Kamis, 16 April 2026

Adab dan Amal Batin Haji (on progress)


 الْبَابُ الثَّالِثُ فِي الْآدَابِ الدَّقِيقَةِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ

(Bab ketiga tentang adab-adab yang halus dan amalan batin)

Senin, 13 April 2026

Shalawat Nuridzati

 



"Ya Rabb, berikanlah rahmat keselamatan dan berkah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. (Beliau) merupakan cahaya Dzat (Allah) dan merupakan rahasia yang mengalir pada seluruh nama dan sifat dan berikanlah pula salam sejahtera, barokah atas keluarga dan para sahabatnya."

Munajat Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Kitab Al-Hikam (on progress)

Munajat 1 

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:

01 – إِلٰهِي أَنَا الْفَقِيرُ فِي غِنَايَ، فَكَيْفَ لَا أَكُونُ فَقِيرًا فِي فَقْرِي؟ إِلٰهِي أَنَا الْجَاهِلُ فِي عِلْمِي، فَكَيْفَ لَا أَكُونُ جَهُولًا فِي جَهْلِي؟

Wahai Tuhanku, aku adalah seorang fakir bahkan dalam keadaanku yang berkecukupan, maka bagaimana mungkin aku tidak menjadi fakir dalam kefakiranku? Wahai Tuhanku, aku adalah orang bodoh bahkan dalam ilmuku, maka bagaimana mungkin aku tidak menjadi sangat bodoh dalam kebodohanku?


Syarah Syaikh Ibnu Abbad Ar-Rundi


الْعَبْدُ مَوْصُوفٌ بِصِفَاتِ النَّقْصِ، وَهِيَ ذَاتِيَّةٌ لَهُ.

Seorang hamba disifati dengan sifat-sifat kekurangan, dan sifat-sifat itu melekat pada hakikat dirinya.


وَالْكَمَالُ الْعَارِضُ لَهُ وَالْمَنْسُوبُ إِلَيْهِ نُقْصَانٌ عَلَى التَّحْقِيقِ.

Sedangkan kesempurnaan yang datang kepadanya dan dinisbatkan kepadanya, pada hakikatnya tetaplah merupakan kekurangan.

وَمِنْ ثَمَّ كَانَ مَا ذَكَرَهُ الْمُؤَلِّفُ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى –

Oleh karena itu, apa yang disebutkan oleh sang penulis—semoga Allah Ta‘ala merahmatinya—

مِنْ كَوْنِهِ فَقِيرًا فِي غِنَاهُ، وَجَاهِلًا فِي عِلْمِهِ، صَحِيحًا مُسْتَقِيمًا،

bahwa dirinya fakir dalam kecukupannya dan bodoh dalam ilmunya adalah benar dan lurus,

وَكَأَنَّهُ قَصَدَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – بِهٰذَا الِاعْتِرَافِ دَوَامَ الِاضْطِرَارِ،

dan seakan-akan beliau—radhiyallahu ‘anhu—dengan pengakuan ini bermaksud menyatakan keterpaksaan yang terus-menerus,


وَلُزُومَ الْفَاقَةِ وَالِافْتِقَارِ،

serta keharusan berada dalam keadaan fakir dan membutuhkan,


وَأَنَّهُ لَا اسْتِغْنَاءَ لَهُ عَنْ مَوْلَاهُ عَزَّ وَجَلَّ،

dan bahwa tidak ada baginya sedikit pun kemandirian dari Tuhannya Azza wa Jalla.


وَلَا يَنْفَكُّ مِنَ الِاحْتِيَاجِ إِلَيْهِ وَالتَّعَلُّقِ بِهِ،

dan ia tidak pernah lepas dari kebutuhan dan ketergantungan kepada-Nya,


وَالسُّؤَالِ وَالطَّلَبِ مِنْهُ فِي كُلِّ حَالٍ مِنْ أَحْوَالِهِ،

serta dari meminta dan memohon kepada-Nya dalam setiap keadaan yang ia alami,


كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ:

sebagaimana dikatakan oleh sebagian mereka:


إِنِّي إِلَيْكَ مَدَى الْأَنْفَاسِ مُحْتَاجٌ

لَوْ كَانَ فِي مَفْرِقِي الْإِكْلِيلُ وَالتَّاجُ

“Sesungguhnya aku membutuhkan-Mu sepanjang hela nafasku,

meskipun di kepalaku tersemat mahkota dan perhiasan.”


وَهٰذَا مِنْهُ دَلِيلٌ عَلَى تَحَقُّقِهِ فِي مَقَامِ الْعُبُودِيَّةِ،

Dan hal ini darinya merupakan bukti bahwa ia telah merealisasikan maqam kehambaan,


الَّتِي اقْتَضَتْهَا عَظَمَةُ الرُّبُوبِيَّةِ.

yang dituntut oleh keagungan ketuhanan.


وَتَقْدِيمُهُ لِهٰذِهِ الْمَعَانِي بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِهِ وَمُنَاجَاتِهِ فِي غَايَةِ الْحُسْنِ.

Mendahulukan makna-makna ini sebelum doa dan munajatnya adalah sesuatu yang sangat indah.


قَالَ سَيِّدِي أَبُو الْحَسَنِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Sayyidi Abu al-Hasan radhiyallahu ‘anhu berkata:


«مَا طَلَبْتُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِلَّا وَقَدَّمْتُ إِسَاءَتِي أَمَامِي».

“Aku tidak pernah meminta sesuatu kepada Allah kecuali aku mendahulukan keburukan diriku di hadapanku.”


يُرِيدُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Yang beliau maksud—radhiyallahu ‘anhu—adalah:


لَا يَطْلُبُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا بِوَصْفٍ يَسْتَحِقُّ بِهِ الْعَطَاءَ،

ia tidak meminta sesuatu kepada Allah dengan sifat yang membuatnya layak menerima pemberian,


بَلْ لَا يَكُونُ طَلَبُهُ وُجُودَ فَضْلِهِ إِلَّا بِفَضْلِهِ.

bahkan permintaannya terhadap limpahan karunia Allah pun semata-mata karena karunia Allah itu sendiri.


