Senin, 13 Juli 2026

Munajat Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari Nomor 26-30 (on progress)



Munajat 26:


 قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:

«إِلَهِي بِكَ أَسْتَنْصِرُ فَانْصُرْنِي، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ فَلَا تَكِلْنِي، وَإِيَّاكَ أَسْأَلُكَ فَلَا تُخَيِّبْنِي، وَفِي فَضْلِكَ أَرْغَبُ فَلَا تَحْرِمْنِي، وَلِجَنَابِكَ أَنْتَسِبُ فَلَا تُبْعِدْنِي، وَبِبَابِكَ أَقِفُ فَلَا تَطْرُدْنِي».

"Tuhanku, kepada-Mu aku memohon pertolongan maka tolonglah aku, kepada-Mu aku berserah diri maka janganlah Engkau biarkan aku bersandar pada diriku sendiri, hanya kepada-Mu aku meminta maka janganlah Engkau mengecewakan aku, pada karunia-Mu aku berharap maka janganlah Engkau menghalangi aku, kepada kemuliaan-Mu aku menyandarkan diri maka janganlah Engkau menjauhkan aku, dan di depan pintu-Mu aku berdiri menghamba maka janganlah Engkau mengusirku."


Syarah Syaikh Ibnu Abbad Ar-Rundi:


تَعَلَّقَ بِاللهِ تَعَالَى فِي كُلِّ مَطْلَبٍ مِنْ هَذِهِ الْمَطَالِبِ وَأَضْرَبَ عَنِ الْوَسَائِطِ وَالْأَسْبَابِ.

Beliau menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah Ta'ala dalam setiap permohonan dari permohonan-permohonan ini, serta memalingkan diri dari segala perantara maupun sebab-sebab lahiriah.


وَذَلِكَ مِنْ تَحَقُّقِهِ بِالتَّوْحِيدِ الَّذِي سَأَلَ مِنْ مَوْلَاهُ أَنْ يُحَقِّقَهُ بِهِ بِتَطْهِيرِهِ مِنْ أَضْدَادِهِ.

Hal itu merupakan wujud dari kemantapan beliau dalam tauhid, yang telah beliau mohonkan kepada Tuannya (Allah) agar mengukuhkan dirinya dengan tauhid tersebut melalui pembersihan hatinya dari hal-hal yang kontradiktif dengan tauhid.


وَمَعَانِي هَذِهِ الْكَلِمَاتِ قَرِيبٌ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ.

Dan makna dari kalimat-kalimat ini satu sama lain saling berdekatan.


قَالَ أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ هِنْدٍ الْفَارِسِيُّ، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ: اجْتَهِدْ فِي أَنْ لَا تُفَارِقَ بَابَ سَيِّدِكَ بِحَالٍ؛ فَإِنَّهُ مَلْجَأُ الْكُلِّ.

Abu Al-Hasan 'Ali bin Hind Al-Farisi, semoga Allah Ta'ala meridhainya, berkata: "Bersungguh-sunggahlah engkau untuk tidak meninggalkan pintu Tuanmu (Allah) dalam keadaan bagaimanapun; karena sesungguhnya pintu-Nya adalah tempat bersandar bagi segala sesuatu.


فَمَنْ فَارَقَ تِلْكَ السُّدَّةَ لَا يَرَى بَعْدَهَا لِقَدَمَيْهِ قَرَارًا وَلَا مَقَامًا.

Maka barang siapa yang meninggalkan pelataran pintu tersebut, niscaya setelah itu ia tidak akan mendapati tempat berpijak yang kokoh maupun kedudukan yang tenang bagi kedua kakinya."


Munajat 27:


قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:


«إِلَهِي تَقَدَّسَ رِضَاكَ عَنْ أَنْ تَكُونَ لَهُ عِلَّةٌ مِنْكَ، فَكَيْفَ تَكُونَ لَهُ عِلَّةٌ مِنِّي».

"Tuhanku, Mahasuci rida-Mu dari adanya suatu sebab (yang memicunya) yang berasal dari-Mu, maka bagaimana mungkin bisa ada suatu sebab bagi rida-Mu yang berasal dari diriku."


Syarah Syaikh Ibnu Abbad Ar-Rundi:


رِضَا اللهِ تَعَالَى صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِهِ.

Rida Allah Ta'ala merupakan salah satu dari sekian sifat-sifat-Nya.


وَصِفَاتُهُ قَدِيمَةٌ، وَلِذَلِكَ امْتَنَعَ عَلَيْهَا سَبْقِيَّةُ الْعِلَلِ.

Dan sifat-sifat-Nya adalah qadim (tanpa permulaan), oleh karena itu mustahil baginya untuk didahului oleh sebab-sebab ('illat).


وَالْقَدِيمُ لَا يَكُونُ مَسْبُوقًا بِشَيْءٍ.

Dan sesuatu yang qadim itu tidak mungkin didahului oleh sesuatu apa pun.


وَإِذَا كَانَتْ صِفَاتُهُ الْعَلِيَّةُ مُنَزَّهَةً عَنْ أَنْ يَكُونَ لَهَا عِلَّةٌ مِنْهُ، فَكَيْفَ يَكُونُ لَهَا عِلَّةٌ مِنْ غَيْرِهِ.

Dan apabila sifat-sifat-Nya yang luhur saja tersucikan dari adanya sebab yang timbul dari diri-Nya, maka bagaimana mungkin ada sebab bagi sifat tersebut yang lahir dari selain-Nya.


فَرِضَا اللهِ تَعَالَى لَا عِلَّةَ لَهُ وَلَا سَبَبَ، بَلْ رِضَاهُ وَسَخَطُهُ هُمَا سَبَبُ أَعْمَالِ الْعَامِلِينَ حَسَنِهَا وَسَيِّئِهَا.

Maka rida Allah Ta'ala itu sama sekali tidak memiliki sebab pemicu ataupun alasan lahiriah, melainkan rida dan murka-Nya dialah yang justru menjadi sebab bagi amal perbuatan orang-orang yang beramal, baik amal yang bajik maupun yang buruk.


رَضِيَ عَنْ قَوْمٍ فَاسْتَعْمَلَهُمْ بِأَعْمَالِ أَهْلِ الرِّضَا، وَسَخِطَ عَلَى قَوْمٍ فَاسْتَعْمَلَهُمْ بِأَعْمَالِ أَهْلِ السَّخَطِ.

Allah rida kepada suatu kaum, maka Dia menggerakkan mereka untuk mengamalkan perbuatan-perbuatan kaum yang meraih rida, dan Dia murka kepada suatu kaum, maka Dia membiarkan mereka terseret dalam perbuatan-perbuatan kaum yang menuai murka.


قَالَ أَبُو بَكْرٍ الْوَاسِطِيُّ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «الرِّضَا وَالسَّخَطُ نَعْتَانِ مِنْ نُعُوتِ الْحَقِّ يَجْرِيَانِ عَلَى الْأَبَدِ بِمَا جَرَيَا فِي الْأَزَلِ يُظْهِرَانِ الْوَسْمَيْنِ عَلَى الْمَقْبُولِينَ وَالْمَطْرُودِينَ».

Abu Bakar Al-Wasithi—semoga Allah meridhainya—berkata: "Rida dan murka adalah dua sifat dari sifat-sifat Al-Haqq (Allah) yang berlaku sepanjang masa (selamanya) sesuai dengan apa yang telah digariskan-Nya pada masa azali, keduanya menampakkan dua tanda tanda pengenal bagi orang-orang yang diterima (maqbulin) dan orang-orang yang terusir (mathrudin)."


«فَقَدْ بَانَتْ شَوَاهِدُ الْمَقْبُولِينَ بِضِيَائِهَا عَلَيْهِمْ، كَمَا بَانَتْ شَوَاهِدُ الْمَطْرُودِينَ بِظَلَامِهَا عَلَيْهِمْ».

"Maka sungguh telah tampak jelas tanda-tanda kaum yang diterima lewat pancaran cahaya yang menyelimuti mereka, sebagaimana telah tampak nyata pula tanda-tanda kaum yang terusir lewat kegelapan yang pekat pada diri mereka."


«فَأَنَّى تَنْفَعُ مِنْ ذَلِكَ الْأَلْوَانُ الْمُصْفَرَّةُ، وَالْأَكْمَامُ الْمُقَصَّرَةُ، وَالْأَقْدَامُ الْمُنْتَفِخَةُ؟!».

"Jika sudah demikian, maka apalah gunanya riasan lahiriah berupa rona wajah yang menguning (karena pura-pura khusyuk), lengan baju yang dipotong pendek (gaya zuhud buatan), serta kaki-kaki yang membengkak (karena memaksakan ibadah lahiriah tanpa ketulusan batin)?!"


Munajat 28:

قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:


«أَنْتَ الْغَنِيُّ بِذَاتِكَ عَنْ أَنْ يَصِلَ إِلَيْكَ النَّفْعُ مِنْكَ فَكَيْفَ لَا تَكُونُ غَنِيًّا عَنِّي».

"Engkau Maha Kaya dengan Zat-Mu dari adanya kemanfaatan yang sampai kepada-Mu yang berasal dari diri-Mu sendiri, maka bagaimana mungkin Engkau tidak Maha Kaya (tidak butuh) dari diriku."


اَلْكَلَامُ فِي الْغِنَى كَالْكَلَامِ فِي الرِّضَا.

Pembahasan mengenai sifat Maha Kaya (Al-Ghina) di sini sama halnya dengan pembahasan mengenai sifat rida pada bait sebelumnya.


وَكَأَنَّ الْمُؤَلِّفَ، رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى، قَصَدَ فِي مُنَاجَاتِهِ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الِاسْتِرْضَاءَ وَالِاسْتِعْطَافَ.

Dan seakan-akan penulis, semoga Allah Ta'ala meridhainya, bertujuan melalui munajatnya dengan kalimat-kalimat ini untuk mencari keridaan dan mengetuk pintu kasih sayang Allah.


فَطَلَبَ الْمُسَامَحَةَ وَالتَّجَاوُزَ عَنْ أَعْمَالِهِ الْمَدْخُولَةِ وَأَحْوَالِهِ الْمَعْلُولَةِ.

Maka beliau memohon ampunan serta kelapangan atas amal perbuatannya yang cacat (tidak sempurna) dan kondisi spiritualnya yang diliputi kelemahan.


وَذَلِكَ مِنْ أَحْسَنِ الْمَقَاصِدِ لِلدَّاعِي.

Dan permohonan yang demikian itu merupakan salah satu tujuan yang paling utama dan indah bagi seorang hamba yang berdoa.


Munajat 29:


ثُمَّ قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:


Kemudian Syekh Ibnu 'Aṭā'illāh raḍiyallāhu 'anhu berkata:


إِلَهِي، إِنَّ الْقَضَاءَ وَالْقَدَرَ غَلَبَنِي، وَإِنَّ الْهَوَى بِوَثَائِقِ الشَّهْوَةِ أَسَرَنِي، فَكُنْ أَنْتَ النَّصِيرَ لِي حَتَّى تَنْصُرَنِي وَتَنْصُرَ بِي، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ حَتَّى أَسْتَغْنِيَ بِكَ عَنْ طَلَبِي.

