Munajat 1
قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:
01 – إِلٰهِي أَنَا الْفَقِيرُ فِي غِنَايَ، فَكَيْفَ لَا أَكُونُ فَقِيرًا فِي فَقْرِي؟ إِلٰهِي أَنَا الْجَاهِلُ فِي عِلْمِي، فَكَيْفَ لَا أَكُونُ جَهُولًا فِي جَهْلِي؟
Wahai Tuhanku, aku adalah seorang fakir bahkan dalam keadaanku yang berkecukupan, maka bagaimana mungkin aku tidak menjadi fakir dalam kefakiranku? Wahai Tuhanku, aku adalah orang bodoh bahkan dalam ilmuku, maka bagaimana mungkin aku tidak menjadi sangat bodoh dalam kebodohanku?
Syarah Syaikh Ibnu Abbad Ar-Rundi
الْعَبْدُ مَوْصُوفٌ بِصِفَاتِ النَّقْصِ، وَهِيَ ذَاتِيَّةٌ لَهُ.
Seorang hamba disifati dengan sifat-sifat kekurangan, dan sifat-sifat itu melekat pada hakikat dirinya.
وَالْكَمَالُ الْعَارِضُ لَهُ وَالْمَنْسُوبُ إِلَيْهِ نُقْصَانٌ عَلَى التَّحْقِيقِ.
Sedangkan kesempurnaan yang datang kepadanya dan dinisbatkan kepadanya, pada hakikatnya tetaplah merupakan kekurangan.
وَمِنْ ثَمَّ كَانَ مَا ذَكَرَهُ الْمُؤَلِّفُ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى –
Oleh karena itu, apa yang disebutkan oleh sang penulis—semoga Allah Ta‘ala merahmatinya—
مِنْ كَوْنِهِ فَقِيرًا فِي غِنَاهُ، وَجَاهِلًا فِي عِلْمِهِ، صَحِيحًا مُسْتَقِيمًا،
bahwa dirinya fakir dalam kecukupannya dan bodoh dalam ilmunya adalah benar dan lurus,
وَكَأَنَّهُ قَصَدَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – بِهٰذَا الِاعْتِرَافِ دَوَامَ الِاضْطِرَارِ،
dan seakan-akan beliau—radhiyallahu ‘anhu—dengan pengakuan ini bermaksud menyatakan keterpaksaan yang terus-menerus,
وَلُزُومَ الْفَاقَةِ وَالِافْتِقَارِ،
serta keharusan berada dalam keadaan fakir dan membutuhkan,
وَأَنَّهُ لَا اسْتِغْنَاءَ لَهُ عَنْ مَوْلَاهُ عَزَّ وَجَلَّ،
dan bahwa tidak ada baginya sedikit pun kemandirian dari Tuhannya Azza wa Jalla.
وَلَا يَنْفَكُّ مِنَ الِاحْتِيَاجِ إِلَيْهِ وَالتَّعَلُّقِ بِهِ،
dan ia tidak pernah lepas dari kebutuhan dan ketergantungan kepada-Nya,
وَالسُّؤَالِ وَالطَّلَبِ مِنْهُ فِي كُلِّ حَالٍ مِنْ أَحْوَالِهِ،
serta dari meminta dan memohon kepada-Nya dalam setiap keadaan yang ia alami,
كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ:
sebagaimana dikatakan oleh sebagian mereka:
إِنِّي إِلَيْكَ مَدَى الْأَنْفَاسِ مُحْتَاجٌ
لَوْ كَانَ فِي مَفْرِقِي الْإِكْلِيلُ وَالتَّاجُ
“Sesungguhnya aku membutuhkan-Mu sepanjang hela nafasku,
meskipun di kepalaku tersemat mahkota dan perhiasan.”
وَهٰذَا مِنْهُ دَلِيلٌ عَلَى تَحَقُّقِهِ فِي مَقَامِ الْعُبُودِيَّةِ،
Dan hal ini darinya merupakan bukti bahwa ia telah merealisasikan maqam kehambaan,
الَّتِي اقْتَضَتْهَا عَظَمَةُ الرُّبُوبِيَّةِ.
yang dituntut oleh keagungan ketuhanan.