وَقَالَ أَبُو عُثْمَانَ، رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ،

Abu ‘Utsman radhiyallahu Ta‘ala ‘anhu berkata,


فِي قَوْلِهِ تَعَالَى:

dalam penafsiran firman Allah Ta‘ala:


﴿ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً﴾ [الأَعْرَافِ: ٥٥]

“Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan penuh kerendahan dan secara tersembunyi.” (al-A‘raf: 55)


التَّضَرُّعُ فِي الدُّعَاءِ:أَنْ لَا تُقَدِّمَ إِلَيْهِ أَفْعَالَكَ،

Makna tadharru‘ dalam doa adalah: engkau tidak mendahulukan amal-amalmu kepada-Nya,


وَصَلَوَاتِكَ وَصِيَامَكَ وَقِيَامَكَ وَقِرَاءَتَكَ،

baik salat, puasa, qiyam, maupun bacaanmu,


ثُمَّ تَدْعُو عَلَى أَثَرِهِ،

kemudian baru berdoa setelah itu,


إِنَّمَا التَّضَرُّعُ أَنْ تُقَدِّمَ إِلَيْهِ افْتِقَارَكَ،

melainkan tadharru‘ itu adalah engkau mendahulukan kefakiranmu,


وَعَجْزَكَ وَضَرُورَتَكَ وَفَاقَتَكَ، وَقِلَّةَ حِيلَتِكَ،

kelemahanmu, kebutuhanmu, dan kefakiranmu,

serta sedikitnya daya dan upayamu,


ثُمَّ تَدْعُو بِلَا عِلَاقَةٍ وَلَا سَبَبٍ، فَيُرْفَعُ دُعَاؤُكَ.

kemudian engkau berdoa tanpa sandaran dan sebab apa pun, maka doamu akan diangkat.


وَقَالَ الْوَاسِطِيُّ، رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ:

Al-Wasithi radhiyallahu Ta‘ala ‘anhu berkata:


«تَضَرُّعًا: بِذُلِّ الْعُبُودِيَّةِ وَخَلْعِ الِاسْتِطَالَةِ».

“Tadharru‘ adalah merendahkan diri dengan kehambaan dan menanggalkan perasaan lebih dan merasa berjasa.”


وَقَالَ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Sahl bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata:


«مَا أَظْهَرَ عَبْدٌ فَقْرَهُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَىٰ فِي وَقْتِ الدُّعَاءِ، فِي شَيْءٍ يَحِلُّ بِهِ،

“Tidaklah seorang hamba menampakkan kefakirannya kepada Allah Ta‘ala saat berdoa, dalam suatu perkara yang menimpanya,


إِلَّا قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ : لَوْلَا أَنَّهُ لَا يَحْتَمِلُ كَلَامِي لَأَجَبْتُهُ: لَبَّيْكَ».

kecuali Allah berfirman kepada para malaikat-Nya: “Seandainya ia mampu menanggung firman-Ku, niscaya Aku akan menjawabnya: ‘Aku penuhi panggilanmu.’”


Munajat 2:

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:


02 – إِلٰهِي إِنَّ اخْتِلَافَ تَدْبِيرِكَ، وَسُرْعَةَ حُلُولِ مَقَادِيرِكَ، مَنَعَا عِبَادَكَ الْعَارِفِينَ بِكَ عَنِ السُّكُونِ إِلَىٰ عَطَاءٍ، وَالْيَأْسِ مِنْكَ فِي بَلَاءٍ.

Wahai Tuhanku, sesungguhnya perbedaan dalam pengaturan-Mu, dan cepatnya datang ketentuan-ketentuan-Mu, telah menghalangi hamba-hamba-Mu yang mengenal-Mu dari bersandar tenang kepada suatu pemberian, dan dari berputus asa kepada-Mu ketika berada dalam cobaan.


Syarah:


تَلْوِينُ الْأَحْكَامِ عَلَى الْعِبَادِ، يَقْتَضِي أَنْ لَا يُسَاكِنُوا حَالًا سَارَّةً يَكُونُونَ عَلَيْهَا،

Pergantian berbagai ketetapan terhadap para hamba, menuntut agar mereka tidak menetap tenang pada satu keadaan menyenangkan yang sedang mereka alami,


وَلَا يَيْأَسُوا فِي حَالٍ ضَارَّةٍ تَنْزِلُ بِهِمْ، مِنْ وُجُودِ الْفَرَحِ وَالرَّاحَةِ.

dan agar mereka tidak berputus asa dalam keadaan menyulitkan yang menimpa mereka, baik karena adanya kegembiraan maupun kenyamanan.


وَهٰذَا مَحْضُ تَعَلُّقٍ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَهُوَ نَعْتُ الْعَارِفِينَ.

Dan ini adalah keterikatan yang murni kepada Allah Azza wa Jalla, dan inilah sifat orang-orang yang arif (mengenal Allah).


Munajat 3:

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:


03 – إِلٰهِي مِنِّي مَا يَلِيقُ بِلُؤْمِي، وَمِنْكَ مَا يَلِيقُ بِكَرَمِكَ.

Wahai Tuhanku, dariku muncul apa yang sesuai dengan kehinaanku, dan dari-Mu muncul apa yang sesuai dengan kemuliaan dan kedermawanan-Mu.

Syarah:

لُؤْمُ الْعَبْدِ الَّذِي رُكِّبَ عَلَيْهِ، يَقْتَضِي مِنْهُ مُبَارَزَةَ مَوْلَاهُ بِالْعَظَائِمِ وَالْكَبَائِرِ.

Kehinaan hamba yang telah melekat pada dirinya,
menyebabkannya berani menentang Tuhannya dengan dosa-dosa besar dan pelanggaran berat.

وَكَرَمُ الْمَوْلَى الَّذِي هُوَ مُتَّصِفٌ بِهِ، يَقْتَضِي مِنْهُ التَّجَاوُزَ وَالْعَفْوَ عَنْ عَبْدِهِ، وَقَبُولَ عُذْرِهِ.