Wahai Tuhanku, sesungguhnya ketetapan dan takdir telah mengalahkanku. Hawa nafsu pun telah menawanku dengan belenggu syahwat. Maka jadilah Engkau penolongku, hingga Engkau menolongku dan menjadikan diriku sebagai perantara pertolongan-Mu bagi orang lain. Limpahkanlah kepadaku karunia-Mu hingga aku merasa cukup dengan-Mu dan tidak lagi bergantung pada segala permintaanku.


إِلَهِي، إِنَّ الْقَضَاءَ وَالْقَدَرَ قَدْ غَلَبَنِي، فَلَا حِيلَةَ لِي إِلَّا رَجَاءُ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ، وَإِنَّ الْهَوَى بِوَثَائِقِهِ أَسَرَنِي، فَكُنْ أَنْتَ النَّاصِرَ لِي دُونَ وَاسِطَةٍ مِنْ غَيْرِكَ، حَتَّى تَنْصُرَنِي عَلَى مَنْ يَصُدُّنِي عَنْكَ، وَأَعِنِّي بِفَضْلِكَ حَتَّى أَسْتَغْنِيَ بِكَ عَنْ طَلَبِي.

Wahai Tuhanku, sesungguhnya qadha dan qadar telah mengalahkanku, sehingga tidak ada daya bagiku selain berharap kepada kekuasaan dan kekuatan-Mu. Hawa nafsu telah membelengguku dengan ikatannya. Maka jadilah Engkau penolongku tanpa perantara selain-Mu, sehingga Engkau menolongku menghadapi segala sesuatu yang menghalangiku dari-Mu. Bantulah aku dengan karunia-Mu hingga aku merasa cukup dengan-Mu dan tidak lagi bergantung pada permohonanku.


هَذَا اعْتِذَارٌ وَاعْتِرَافٌ، وَاللَّهُ تَعَالَى أَكْرَمُ مِنْ أَنْ يَرُدَّ عُذْرَ مَنِ اعْتَذَرَ إِلَيْهِ، أَوْ يُخَيِّبَ أَمَلَ مَنِ اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ وَأَقَرَّ بِهِ لَدَيْهِ.

Doa ini merupakan ungkapan permohonan maaf sekaligus pengakuan. Allah Ta'ala Mahamulia; Dia tidak akan menolak permohonan maaf orang yang memohon ampun kepada-Nya, dan tidak akan mengecewakan harapan orang yang mengakui dosa-dosanya di hadapan-Nya.


يُقَالُ: إِنَّ الْعَبْدَ يَبْتَهِلُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي الِاعْتِذَارِ، وَالْحَقُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُولُ لَهُ: عَبْدِي، لَوْ لَمْ أَقْبَلْ عُذْرَكَ لَمَا وَفَّقْتُكَ لِلِاعْتِذَارِ.

Dikatakan bahwa seorang hamba bersungguh-sungguh memohon ampun kepada Allah Ta'ala, lalu Allah Yang Mahabenar berfirman kepadanya, "Wahai hamba-Ku, seandainya Aku tidak hendak menerima permohonan maafmu, niscaya Aku tidak akan memberimu taufik untuk memohon maaf kepada-Ku."


وَقَالَ الْكِتَّانِيُّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: «لَمْ يَفْتَحِ اللَّهُ تَعَالَى لِسَانَ الْمُؤْمِنِ بِالْمَعْذِرَةِ إِلَّا لِفَتْحِ بَابِ الْمَغْفِرَةِ».

Al-Kattānī raḍiyallāhu ta'ālā 'anhu berkata, "Allah tidak membukakan lisan seorang mukmin untuk menyampaikan permohonan maaf, melainkan karena Dia telah membuka pintu ampunan baginya."


فَلَا جَرَمَ لَمَّا وَثِقَ بِذَلِكَ، وَقَوِيَ رَجَاؤُهُ فِيهِ، طَلَبَ مِنْهُ النَّصْرَةَ لَهُ عَلَى أَعْدَائِهِ، وَلَمْ يَقْتَصِرْ عَلَى ذَلِكَ، بَلْ أَضَافَ إِلَيْهِ طَلَبَ النَّصْرَةِ بِهِ؛ لِتَكُونَ تِلْكَ النُّصْرَةُ بِسَبَبِهِ وَعَلَى يَدَيْهِ.

Maka ketika keyakinannya terhadap hal itu semakin kuat dan harapannya kepada Allah semakin besar, ia memohon pertolongan kepada Allah agar dimenangkan atas musuh-musuhnya. Ia tidak berhenti sampai di situ, tetapi juga memohon agar Allah menjadikannya sebagai sarana pertolongan bagi orang lain, sehingga kemenangan itu terjadi melalui dirinya dan dengan perantara kedua tangannya.


كَمَا قَالَ أَبُو الْحَسَنِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: «وَاجْعَلْنَا سَبَبَ الْغِنَى لِأَوْلِيَائِكَ، وَبَرْزَخًا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَعْدَائِكَ».

Sebagaimana Abul Hasan raḍiyallāhu ta'ālā 'anhu berdoa, "Jadikanlah kami sebab datangnya kecukupan bagi para kekasih-Mu, dan jadikanlah kami sebagai pemisah antara mereka dengan musuh-musuh-Mu."


ثُمَّ لَمْ يَقْنَعْ بِذَلِكَ حَتَّى طَلَبَ مِنْهُ أَنْ يُغْنِيَهُ بِمَا يُسْتَغْنَى بِهِ عَنِ الطَّلَبِ مِنْهُ، وَهُوَ مَا يُؤْتِيهِ مِنْ فَضْلِهِ الْعَظِيمِ وَكَرَمِهِ الْجَسِيمِ.

Kemudian beliau belum merasa cukup dengan permohonan itu, hingga memohon kepada Allah agar dianugerahi sesuatu yang membuatnya tidak lagi perlu terus-menerus meminta, yaitu karunia Allah yang agung dan kemurahan-Nya yang sangat besar.


وَهَذِهِ هِيَ غَايَةُ السَّعَادَةِ، كَمَا قَالَ سَيِّدِي أَبُو الْحَسَنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «وَالسَّعِيدُ حَقًّا مَنْ أَغْنَيْتَهُ عَنِ السُّؤَالِ مِنْكَ».

Dan inilah puncak kebahagiaan, sebagaimana Sayyidi Abul Hasan raḍiyallāhu 'anhu berkata, "Orang yang benar-benar berbahagia adalah orang yang Engkau jadikan cukup sehingga tidak lagi sibuk meminta kepada-Mu."


Munajat 30:


ثُمَّ قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Kemudian Syekh Ibnu 'Aṭā'illāh raḍiyallāhu 'anhu berkata:


 إِلَهِي، أَنْتَ الَّذِي أَشْرَقَتِ الْأَنْوَارُ فِي قُلُوبِ أَوْلِيَائِكَ، حَتَّى عَرَفُوكَ وَوَحَّدُوكَ

Wahai Tuhanku, Engkaulah yang menyinarkan cahaya-cahaya ke dalam hati para wali-Mu, hingga mereka mengenal-Mu dan mengesakan-Mu.


وَأَنْتَ الَّذِي أَزَلْتَ الْأَغْيَارَ مِنْ قُلُوبِ أَحْبَابِكَ، حَتَّى لَمْ يُحِبُّوا سِوَاكَ، وَلَمْ يَلْجَئُوا إِلَى غَيْرِكَ.

Engkaulah yang menyingkirkan segala selain-Mu dari hati para kekasih-Mu, sehingga mereka tidak mencintai selain Engkau dan tidak berlindung kepada selain-Mu.


أَنْتَ الْمُؤْنِسُ لَهُمْ حَيْثُ أَوْحَشَتْهُمُ الْعَوَالِمُ، وَأَنْتَ الَّذِي هَدَيْتَهُمْ حَتَّى اسْتَبَانَتْ لَهُمُ الْمَعَالِمُ.

Engkaulah yang menjadi penenteram hati mereka ketika berbagai alam membuat mereka merasa asing, dan Engkaulah yang memberi mereka petunjuk hingga menjadi jelas bagi mereka tanda-tanda jalan menuju-Mu.


مَاذَا وَجَدَ مَنْ فَقَدَكَ؟ وَمَا الَّذِي فَقَدَ مَنْ وَجَدَكَ؟

Apa yang sebenarnya diperoleh oleh orang yang kehilangan-Mu? Dan apa pula yang hilang dari orang yang telah menemukan-Mu?


لَقَدْ خَابَ مَنْ رَضِيَ دُونَكَ بَدَلًا، وَلَقَدْ خَسِرَ مَنْ بَغَى عَنْكَ مُتَحَوِّلًا.

Sungguh kecewa orang yang rela mengambil selain-Mu sebagai pengganti. Dan sungguh merugi orang yang berpaling dari-Mu menuju yang lain.


سَبَبُ إِيحَاشِ الْعَوَالِمِ لَهُمْ مَا هِيَ عَلَيْهِ مِنَ الْفَاقَةِ، وَالِافْتِقَارِ، وَالْحَاجَةِ، وَالِاضْطِرَارِ.

Penyebab berbagai makhluk terasa asing bagi mereka adalah karena seluruh makhluk berada dalam keadaan serba kekurangan, membutuhkan, bergantung, dan terpaksa.


فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهَا جَالِبٌ لِنَفْسِهِ، طَالِبٌ لِحَظِّهِ مِنْ كَمَالِ نَقْصِهِ، وَوَفَاءِ بَخْسِهِ.

Karena setiap makhluk selalu berusaha mencari manfaat bagi dirinya sendiri, mengejar bagian untuk menutupi kekurangannya dan menyempurnakan apa yang masih kurang padanya.


وَاللَّهُ تَعَالَى غَنِيٌّ حَمِيدٌ، عَزِيزٌ مَجِيدٌ، وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ، عَطُوفٌ عَلَيْهِمْ، مُتَوَدِّدٌ إِلَيْهِمْ، رَؤُوفٌ بِهِمْ.

Sedangkan Allah Ta'ala Mahakaya, Maha Terpuji, Mahaperkasa, dan Mahamulia. Meski demikian, Dia tetap Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya, Maha Penyayang, Maha Mencintai mereka, dan Maha Pengasih.


فَلَمَّا شَاهَدُوا هَذَا كُلَّهُ مُشَاهَدَةَ يَقِينٍ، وَمُعَايَنَةً بِإِشْهَادِهِ إِيَّاهُمْ، لَمْ يَتَمَالَكُوا أَنْ أَحَبُّوهُ، وَآوَوْا إِلَيْهِ، وَقَصَرُوا هِمَمَهُمْ عَلَيْهِ، وَجَعَلُوهُ مُعْتَمَدَ أُنْسِهِمْ.

Ketika mereka menyaksikan semua itu dengan keyakinan yang nyata, melalui penyaksian yang Allah bukakan kepada mereka, mereka tidak mampu lagi menahan diri untuk tidak mencintai-Nya. Mereka pun berlindung kepada-Nya, memusatkan seluruh cita-cita hanya kepada-Nya, dan menjadikan-Nya sebagai sumber ketenteraman hati mereka.


وَاسْتَغْنَوْا بِهِ عَنْ أَبْنَاءِ جِنْسِهِمْ، فَحَصَلُوا إِذْ ذَاكَ عَلَى غَايَةِ النَّعِيمِ، وَفَازُوا بِالْحَظِّ الْعَظِيمِ.

Mereka merasa cukup dengan Allah sehingga tidak lagi bergantung kepada sesama makhluk. Pada saat itulah mereka memperoleh kenikmatan yang paling sempurna dan meraih keberuntungan yang sangat besar.