وَتَقْدِيمُهُ لِهٰذِهِ الْمَعَانِي بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِهِ وَمُنَاجَاتِهِ فِي غَايَةِ الْحُسْنِ.
Mendahulukan makna-makna ini sebelum doa dan munajatnya adalah sesuatu yang sangat indah.
قَالَ سَيِّدِي أَبُو الْحَسَنِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
Sayyidi Abu al-Hasan radhiyallahu ‘anhu berkata:
«مَا طَلَبْتُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِلَّا وَقَدَّمْتُ إِسَاءَتِي أَمَامِي».
“Aku tidak pernah meminta sesuatu kepada Allah kecuali aku mendahulukan keburukan diriku di hadapanku.”
يُرِيدُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
Yang beliau maksud—radhiyallahu ‘anhu—adalah:
لَا يَطْلُبُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا بِوَصْفٍ يَسْتَحِقُّ بِهِ الْعَطَاءَ،
ia tidak meminta sesuatu kepada Allah dengan sifat yang membuatnya layak menerima pemberian,
بَلْ لَا يَكُونُ طَلَبُهُ وُجُودَ فَضْلِهِ إِلَّا بِفَضْلِهِ.
bahkan permintaannya terhadap limpahan karunia Allah pun semata-mata karena karunia Allah itu sendiri.
وَقَالَ أَبُو عُثْمَانَ، رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ،
Abu ‘Utsman radhiyallahu Ta‘ala ‘anhu berkata,
فِي قَوْلِهِ تَعَالَى:
dalam penafsiran firman Allah Ta‘ala:
﴿ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً﴾ [الأَعْرَافِ: ٥٥]
“Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan penuh kerendahan dan secara tersembunyi.” (al-A‘raf: 55)
التَّضَرُّعُ فِي الدُّعَاءِ:أَنْ لَا تُقَدِّمَ إِلَيْهِ أَفْعَالَكَ،
Makna tadharru‘ dalam doa adalah: engkau tidak mendahulukan amal-amalmu kepada-Nya,
وَصَلَوَاتِكَ وَصِيَامَكَ وَقِيَامَكَ وَقِرَاءَتَكَ،
baik salat, puasa, qiyam, maupun bacaanmu,
ثُمَّ تَدْعُو عَلَى أَثَرِهِ،
kemudian baru berdoa setelah itu,
إِنَّمَا التَّضَرُّعُ أَنْ تُقَدِّمَ إِلَيْهِ افْتِقَارَكَ،
melainkan tadharru‘ itu adalah engkau mendahulukan kefakiranmu,
وَعَجْزَكَ وَضَرُورَتَكَ وَفَاقَتَكَ، وَقِلَّةَ حِيلَتِكَ،
kelemahanmu, kebutuhanmu, dan kefakiranmu,
serta sedikitnya daya dan upayamu,
ثُمَّ تَدْعُو بِلَا عِلَاقَةٍ وَلَا سَبَبٍ، فَيُرْفَعُ دُعَاؤُكَ.
kemudian engkau berdoa tanpa sandaran dan sebab apa pun, maka doamu akan diangkat.
وَقَالَ الْوَاسِطِيُّ، رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ:
Al-Wasithi radhiyallahu Ta‘ala ‘anhu berkata:
«تَضَرُّعًا: بِذُلِّ الْعُبُودِيَّةِ وَخَلْعِ الِاسْتِطَالَةِ».
“Tadharru‘ adalah merendahkan diri dengan kehambaan dan menanggalkan perasaan lebih dan merasa berjasa.”
