قال الشيخ ابن عطاء الله رضي الله عنه:
Syaikh Ibnu Athaillah ra. berkata:
(إِلَهِي: قَدْ دَفَعَتْنِيَ الْعَوَالِمُ إِلَيْكَ،...)
(Wahai Tuhanku, sungguh berbagai alam telah mendorongku menuju kepada-Mu...)
إِنَّمَا دَفَعَتْهُ الْعَوَالِمُ إِلَيْهِ لِمَا تَضَمَّنَتْهُ مِنَ السِّمَاتِ الْمُوحِشَةِ، كَمَا تَقَدَّمَ.
Sesungguhnya berbagai alam itu mendorongnya menuju kepada Allah karena alam mengandung berbagai sifat yang membuat hati merasa asing dan tidak tenteram, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
وَلَقَدْ أَحْسَنَ مَنْ قَالَ: «لَا وَحْشَةَ مَعَ اللهِ، وَلَا رَاحَةَ مَعَ غَيْرِ اللهِ».
Sungguh tepat orang yang mengatakan: “Tidak ada keterasingan bersama Allah, dan tidak ada ketenteraman bersama selain Allah.”
وَفِي هَذَا الْمَعْنَى أَنْشَدُوا:
Dalam makna inilah mereka melantunkan syair:
يَا قُرَّةَ الْعَيْنِ، سَلْ عَيْنِي هَلِ اكْتَحَلَتْ
بِمَنْظَرٍ حَسَنٍ مُذْ غِبْتَ عَنْ عَيْنِي
Wahai penyejuk mata, tanyalah mataku: apakah ia masih pernah bercelak dengan pemandangan yang indah sejak engkau pergi dari pandanganku?
(...وَقَدْ أَوْقَفَنِي عِلْمِي بِكَرَمِكَ عَلَيْكَ).
Dan pengetahuanku tentang kemurahan-Mu telah menghentikanku di hadapan-Mu.
إِذِ الْكَرِيمُ لَا تَتَخَطَّاهُ آمَالُ الْمُؤَمِّلِينَ، وَلَا يَتَوَجَّهُ نَحْوَ سِوَاهُ طَلَبُ الطَّالِبِينَ.
Sebab Zat Yang Maha Pemurah tidak akan dilampaui oleh harapan orang-orang yang berharap, dan permohonan orang-orang yang memohon tidak semestinya diarahkan kepada selain-Nya.
(إِلَهِي: كَيْفَ أَخِيبُ وَأَنْتَ أَمَلِي، أَمْ كَيْفَ أُهَانُ وَعَلَيْكَ مُتَّكَلِي)
Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku kecewa sedangkan Engkau adalah harapanku? Dan bagaimana mungkin aku terhina sedangkan kepada-Mu aku bersandar?
لَمَّا تَعَلَّقَ بِاللهِ تَعَالَى وَتَوَكَّلَ عَلَيْهِ، اسْتَبْعَدَ أَنْ يَخِيبَ أَمَلُهُ، أَوْ يَنَالَهُ هَوَانٌ يُؤُودُهُ تَحَمُّلُهُ.
Ketika ia telah bergantung kepada Allah Ta'ala dan bertawakal kepada-Nya, ia menganggap mustahil harapannya akan dikecewakan atau kehinaan akan menimpanya hingga ia tidak sanggup menanggungnya.
(إِلَهِي: كَيْفَ أَسْتَعِزُّ وَأَنْتَ فِي الذِّلَّةِ أَرْكَزْتَنِي، أَمْ كَيْفَ لَا أَسْتَعِزُّ وَإِلَيْكَ نَسَبْتَنِي...
Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku mencari kemuliaan sementara Engkau telah menempatkanku dalam kehinaan? Atau bagaimana mungkin aku tidak merasa mulia sementara Engkau telah menisbahkan diriku kepada-Mu?
...أَمْ كَيْفَ لَا أَفْتَقِرُ وَأَنْتَ الَّذِي فِي الْفَقْرِ أَقَمْتَنِي، أَمْ كَيْفَ أَفْتَقِرُ وَأَنْتَ الَّذِي بِجُودِكَ أَغْنَيْتَنِي)
Atau bagaimana mungkin aku tidak merasa membutuhkan-Mu, sementara Engkaulah yang menempatkanku dalam kefakiran? Atau bagaimana mungkin aku merasa membutuhkan selain-Mu, sementara dengan kemurahan-Mu Engkau telah membuatku berkecukupan?)
تَلَوُّنُهُ فِي هَذِهِ الْأَوْصَافِ الْمُتَضَادَّةِ لِمَا يَغْلِبُ عَلَيْهِ مِنْ مُشَاهَدَةِ مَا يُوجِبُهَا.