قَالَ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «بَيْنَمَا أَنَا أَسِيرُ فِي بَعْضِ الْبَوَادِي إِذْ لَقِيَتْنِي امْرَأَةٌ، فَقَالَتْ لِي: مَنْ أَنْتَ؟ فَقُلْتُ: رَجُلٌ غَرِيبٌ. فَقَالَتْ: وَهَلْ تُوجَدُ مَعَ اللَّهِ أَحْزَانُ الْغُرْبَةِ؟».

Dzun Nun al-Mishri raḍiyallāhu 'anhu berkata, "Ketika aku sedang berjalan di sebuah padang pasir, aku bertemu seorang perempuan. Ia bertanya, 'Siapakah engkau?' Aku menjawab, 'Aku seorang perantau.' Ia berkata, 'Apakah masih ada kesedihan karena keterasingan bagi orang yang bersama Allah?'"


وَكَتَبَ مُطَرِّفُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ إِلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: «وَلْيَكُنْ أُنْسُكَ بِاللَّهِ وَانْقِطَاعُكَ إِلَيْهِ؛ فَإِنَّ لِلَّهِ عِبَادًا اسْتَأْنَسُوا بِاللَّهِ، فَكَانُوا فِي وَحْدَتِهِمْ أَشَدَّ اسْتِئْنَاسًا مِنَ النَّاسِ فِي كَثْرَتِهِمْ، وَأَوْحَشُ مَا يَكُونُ النَّاسُ آنَسُ مَا يَكُونُونَ، وَآنَسُ مَا يَكُونُ النَّاسُ أَوْحَشُ مَا يَكُونُونَ».

Muṭarrif bin 'Abdullah bin asy-Syikhkhir menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz raḍiyallāhu 'anhumā, "Jadikanlah Allah sebagai tempat ketenteramanmu dan arah pengabdianmu. Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang telah merasa tenteram bersama-Nya. Dalam kesendirian mereka lebih tenteram daripada kebanyakan manusia di tengah keramaian. Saat manusia merasa paling sepi, mereka justru merasa paling akrab dengan Allah; dan ketika manusia merasa paling akrab dengan dunia, saat itulah mereka justru merasa asing terhadapnya."


وَأَنْتَ الَّذِي هَدَيْتَهُمْ حَتَّى اسْتَبَانَتْ لَهُمُ الْمَعَالِمُ.

Dan Engkaulah yang memberi mereka petunjuk hingga menjadi jelas bagi mereka tanda-tanda jalan menuju-Mu.


لَمَّا تَوَلَّى اللَّهُ هِدَايَتَهُمْ إِلَى طَرِيقِ التَّوْحِيدِ وَالْمَعْرِفَةِ، أَبَانَ لَهُمْ عَلَامَةَ ذَلِكَ وَدَلَائِلَهُ.

Ketika Allah sendiri mengambil alih hidayah mereka menuju jalan tauhid dan makrifat, Dia menampakkan kepada mereka tanda-tanda dan bukti-bukti jalan tersebut.


فَعِنْدَ نَظَرِهِمْ فِي تِلْكَ الْعَلَامَاتِ وَالْأَدِلَّةِ انْشَرَحَتْ صُدُورُهُمْ بِأَنْوَارِ الْإِيمَانِ وَالْيَقِينِ، فَلَمْ يَتَدَاخَلْهُمْ شَكٌّ، وَلَمْ يُخَالِجْهُمْ رَيْبٌ.

Ketika mereka memperhatikan tanda-tanda dan dalil-dalil itu, dada mereka menjadi lapang oleh cahaya iman dan keyakinan, sehingga tidak ada lagi keraguan maupun kebimbangan yang menyelinap ke dalam hati mereka.


وَالْمَعَالِمُ: جَمْعُ «مَعْلَمٍ».

Kata al-ma'ālim merupakan bentuk jamak dari ma'lam, yang berarti tanda atau petunjuk jalan.


كَأَنَّهُ ـ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى ـ عَرَّضَ فِي هَذِهِ الْكَلِمَاتِ بِالْمَطْلَبِ الَّذِي بِحُصُولِهِ لَهُ يَسْتَغْنِي عَنِ الطَّلَبِ.

Seakan-akan beliau—semoga Allah merahmatinya—memberikan isyarat dalam kalimat-kalimat ini kepada tujuan yang apabila telah diperoleh, seseorang tidak lagi membutuhkan permintaan-permintaan yang lain.


وَهُوَ إِشْرَاقُ الْأَنْوَارِ فِي قَلْبِهِ، وَإِزَالَةُ الْأَغْيَارِ عَنْ سِرِّهِ، وَإِينَاسُهُ لَهُ، وَهِدَايَتُهُ إِيَّاهُ.

Yaitu: terpancarnya cahaya-cahaya Ilahi ke dalam hatinya, tersingkirnya segala sesuatu selain Allah dari relung batinnya, Allah menjadikan hatinya tenteram bersama-Nya, serta Allah memberikan petunjuk kepadanya.


وَهَذِهِ الْأَرْبَعَةُ مَطَالِبُ مُتَضَمِّنَةٌ لِأَسْنَى الرَّغَائِبِ.

Keempat perkara ini mencakup seluruh cita-cita dan harapan yang paling mulia.


مَاذَا وَجَدَ مَنْ فَقَدَكَ؟ وَمَا الَّذِي فَقَدَ مَنْ وَجَدَكَ؟

Apa yang didapat oleh orang yang kehilangan-Mu? Dan apa yang hilang dari orang yang telah menemukan-Mu?


قَدْ تَقَدَّمَ، غَيْرَ مَا مَرَّةٍ، أَنَّ مَا سِوَى اللَّهِ تَعَالَى عَدَمٌ وَظُلْمَةٌ، وَأَنَّ الْوُجُودَ الْحَقَّ وَالنُّورَ الْمُتَحَقِّقَ إِنَّمَا هُوَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ.

Sebagaimana telah dijelaskan berulang kali, bahwa segala sesuatu selain Allah pada hakikatnya adalah kefanaan dan kegelapan; sedangkan wujud yang sejati dan cahaya yang hakiki hanyalah Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung.


فَإِذَا كَانَ الْأَمْرُ عَلَى هَذَا، صَحَّ مَا قَالَهُ الْمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى هَاهُنَا، وَكَانَ حَقًّا لَا مِرْيَةَ فِيهِ.

Apabila kenyataannya demikian, maka benarlah apa yang dikatakan oleh penulis—semoga Allah merahmatinya—dan itu merupakan kebenaran yang tidak mengandung keraguan sedikit pun.


قَالَ أَبُو عَلِيٍّ الرُّوذَبَارِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: سَأَلَنِي أَبُو بَكْرٍ الدَّقَّاقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ لِي: يَا أَبَا عَلِيٍّ، لِمَ تَرَكَ الْفُقَرَاءُ أَخْذَ الْبُلْغَةِ فِي وَقْتِ الْحَاجَةِ؟

Abu 'Ali ar-Rudzabari raḍiyallāhu 'anhu berkata, "Abu Bakar ad-Daqqaq bertanya kepadaku, 'Wahai Abu Ali, mengapa para fakir (kaum sufi) meninggalkan menerima bekal sekadar kebutuhan ketika mereka sedang memerlukannya?'"


فَقُلْتُ: لِأَنَّهُمْ يَسْتَغْنُونَ بِالْمُعْطِي عَنِ الْعَطَاءِ.

Aku menjawab, "Karena mereka merasa cukup dengan Sang Pemberi, bukan dengan pemberian-Nya."


فَقَالَ: نَعَمْ، وَلَكِنْ وَقَعَ لِي شَيْءٌ آخَرُ.

Ia berkata, "Benar, tetapi ada makna lain yang terlintas dalam benakku."


فَقُلْتُ: هَاتِ، أَفِدْنِي مَا وَقَعَ لَكَ.

Aku berkata, "Sampaikanlah, berilah aku manfaat dengan apa yang engkau pahami."


فَقَالَ: لِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَنْفَعُهُمُ الْوُجُودُ؛ إِذِ اللَّهُ فَاقَتُهُمْ، وَلَا يَضُرُّهُمُ الْفَاقَةُ؛ إِذِ اللَّهُ وُجُودُهُمْ.

Ia berkata, "Karena mereka adalah kaum yang tidak diuntungkan oleh adanya sesuatu selain Allah, sebab Allah adalah satu-satunya kebutuhan mereka. Dan mereka tidak dirugikan oleh kemiskinan, sebab Allah adalah hakikat keberadaan mereka."


وَكَانَ أَبُو حَمْزَةَ الْبَغْدَادِيُّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ يَقُولُ فِي مُنَاجَاتِهِ: «اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي مِنْ أَفْقَرِ خَلْقِكَ إِلَيْكَ؛ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ فَقْرِي إِلَيْكَ بِمَعْنًى هُوَ غَيْرُكَ، فَلَا تَسُدَّ فَقْرِي».

Abu Hamzah al-Baghdadi raḍiyallāhu 'anhu dalam munajatnya berdoa, "Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku termasuk makhluk-Mu yang paling membutuhkan-Mu. Namun jika Engkau mengetahui bahwa kebutuhanku kepada-Mu ternyata masih mengandung sesuatu selain diri-Mu, maka janganlah Engkau penuhi kebutuhan itu."


لَقَدْ خَابَ مَنْ رَضِيَ دُونَكَ بَدَلًا، وَلَقَدْ خَسِرَ مَنْ بَغَى عَنْكَ مُتَحَوِّلًا.

Sungguh kecewa orang yang rela mengambil selain-Mu sebagai pengganti. Dan sungguh merugi orang yang berpaling dari-Mu menuju selain-Mu.


هَذَا بَيِّنٌ، وَهُوَ مَبْنِيٌّ عَلَى مَا تَقَدَّمَ الْآنَ مِنَ الْكَلَامِ.

Hal ini sudah sangat jelas, dan merupakan konsekuensi dari penjelasan yang telah disampaikan sebelumnya.


رُئِيَ الشِّبْلِيُّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ فِي الْمَنَامِ بَعْدَ وَفَاتِهِ، فَقِيلَ لَهُ: مَا فَعَلَ اللَّهُ بِكَ؟

Diriwayatkan bahwa asy-Syibli raḍiyallāhu 'anhu terlihat dalam mimpi setelah wafatnya. Lalu ia ditanya, "Bagaimana perlakuan Allah kepadamu?"


فَقَالَ: لَمْ يُطَالِبْنِي بِالْبَرَاهِينِ عَلَى الدَّعَاوَى، إِلَّا عَلَى شَيْءٍ وَاحِدٍ.

Ia menjawab, "Allah tidak menuntut bukti atas pengakuan-pengakuanku, kecuali dalam satu perkara."


قُلْتُ يَوْمًا: لَا خَسَارَةَ أَعْظَمُ مِنْ خَسَارَةِ الْجَنَّةِ وَدُخُولِ النَّارِ.

Aku pernah berkata suatu hari, "Tidak ada kerugian yang lebih besar daripada kehilangan surga dan masuk neraka."


فَقَالَ: وَأَيُّ خَسَارَةٍ أَعْظَمُ مِنْ خُسْرَانِ لِقَائِي؟

Maka Allah berfirman, "Kerugian apakah yang lebih besar daripada kehilangan perjumpaan dengan-Ku?"