وَقَالَ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
Sahl bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata:
«مَا أَظْهَرَ عَبْدٌ فَقْرَهُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَىٰ فِي وَقْتِ الدُّعَاءِ، فِي شَيْءٍ يَحِلُّ بِهِ،
“Tidaklah seorang hamba menampakkan kefakirannya kepada Allah Ta‘ala saat berdoa, dalam suatu perkara yang menimpanya,
إِلَّا قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ : لَوْلَا أَنَّهُ لَا يَحْتَمِلُ كَلَامِي لَأَجَبْتُهُ: لَبَّيْكَ».
kecuali Allah berfirman kepada para malaikat-Nya: “Seandainya ia mampu menanggung firman-Ku, niscaya Aku akan menjawabnya: ‘Aku penuhi panggilanmu.’”
Munajat 2:
قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:
02 – إِلٰهِي إِنَّ اخْتِلَافَ تَدْبِيرِكَ، وَسُرْعَةَ حُلُولِ مَقَادِيرِكَ، مَنَعَا عِبَادَكَ الْعَارِفِينَ بِكَ عَنِ السُّكُونِ إِلَىٰ عَطَاءٍ، وَالْيَأْسِ مِنْكَ فِي بَلَاءٍ.
Wahai Tuhanku, sesungguhnya perbedaan dalam pengaturan-Mu, dan cepatnya datang ketentuan-ketentuan-Mu, telah menghalangi hamba-hamba-Mu yang mengenal-Mu dari bersandar tenang kepada suatu pemberian, dan dari berputus asa kepada-Mu ketika berada dalam cobaan.
Syarah:
تَلْوِينُ الْأَحْكَامِ عَلَى الْعِبَادِ، يَقْتَضِي أَنْ لَا يُسَاكِنُوا حَالًا سَارَّةً يَكُونُونَ عَلَيْهَا،
Pergantian berbagai ketetapan terhadap para hamba, menuntut agar mereka tidak menetap tenang pada satu keadaan menyenangkan yang sedang mereka alami,
وَلَا يَيْأَسُوا فِي حَالٍ ضَارَّةٍ تَنْزِلُ بِهِمْ، مِنْ وُجُودِ الْفَرَحِ وَالرَّاحَةِ.
dan agar mereka tidak berputus asa dalam keadaan menyulitkan yang menimpa mereka, baik karena adanya kegembiraan maupun kenyamanan.
وَهٰذَا مَحْضُ تَعَلُّقٍ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَهُوَ نَعْتُ الْعَارِفِينَ.
Dan ini adalah keterikatan yang murni kepada Allah Azza wa Jalla, dan inilah sifat orang-orang yang arif (mengenal Allah).
Munajat 3:
قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:
03 – إِلٰهِي مِنِّي مَا يَلِيقُ بِلُؤْمِي، وَمِنْكَ مَا يَلِيقُ بِكَرَمِكَ.
Wahai Tuhanku, dariku muncul apa yang sesuai dengan kehinaanku, dan dari-Mu muncul apa yang sesuai dengan kemuliaan dan kedermawanan-Mu.
Syarah:
لُؤْمُ الْعَبْدِ الَّذِي رُكِّبَ عَلَيْهِ، يَقْتَضِي مِنْهُ مُبَارَزَةَ مَوْلَاهُ بِالْعَظَائِمِ وَالْكَبَائِرِ.
Kehinaan hamba yang telah melekat pada dirinya,
menyebabkannya berani menentang Tuhannya dengan dosa-dosa besar dan pelanggaran berat.
وَكَرَمُ الْمَوْلَى الَّذِي هُوَ مُتَّصِفٌ بِهِ، يَقْتَضِي مِنْهُ التَّجَاوُزَ وَالْعَفْوَ عَنْ عَبْدِهِ، وَقَبُولَ عُذْرِهِ.
Sedangkan kemurahan Sang Tuan yang menjadi sifat-Nya, menuntut-Nya untuk melampaui kesalahan dan memaafkan hamba-Nya, serta menerima alasan dan pengakuannya.
وَهٰذَا الْكَلَامُ مِنْ أَلْطَفِ وُجُوهِ السُّؤَالِ وَالرَّغْبَةِ، وَهُوَ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ.
Ungkapan ini termasuk bentuk permohonan dan harapan yang paling halus, dan ia merupakan bagian dari adab dalam berdoa.