Perubahannya dalam ungkapan tentang sifat-sifat yang saling berlawanan ini terjadi karena ia lebih banyak menyaksikan berbagai keadaan yang menuntut munculnya sifat-sifat tersebut.
وَالذُّلَّةُ الْمُثْبَتَةُ هُنَا هِيَ: ذُلَّةُ الْخَلِيقَةِ وَالْعُبُودِيَّةِ.
Kehinaan yang dimaksudkan di sini adalah kehinaan sebagai makhluk dan sebagai hamba.
وَالنِّسْبَةُ الَّتِي أَشَارَ إِلَيْهَا هِيَ: سِرُّ الْخُصُوصِيَّةِ.
Adapun penisbahan yang beliau isyaratkan adalah rahasia kekhususan sebagai hamba pilihan Allah.
وَالِافْتِقَارُ بِمَعْنَى الذِّلَّةِ، وَالِاسْتِغْنَاءُ بِمَعْنَى الْعِزَّةِ.
Kefakiran di sini bermakna kerendahan diri, sedangkan merasa berkecukupan bermakna kemuliaan.
قَالَ بَعْضُهُمْ: «رَأَيْتُ ذُلَّ كُلِّ ذِي ذُلٍّ، فَزَادَ ذُلِّي عَلَى ذُلِّهِمْ، وَنَظَرْتُ عِزَّ كُلِّ ذِي عِزٍّ، فَزَادَ عِزِّي عَلَى عِزِّهِمْ».
Sebagian mereka berkata: “Aku melihat kehinaan setiap orang yang hina, ternyata kehinaanku melebihi kehinaan mereka. Dan aku memandang kemuliaan setiap orang yang mulia, ternyata kemuliaanku melebihi kemuliaan mereka.”
وقال الشبلي رضي الله تعالى عنه:
لَقَدْ ذَلَلْتُ حَتَّى عَزَّ فِي ذُلِّي كُلُّ ذِي ذُلٍّ، وَعَزَزْتُ حَتَّى مَا تَعَزَّزَ أَحَدٌ إِلَّا بِي وَبِمَنْ بِهِ تَعَزَّزْتُ.
Sungguh, aku telah merendahkan diriku sedemikian rupa hingga dalam kerendahan diriku, setiap orang yang hina menjadi mulia; dan aku telah menjadi mulia sedemikian rupa hingga tidak ada seorang pun yang mencari kemuliaan kecuali melalui diriku dan melalui Zat yang dengannya aku memperoleh kemuliaan.
(إِلَهِي أَنْتَ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُكَ، تَعَرَّفْتَ لِكُلِّ شَيْءٍ فَمَا جَهِلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الَّذِي تَعَرَّفْتَ إِلَيَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ، فَرَأَيْتُكَ ظَاهِرًا فِي كُلِّ شَيْءٍ، فَأَنْتَ الظَّاهِرُ لِكُلِّ شَيْءٍ).
Wahai Tuhanku, Engkaulah Zat yang tiada Tuhan selain Engkau. Engkau memperkenalkan diri-Mu kepada segala sesuatu, maka tidak ada sesuatu pun yang tidak mengenal-Mu. Dan Engkaulah yang memperkenalkan diri-Mu kepadaku melalui segala sesuatu, sehingga aku melihat-Mu tampak dalam segala sesuatu. Maka Engkaulah Yang Mahanyata bagi segala sesuatu.
هَذَا كُلُّهُ تَقَدَّمَ مَعْنَاهُ وَلَفْظُهُ فِي كَلَامِ الْمُؤَلِّفِ عَلَى غَايَةِ الْكَمَالِ وَالتَّمَامِ.
Semua ini, baik makna maupun lafaznya, telah dijelaskan sebelumnya dalam perkataan sang pengarang dengan uraian yang sangat sempurna dan lengkap.
وَالْحَاصِلُ مِنْهُ أَنَّ الظُّهُورَ التَّامَّ لِلَّهِ تَعَالَى بِكُلِّ اعْتِبَارٍ.
Kesimpulan dari semua itu adalah bahwa Allah Ta'ala benar-benar tampak secara sempurna dalam setiap aspek dan dari setiap sudut pandang.