Sedangkan kemurahan Sang Tuan yang menjadi sifat-Nya, menuntut-Nya untuk melampaui kesalahan dan memaafkan hamba-Nya, serta menerima alasan dan pengakuannya.

وَهٰذَا الْكَلَامُ مِنْ أَلْطَفِ وُجُوهِ السُّؤَالِ وَالرَّغْبَةِ، وَهُوَ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ.

Ungkapan ini termasuk bentuk permohonan dan harapan yang paling halus, dan ia merupakan bagian dari adab dalam berdoa.

يُحْكَى أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِبَعْضِ الْأَنْبِيَاءِ، عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ:

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada salah seorang nabi—shalawat dan salam atas mereka—:


قُلْ لَهُ: كَمْ أُخَالِفُهُ وَأَعْصِيهِ، وَهُوَ لَا يُعَاقِبُنِي!

“Sampaikan kepada-Nya: betapa sering aku menyelisihi dan mendurhakai-Nya, namun Dia tidak menghukumku!”

فَأَوْحَى اللَّهُ تَعَالَىٰ إِلَىٰ ذٰلِكَ النَّبِيِّ:

Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada nabi tersebut:

قُلْ لِفُلَانٍ: لِتَعْلَمَ أَنِّي أَنَا، وَأَنْتَ أَنْتَ.

“Katakan kepada si fulan: agar engkau mengetahui bahwa Aku adalah Aku, dan engkau adalah engkau.”

Munajat 4:

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:


04) – إِلٰهِي وَصَفْتَ نَفْسَكَ بِاللُّطْفِ وَالرَّأْفَةِ بِي قَبْلَ وُجُودِ ضَعْفِي، أَفَتَمْنَعُنِي مِنْهُمَا بَعْدَ وُجُودِ ضَعْفِي؟

Wahai Tuhanku, Engkau telah mensifati diri-Mu dengan kelembutan dan kasih sayang kepadaku sebelum adanya kelemahanku, maka apakah Engkau akan menghalangiku dari keduanya setelah nyata kelemahanku?

Syarah:

اللُّطْفُ وَالرَّأْفَةُ وَصْفَانِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،

Lembut (al-luṭf) dan kasih sayang (ar-ra’fah) adalah dua sifat Allah Azza wa Jalla,

اتَّصَفَ بِهِمَا فِي الْأَزَلِ قَبْلَ وُجُودِ ضَعْفِ الْعَبْدِ وَفَاقَتِهِ وَحَاجَتِهِ.

yang telah Dia sandangkan pada diri-Nya sejak azali, sebelum adanya kelemahan, kefakiran, dan kebutuhan hamba.


وَهُمَا مُقْتَضِيَانِ لِوُجُودِ آثَارِهِمَا فِيمَا لَا يَزَالُ بَعْدَ وُجُودِ ذَاتِ الْعَبْدِ وَصِفَاتِهِ.

Kedua sifat itu meniscayakan adanya pengaruh-pengaruhnya secara terus-menerus setelah adanya diri hamba dan sifat-sifatnya.

هِيَ إِسْبَاغُ نِعَمِهِ عَلَيْهِ، وَإِيصَالُ أَفْضَالِهِ إِلَيْهِ،

yaitu melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepadanya dan menyampaikan keutamaan-keutamaan-Nya kepadanya,


فَكَيْفَ يُتَصَوَّرُ إِذْ ذَاكَ مَنْعُهُ إِيَّاهُمَا؟

maka bagaimana mungkin pada saat itu dapat dibayangkan Dia akan menahan kedua sifat tersebut darinya?

Munajat 5:

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:

05 – إِلٰهِي، إِنْ ظَهَرَتِ الْمَحَاسِنُ مِنِّي فَبِفَضْلِكَ، وَلَكَ الْمِنَّةُ عَلَيَّ، وَإِنْ ظَهَرَتِ الْمَسَاوِئُ فَبِعَدْلِكَ، وَلَكَ الْحُجَّةُ عَلَيَّ.

Wahai Tuhanku, bila kebaikan tampak dariku, maka itu karena karunia-Mu, dan bagi-Mu segala anugerah atasku, dan bila keburukan tampak dariku, maka itu karena keadilan-Mu, dan Engkau memiliki hujjah atasku.

Syarah:

ظُهُورُ الْمَحَاسِنِ عَلَى الْعَبْدِ، وَهِيَ أَنْوَاعُ الطَّاعَاتِ وَالْحَسَنَاتِ وَالصِّفَاتِ الْمَحْمُودَاتِ،

Tampaknya kebaikan pada diri seorang hamba, yaitu berbagai bentuk ketaatan, kebaikan, dan sifat-sifat terpuji,


فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، وَالْمِنَّةُ لَهُ عَلَيْهِ لِعَدَمِ اسْتِحْقَاقِهِ ذٰلِكَ.

adalah karunia dari Allah Ta‘ala, dan anugerah itu sepenuhnya milik-Nya, karena hamba tidak berhak atasnya.

وَظُهُورُ الْمَسَاوِئِ مِنْهُ، وَهِيَ: ضُرُوبُ الْمَعَاصِي، وَالسَّيِّئَاتِ، وَالْأَوْصَافِ الْمَذْمُومَاتِ، عَدْلٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى؛

Adapun tampaknya keburukan darinya,
yaitu berbagai jenis maksiat, dosa, dan sifat-sifat tercela, itu adalah keadilan dari Allah Ta‘ala,

إِذْ لَهُ أَنْ يَفْعَلَ مَا يَشَاءُ بِعَبْدِهِ، وَالْحُجَّةُ لَهُ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ رَبٌّ وَهُوَ عَبْدٌ.

karena Dia berhak melakukan apa saja terhadap hamba-Nya, dan hujjah sepenuhnya milik-Nya, sebab Dia adalah Tuhan dan hamba hanyalah hamba.