يُحْكَى أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِبَعْضِ الْأَنْبِيَاءِ، عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ:
Dikisahkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada salah seorang nabi—shalawat dan salam atas mereka—:
قُلْ لَهُ: كَمْ أُخَالِفُهُ وَأَعْصِيهِ، وَهُوَ لَا يُعَاقِبُنِي!
“Sampaikan kepada-Nya: betapa sering aku menyelisihi dan mendurhakai-Nya, namun Dia tidak menghukumku!”
فَأَوْحَى اللَّهُ تَعَالَىٰ إِلَىٰ ذٰلِكَ النَّبِيِّ:
Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada nabi tersebut:
قُلْ لِفُلَانٍ: لِتَعْلَمَ أَنِّي أَنَا، وَأَنْتَ أَنْتَ.
“Katakan kepada si fulan: agar engkau mengetahui bahwa Aku adalah Aku, dan engkau adalah engkau.”
Munajat 4:
قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:
04) – إِلٰهِي وَصَفْتَ نَفْسَكَ بِاللُّطْفِ وَالرَّأْفَةِ بِي قَبْلَ وُجُودِ ضَعْفِي، أَفَتَمْنَعُنِي مِنْهُمَا بَعْدَ وُجُودِ ضَعْفِي؟
Wahai Tuhanku, Engkau telah mensifati diri-Mu dengan kelembutan dan kasih sayang kepadaku sebelum adanya kelemahanku, maka apakah Engkau akan menghalangiku dari keduanya setelah nyata kelemahanku?
Syarah:
اللُّطْفُ وَالرَّأْفَةُ وَصْفَانِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،
Lembut (al-luṭf) dan kasih sayang (ar-ra’fah) adalah dua sifat Allah Azza wa Jalla,
اتَّصَفَ بِهِمَا فِي الْأَزَلِ قَبْلَ وُجُودِ ضَعْفِ الْعَبْدِ وَفَاقَتِهِ وَحَاجَتِهِ.
yang telah Dia sandangkan pada diri-Nya sejak azali, sebelum adanya kelemahan, kefakiran, dan kebutuhan hamba.
وَهُمَا مُقْتَضِيَانِ لِوُجُودِ آثَارِهِمَا فِيمَا لَا يَزَالُ بَعْدَ وُجُودِ ذَاتِ الْعَبْدِ وَصِفَاتِهِ.
Kedua sifat itu meniscayakan adanya pengaruh-pengaruhnya secara terus-menerus setelah adanya diri hamba dan sifat-sifatnya.
هِيَ إِسْبَاغُ نِعَمِهِ عَلَيْهِ، وَإِيصَالُ أَفْضَالِهِ إِلَيْهِ،
yaitu melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya dan menyampaikan keutamaan-keutamaan-Nya kepadanya,
فَكَيْفَ يُتَصَوَّرُ إِذْ ذَاكَ مَنْعُهُ إِيَّاهُمَا؟
maka bagaimana mungkin pada saat itu dapat dibayangkan Dia akan menahan kedua sifat tersebut darinya?
Munajat 5:
قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:
05 – إِلٰهِي، إِنْ ظَهَرَتِ الْمَحَاسِنُ مِنِّي فَبِفَضْلِكَ، وَلَكَ الْمِنَّةُ عَلَيَّ، وَإِنْ ظَهَرَتِ الْمَسَاوِئُ فَبِعَدْلِكَ، وَلَكَ الْحُجَّةُ عَلَيَّ.
Wahai Tuhanku, bila kebaikan tampak dariku, maka itu karena karunia-Mu, dan bagi-Mu segala anugerah atasku, dan bila keburukan tampak dariku, maka itu karena keadilan-Mu, dan Engkau memiliki hujjah atasku.