وَفِي مَعْنَاهُ أَنْشَدُوا:

Dalam makna yang sama, para arifin melantunkan syair berikut:


سَهَرُ الْعُيُونِ لِغَيْرِ وَجْهِكَ بَاطِلٌ **

وَبُكَاؤُهُنَّ لِغَيْرِ فَقْدِكَ ضَائِعٌ

Terjaganya mata demi selain wajah-Mu adalah sia-sia.

Dan tangisnya karena kehilangan selain-Mu adalah sesuatu yang terbuang percuma.


وَقَالَ بَعْضُهُمْ: كَانَ عِنْدَنَا رَجُلٌ مَكَثَ عِنْدَنَا ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً، يُصَلِّي كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَلْفَ رَكْعَةٍ، حَتَّى أُقْعِدَ مِنْ رِجْلَيْهِ.


Salah seorang arif berkata, "Di tempat kami dahulu ada seorang laki-laki yang tinggal selama tiga belas tahun. Setiap siang dan malam ia mengerjakan seribu rakaat salat, hingga kedua kakinya tidak lagi mampu menopangnya."


فَإِذَا صَلَّى الْعَصْرَ احْتَبَى وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ.

Setelah salat Asar, ia duduk memeluk kedua lututnya sambil menghadap kiblat.


ثُمَّ قَالَ: عَجِبْتُ لِلْخَلِيقَةِ كَيْفَ أَرَادَتْ بِكَ بَدَلًا، بَلْ عَجِبْتُ لِلْخَلِيقَةِ كَيْفَ اسْتَأْنَسَتْ بِسِوَاكَ.

Kemudian ia berkata, "Aku sungguh heran kepada manusia: bagaimana mereka menginginkan pengganti selain Engkau. Bahkan aku lebih heran lagi, bagaimana mereka dapat merasa tenteram dengan selain-Mu."


ثُمَّ يَسْكُتُ إِلَى الْمَغْرِبِ.

Kemudian ia terdiam dalam munajat hingga waktu Magrib tiba.



Kamis, 02 Juli 2026

Terjemah Ihya Ulumiddin: Kitab Adab-Adab Membaca Al-Qur'an (1) Ayat Al-Qur'an, Hadis, dan Atsar Fadhilah Al-Qur'an



[كِتَابُ آدَابِ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ]

[Kitab Adab-Adab Membaca Al-Qur'an]


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي امْتَنَّ عَلَى عِبَادِهِ بِنَبِيِّهِ الْمُرْسَلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكِتَابِهِ الْمُنْزَلِ الَّذِي لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan mengutus Nabi-Nya yang diutus (Muhammad) ﷺ dan kitab-Nya yang diturunkan, yang tidak mendatangkan kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.


حَتَّى اتَّسَعَ عَلَى أَهْلِ الْأَفْكَارِ طَرِيقُ الِاعْتِبَارِ بِمَا فِيهِ مِنَ الْقَصَصِ وَالْأَخْبَارِ

Sehingga menjadi luaslah jalan bagi orang-orang yang berpikir untuk mengambil pelajaran, melalui kisah-kisah dan kabar berita yang ada di dalamnya.


وَاتَّضَحَ بِهِ سُلُوكُ الْمَنْهَجِ الْقَوِيمِ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ بِمَا فُصِّلَ فِيهِ مِنَ الْأَحْكَامِ وَفُرِّقَ بَيْنَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ

Dan menjadi jelaslah jalan menuju manhaj (metode) yang lurus dan jalan yang lempeng, dengan adanya rincian hukum-hukum di dalamnya serta pemisahan antara yang halal dan yang haram.


فَهُوَ الضِّيَاءُ وَالنُّورُ وَبِهِ النَّجَاةُ مِنَ الْغُرُورِ وَفِيهِ شِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ

Maka Al-Qur'an adalah cahaya dan penerang, dengannya terdapat keselamatan dari tipu daya (dunia), dan di dalamnya terdapat obat penawar bagi apa yang ada di dalam dada.


وَمَنْ خَالَفَهُ مِنَ الْجَبَابِرَةِ قَصَمَهُ اللهُ وَمَنْ ابْتَغَى الْعِلْمَ فِي غَيْرِهِ أَضَلَّهُ اللهُ

Barangsiapa dari kalangan penguasa yang sombong menyelisihinya, niscaya Allah akan membinasakannya; dan barangsiapa yang mencari ilmu pada selainnya, niscaya Allah akan menyesatkannya.


هُوَ حَبْلُ اللهِ الْمَتِينُ وَنُورُهُ الْمُبِينُ وَالْعُرْوَةُ الْوُثْقَى وَالْمُعْتَصَمُ الْأَوْفَى

Ia (Al-Qur'an) adalah tali Allah yang kokoh, cahaya-Nya yang terang benderang, ikatan yang paling kuat, dan tempat berlindung yang paling sempurna.


وَهُوَ الْمُحِيطُ بِالْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ لَا تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ وَلَا تَتَنَاهَى غَرَائِبُهُ

Dan ia mencakup perkara yang sedikit maupun banyak, yang kecil maupun yang besar; tidak pernah habis keajaibannya dan tidak pernah berakhir keunikan-keunikannya.


لَا يُحِيطُ بِفَوَائِدِهِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ تَحْدِيدٌ وَلَا يُخْلِقُهُ عِنْدَ أَهْلِ التَّلَاوَةِ كَثْرَةُ التَّرْدِيدِ

Batasan apa pun tidak akan mampu melingkupi manfaat-manfaatnya di sisi para ahli ilmu, dan ia tidak akan pernah usang/membosankan di hadapan para ahli tilawah meskipun sering diulang-ulang.


هُوَ الَّذِي أَرْشَدَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ وَلَمَّا سَمِعَهُ الْجِنُّ لَمْ يَلْبَثُوا أَنْ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ

Dialah yang memberi petunjuk kepada orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan, dan ketika bangsa jin mendengarnya, mereka tidak menunda-nunda untuk kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.


{فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا}

{Lalu mereka berkata: "Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami."}


قُلْ اُوْحِيَ اِلَيَّ اَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوْٓا اِنَّا سَمِعْنَا قُرْاٰنًا عَجَبًاۙ 

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an yang kubaca).” Lalu, mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan, (QS. Al-Jin 1)

 يَّهْدِيْٓ اِلَى الرُّشْدِ فَاٰمَنَّا بِهٖۗ وَلَنْ نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ اَحَدًاۖ 

yang memberi petunjuk kepada kebenaran, sehingga kami pun beriman padanya dan tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami. (QS. Al-Jin 1)


فَكُلُّ مَنْ آمَنَ بِهِ فَقَدْ وُفِّقَ وَمَنْ قَالَ بِهِ فَقَدْ صَدَقَ وَمَنْ تَمَسَّكَ بِهِ فَقَدْ هُدِيَ وَمَنْ عَمِلَ بِهِ فَقَدْ فَازَ

Maka setiap orang yang beriman kepadanya sungguh telah diberi taufik, barangsiapa yang berkata dengannya (berdasarkan Al-Qur'an) maka ia telah benar, barangsiapa yang berpegang teguh kepadanya maka ia telah diberi petunjuk, dan barangsiapa yang mengamalkannya maka ia telah beruntung.


وَقَالَ تَعَالَى {إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ}

Dan Allah Ta'ala berfirman: {Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.} (QS. Al-Hijr 9)


وَمِنْ أَسْبَابِ حِفْظِهِ فِي الْقُلُوبِ وَالْمَصَاحِفِ اسْتِدَامَةُ تِلَاوَتِهِ وَالْمُوَاظَبَةُ عَلَى دِرَاسَتِهِ مَعَ الْقِيَامِ بِآدَابِهِ وَشُرُوطِهِ وَالْمُحَافَظَةِ عَلَى مَا فِيهِ مِنَ الْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالْآدَابِ الظَّاهِرَةِ

Dan di antara sebab terpeliharanya Al-Qur'an di dalam hati dan lembaran-lembaran mushaf adalah dengan terus-menerus membacanya (istiqamah) dan tekun mempelajarinya, disertai dengan menunaikan adab-adab dan syarat-syaratnya, serta menjaga amalan-amalan batin dan adab-adab lahir yang ada di dalamnya.


وَذَلِكَ لَا بُدَّ مِنْ بَيَانِهِ وَتَفْصِيلِهِ وَتَنْكَشِفُ مَقَاصِدُهُ فِي أَرْبَعَةِ أَبْوَابٍ

Hal tersebut harus dijelaskan dan dirinci, dan maksud-maksudnya akan tersingkap dalam empat bab:


اَلْبَابُ الْأَوَّلُ فِي فَضْلِ الْقُرْآنِ وَأَهْلِهِ

Bab Pertama: Tentang keutamaan Al-Qur'an dan para pemiliknya (orang yang mengamalkannya).


اَلْبَابُ الثَّانِي فِي آدَابِ التَّلَاوَةِ فِي الظَّاهِرِ

 Bab Kedua: Tentang adab-adab lahiriah dalam membaca Al-Qur'an.


اَلْبَابُ الثَّالِثُ فِي الْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ عِنْدَ التَّلَاوَةِ

Bab Ketiga: Tentang amalan-amalan batin ketika membaca Al-Qur'an.


اَلْبَابُ الرَّابِعُ فِي فَهْمِ الْقُرْآنِ وَتَفْسِيرِهِ بِالرَّأْيِ وَغَيْرِهِ

Bab Keempat: Tentang memahami Al-Qur'an dan menafsirkannya dengan logika (ra'yi) maupun metode lainnya.


اَلْبَابُ الْأَوَّلُ فِي فَضْلِ الْقُرْآنِ وَأَهْلِهِ وَذَمِّ الْمُقَصِّرِينَ فِي تِلَاوَتِهِ

Bab Pertama: Tentang keutamaan Al-Qur'an dan para pemiliknya, serta celaan bagi orang-orang yang melalaikan bacaannya.


فَضِيلَةُ الْقُرْآنِ

Keutamaan Al-Qur'an.

 وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ ثُمَّ رَأَى أَنَّ أَحَدًا أُوتِيَ أَفْضَلَ مِمَّا أُوتِيَ فَقَدْ اسْتَصْغَرَ مَا عَظَّمَهُ اللهُ تَعَالَى (١)

Dan Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang membaca (dan menguasai) Al-Qur'an, kemudian ia memandang bahwa ada seseorang yang diberi karunia lebih utama daripada apa yang telah diberikan kepadanya, maka sungguh ia telah meremehkan apa yang telah diagungkan oleh Allah Yang Maha Tinggi." 


وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ شَفِيعٍ أَفْضَلَ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنَ الْقُرْآنِ لَا نَبِيٌّ وَلَا مَلَكٌ وَلَا غَيْرُهُ (٢)

Dan Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada pemberi syafaat yang lebih utama kedudukannya di sisi Allah Ta'ala daripada Al-Qur'an; tidak juga nabi, malaikat, ataupun yang lainnya."


وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ كَانَ الْقُرْآنُ فِي إِهَابٍ مَا مَسَّتْهُ النَّارُ (٣)

Dan Nabi ﷺ bersabda: "Sekiranya Al-Qur'an itu berada di dalam kulit (maksudnya: hati manusia yang menjaga Al-Qur'an), niscaya ia tidak akan disentuh oleh api neraka."


وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي تِلَاوَةُ الْقُرْآنِ (٤)

Dan Nabi ﷺ bersabda: "Ibadah umatku yang paling utama adalah membaca Al-Qur'an."


وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْضًا: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَرَأَ طه وَيس قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ بِأَلْفِ عَامٍ، فَلَمَّا سَمِعَتِ الْمَلَائِكَةُ الْقُرْآنَ قَالَتْ: طُوبَى لِأُمَّةٍ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ هَذَا، وَطُوبَى لِأَجْوَافٍ تَحْمِلُ هَذَا، وَطُوبَى لِأَلْسِنَةٍ تَنْطِقُ بِهَذَا (٥)

Dan Nabi ﷺ juga bersabda: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla membaca surah Thaha dan Yasin seribu tahun sebelum Dia menciptakan makhluk. Maka tatkala para malaikat mendengar Al-Qur'an tersebut, mereka berkata: 'Beruntunglah bagi umat yang diturunkan Al-Qur'an ini kepada mereka, beruntunglah bagi hati yang mengemban Al-Qur'an ini, dan beruntunglah bagi lisan yang mengucapkan Al-Qur'an ini.'"


وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (٦)

Dan Nabi ﷺ bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya."


وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: مَنْ شَغَلَهُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عَنْ دُعَائِي وَمَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ ثَوَابِ الشَّاكِرِينَ (٧)

Dan Nabi ﷺ bersabda: "Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: 'Barangsiapa yang disibukkan oleh membaca Al-Qur'an hingga tidak sempat berdoa dan memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya pahala yang lebih utama daripada pahala orang-orang yang bersyukur.'"


وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلَاثَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى كَثِيبٍ مِنْ مِسْكٍ أَسْوَدَ لَا يَهُولُهُمْ فَزَعٌ وَلَا يَنَالُهُمْ حِسَابٌ حَتَّى يَفْرُغَ مَا بَيْنَ النَّاسِ: رَجُلٌ قَرَأَ الْقُرْآنَ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّ بِهِ قَوْمًا وَهُمْ بِهِ رَاضُونَ...والخ (٨)

Dan Nabi ﷺ bersabda: "Ada tiga golongan manusia pada hari kiamat yang berada di atas tumpukan bukit minyak misk hitam; mereka tidak dikejutkan oleh ketakutan yang dahsyat dan tidak disentuh oleh perhitungan amal (hisab) hingga selesainya urusan di antara manusia: (yaitu) seorang laki-laki yang membaca Al-Qur'an demi mengharap keridaan Allah 'Azza wa Jalla dan ia mengimami suatu kaum sedangkan mereka rida kepadanya..." (Catatan: Kata "والخ" dalam teks asal merupakan singkatan dari "وإلى آخره" atau "dan seterusnya", menunjukkan teks hadis ini terpotong sebelum menyebutkan dua golongan berikutnya).


 وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثلاثةٌ لا يَهولُهمُ الفَزَعُ، ولا يَنالُهمُ الحسابُ، على كثيبٍ من مِسْكٍ حتى يفرغَ اللهُ من حسابِ العبادِ : رجلٌ قرأَ القرآنَ ابتغاءَ وجهِ اللهِ، فأمَّ به قومًا وهو راضونَ عنهُ، وداعيةٌ يدعو إلى الصلواتِ الخمسِ ابتغاءَ وجهِ اللهِ، وعبدٌ أحسنَ ما بينَه وبينَ ربِّهِ، وفيما بينَه وبينَ مواليهِ.
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Ada tiga golongan manusia yang tidak dikejutkan oleh ketakutan yang dahsyat dan tidak disentuh oleh perhitungan amal (hisab), mereka berada di atas tumpukan bukit minyak misk hingga Allah menyelesaikan perhitungan amal para hamba: (pertama) seorang laki-laki yang membaca Al-Qur'an demi mengharap keridaan Allah, lalu ia mengimami suatu kaum sedangkan mereka rida kepadanya, (kedua) seorang penyeru (muazin) yang mengajak kepada salat lima waktu demi mengharap keridaan Allah, dan (ketiga) seorang hamba sahaya yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Tuhannya, serta hubungan antara dirinya dengan para tuannya."

 


وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَهْلُ الْقُرْآنِ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ (٩)

 Dan Nabi ﷺ bersabda: "Ahli Al-Qur'an (orang yang mahir dan mengamalkannya) adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya."


وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْقُلُوبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيدُ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا جِلَاؤُهَا؟ فَقَالَ: تِلَاوَةُ الْقُرْآنِ وَذِكْرُ الْمَوْتِ (١٠)

Dan Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya hati itu bisa berkarat sebagaimana besi berkarat." Lalu ditanyakan: "Wahai Rasulullah, apa pembersihnya?" Maka beliau menjawab: "Membaca Al-Qur'an dan mengingat kematian."


وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: للهُ أَشَدُّ أَذَنًا إِلَى قَارِئِ الْقُرْآنِ مِنْ صَاحِبِ الْقَيْنَةِ إِلَى قَيْنَتِهِ (١١)

Dan Nabi ﷺ bersabda: "Sungguh, Allah lebih mendengarkan dengan penuh perhatian kepada pembaca Al-Qur'an daripada seorang pemilik budak wanita penyanyi mendengarkan nyanyian budaknya."


اَلْآثَارُ: قَالَ أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ: اِقْرَءُوا الْقُرْآنَ وَلَا تَغُرَّنَّكُمْ هَذِهِ الْمَصَاحِفُ الْمُعَلَّقَةُ، فَإِنَّ اللهَ لَا يُعَذِّبُ قَلْبًا هُوَ وِعَاءٌ لِلْقُرْآنِ

Atsar (perkataan sahabat): Abu Umamah Al-Bahili berkata: "Bacalah Al-Qur'an dan janganlah sampai mushaf-mushaf yang tergantung ini memperdayakan kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengazab hati yang menjadi wadah (tempat menyimpan/mengamalkan) bagi Al-Qur'an."


اَلْآثَارُ:

Atsar (perkataan para sahabat dan ulama)


 قَالَ أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ: اِقْرَءُوا الْقُرْآنَ وَلَا تَغُرَّنَّكُمْ هَذِهِ الْمَصَاحِفُ الْمُعَلَّقَةُ، فَإِنَّ اللهَ لَا يُعَذِّبُ قَلْبًا هُوَ وِعَاءٌ لِلْقُرْآنِ

Abu Umamah Al-Bahili berkata: "Bacalah Al-Qur'an dan janganlah sampai mushaf-mushaf yang tergantung ini memperdayakan kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengazab hati yang menjadi wadah (tempat menyimpan) bagi Al-Qur'an."


وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: إِذَا أَرَدْتُمُ الْعِلْمَ فَانْثُرُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّ فِيهِ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ

Dan Ibnu Mas'ud berkata: "Jika kalian menginginkan ilmu, maka kaji dan dalamilah Al-Qur'an (buka isinya), karena sesungguhnya di dalam Al-Qur'an terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan."


وَقَالَ أَيْضًا: اِقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّكُمْ تُؤْجَرُونَ عَلَيْهِ بِكُلِّ حَرْفٍ مِنْهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، أَمَا إِنِّي لَا أَقُولُ الْحَرْفُ {ألم}، وَلَكِنِ الْأَلِفُ حَرْفٌ، وَاللَّامُ حَرْفٌ، وَالْمِيمُ حَرْفٌ

Dan beliau berkata pula: "Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya kalian akan diberi pahala karenanya; setiap satu huruf diganjar dengan sepuluh kebaikan. Ketahuilah, aku tidak mengatakan bahwa 'Alif Lam Mim' itu satu huruf, melainkan Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf."


وَقَالَ أَيْضًا: لَا يَسْأَلْ أَحَدُكُمْ عَنْ نَفْسِهِ إِلَّا الْقُرْآنَ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآنَ وَيُعْجِبُهُ فَهُوَ يُحِبُّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِنْ كَانَ يُبْغِضُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يُبْغِضُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dan beliau berkata pula: "Janganlah salah seorang dari kalian menilai dirinya (tentang kedudukannya di hadapan Allah) melainkan melalui Al-Qur'an; jika ia mencintai Al-Qur'an dan mengaguminya, berarti ia mencintai Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya ﷺ, dan jika ia membenci Al-QUR'AN, berarti ia membenci Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya ﷺ."


وَقَالَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ: كُلُّ آيَةٍ فِي الْقُرْآنِ دَرَجَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَمِصْبَاحٌ فِي بُيُوتِكُمْ

Dan 'Amr bin Al-'Ash berkata: "Setiap ayat di dalam Al-Qur'an adalah satu tingkatan derajat di surga, dan menjadi pelita penerang di rumah-rumah kalian."


وَقَالَ أَيْضًا: مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَقَدْ أُدْرِجَتِ النُّبُوَّةُ بَيْنَ جَنْبَيْهِ إِلَّا أَنَّهُ لَا يُوحَى إِلَيْهِ

Dan beliau berkata pula: "Barangsiapa yang membaca (dan menguasai) Al-Qur'an, maka sesungguhnya kedudukan kenabian telah diletakkan di antara kedua lambungnya (di dalam dirinya), hanya saja tidak diturunkan wahyu kepadanya."


وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي يُتْلَى فِيهِ الْقُرْآنُ اتَّسَعَ بِأَهْلِهِ، وَكَثُرَ خَيْرُهُ، وَحَضَرَتْهُ الْمَلَائِكَةُ، وَخَرَجَتْ مِنْهُ الشَّيَاطِينُ

Dan Abu Hurairah berkata: "Sesungguhnya rumah yang dibacakan Al-Qur'an di dalamnya, akan terasa luas bagi penghuninya, banyak kebaikannya, dihadiri oleh para malaikat, dan setan-setan akan keluar darinya."


وَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي لَا يُتْلَى فِيهِ كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ضَاقَ بِأَهْلِهِ، وَقَلَّ خَيْرُهُ، وَخَرَجَتْ مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ، وَحَضَرَتْهُ الشَّيَاطِينُ

"Dan sesungguhnya rumah yang tidak dibacakan kitab Allah 'Azza wa Jalla di dalamnya, akan terasa sempit bagi penghuninya, sedikit kebaikannya, ditinggalkan oleh para malaikat, dan setan-setan akan mengerumuninya."


وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: رَأَيْتُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْمَنَامِ فَقُلْتُ: يَا رَبِّ، مَا أَفْضَلُ مَا تَقَرَّبَ بِهِ الْمُتَقَرِّبُونَ إِلَيْكَ؟ قَالَ: بِكَلَامِي يَا أَحْمَدُ، قَالَ قُلْتُ: يَا رَبِّ، بِفَهْمٍ أَوْ بِغَيْرِ فَهْمٍ؟ قَالَ: بِفَهْمٍ وَبِغَيْرِ فَهْمٍ

Dan Ahmad bin Hanbal berkata: "Aku melihat Allah 'Azza wa Jalla dalam mimpi, lalu aku bertanya: 'Wahai Tuhanku, amalan apakah yang paling utama bagi orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada-Mu?' Allah berfirman: 'Dengan kalam-Ku (membaca Al-Qur'an), wahai Ahmad.' Aku bertanya lagi: 'Wahai Tuhanku, apakah harus dengan memahaminya atau tanpa memahaminya?' Allah berfirman: 'Baik dengan memahaminya maupun tanpa memahaminya.'"


وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ الْقُرَظِيُّ: إِذَا سَمِعَ النَّاسُ الْقُرْآنَ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَكَأَنَّهُمْ لَمْ يَسْمَعُوهُ قَطُّ

Dan Muhammad bin Ka'b Al-Qurazhi berkata: "Ketika manusia mendengarkan Al-Qur'an langsung dari Allah 'Azza wa Jalla pada hari kiamat kelak, seolah-olah mereka belum pernah mendengarnya sama sekali sebelum itu (karena saking indahnya)."


وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: يَنْبَغِي لِحَامِلِ الْقُرْآنِ أَنْ لَا يَكُونَ لَهُ إِلَى أَحَدٍ حَاجَةٌ، وَلَا إِلَى الْخُلَفَاءِ فَمَنْ دُونَهُمْ، فَيَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ حَوَائِجُ الْخَلْقِ إِلَيْهِ

Dan Fudhail bin 'Iyadh berkata: "Seyogianya bagi seorang penghafal Al-Qur'an untuk tidak menggantungkan hajat (kebutuhan) kepada seorang pun, tidak kepada para khalifah (penguasa) maupun orang-orang di bawah mereka, melainkan seyogianya kebutuhan makhluk-lah yang bersandar kepadanya."


وَقَالَ أَيْضًا: حَامِلُ الْقُرْآنِ حَامِلُ رَايَةِ الْإِسْلَامِ، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَلْهُوَ مَعَ مَنْ يَلْهُو، وَلَا يَسْهُوَ مَعَ مَنْ يَسْهُو، وَلَا يَلْغُوَ مَعَ مَنْ يَلْغُو؛ تَعْظِيمًا لِحَقِّ الْقُرْآنِ

 Dan beliau berkata pula: "Seorang penghafal Al-Qur'an adalah pembawa panji Islam, maka tidak pantas baginya untuk bermain-main bersama orang yang bermain-main, tidak lalai bersama orang yang lalai, dan tidak berbicara sia-sia bersama orang yang berbicara sia-sia; hal itu dilakukan demi mengagungkan hak-hak Al-Qur'an."


وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ: إِذَا قَرَأَ الرَّجُلُ الْقُرْآنَ قَبَّلَ الْمَلَكُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ

Dan Sufyan Ats-Tsauri berkata: "Apabila seseorang membaca Al-Qur'an, maka malaikat akan mencium bagian di antara kedua matanya (keningnya)."


وَقَالَ عَمْرُو بْنُ مَيْمُونٍ: مَنْ نَشَرَ مُصْحَفًا حِينَ يُصَلِّي الصُّبْحَ فَقَرَأَ مِنْهُ مِائَةَ آيَةٍ رَفَعَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ مِثْلَ عَمَلِ جَمِيعِ أَهْلِ الدُّنْيَا

Dan 'Amr bin Maimun berkata: "Barangsiapa yang membuka mushaf ketika selesai melaksanakan salat subuh lalu membaca seratus ayat di dalamnya, niscaya Allah 'Azza wa Jalla akan mengangkat baginya pahala yang setara dengan amal seluruh penduduk dunia."


وَيُرْوَى أَنَّ خَالِدَ بْنَ عُقْبَةَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: اِقْرَأْ عَلَيَّ الْقُرْآنَ

Dan diriwayatkan bahwa Khalid bin 'Uqbah datang menghadap Rasulullah ﷺ lalu berkata: "Bacakanlah Al-Qur'an kepadaku."


فَقَرَأَ عَلَيْهِ {إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى} الْآيَةَ

Maka beliau ﷺ membacakan kepadanya: {Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat...} hingga akhir ayat.


فَقَالَ لَهُ فَأَعَادَ، فَقَالَ: وَاللهِ إِنَّ لَهُ لَحَلَاوَةً، وَإِنَّ عَلَيْهِ لَطَلَاوَةً، وَإِنَّ أَسْفَلَهُ لَمُورِقٌ، وَإِنَّ أَعْلَاهُ لَمُثْمِرٌ، وَمَا يَقُولُ هَذَا بَشَرٌ (١)

Maka ia berkata kepada beliau (untuk mengulanginya), lalu beliau pun mengulangnya. Kemudian ia berkata: "Demi Allah, sesungguhnya ia (Al-Qur'an) benar-benar memiliki kemanisan, benar-benar memiliki keindahan, sesungguhnya bagian bawahnya benar-benar rindang, bagian atasnya benar-benar berbuah lebat, dan perkataan ini sama sekali bukanlah ucapan manusia."


وَقَالَ الْحَسَنُ: وَاللهِ مَا دُونَ الْقُرْآنِ مِنْ غِنًى، وَلَا بَعْدَهُ مِنْ فَاقَةٍ

Dan Al-Hasan (Al-Bashri) berkata: "Demi Allah, tidak ada kekayaan yang hakiki selain Al-Qur'an, dan tidak ada kemiskinan yang berarti setelah (memiliki) Al-Qur'an."


وَقَالَ الْفُضَيْلُ: مَنْ قَرَأَ خَاتِمَةَ سُورَةِ الْحَشْرِ حِينَ يُصْبِحُ ثُمَّ مَاتَ مِنْ يَوْمِهِ خُتِمَ لَهُ بِطَابَعِ الشُّهَدَاءِ، وَمَنْ قَرَأَهَا حِينَ يُمْسِي ثُمَّ مَاتَ مِنْ لَيْلَتِهِ خُتِمَ لَهُ بِطَابَعِ الشُّهَدَاءِ

Dan Fudhail (bin 'Iyadh) berkata: "Barangsiapa yang membaca bagian akhir surah Al-Hasyr di waktu pagi kemudian ia wafat pada hari itu, niscaya ia ditutup (wafatnya) dengan cap para syuhada; dan barangsiapa yang membacanya di waktu sore kemudian ia wafat pada malam itu, niscaya ia ditutup dengan cap para syuhada."


وَقَالَ الْقَاسِمُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ: قُلْتُ لِبَعْضِ النُّسَّاكِ: مَا هَهُنَا أَحَدٌ نَسْتَأْنِسُ بِهِ؟ فَمَدَّ يَدَهُ إِلَى الْمُصْحَفِ وَوَضَعَهُ عَلَى حِجْرِهِ وَقَالَ: هَذَا!

Dan Al-Qasim bin 'Abdirrahman berkata: "Aku bertanya kepada sebagian ahli ibadah: 'Apakah di sini tidak ada seorang pun yang bisa kita jadikan teman untuk berbagi ketenangan?' Maka ia menjulurkan tangannya ke arah mushaf, lalu meletakkannya di atas pangkuannya seraya berkata: 'Ini!'"


وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: ثَلَاثٌ يَزِدْنِ فِي الْحِفْظِ وَيُذْهِبْنِ الْبَلْغَمَ: اَلسِّوَاكُ، وَالصِّيَامُ، وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

Terjemahan: Dan 'Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu berkata: "Ada tiga perkara yang dapat menambah daya hafalan dan menghilangkan lendir (dahak): bersiwak, berpuasa, dan membaca Al-Qur'an."


Selanjutnya...
في ذم تلاوة الغافلين



Senin, 22 Juni 2026

Munajat Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari Nomor 22-25 (on progress)



Munajat 22:


قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:


(إِلَهِي عَلِّمْنِي مِنْ عِلْمِكَ الْمَخْزُونِ، وَصُنِّي بِسِرِّ اسْمِكَ الْمَصُونِ)

 (Tuhanku, berilah aku pengajaran dari ilmu-Mu yang tersimpan rapat, dan jagalah diriku dengan rahasia nama-Mu yang terlindungi)


إِضَافَةُ الْعِلْمِ إِلَى اللهِ هُنَا إِضَافَةُ تَشْرِيفٍ.

Penyandaran kata ilmu kepada Allah di sini (ilmika, ilmu-Mu) merupakan bentuk penyandaran untuk pemuliaan (idhafah tasyrif).


وَالْعِلْمُ الْمَخْزُونُ هُوَ الْعِلْمُ اللَّدُنِّيُّ الَّذِي اخْتَزَنَهُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُؤْتِهِ إِلَّا لِلْمَخْصُوصِينَ مِنَ الْأَوْلِيَاءِ، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي شَأْنِ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ﴿وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا﴾ [الكهف: ٦٥].

Dan yang dimaksud dengan ilmu yang tersimpan rapat (Al-Ilmu Al-Makhzun) adalah ilmu laduni yang Allah simpan di sisi-Nya, sehingga tidak Dia berikan kecuali kepada hamba-hamba pilihan-Nya dari kalangan para wali, sebagaimana firman Allah Ta'ala mengenai perihal Nabi Khidir 'alaihis salam: "Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya satu ilmu dari sisi Kami." [QS. Al-Kahfi: 65].


وَفِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «إِنَّ مِنَ الْعِلْمِ كَهَيْئَةِ الْمَكْنُونِ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا الْعُلَمَاءُ بِاللهِ تَعَالَى، فَإِذَا نَطَقُوا بِهِ لَا يُنْكِرُهُ إِلَّا أَهْلُ الْغِرَّةِ بِاللهِ».

Dan di dalam hadis Abu Hurairah, semoga Allah Ta'ala meridhainya, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya di antara ilmu itu ada yang bagaikan permata yang tersimpan rapat, tidak ada yang mengetahuinya kecuali para ulama yang makrifat kepada Allah Ta'ala; maka apabila mereka menyuarakannya, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang tertipu (lalai) dari Allah."


قَالَ بَعْضُهُمْ: «هِيَ أَسْرَارُ اللهِ تَعَالَى يُبْدِيهَا اللهُ إِلَى أَنْبِيَائِهِ وَأَوْلِيَائِهِ وَسَادَاتِ النُّبَلَاءِ مِنْ غَيْرِ سَمَاعٍ وَلَا دِرَاسَةٍ، وَهِيَ مِنَ الْأَسْرَارِ الَّتِي لَمْ يَطَّلِعْ عَلَيْهَا أَحَدٌ إِلَّا الْخَوَاصُّ».

Sebagian ulama berkata: "Ia adalah rahasia-rahasia Allah Ta'ala yang ditampakkan-Nya kepada para nabi-Nya, para wali-Nya, serta para pembuka kebaikan yang mulia tanpa melalui jalur mendengar (secara lahiriah) ataupun proses belajar, dan ia termasuk bagian dari rahasia yang tidak dapat diintip oleh siapa pun kecuali orang-orang yang khusus (khawas)."


وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الْوَاسِطِيُّ، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ، فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ﴾ [آل عمران: ٧]: «هُمْ الَّذِينَ رَسَخُوا بِأَرْوَاحِهِمْ فِي غَيْبِ الْغَيْبِ، وَفِي سِرِّ السِّرِّ، 

Dan Abu Bakar Al-Wasithi—semoga Allah Ta'ala meridhainya—berkata tentang firman Allah Ta'ala: "Dan orang-orang yang mendalam ilmunya" [QS. Ali 'Imran: 7]: "Mereka adalah orang-orang yang ruh mereka telah menghujam kokoh ke dalam keghaiban yang paling ghaib (ghaibul ghaib) serta rahasia yang paling dalam (sirrus sirr), 


فَعَرَّفَهُمْ مَا عَرَّفَهُمْ، وَخَاضُوا فِي بَحْرِ الْعِلْمِ بِالْفَهْمِ لِطَلَبِ الزِّيَادَةِ، فَانْكَشَفَ لَهُمْ مِنْ مَذْخُورِ الْخَزَائِنِ وَالْمَخْزُونِ تَحْتَ كُلِّ حَرْفٍ وَآيَةٍ مِنَ الْفَهْمِ وَعَجَائِبِ النَّظَرِ بِحَارًا فَاسْتَخْرَجُوا الدُّرَرَ وَالْجَوَاهِرَ وَنَطَقُوا بِالْحِكْمَةِ».

lalu Allah memperkenalkan kepada mereka apa yang perlu mereka ketahui, dan mereka menyelami lautan ilmu dengan pemahaman rohani demi mencari tambahan makrifat, hingga tersingkaplah bagi mereka samudera pemahaman dan pandangan batin yang menakjubkan dari gudang-gudang simpanan yang tersimpan di bawah setiap huruf dan ayat, lalu mereka mengeluarkan mutiara serta permata darinya dan berbicara dengan untaian hikmah."


وَصُنِّي بِسِرِّ اسْمِكَ الْمَصُونِ.

Dan jagalah diriku dengan rahasia nama-Mu yang terlindungi.


اَلصَّوْنُ الْمَطْلُوبُ: هُوَ صِيَانَتُهُ عَنْ رُؤْيَةِ الْأَغْيَارِ بِمَا يَتَجَلَّى لِقَلْبِهِ مِنْ سِرِّ الْأَسْرَارِ.

Adapun perlindungan (ash-shaun) yang diminta di sini adalah: penjagaan diri sang hamba dari melirik kepada selain Allah (al-aghyar) melalui perantara apa saja yang memancar indah ke dalam hatinya yang berupa rahasia dari segala rahasia (sirrul asrar).


Munajat 23:


قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:


(إِلَهِي: حَقِّقْنِي بِحَقَائِقِ أَهْلِ الْقُرْبِ، وَاسْلُكْ بِي مَسَالِكَ أَهْلِ الْجَذْبِ)

(Tuhanku: kukuhkanlah diriku dengan hakikat-hakikat kaum yang dekat dengan-Mu, dan bimbinglah aku menempuh jalan-jalan kaum yang ditarik (oleh kemesraan)-Mu)


حَقَائِقُ أَهْلِ الْقُرْبِ هِيَ: الْفَنَاءُ فِي التَّوْحِيدِ، وَالتَّحَقُّقُ بِالتَّجْرِيدِ، فَتَبْطُلُ فِي حَقِّهِمْ رُؤْيَةُ الْأَسْبَابِ، وَيَزُولُ عَنْ مَطْمَحِ نَظَرِهِمْ كُلُّ سِتْرٍ وَحِجَابٍ.

Hakikat-hakikat kaum yang dekat dengan-Mu (Ahlul Qurb) adalah: fana (sirnanya kesadaran makhluk) di dalam tauhid, dan kemantapan dalam penunggalan (tadjrid), sehingga gugurlah pandangan terhadap sebab-sebab lahiriah pada hak mereka, serta lenyaplah segala tabir dan penghalang dari jangkauan pandangan batin mereka.


كَمَا قَالَ سَيِّدِي أَبُو الْحَسَنِ، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ فِي «حِزْبِهِ الْكَبِيرِ»: وَأَقْرِبْ مِنِّي بِقُدْرَتِكَ قُرْبًا تَمْحَقُ بِهِ عَنِّي كُلَّ حِجَابٍ مَحَقْتَهُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِكَ فَلَمْ يَحْتَجْ لِجِبْرِيلَ رَسُولِكَ، وَلَا لِسُؤَالِهِ مِنْكَ، وَحَجَبْتَهُ بِذَلِكَ عَنْ نَارِ عَدُوِّكَ.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Tuanku Abu Al-Hasan (Asy-Syadzili)—semoga Allah Ta'ala meridhainya—di dalam kitab Hizb Al-Kabir-nya: "Dan dekatkanlah Engkau kepadaku dengan kuasa-Mu, suatu kedekatan yang dengannya Engkau melenyapkan dariku segala hijab sebagaimana Engkau telah melenyapkannya dari Ibrahim kekasih-Mu, sehingga ia tidak lagi membutuhkan Jibril utusan-Mu, tidak pula butuh meminta kepada-Mu, dan dengannya Engkau membentenginya dari api musuh-Mu."


وَكَيْفَ لَا يُحْجَبُ عَنْ مَضَرَّةِ الْأَعْدَاءِ مَنْ غَيَّبْتَهُ عَنْ مَنْفَعَةِ الْأَحِبَّاءِ.

Dan bagaimana mungkin tidak terhalang dari bahaya para musuh, seseorang yang telah Engkau fanakan (palingkan) dari mengambil manfaat para kekasih.


كَلَّا إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تُغِيبَنِي بِقُرْبِكَ مِنِّي حَتَّى لَا أَرَى وَلَا أُحِسَّ بِقُرْبِ شَيْءٍ وَلَا بِبُعْدِهِ عَنِّي إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

Sekali-kali tidak, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar Engkau memfanakan diriku dengan kedekatan-Mu kepadaku, hingga aku tidak melihat dan tidak pula merasakan kedekatan sesuatu ataupun kejauhannya dariku, sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.


وَاسْلُكْ بِي مَسَالِكَ أَهْلِ الْجَذْبِ.

Dan bimbinglah aku menempuh jalan-jalan kaum yang ditarik (oleh kemesraan)-Mu.


أَهْلُ الْجَذْبِ هُمُ الْمَحْبُوبُونَ، وَمَسَالِكُهُمْ فِي غَايَةِ السُّهُولَةِ لَا تَعَبَ عَلَيْهِمْ فِيهَا وَلَا مَشَقَّةَ، بَلْ يَجِدُونَ اللَّذَّةَ وَالْحَلَاوَةَ فِي أَعْمَالِهِمْ.

Kaum yang ditarik (Ahlul Jadzb) adalah mereka yang dicintai (oleh Allah), dan jalan-jalan mereka berada dalam puncak kemudahan tanpa ada keletihan ataupun kepayahan di dalamnya bagi mereka, bahkan mereka merasakan kelezatan dan kemanisan dalam amal-amal ibadah mereka.


وَذَلِكَ مِنْ قِبَلِ أَنَّهُ أَخْرَجَهُمْ مِنْ أَسْرِ نُفُوسِهِمْ، وَتَوَلَّاهُمْ بِكِلَاءَتِهِ وَرِعَايَتِهِ مِنْ غَيْرِ مُجَاهَدَةٍ مِنْهُمْ وَلَا مُكَابَدَةٍ.

Hal itu dikarenakan Allah telah mengeluarkan mereka dari belenggu tawanan nafsu mereka, serta mengurus mereka langsung dengan penjagaan dan pemeliharaan-Nya, tanpa perlu melalui perjuangan berat (mujahadah) ataupun kepayahan yang melelahkan dari diri mereka sendiri.


Munajat 24:


ثُمَّ قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:

Kemudian Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:


(إِلَهِي أَغْنَيْتَنِي بِتَدْبِيرِكَ لِي عَنْ تَدْبِيرِي وَبِاخْتِيَارِكَ لِي عَنْ اخْتِيَارِي وَأَوْقِفْنِي عَلَى مَرَاكِزِ اضْطِرَارِي)

(Tuhanku, Engkau telah mencukupkan aku dengan pengaturan-Mu untukku dari pengaturanku sendiri, dan dengan pilihan-Mu untukku dari pilihanku sendiri, maka tempatkanlah aku dengan kokoh pada titik-titik kepasrahan mutlakku)


اَلْمُنْفَرِدُ بِالتَّدْبِيرِ وَالِاخْتِيَارِ وَالْمَشِيئَةِ وَالِاقْتِدَارِ هُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.

Dzat yang Maha Tunggal dalam mengatur, memilih, menghendaki, dan menguasai hanyalah Allah 'Azza wa Jalla.


فَمَنْ كَانَ لَهُ دَعْوَى فِي شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَقَدْ نَازَعَ اللهَ تَعَالَى فِي رُبُوبِيَّتِهِ وَخَلَعَ عَنْ عُنُقِهِ رِبْقَةَ عُبُودِيَّتِهِ.

Maka barang siapa yang mengaku-ngaku memiliki andil dalam salah satu dari urusan tersebut, sungguh ia telah menentang Allah Ta'ala dalam sifat ketuhanan-Nya (rububiyah) dan telah melepaskan tali ikatan kehambaan ('ubudiyah) dari lehernya.


فَلِذَلِكَ سَأَلَهُ وَطَلَبَ مِنْهُ أَنْ يُغْنِيَهُ عَنْ تَدْبِيرِهِ وَاخْتِيَارِهِ، وَأَنْ يُوقِفَهُ عَلَى مَرَاكِزِ اضْطِرَارِهِ لِيَكُونَ مُتَحَقِّقًا بِصِفَاتِهِ، وَمُتَعَلِّقًا بِصِفَاتِ مَوْلَاهُ.

Oleh karena itulah sang hamba memohon dan meminta kepada-Nya agar Dia membuatnya merasa cukup dari pengaturan dan pilihannya sendiri, serta menetapkannya dengan kokoh pada posisi kepasrahan mutlaknya, supaya ia benar-benar sadar akan sifat-sifat aslinya (yang lemah) dan selalu bergantung pada sifat-sifat Tuannya (Allah).


وَقَدْ تَقَدَّمَ هَذَا الْمَعْنَى غَيْرَ مَرَّةٍ.

Dan makna ini sesungguhnya telah dijelaskan berulang kali sebelumnya.


وَالْمَرَاكِزُ: مَوَاضِعُ الِاسْتِقْرَارِ وَالثُّبُوتِ، وَهِيَ اسْتِعَارَةٌ حَسَنَةٌ.

Adapun kata Al-Marakiz artinya adalah tempat-tempat menetap dan teguh berdiri, dan penggunaan kata ini merupakan sebuah gaya bahasa metafora (isti'arah) yang sangat indah.


Munajat 25:


ثُمَّ قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:

Kemudian Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:


(إِلَهِي أَخْرِجْنِي مِنْ ذُلِّ نَفْسِي، وَطَهِّرْنِي مِنْ شَكِّي وَشِرْكِي قَبْلَ حُلُولِ رَمْسِي)

(Tuhanku, keluarkanlah aku dari kehinaan nafsuku, dan bersihkanlah aku dari keraguanku (syak) serta kesyirikanku sebelum tibanya waktu masuk ke dalam kuburku)


ذُلُّ النَّفْسِ الَّذِي طَلَبَ الْإِخْرَاجَ مِنْهُ هُوَ ذُلُّهَا لِغَيْرِ اللهِ تَعَالَى بِالطَّمَعِ وَالْحِرْصِ.

Kehinaan nafsu yang dimohonkan agar dikeluarkan darinya adalah ketundukan nafsu kepada selain Allah Ta'ala yang dipicu oleh sifat tamak dan rakus.


وَقَدْ تَقَدَّمَ هَذَا الْمَعْنَى عِنْدَ قَوْلِهِ: [مَا بَسَقَتْ أَغْصَانُ ذُلٍّ إِلَّا عَلَى بَذْرِ طَمَعٍ].

Dan makna ini sesungguhnya telah berlalu penjelasannya pada bait kalam hikmah beliau: "Tidak akan tumbuh menjulang dahan-dahan kehinaan, melainkan di atas benih ketamakan."