ثُمَّ إِنَّهُ عَبَّرَ هُنَا عَنْ ذَلِكَ بِعِبَارَةٍ لَمْ يَذْكُرْهَا فِيمَا تَقَدَّمَ، وَهُوَ قَوْلُهُ:
Kemudian di sini beliau mengungkapkan makna tersebut dengan suatu ungkapan yang belum beliau gunakan sebelumnya, yaitu perkataan beliau:
قال الشيخ ابن عطاء الله رضي الله عنه:
(إِلٰهِي يَا مَنْ اسْتَوَى بِرَحْمَانِيَّتِهِ عَلَىٰ عَرْشِهِ، فَصَارَ الْعَرْشُ غَيْبًا فِي رَحْمَانِيَّتِهِ، كَمَا صَارَتِ الْعَوَالِمُ غَيْبًا فِي عَرْشِهِ، مَحَقْتَ الْآثَارَ بِالْآثَارِ، وَمَحَوْتَ الْأَغْيَارَ بِمُحِيطَاتِ أَفْلَاكِ الْأَنْوَارِ)
(Wahai Tuhanku, wahai Zat yang dengan sifat Rahmāniyyah-Nya berkuasa atas ‘Arsy-Nya, sehingga ‘Arsy menjadi sesuatu yang gaib di dalam Rahmāniyyah-Nya, sebagaimana seluruh alam menjadi sesuatu yang gaib di dalam ‘Arsy-Nya. Engkau menghapus bekas-bekas dengan bekas-bekas, dan Engkau melenyapkan segala selain-Mu dengan lingkaran-lingkaran cakrawala cahaya.)
كَلَامُهُ أَشَارَ بِهٰذَا إِلَىٰ مَعْنَىٰ قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ﴾ [طٰهٰ: ٥]، وَقَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمٰنُ﴾ [الْفُرْقَانِ: ٥٩].
Dengan ungkapan ini, beliau mengisyaratkan kepada makna firman Allah Ta‘ala: ‘Ar-Rahmān beristiwa di atas ‘Arsy’ (QS. Ṭāhā [20]: 5), dan firman-Nya: ‘Kemudian Ar-Rahmān beristiwa di atas ‘Arsy’ (QS. Al-Furqān [25]: 59).
وَرَحْمَانِيَّةُ اللَّهِ: كَوْنُهُ رَحْمَانًا.
Rahmāniyyah Allah adalah keadaan bahwa Dia bersifat sebagai Ar-Rahmān.
وَالرَّحْمٰنُ اسْمُ اللَّهِ تَعَالَىٰ يَقْتَضِي وُجُودَ كُلِّ مَوْجُودٍ، وَهُوَ مُشْتَقٌّ مِنَ الرَّحْمَةِ.
Ar-Rahmān adalah salah satu nama Allah Ta‘ala yang mengandung tuntutan adanya setiap yang ada; dan nama tersebut berasal dari kata raḥmah (kasih sayang).
وَالرَّحْمَةُ هَاهُنَا هِيَ الرَّحْمَةُ الْعَامَّةُ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، كَمَا وَسِعَ عِلْمُهُ كُلَّ شَيْءٍ، فِي قَوْلِهِ تَعَالَىٰ مُخْبِرًا عَنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ، إِذْ قَالُوا: ﴿رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا﴾ [غَافِرٍ: ٧].
Rahmat yang dimaksud di sini adalah rahmat yang bersifat umum, yang meliputi segala sesuatu, sebagaimana ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta‘ala yang mengabarkan tentang para malaikat pemikul ‘Arsy ketika mereka berdoa: ‘Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu’ (QS. Ghāfir [40]: 7).
وَلِذٰلِكَ دَخَلَتْ تَحْتَ مُقْتَضَى اسْمِهِ «الرَّحْمٰنِ» جَمِيعُ أَسْمَائِهِ تَعَالَى الْإِيجَادِيَّةِ.
Oleh karena itu, di bawah konsekuensi nama-Nya, Ar-Rahmān, tercakup seluruh nama-Nya Ta‘ala yang berkaitan dengan penciptaan dan pengadaan segala sesuatu.
وَيُفْهَمُ مِنْ مَعْنَى «الِاسْتِوَاءِ» الْقَهْرُ وَالْغَلَبَةُ.
Dari makna istiwā’ dapat dipahami makna penguasaan dan kemenangan.
وَمُقْتَضَاهُمَا فِي حَقِّ اللَّهِ تَعَالَىٰ أَنْ لَا يَكُونَ لِغَيْرِهِ وُجُودٌ مَعَ وُجُودِهِ، وَلَا ظُهُورٌ مَعَ ظُهُورِهِ.
Konsekuensi keduanya dalam hak Allah Ta‘ala adalah bahwa tidak ada sesuatu selain-Nya yang memiliki wujud yang berdiri sendiri di hadapan Wujud-Nya, dan tidak ada sesuatu yang memiliki penampakan hakiki di hadapan Penampakan-Nya.
