul.
وَحَبِيبِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Dan kekasih Tuhan semesta alam.
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada beliau serta kepada keluarga beliau yang baik dan suci.
وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ الْأَكْرَمِينَ.
Dan kepada para sahabat beliau yang saleh lagi mulia.
وَتَابِعِيهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
Dan kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya hingga Hari Pembalasan.
وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
Dan semoga Dia melimpahkan salam yang sebanyak-banyaknya.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.