Syarah:
ظُهُورُ الْمَحَاسِنِ عَلَى الْعَبْدِ، وَهِيَ أَنْوَاعُ الطَّاعَاتِ وَالْحَسَنَاتِ وَالصِّفَاتِ الْمَحْمُودَاتِ،
Tampaknya kebaikan pada diri seorang hamba, yaitu berbagai bentuk ketaatan, kebaikan, dan sifat-sifat terpuji,
فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، وَالْمِنَّةُ لَهُ عَلَيْهِ لِعَدَمِ اسْتِحْقَاقِهِ ذٰلِكَ.
adalah karunia dari Allah Ta‘ala, dan anugerah itu sepenuhnya milik-Nya, karena hamba tidak berhak atasnya.
وَظُهُورُ الْمَسَاوِئِ مِنْهُ، وَهِيَ: ضُرُوبُ الْمَعَاصِي، وَالسَّيِّئَاتِ، وَالْأَوْصَافِ الْمَذْمُومَاتِ، عَدْلٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى؛
Adapun tampaknya keburukan darinya,
yaitu berbagai jenis maksiat, dosa, dan sifat-sifat tercela, itu adalah keadilan dari Allah Ta‘ala,
إِذْ لَهُ أَنْ يَفْعَلَ مَا يَشَاءُ بِعَبْدِهِ، وَالْحُجَّةُ لَهُ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ رَبٌّ وَهُوَ عَبْدٌ.
karena Dia berhak melakukan apa saja terhadap hamba-Nya, dan hujjah sepenuhnya milik-Nya, sebab Dia adalah Tuhan dan hamba hanyalah hamba.
وَمُنَاجَاةُ الْعَبْدِ لِمَوْلَاهُ بِهٰذَا الْكَلَامِ مِنْ أَحْسَنِ الْمُنَاجَاةِ،
Munajat seorang hamba kepada Tuhannya dengan ungkapan ini termasuk munajat yang paling indah,
وَهِيَ مُقْتَضِيَةٌ لِوُجُودِ إِسْعَافِهِ لَهُ، وَمُوَالَاةِ أَلْطَافِهِ عَلَيْهِ، لِمَا فِيهَا مِنَ الثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى عَلَىٰ بِسَاطِ قُرْبِهِ،
dan sangat berpeluang menghadirkan pertolongan-Nya serta kesinambungan kelembutan-Nya kepadanya, karena di dalamnya terdapat pujian kepada Allah Ta‘ala di hamparan kedekatan-Nya,
وَذِكْرِ صِفَاتِهِ الْعُلْيَا، وَالتَّعَلُّقِ بِهَا،
penyebutan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi, dan keterikatan dengannya,
وَالِاعْتِرَافِ لَهُ بِالنِّعَمِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ،
serta pengakuan atas nikmat-nikmat lahir dan batin dari-Nya,
وَلِمَا فِيهَا أَيْضًا مِنْ رُؤْيَةِ ضَعْفِ النَّفْسِ،
dan juga karena di dalamnya terdapat kesadaran akan kelemahan jiwa,
وَالْإِقْرَارِ عَلَيْهَا بِالنَّقْصِ وَالْقُصُورِ،
pengakuan atas kekurangan dan ketidakmampuannya,
وَإِنْزَالِهَا مَنْزِلَتَهَا مِنَ الذُّلَّةِ وَالْمَهَانَةِ.
serta menempatkannya pada posisi kehinaan dan kerendahan yang semestinya.
وَقَدْ قَالَ بَعْضُهُمْ: تَعَلَّقَ شَابٌّ بِأَسْتَارِ الْكَعْبَةِ وَقَالَ:
Sebagian mereka berkata: seorang pemuda berpegang pada kain penutup Ka‘bah lalu berkata:
إِلٰهِي، لَا لَكَ شَرِيكٌ فَيُؤْتَى، وَلَا وَزِيرَ لَكَ فَيُرْشَى، إِنْ أَطَعْتُكَ فَبِفَضْلِكَ وَلَكَ الْمِنَّةُ عَلَيَّ،
Wahai Tuhanku, tidak ada sekutu bagi-Mu sehingga dapat diberi (suap), dan tidak ada pembantu bagi-Mu sehingga dapat disogok, jika aku taat kepada-Mu, maka itu karena karunia-Mu dan anugerah-Mu atasku,
وَإِنْ عَصَيْتُكَ فَبِعَدْلِكَ وَلَكَ الْحُجَّةُ عَلَيَّ، فَبِإِثْبَاتِ حُجَّتِكَ عَلَيَّ،
jika aku bermaksiat kepada-Mu, maka itu karena keadilan-Mu dan hujjah sepenuhnya milik-Mu, maka dengan tetapnya hujjah-Mu atasku,
وَانْقِطَاعِ حُجَّتِي لَدَيْكَ إِلَّا مَا غَفَرْتَ لِي، فَسَمِعَ هَاتِفًا يَقُولُ: «الْفَتَى عَتِيقٌ مِنَ النَّارِ».