فَلَا جَرَمَ لَمَّا كَانَ الْحَقُّ مُسْتَوِيًا بِرَحْمَانِيَّتِهِ عَلَىٰ عَرْشِهِ، الَّذِي الْعَوَالِمُ كُلُّهَا فِي طَيِّهِ، كَانَ الْعَرْشُ غَيْبًا فِي الرَّحْمَانِيَّةِ مُنْدَرِجًا فِيهَا.
Oleh karena itu, ketika Al-Ḥaqq beristiwa dengan Rahmāniyyah-Nya atas ‘Arsy-Nya, yang di dalam liputannya seluruh alam berada, maka ‘Arsy itu menjadi sesuatu yang gaib di dalam Rahmāniyyah dan tercakup di dalamnya.
وَالْعَوَالِمُ كُلُّهَا غَيْبٌ فِي الْعَرْشِ؛ لِأَنَّهَا فِي طَيِّهِ.
Dan seluruh alam menjadi sesuatu yang gaib di dalam ‘Arsy, karena seluruhnya berada dalam liputan ‘Arsy.
فَلَا ظُهُورَ إِذَنْ لِلْعَرْشِ، وَلَا لِلْعَوَالِمِ، وَإِنَّمَا الظُّهُورُ التَّامُّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Dengan demikian, tidak ada penampakan hakiki bagi ‘Arsy, dan tidak pula bagi seluruh alam; yang ada hanyalah penampakan yang sempurna bagi Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia.
مَحَقْتَ الْآثَارَ بِالْآثَارِ، كَمَا بَيْنَ الْعَوَالِمِ وَالْعَرْشِ.
Engkau menghapus bekas-bekas dengan bekas-bekas, sebagaimana hubungan antara alam-alam dan ‘Arsy.
وَمَحَوْتَ الْأَغْيَارَ بِمُحِيطَاتِ أَفْلَاكِ الْأَنْوَارِ، كَمَا بَيْنَ الْعَرْشِ وَالرَّحْمَانِيَّةِ.
Dan Engkau melenyapkan segala sesuatu selain-Mu dengan lingkaran-lingkaran cakrawala cahaya, sebagaimana hubungan antara ‘Arsy dan Rahmāniyyah.
وَمُحِيطَاتُ أَفْلَاكِ الْأَنْوَارِ هِيَ أَسْمَاءُ اللَّهِ الْحُسْنَىٰ، وَاللَّهُ تَعَالَىٰ أَعْلَمُ.
Dan lingkaran-lingkaran cakrawala cahaya itu adalah nama-nama Allah yang indah (al-Asmā’ al-Ḥusnā). Dan Allah Ta‘ala lebih mengetahui.
ثم قال الشيخ ابن عطاء الله رضي اللّه عنه :
(إِلٰهِي يَا مَنْ احْتَجَبَ فِي سُرَادِقَاتِ عِزِّهِ عَنْ أَنْ تُدْرِكَهُ الْأَبْصَارُ، يَا مَنْ تَجَلَّى بِكَمَالِ بَهَائِهِ فَتَحَقَّقَتْ عَظَمَتُهُ الْأَسْرَارُ. كَيْفَ تَخْفَى وَأَنْتَ الظَّاهِرُ، أَمْ كَيْفَ تَغِيبُ وَأَنْتَ الرَّقِيبُ الْحَاضِرُ؟)
(Wahai Tuhanku, wahai Zat yang bersembunyi di balik tabir-tabir kemuliaan-Nya sehingga tidak mungkin pandangan mata menangkap-Nya. Wahai Zat yang menampakkan diri melalui kesempurnaan keindahan-Nya sehingga rahasia-rahasia hati mengenali keagungan-Nya. Bagaimana mungkin Engkau tersembunyi, sedangkan Engkaulah Yang Maha Nyata? Atau bagaimana mungkin Engkau gaib, sedangkan Engkaulah Yang Maha Mengawasi dan senantiasa hadir?)
عِزَّةُ اللَّهِ تَعَالَىٰ اقْتَضَتْ كَوْنَ كُلِّ مَا سِوَاهُ مَحْجُوبًا عَنْ رُؤْيَتِهِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Keagungan dan kemuliaan Allah Ta‘ala menghendaki bahwa segala sesuatu selain-Nya terhalang dari kemampuan melihat Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia.
فَإِنَّ الْعَزِيزَ مَعْنَاهُ الْمَنِيعُ الَّذِي لَا يُوصَلُ إِلَيْهِ.
Sebab, Al-‘Azīz berarti Zat Yang Mahaperkasa dan tak tertembus, yang tidak mungkin dicapai.