وَطَهِّرْنِي مِنْ شَكِّي وَشِرْكِي قَبْلَ حُلُولِ رَمْسِي.

Dan bersihkanlah aku dari keraguanku serta kesyirikanku sebelum tibanya waktu masuk ke dalam kuburku.


اَلشَّكُّ وَالشِّرْكُ هُمَا سَبَبُ وُجُودِ الطَّمَعِ وَالْحِرْصِ الْمُوجِبَيْنِ لِوُقُوعِ الذُّلِّ وَالْهَوَانِ، وَهَذِهِ الْأَوْصَافُ كُلُّهَا مُجَانِبَةٌ لِحَقَائِقِ الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ، عَافَانَا اللهُ مِنْهَا.

Keraguan dan kesyirikan adalah sebab munculnya sifat tamak dan rakus yang berujung pada terjerumusnya seseorang ke dalam kehinaan dan kenestapaan, dan sifat-sifat ini seluruhnya bertolak belakang dengan hakikat keimanan dan ketauhidan, semoga Allah menyelamatkan kita darinya.


وَالشَّكُّ: ضِيقُ الصَّدْرِ عِنْدَ إِحْسَاسِ النَّفْسِ بِأَمْرٍ مَكْرُوهٍ يُصِيبُهَا، فَإِذَا ضَاقَ صَدْرُهُ بِسَبَبِ ذَلِكَ أَظْلَمَ قَلْبُهُ وَأَصَابَهُ مِنْ أَجْلِهِ الْهَمُّ وَالْحُزْنُ.

Adapun yang dimaksud keraguan (asy-syak) di sini adalah: sempitnya dada ketika jiwa merasakan adanya suatu hal yang tidak disukai menimpanya; maka jika dadanya menjadi sempit karena hal itu, hatinya akan menjadi gelap dan akibatnya ia akan ditimpa oleh kegundahan serta kesedihan.


وَطَهَارَتُهُ مِنْهُ إِنَّمَا تَكُونُ بِوُجُودِ ضِدِّهِ، وَهُوَ الْيَقِينُ، فَبِهِ يَتَّسِعُ الصَّدْرُ وَيَنْشَرِحُ، وَيَزُولُ عَنْهُ الْحَرَجُ وَالضِّيقُ.

Dan kesucian hati dari keraguan tersebut hanya akan terwujud dengan hadirnya hal yang sebaliknya, yaitu keyakinan (al-yaqin); sebab dengan keyakinan itu dada akan menjadi lapang dan terbuka, serta lenyaplah ganjalan dan kesempitan darinya.


وَبِقَدْرِ احْتِظَاءِ الْقَلْبِ مِنْ نُورِ الْيَقِينِ يَكُونُ انْشِرَاحُ الصَّدْرِ وَاتِّسَاعُهُ، وَعِنْدَ ذَلِكَ يَجِدُ الْقَلْبُ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ بِاللهِ تَعَالَى وَبِفَضْلِهِ.

Dan seukuran dengan bagian kedekatan hati yang meraih siraman cahaya keyakinan, sebesar itu pulalah kelapangan dada dan keterbukaannya, dan pada saat itulah hati akan merasakan ketenteraman serta kegembiraan bersama Allah Ta'ala dan berkat karunia-Nya.


وَفِي الْحَدِيثِ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللهَ تَعَالَى بِقِسْطِهِ وَعَدْلِهِ جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الرِّضَا وَالْيَقِينِ وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنُ فِي الشَّكِّ وَالسَّخَطِ».

Dan di dalam hadis dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam disebutkan: "Sesungguhnya Allah Ta'ala dengan keadilan dan kebijaksanaan-Nya, menjadikan ketenteraman dan kegembiraan itu berada di dalam sikap rida dan keyakinan, serta menjadikan kegundahan dan kesedihan berada di dalam keraguan dan kejengkelan (atas takdir)."


وَالشِّرْكُ: تَعَلُّقُ الْقَلْبِ بِالْأَسْبَابِ عِنْدَ غَفْلَتِهِ عَنِ الْمُسَبِّبِ وَنِسْيَانِهِ لَهُ، تَعَلُّقَ الْعَبْدِ بِالشِّرْكِ.

Sedangkan kesyirikan (asy-syirk di sini bermakna syirik khafi/tersembunyi) adalah: ketergantungan hati pada sebab-sebab lahiriah ketika ia lalai dari Dzat Yang Menentukan Sebab (Allah) serta melupakan-Nya, selaku bentuk keterikatan seorang hamba pada berhala duniawi.


وَيَكُونُ مَبْدَأُ ذَلِكَ هَيَجَانَ الشَّهْوَةِ عِنْدَ اسْتِيلَاءِ ظُلْمَةِ الشَّكِّ عَلَى الْقَلْبِ فَيَحْلُولَهُ حِينَئِذٍ الْهَوَى.

Dan permulaan dari hal tersebut adalah bergejolaknya syahwat ketika kegelapan keraguan menguasai hati, sehingga pada saat itulah hawa nafsu terasa manis baginya.


فَيَفْزَعُ إِذْ ذَاكِ إِلَى الْأَسْبَابِ الَّتِي يَتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى بُغْيَتِهِ إِذْ لَا يَرَى غَيْرَهَا فَيَرْتَبِكُ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ حَبَائِلَ الشِّرْكِ.

Maka ia pun lari mengadu pada saat itu kepada sebab-sebab lahiriah yang dapat menyampaikannya pada tujuannya karena ia tidak melihat ada hal lain selain sebab itu, sehingga akibatnya ia terjerat ke dalam jaring-jaring kesyirikan.


وَطَهَارَتُهُ مِنْهُ بِضِدِّهِ وَهُوَ: نُورُ التَّوْحِيدِ الَّذِي يَقْذِفُهُ الْحَقُّ تَعَالَى فِي قَلْبِهِ فَتَطْمَئِنُّ بِذَلِكَ نَفْسُهُ وَتَسْكُنُ عَنِ الشَّرَهِ وَالطَّيْشِ الَّذِي أَصَابَهَا.

Dan kesucian hati dari kesyirikan itu adalah dengan kebalikannya, yaitu: cahaya tauhid yang dialirkan oleh Al-Haqq (Allah) Ta'ala ke dalam hatinya, sehingga dengan demikian jiwanya menjadi tenteram serta tenang dari ketamakan dan kesetresan yang sempat menimpanya.


وَكُلَّمَا قَوِيَ نُورُ التَّوْحِيدِ فِي قَلْبِهِ كَانَ خَلَاصُهُ مِنَ الشِّرْكِ أَكْثَرَ فَتُحْمَى عَنْهُ الْأَسْبَابُ، وَيَثْبُتُ فِيهِ خَالِصُ التَّوْحِيدِ.

Dan setiap kali cahaya tauhid semakin menguat di dalam hatinya, maka kebebasannya dari belenggu kesyirikan akan menjadi lebih sempurna, sehingga sebab-sebab lahiriah tersaring dari hatinya, dan tertanamlah tauhid yang murni di dalam dirinya.


فَإِذَا تَطَهَّرَ الْعَبْدُ مِنَ الشَّكِّ وَالشِّرْكِ تَوَلَّاهُ اللهُ تَعَالَى بِالْهِدَايَةِ وَالتَّسْدِيدِ، وَالْمَعُونَةِ وَالتَّأْيِيدِ.

Maka apabila seorang hamba telah suci dari keraguan dan kesyirikan, Allah Ta'ala akan mengurusnya langsung dengan hidayah dan bimbingan, serta bantuan dan penguatan.


وَفِي أَخْبَارِ دَاوُدَ عَلَيْهِ وَعَلَى نَبِيِّنَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيْهِ: "يَا دَاوُدُ هَلْ تَدْرِي مَتَى أَتَوَلَّاهُمْ: إِذَا طَهَّرُوا قُلُوبَهُمْ مِنَ الشِّرْكِ وَنَزَعُوا مِنْ قُلُوبِهِمُ الشَّكَّ، وَعَلِمُوا أَنَّ لِي جَنَّةً وَنَارًا، وَأَنِّي أُحْيِي وَأُمِيتُ، وَأَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ، وَأَنِّي لَمْ أَتَّخِذْ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا".

Dan di dalam riwayat-riwayat tentang Nabi Dawud—'alaihi wa 'ala nabiyyinas shalatu was salam—disebutkan sesungguhnya Allah mewahyukan kepadanya: "Wahai Dawud, tahukah engkau kapan Aku mengurus langsung urusan mereka: yaitu apabila mereka telah menyucikan hati mereka dari kesyirikan dan mencabut keraguan dari hati mereka, serta meyakini bahwa Aku memiliki surga dan neraka, dan bahwa Aku yang menghidupkan serta mematikan, dan membangkitkan siapa pun yang ada di dalam kubur, serta bahwa Aku tidak mengambil istri maupun anak.


فَإِنْ تَوَفَّيْتُهُمْ بِيَسِيرٍ مِنَ الْعَمَلِ وَهُمْ يُوقِنُونَ بِذَلِكَ، جَعَلْتُهُ عَظِيمًا عِنْدَهُمْ.

Maka jika Aku mewafatkan mereka dengan amal yang sedikit sedangkan mereka dalam keadaan meyakini hal tersebut, niscaya Aku akan menjadikan amal yang sedikit itu bernilai besar di sisi mereka.


هَلْ تَدْرِي يَا دَاوُدُ مَنْ أَسْرَعُ مَرًّا عَلَى الصِّرَاطِ؟ الَّذِينَ يَرْضَوْنَ بِحُكْمِي، وَأَلْسِنَتُهُمْ رَطْبَةٌ مِنْ ذِكْرِي.

Tahukah engkau wahai Dawud, siapakah orang yang paling cepat menyeberangi jembatan siroth? Mereka adalah orang-orang yang rida terhadap ketetapan-Ku, dan lidah mereka senantiasa basah karena berzikir mengingat-Ku.


هَلْ تَدْرِي يَا دَاوُدُ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَعْظَمُ مَنْزِلَةً عِنْدِي؟ الَّذِي هُوَ بِمَا أُعْطِيَ أَشَدُّ فَرَحًا بِمَا حُبِسَ.

Tahukah engkau wahai Dawud, siapakah di antara orang-orang mukmin yang paling agung kedudukannya di sisi-Ku? Yaitu orang yang terhadap apa yang diberikan kepadanya (berupa karunia spiritual), ia merasa jauh lebih gembira daripada apa yang ditahan (berupa kemewahan duniawi) darinya.


هَلْ تَدْرِي يَا دَاوُدُ أَيُّ الْفُقَرَاءِ أَفْضَلُ؟ الَّذِينَ يَرْضَوْنَ بِحُكْمِي وَبِقِسْمَتِي، وَيَحْمَدُونَنِي عَلَى مَا أَنْعَمْتُ عَلَيْهِمْ مِنَ الْمَعَاشِ،. (حِلْيَةُ الْأَوْلِيَاءِ).

Tahukah engkau wahai Dawud, siapakah di antara orang-orang fakir yang paling utama? Yaitu mereka yang rida terhadap ketetapan-Ku dan bagian yang Aku berikan, serta mereka senantiasa memuji-Ku atas apa yang Aku nikmatkan kepada mereka berupa sarana penghidupan. (Kitab Hilyat al-Auliya').

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More