وَمُنَاجَاةُ الْعَبْدِ لِمَوْلَاهُ بِهٰذَا الْكَلَامِ مِنْ أَحْسَنِ الْمُنَاجَاةِ،

Munajat seorang hamba kepada Tuhannya dengan ungkapan ini termasuk munajat yang paling indah,

وَهِيَ مُقْتَضِيَةٌ لِوُجُودِ إِسْعَافِهِ لَهُ، وَمُوَالَاةِ أَلْطَافِهِ عَلَيْهِ، لِمَا فِيهَا مِنَ الثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى عَلَىٰ بِسَاطِ قُرْبِهِ،

dan sangat berpeluang menghadirkan pertolongan-Nya serta kesinambungan kelembutan-Nya kepadanya, karena di dalamnya terdapat pujian kepada Allah Ta‘ala di hamparan kedekatan-Nya,

وَذِكْرِ صِفَاتِهِ الْعُلْيَا، وَالتَّعَلُّقِ بِهَا،

penyebutan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi, dan keterikatan dengannya,

وَالِاعْتِرَافِ لَهُ بِالنِّعَمِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ،

serta pengakuan atas nikmat-nikmat lahir dan batin dari-Nya,

وَلِمَا فِيهَا أَيْضًا مِنْ رُؤْيَةِ ضَعْفِ النَّفْسِ،

dan juga karena di dalamnya terdapat kesadaran akan kelemahan jiwa,

وَالْإِقْرَارِ عَلَيْهَا بِالنَّقْصِ وَالْقُصُورِ،

pengakuan atas kekurangan dan ketidakmampuannya,

وَإِنْزَالِهَا مَنْزِلَتَهَا مِنَ الذُّلَّةِ وَالْمَهَانَةِ.

serta menempatkannya pada posisi kehinaan dan kerendahan yang semestinya.

وَقَدْ قَالَ بَعْضُهُمْ: تَعَلَّقَ شَابٌّ بِأَسْتَارِ الْكَعْبَةِ وَقَالَ:

Sebagian mereka berkata: seorang pemuda berpegang pada kain penutup Ka‘bah lalu berkata:

إِلٰهِي، لَا لَكَ شَرِيكٌ فَيُؤْتَى، وَلَا وَزِيرَ لَكَ فَيُرْشَى، إِنْ أَطَعْتُكَ فَبِفَضْلِكَ وَلَكَ الْمِنَّةُ عَلَيَّ،

Wahai Tuhanku, tidak ada sekutu bagi-Mu sehingga dapat diberi (suap), dan tidak ada pembantu bagi-Mu sehingga dapat disogok, jika aku taat kepada-Mu, maka itu karena karunia-Mu dan anugerah-Mu atasku,

وَإِنْ عَصَيْتُكَ فَبِعَدْلِكَ وَلَكَ الْحُجَّةُ عَلَيَّ، فَبِإِثْبَاتِ حُجَّتِكَ عَلَيَّ،

jika aku bermaksiat kepada-Mu, maka itu karena keadilan-Mu dan hujjah sepenuhnya milik-Mu, maka dengan tetapnya hujjah-Mu atasku,

وَانْقِطَاعِ حُجَّتِي لَدَيْكَ إِلَّا مَا غَفَرْتَ لِي، فَسَمِعَ هَاتِفًا يَقُولُ: «الْفَتَى عَتِيقٌ مِنَ النَّارِ».

dan terputusnya hujjahku di hadapan-Mu kecuali ampunan-Mu, maka terdengarlah suara yang berkata: “Pemuda itu telah dibebaskan dari neraka.”

Munajat 6:

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:


 6- إِلٰهِي، كَيْفَ تَكِلُنِي إِلَىٰ نَفْسِي وَقَدْ تَوَكَّلْتُ عَلَيْكَ،  وَكَيْفَ أُضَامُ وَأَنْتَ النَّاصِرُ لِي، أَمْ كَيْفَ أَخِيبُ وَأَنْتَ الْحَفِيُّ بِي؟

Wahai Tuhanku, bagaimana Engkau menyerahkanku kepada diriku sendiri padahal aku telah bertawakal kepada-Mu, 
dan bagaimana aku terzalimi sementara Engkau adalah penolongku, atau bagaimana aku akan gagal sementara Engkau Maha Lembut kepadaku?


Syarah:

الْوَكِيلُ، وَالنَّاصِرُ، وَالْحَفِيُّ: أَسْمَاءٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،

Al-Wakīl, An-Nāṣir, dan Al-Ḥafiyy adalah nama-nama Allah Azza wa Jalla

وَهِيَ مُقْتَضِيَةٌ لِوُجُودِ آثَارِهَا، مِنْ وُجُودِ الْكِفَايَةِ وَالْمَنْعَةِ،

yang meniscayakan hadirnya dampak-dampaknya,
berupa kecukupan dan perlindungan,

وَالظَّفَرِ بِغَايَةِ الْمَقْصُودِ وَالْبُغْيَةِ، فَكَيْفَ يُتَصَوَّرُ انْفِكَاكُ ذٰلِكَ عَنِ الْعَبْدِ عِنْدَ وُجُودِ حَاجَتِهِ،

serta tercapainya tujuan dan harapan tertinggi,
maka bagaimana mungkin semua itu terpisah dari seorang hamba saat ia berada dalam kebutuhan,

كَمَا تَقَدَّمَ فِي اللُّطْفِ وَالرَّأْفَةِ.

sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan tentang kelembutan dan kasih sayang.


الرَّأْفَةُ: أَرَقُّ الرَّحْمَةِ وَمِنَ اللَّهِ: دَفْعُ السُّوءِ

Ra’fah adalah bentuk kasih sayang yang paling halus. Dari Allah, maknanya adalah menolak keburukan.

الضَّيْمُ: انْتِقَاصُ الْحَقِّ

Ḍaym berarti pengurangan atau penzhaliman hak.

الْحَفِيُّ: اللَّطِيفُ
Al-Ḥafiyy berarti Yang Maha Lembut.


وَلُطْفُهُ بِعَبْدِهِ: عِلْمُهُ بِدَقَائِقِ مَصَالِحِهِ وَخَفِيَّاتِ مَآرِبِهِ،

Dan kelembutan Allah kepada hamba-Nya adalah pengetahuan-Nya terhadap hal-hal yang sangat halus dari kemaslahatan hamba serta kebutuhan-kebutuhannya yang tersembunyi.