dan terputusnya hujjahku di hadapan-Mu kecuali ampunan-Mu, maka terdengarlah suara yang berkata: “Pemuda itu telah dibebaskan dari neraka.”
Munajat 6:
قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:
-6 إِلٰهِي، كَيْفَ تَكِلُنِي إِلَىٰ نَفْسِي وَقَدْ تَوَكَّلْتُ عَلَيْكَ، وَكَيْفَ أُضَامُ وَأَنْتَ النَّاصِرُ لِي، أَمْ كَيْفَ أَخِيبُ وَأَنْتَ الْحَفِيُّ بِي؟
Wahai Tuhanku, bagaimana Engkau menyerahkanku kepada diriku sendiri padahal aku telah bertawakal kepada-Mu,
dan bagaimana aku terzalimi sementara Engkau adalah penolongku, atau bagaimana aku akan gagal sementara Engkau Maha Lembut kepadaku?
Syarah:
الْوَكِيلُ، وَالنَّاصِرُ، وَالْحَفِيُّ: أَسْمَاءٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،
Al-Wakīl, An-Nāṣir, dan Al-Ḥafiyy adalah nama-nama Allah Azza wa Jalla
وَهِيَ مُقْتَضِيَةٌ لِوُجُودِ آثَارِهَا، مِنْ وُجُودِ الْكِفَايَةِ وَالْمَنْعَةِ،
yang meniscayakan hadirnya dampak-dampaknya,
berupa kecukupan dan perlindungan,
وَالظَّفَرِ بِغَايَةِ الْمَقْصُودِ وَالْبُغْيَةِ، فَكَيْفَ يُتَصَوَّرُ انْفِكَاكُ ذٰلِكَ عَنِ الْعَبْدِ عِنْدَ وُجُودِ حَاجَتِهِ،
serta tercapainya tujuan dan harapan tertinggi,
maka bagaimana mungkin semua itu terpisah dari seorang hamba saat ia berada dalam kebutuhan,
كَمَا تَقَدَّمَ فِي اللُّطْفِ وَالرَّأْفَةِ.
sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan tentang kelembutan dan kasih sayang.
الرَّأْفَةُ: أَرَقُّ الرَّحْمَةِ وَمِنَ اللَّهِ: دَفْعُ السُّوءِ
Ra’fah adalah bentuk kasih sayang yang paling halus. Dari Allah, maknanya adalah menolak keburukan.
الضَّيْمُ: انْتِقَاصُ الْحَقِّ
Ḍaym berarti pengurangan atau penzhaliman hak.
الْحَفِيُّ: اللَّطِيفُ
Al-Ḥafiyy berarti Yang Maha Lembut.
وَلُطْفُهُ بِعَبْدِهِ: عِلْمُهُ بِدَقَائِقِ مَصَالِحِهِ وَخَفِيَّاتِ مَآرِبِهِ،
Dan kelembutan Allah kepada hamba-Nya adalah pengetahuan-Nya terhadap hal-hal yang sangat halus dari kemaslahatan hamba serta kebutuhan-kebutuhannya yang tersembunyi.
وَإِيصَالُ ذٰلِكَ إِلَيْهِ بِرِفْقٍ،
Dan penyampaian semua itu kepada hamba tersebut dengan penuh kelembutan.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ﴾ [الشورى: ١٩]
Dan Allah Ta'ala berfirman: “Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Asy-Syūrā: 19)
Munajat 7:
قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:
.........................