يُقَالُ: «حِصْنٌ عَزِيزٌ» إِذَا تَعَذَّرَ الْوُصُولُ إِلَيْهِ.
Dikatakan ḥiṣnun ‘azīz (benteng yang kokoh) apabila sulit atau mustahil untuk mencapainya.
وَقِيلَ: الْعَزِيزُ: الَّذِي لَا يَرْتَقِي إِلَيْهِ وَهْمٌ طَمَعًا فِي تَقْدِيرِهِ، وَلَا يَسْمُو إِلَىٰ صَمَدِيَّتِهِ فَهْمٌ قَصْدًا إِلَىٰ تَصْوِيرِهِ.
Dikatakan pula: Al-‘Azīz adalah Zat yang tidak dapat dijangkau oleh angan-angan, karena berusaha menentukan hakikat-Nya; dan tidak ada pemahaman yang mampu mencapai sifat ṣamadiyyah-Nya dengan tujuan membentuk gambaran tentang-Nya.
وَقِيلَ: الْعَزِيزُ: مَنْ ضَلَّتِ الْعُقُولُ فِي بِحَارِ تَعْظِيمِهِ، وَحَارَتِ الْأَلْبَابُ دُونَ إِدْرَاكِ نَعْتِهِ، وَكَلَّتِ الْأَلْسِنَةُ عَنْ اسْتِيفَاءِ مَدْحِ جَلَالِهِ، وَوَصْفِ جَمَالِهِ.
Dikatakan pula: Al-‘Azīz adalah Zat yang akal-akal manusia tersesat dalam lautan pengagungan kepada-Nya, hati dan pikiran kebingungan untuk memahami sifat-sifat-Nya, dan lidah-lidah tidak mampu menyempurnakan pujian terhadap keagungan-Nya maupun menggambarkan keindahan-Nya.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَىٰ نَفْسِكَ».
Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku tidak mampu menghitung seluruh pujian yang layak bagi-Mu. Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri."
وَذِكْرُ السَّرَادِقَاتِ مُضَافَةً إِلَىٰ عِزِّهِ، وَاحْتِجَابِهِ فِيهَا، مَجَازٌ حَسَنٌ.
Penyebutan sarādiqāt (tabir-tabir atau tirai-tirai) yang disandarkan kepada kemuliaan-Nya, serta penyebutan bahwa Dia terhijab di dalamnya, merupakan ungkapan majazi yang indah.
يَا مَنْ تَجَلَّى بِكَمَالِ بَهَائِهِ فَتَحَقَّقَتْ عَظَمَتُهُ الْأَسْرَارُ.
Wahai Zat yang menampakkan diri melalui kesempurnaan keindahan-Nya, sehingga rahasia-rahasia hati menyadari keagungan-Nya.
كَمَالُ بَهَائِهِ: مَحَاسِنُ صِفَاتِهِ وَأَسْمَائِهِ، فَبِظُهُورِ ذٰلِكَ وَتَجَلِّيهِ تَحَقَّقَتْ عَظَمَتُهُ أَسْرَارُ الْعَارِفِينَ.
Kesempurnaan keindahan-Nya adalah keindahan sifat-sifat dan nama-nama-Nya. Dengan tampaknya dan tersingkapnya keindahan tersebut, rahasia-rahasia batin para ‘ārif (orang-orang yang mengenal Allah) menyadari keagungan-Nya.
كَيْفَ تَخْفَى وَأَنْتَ الظَّاهِرُ، أَمْ كَيْفَ تَغِيبُ وَأَنْتَ الرَّقِيبُ الْحَاضِرُ، وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ وَبِهِ أَسْتَعِينُ.
Bagaimana mungkin Engkau tersembunyi, sedangkan Engkaulah Yang Maha Nyata? Atau bagaimana mungkin Engkau gaib, sedangkan Engkaulah Yang Maha Mengawasi dan senantiasa hadir? Allah-lah yang memberikan taufik, dan kepada-Nya aku memohon pertolongan.
هٰذَا كُلُّهُ بَيِّنٌ لَا إِشْكَالَ فِيهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَقَدْ تَقَدَّمَ مَعْنَاهُ غَيْرَ مَرَّةٍ مِنْ كَلَامِ الْمُؤَلِّفِ، رَحِمَهُ اللَّهُ.
Semua ini sudah jelas dan tidak ada persoalan di dalamnya. Segala puji bagi Allah. Makna pembahasan ini juga telah dikemukakan oleh penulis—semoga Allah merahmatinya—lebih dari sekali dalam perkataan-perkataannya yang telah terdahulu.