وَإِيصَالُ ذٰلِكَ إِلَيْهِ بِرِفْقٍ،

Dan penyampaian semua itu kepada hamba tersebut dengan penuh kelembutan.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ﴾ [الشورى: ١٩]

Dan Allah Ta'ala berfirman: “Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Asy-Syūrā: 19)

Munajat 7:

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:


 7-  إِلٰهِي أَنَا أَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِفَقْرِي إِلَيْكَ، وَكَيْفَ أَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِمَا هُوَ مُحَالٌ أَنْ يَصِلَ إِلَيْك
Wahai Tuhanku, aku bertawassul kepada-Mu dengan kefakiranku kepada-Mu; bagaimana mungkin aku bertawassul kepada-Mu dengan sesuatu yang mustahil sampai kepada-Mu?

أَمْ كَيْفَ أَشْكُو إِلَيْكَ حَالِي وَهُوَ لَا يَخْفَى عَلَيْكَ؟
Bagaimana mungkin aku mengadukan keadaanku kepada-Mu, padahal ia tidak tersembunyi dari-Mu?

أَمْ كَيْفَ أُتَرْجِمُ لَكَ بِمَقَالِي وَهُوَ مِنْكَ بَرَزَ إِلَيْكَ؟
Bagaimana mungkin aku menjelaskan kepada-Mu dengan ucapanku, padahal ucapan itu berasal dari-Mu dan kembali kepada-Mu?

أَمْ كَيْفَ تَخِيبُ آمَالِي وَهِيَ قَدْ وَفَدَتْ إِلَيْكَ؟
Bagaimana mungkin harapanku akan kecewa, padahal ia telah datang menuju-Mu?

أَمْ كَيْفَ لَا تَحْسُنُ أَحْوَالِي وَبِكَ قَامَتْ وَإِلَيْكَ؟
Bagaimana mungkin keadaanku tidak menjadi baik, padahal ia tegak dengan-Mu dan kembali kepada-Mu?


Syarah:
(إِلٰهِي أَنَا أَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِفَقْرِي إِلَيْكَ)،

التَّوَسُّلُ: التَّقَرُّبُ، وَالْوَسِيلَةُ: مَا يُتَقَرَّبُ بِهِ.
Tawassul adalah mendekatkan diri, dan wasilah adalah sesuatu yang digunakan untuk mendekat.

وَأَعْظَمُ وَسَائِلِ الْعَبْدِ إِلَى مَوْلَاهُ هُوَ تَحَقُّقُهُ بِمَا تُوجِبُهُ عُبُودِيَّتُهُ، وَهُوَ فَقْرُهُ إِلَيْهِ فِي كُلِّ حَالٍ مِنْ أَحْوَالِهِ.
Dan sebesar-besar wasilah seorang hamba kepada Tuhannya adalah terealisasinya hakikat ubudiyahnya, yaitu kefakirannya kepada-Nya dalam setiap keadaan.

فَلَا يَرَى لِنَفْسِهِ حَسَنَةً يَقْتَضِي بِهَا ثَوَابًا، وَلَا يُدْلِي بِحُجَّةٍ يَسْتَدْفِعُ بِهَا عَنْ نَفْسِهِ عِقَابًا.
Maka ia tidak melihat pada dirinya suatu kebaikan yang dengannya ia berhak atas pahala, dan tidak pula mengemukakan alasan untuk menolak hukuman dari dirinya.

قَالَ أَبُو زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: «نُودِيتُ فِي سِرِّي، فَقِيلَ لِي: خَزَائِنُنَا مَمْلُوءَةٌ مِنَ الْخِدْمَةِ، فَإِنْ أَرَدْتَنَا فَعَلَيْكَ بِالذُّلَّةِ وَالِافْتِقَارِ».
Abu Zaid—semoga Allah meridhainya—berkata: “Aku dipanggil dalam batinku, lalu dikatakan kepadaku: ‘Perbendaharaan Kami penuh dengan amal ibadah; jika engkau menginginkan Kami, maka wajib bagimu kerendahan diri dan kefakiran.’”

وَسُئِلَ أَبُو حَفْصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «بِمَاذَا يُقَدِّمُ الْفَقِيرُ عَلَى رَبِّهِ؟»
Abu Ḥafṣ—semoga Allah meridhainya—ditanya: “Dengan apa seorang faqir menghadap Tuhannya?”

فَقَالَ: «وَمَا لِلْفَقِيرِ أَنْ يُقَدِّمَ بِهِ عَلَى رَبِّهِ سِوَى فَقْرِهِ».
Ia menjawab: “Tidak ada yang dapat dipersembahkan oleh seorang faqir kepada Tuhannya selain kefakirannya.”

(وَكَيْفَ أَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِمَا هُوَ مُحَالٌ أَنْ يَصِلَ إِلَيْكَ)
Dan bagaimana aku bertawassul kepada-Mu dengan sesuatu yang mustahil sampai kepada-Mu?

بَيْنَ الْمُتَوَسَّلِ بِهِ وَالْمُتَوَسَّلِ إِلَيْهِ نِسْبَةٌ تَامَّةٌ وَوُصْلَةٌ حَقِيقِيَّةٌ، وَهِيَ الَّتِي اقْتَضَتْ لَهُ وُجُودَ التَّوَسُّلِ.
Antara sesuatu yang dijadikan wasilah dan yang dituju harus ada hubungan yang sempurna dan keterhubungan yang hakiki; itulah yang melahirkan adanya tawassul.

لَا نِسْبَةَ وَلَا صِلَةَ بَيْنَ الْفَقْرِ الَّذِي هُوَ نَعْتُ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الرَّبِّ الَّذِي لَهُ الْغِنَى الْأَكْبَرُ.
Tidak ada hubungan antara kefakiran—yang merupakan sifat hamba—dengan Tuhan yang memiliki kekayaan mutlak.

وَأَيْضًا، تَوَسُّلُ الْعَبْدِ بِفَقْرِهِ يَقْتَضِي شُهُودَهُ لَهُ، وَاعْتِدَادَهُ بِهِ، وَاعْتِمَادَهُ عَلَيْهِ.
Selain itu, bertawassul dengan kefakiran mengandung makna bahwa hamba menyadari, menganggap, dan bergantung pada kefakirannya itu.

وَرُؤْيَةُ الْعَبْدِ لِأَحْوَالِهِ وَسُكُونُهُ إِلَيْهَا عِلَّةٌ فِيهَا.
Dan pandangan hamba terhadap keadaannya serta ketenangannya padanya adalah cacat dalam keadaan itu.

وَالْأَحْوَالُ الْمَعْلُولَةُ لَا تَلِيقُ بِالْحَضْرَةِ الْإِلَهِيَّةِ، وَلَا تَصِلُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى.
Keadaan yang cacat tidak layak bagi hadirat Ilahi dan tidak sampai kepada Allah Ta‘ala.

بِمَعْنَى أَنَّهُ لَا يَرْضَاهَا وَلَا يَقْبَلُهَا.
Artinya, Allah tidak meridhai dan tidak menerimanya.

فَالْفَقْرُ لَا يَصِحُّ التَّوَسُّلُ بِهِ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ أَيْضًا.
Maka kefakiran tidak sah dijadikan wasilah dari sisi ini.

وَإِلَى هَذَا الْمَعْنَى يُشِيرُ مَا يُحْكَى عَنْ سَيِّدِي أَبِي الْحَسَنِ الشَّاذِلِيِّ.
Kepada makna inilah isyarat kisah dari Sayyidi Abul Hasan asy-Syadzili.

حِينَ دَخَلَ عَلَى شَيْخِهِ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ السَّلَامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.
Ketika ia masuk menemui gurunya Abu Muhammad ‘Abd as-Salam—semoga Allah meridhai keduanya.

فَقَالَ لَهُ: يَا أَبَا الْحَسَنِ، بِمَاذَا تَلْقَى اللَّهَ تَعَالَى؟ قَالَ: بِفَقْرِي.
Sang guru bertanya: “Wahai Abu al-Hasan, dengan apa engkau akan menghadap Allah?” Ia menjawab: “Dengan kefakiranku.”

قَالَ لَهُ الشَّيْخُ: وَاللَّهِ، لَئِنْ لَقِيتَ اللَّهَ بِفَقْرِكَ لَتَلْقَيَنَّهُ بِالصَّنَمِ الْأَعْظَمِ.
Sang guru berkata: “Demi Allah, jika engkau menemui Allah dengan kefakiranmu, niscaya engkau menemui-Nya dengan ‘berhala terbesar’.”

وَلَا تَصِحُّ حَقِيقَةُ الْفَقْرِ إِلَّا بِالْغَيْبَةِ عَنِ الْفَقْرِ، وَإِلَّا كُنْتَ غَنِيًّا بِفَقْرِكَ.
Hakikat kefakiran tidak benar kecuali dengan tidak menyadari kefakiran itu sendiri; jika tidak, engkau justru “kaya” dengan kefakiranmu.

فَإِذًا لَا وَسِيلَةَ إِلَى اللَّهِ بِسِوَاهُ.
Maka tidak ada wasilah menuju Allah selain Dia sendiri.

(أَمْ كَيْفَ أَشْكُو إِلَيْكَ حَالِي وَهِيَ لَا تَخْفَى عَلَيْكَ؟)
Bagaimana mungkin aku mengadukan keadaanku kepada-Mu, padahal ia tidak tersembunyi dari-Mu?

شَكْوَى الْحَالِ لَا تَصِحُّ إِلَّا لِمَنْ هِيَ غَائِبَةٌ عَنْهُ، وَهُوَ غَيْرُ عَالِمٍ بِهَا،
Mengadukan keadaan hanya layak kepada yang tidak mengetahuinya dan yang keadaan itu tersembunyi darinya,

وَاللَّهُ تَعَالَى لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ،
sedangkan Allah Ta‘ala tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu pun.

وَقَدْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ الْخَلِيلُ عَلَيْهِ وَعَلَى نَبِيِّنَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «حَسْبِي مِنْ سُؤَالِي عِلْمُهُ بِحَالِي»
Dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām berkata: “Cukuplah bagiku dari permintaanku bahwa Allah mengetahui keadaanku.”

(أَمْ كَيْفَ أُتَرْجِمُ لَكَ بِمَقَالِي وَهُوَ مِنْكَ بَرَزَ إِلَيْكَ؟)
Bagaimana mungkin aku menjelaskan kepada-Mu dengan ucapanku, padahal ucapan itu dari-Mu berasal dan kepada-Mu kembali?

التَّرْجَمَةُ بِالْمَقَالِ هِيَ التَّعْبِيرُ بِاللِّسَانِ عَمَّا فِي الضَّمِيرِ لِيَقَعَ التَّفْهِيمُ بِذٰلِكَ لِلْمُتَرْجَمِ لَهُ،
Penjelasan dengan ucapan adalah ungkapan lisan terhadap apa yang ada dalam hati agar dipahami oleh yang diajak bicara,

وَاللَّهُ تَعَالَى هُوَ الَّذِي أَنْطَقَ اللِّسَانَ وَأَطْلَقَهُ بِذٰلِكَ،
dan Allah-lah yang membuat lisan itu berbicara dan menggerakkannya,

فَالتَّرْجَمَةُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى بَرَزَتْ وَإِلَيْهِ مَآلُ أَمْرِهَا،
maka ucapan itu berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya,

وَالْعَبْدُ لَا مَدْخَلَ لَهُ فِي ذٰلِكَ، فَكَيْفَ يُنْسَبُ إِلَيْهِ التَّرْجَمَةُ؟
dan hamba tidak memiliki peran hakiki di dalamnya, maka bagaimana mungkin itu dinisbatkan kepadanya?

وَنِسْبَةُ ذٰلِكَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى دَلِيلٌ عَلَى إِحَاطَةِ عِلْمِهِ بِأَحْوَالِ الْعَبْدِ،
Menisbatkan hal itu kepada Allah menunjukkan bahwa ilmu-Nya meliputi seluruh keadaan hamba,

فَكَيْفَ يَصِحُّ فِي حَقِّهِ مَعْنَى التَّرْجَمَةِ؟
maka bagaimana mungkin konsep “menjelaskan” berlaku bagi-Nya?

(أَمْ كَيْفَ تَخِيبُ آمَالِي وَهِيَ قَدْ وَفَدَتْ إِلَيْكَ؟)
Bagaimana mungkin harapanku akan kecewa, padahal ia telah sampai kepada-Mu?

الْآمَالُ الْوَافِدَةُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى لَا يُخَيِّبُهَا
Harapan yang menuju kepada Allah tidak akan Dia kecewakan,

مِنْ قِبَلِ أَنَّهَا فَارَّةٌ إِلَيْهِ، وَمُتَعَلِّقَةٌ بِهِ، وَمُنْقَطِعَةٌ عَمَّا سِوَاهُ،
karena ia lari menuju-Nya, bergantung kepada-Nya, dan terputus dari selain-Nya,

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كَرِيمٌ جَوَادٌ مُتَفَضِّلٌ مُنْعِمٌ،
dan Allah Maha Mulia, Maha Dermawan, Maha Memberi karunia,

فَلْيَثِقِ الْعَبْدُ بِذٰلِكَ، وَلْيَكُنْ عَلَى يَقِينٍ مِنْهُ،
maka hendaklah hamba percaya akan hal itu dan meyakininya,

وَإِنْ لَمْ يَسْأَلْ وَلَمْ يَطْلُبْ.
meskipun ia tidak meminta dan tidak memohon.

(أَمْ كَيْفَ لَا تَحْسُنُ أَحْوَالِي وَبِكَ قَامَتْ وَإِلَيْكَ؟)
Bagaimana mungkin keadaanku tidak menjadi baik, padahal ia berdiri dengan-Mu dan kembali kepada-Mu?

مَنْ تَحَقَّقَ بِالْمَعْرِفَةِ رَأَى أَحْوَالَهُ كُلَّهَا حَسَنَةً،
Siapa yang mencapai ma‘rifat akan melihat semua keadaannya sebagai baik,

لِوُجُودِ قِيَامِهَا بِاللَّهِ وَرُجُوعِ أَمْرِهَا إِلَيْهِ.
karena semua itu berdiri dengan Allah dan kembali kepada-Nya.

وَهٰذِهِ كُلُّهَا أَنْوَاعٌ مِنَ التَّعَجُّبِ،
Semua ini adalah bentuk ungkapan keheranan,

تَعَجَّبَ بِهَا الْمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى نَفْسَهُ مِنْ نَفْسِهِ،
yang digunakan penulis untuk mengherankan dirinya sendiri,

فِيمَا هُوَ بِصَدَدِهِ مِنْ سُؤَالِهِ وَطَلَبِهِ،
atas apa yang ia lakukan berupa permohonan dan permintaan,

بِسَبَبِ تَرَقِّيهِ فِي الْمَعْرِفَةِ
karena peningkatan dirinya dalam ma‘rifat,

الَّتِي أَوْجَبَتْ لَهُ رُؤْيَةَ نَقْصِهِ
yang membuatnya melihat kekurangannya,

وَتَصَوُّرَهُ فِي أَحْوَالِهِ الْأُولَى.
serta menyadari keadaan-keadaan dirinya yang terdahulu.

Munajat 8

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:


(إِلَهِي مَا أَلْطَفَكَ بِي مَعَ عَظِيمِ جَهْلِي، وَمَا أَرْحَمَكَ بِي مَعَ قَبِيحِ فِعْلِي).
Wahai Tuhanku, betapa lembut Engkau kepadaku meskipun besarnya kebodohanku, dan betapa penyayang Engkau kepadaku meskipun buruknya perbuatanku.

شُهُودُ الْعَبْدِ لِهٰذَا الْمَعْنَى مَزِيدٌ عَظِيمٌ يُوجِبُ لَهُ الْحَيَاءَ وَالِانْكِسَارَ، فَيَسْتَحْسِنُ مِنْهُ حِينَئِذٍ الِاعْتِرَافَ بِالنِّعَمِ فَقَطْ.
Penyaksian seorang hamba terhadap makna ini adalah tambahan besar yang menumbuhkan rasa malu dan kerendahan hati, sehingga saat itu yang pantas darinya hanyalah mengakui nikmat-nikmat Allah semata.

Munajat 9

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:


(إِلَهِي مَا أَقْرَبَكَ مِنِّي وَمَا أَبْعَدَنِي عَنْكَ، وَمَا أَرْأَفَكَ بِي فَمَا الَّذِي يَحْجُبُنِي عَنْكَ).

Wahai Tuhanku, betapa dekat Engkau kepadaku dan betapa jauhnya aku dari-Mu, dan betapa penuh kasih Engkau kepadaku, maka apa yang sebenarnya menghalangiku dari-Mu?

شُهُودُ الْمُؤَلِّفِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى شِدَّةَ قُرْبِ اللَّهِ تَعَالَى مِنْهُ لَمَّا رَأَى مِنْ بُعْدِ الْأَغْيَارِ عَنْهُ، وَدَفْعِهَا لَهُ إِلَيْهِ، كَمَا سَيَأْتِي فِي قَوْلِهِ: قَدْ دَفَعَتْنِي الْعَوَالِمُ إِلَيْكَ.

Penyaksian penulis—rahimahullah—akan dekatnya Allah kepadanya terjadi ketika ia melihat jauhnya segala selain Allah darinya, dan bahwa semuanya mendorongnya menuju Allah, sebagaimana akan disebutkan dalam ucapannya: “Segala alam telah mendorongku kepada-Mu.”

وَشُهُودُهُ لِبُعْدِهِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ حَيْثُ أُقِيمَ فِي الطَّلَبِ لَهُ، وَالطَّلَبُ لِلشَّيْءِ دَلِيلٌ عَلَى فَقْدِ الطَّالِبِ لَهُ وَبُعْدِهِ عَنْهُ.

Dan penyaksiannya akan jauhnya dirinya dari Allah عز وجل adalah karena ia masih berada dalam keadaan mencari-Nya, sedangkan mencari sesuatu menunjukkan bahwa pencarinya belum memilikinya dan masih jauh darinya.

فَالْمُشَاهَدَةُ الْأُولَى أَوْجَبَتْ لَهُ مُلَازَمَةَ بَابِ مَوْلَاهُ، وَانْقِطَاعَ طَمَعِهِ عَنْ كُلِّ مَا سِوَاهُ.

Maka penyaksian yang pertama menyebabkan ia terus berada di pintu Tuhannya dan memutus harapannya dari segala selain-Nya.

وَالْمُشَاهَدَةُ الثَّانِيَةُ أَوْجَبَتْ لَهُ التَّلَطُّفَ فِي سُؤَالِهِ «التَّقْرِيبَ» وَالِاسْتِغْنَاءَ عَنْ طَلَبِ «الْقُرْبِ».

Dan penyaksian yang kedua membuatnya halus dalam memohon “didekatkan” serta merasa cukup tanpa harus menuntut “kedekatan”.

وَمِنْ دُعَاءِ سَيِّدِي أَبِي الْعَبَّاسِ الْمُرْسِيِّ، رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: «يَا قَرِيبُ، أَنْتَ الْقَرِيبُ وَأَنَا الْبَعِيدُ، قُرْبُكَ آيَسَنِي مِنْ غَيْرِكَ وَبُعْدِي مِنْكَ رَدَّنِي لِلطَّلَبِ لَكَ، فَكُنْ لِي بِفَضْلِكَ حَتَّى تَمْحُوَ طَلَبِي بِطَلَبِكَ، يَا قَوِيُّ، يَا عَزِيزُ».

Dan termasuk doa Sayyidi Abu al-‘Abbas al-Mursi—semoga Allah meridhainya—: “Wahai Yang Maha Dekat, Engkaulah Yang Dekat dan aku yang jauh; kedekatan-Mu membuatku putus dari selain-Mu, dan jauhnya diriku dari-Mu mengembalikanku untuk terus mencari-Mu; maka jadilah Engkau bagiku dengan karunia-Mu hingga Engkau menghapus permohonanku dengan kehendak-Mu, wahai Yang Maha Kuat, wahai Yang Maha Perkasa.”

(إِلَهِي مَا أَرْأَفَكَ بِي، فَمَا الَّذِي يَحْجُبُنِي عَنْكَ).

Wahai Tuhanku, betapa besar kasih sayang-Mu kepadaku, maka apa yang menghalangiku dari-Mu?

الرَّأْفَةُ أَشَدُّ مِنَ الرَّحْمَةِ، وَلَمَّا شَاهَدَ رَأْفَةَ رَبِّهِ بِهِ غَابَ بِهٰذَا الشُّهُودِ عَنْ رُؤْيَةِ نَفْسِهِ وَصِفَتِهَا، فَلِذٰلِكَ لَمْ يَظْهَرْ لَهُ سَبَبٌ لِوُجُودِ حِجَابِهِ عَنْهُ.

Rā’fah (kasih sayang) lebih kuat daripada rahmat; dan ketika ia menyaksikan kasih sayang Tuhannya kepadanya, ia tenggelam dalam penyaksian itu hingga tidak lagi melihat dirinya dan sifat-sifatnya, sehingga tidak tampak baginya sebab adanya hijab antara dirinya dan Allah.


Munajat 10

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:

(إِلٰهِي، قَدْ عَلِمْتُ بِاخْتِلَافِ الْآثَارِ وَتَنَقُّلَاتِ الْأَطْوَارِ أَنَّ مُرَادَكَ مِنِّي أَنْ تَتَعَرَّفَ إِلَيَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى لَا أَجْهَلَكَ فِي شَيْءٍ).

Wahai Tuhanku, sungguh aku telah mengetahui melalui perbedaan keadaan dan pergantian fase bahwa kehendak-Mu dariku adalah agar Engkau memperkenalkan diri-Mu kepadaku dalam segala sesuatu, sehingga aku tidak lagi tidak mengenal-Mu dalam sesuatu pun.

كَأَنَّ الْمُؤَلِّفَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: اخْتِلَافُ الْآثَارِ عَلَيَّ، وَتَنَقُّلَاتُ الْأَطْوَارِ بِي، مِنَ الصِّحَّةِ وَالْمَرَضِ، وَالْغِنَى وَالْفَقْرِ، وَالْعِزِّ وَالذُّلِّ، وَالْقَبْضِ وَالْبَسْطِ، وَالطَّاعَةِ وَالْعِصْيَانِ، وَالْفَقْدِ وَالْوَجْدِ، وَغَيْرِ ذٰلِكَ مِنْ مُخْتَلِفَاتِ أَحْوَالِي الَّتِي هِيَ مِنْ شُؤُونِكَ الَّتِي تُنَزِّلُهَا بِي،

Seakan-akan penulis—rahimahullah—berkata: perbedaan keadaan yang menimpaku dan pergantian fase yang aku alami, berupa sehat dan sakit, kaya dan miskin, mulia dan hina, sempit dan lapang, taat dan maksiat, kehilangan dan mendapatkan, serta berbagai keadaan lain yang berbeda-beda—semuanya termasuk urusan-Mu yang Engkau turunkan kepadaku,

عَلِمْتُ مِنْهَا أَنَّ إِرَادَتَكَ بِي أَنْ تَتَعَرَّفَ إِلَيَّ فِي كُلِّ شَيْءٍ تَعَرُّفًا خَاصًّا فِي حَالَةٍ خَاصَّةٍ،

dari semuanya itu aku mengetahui bahwa kehendak-Mu kepadaku adalah agar Engkau memperkenalkan diri-Mu dalam setiap hal dengan pengenalan khusus pada setiap keadaan yang khusus,

حَتَّى أُشَاهِدَ وَحْدَانِيَّتَكَ وَعَظَمَتَكَ وَجَمَالَكَ وَكَمَالَكَ وَجَلَالَكَ،

sehingga aku dapat menyaksikan keesaan-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kesempurnaan-Mu, dan kemuliaan-Mu,

بِحَيْثُ لَا يُتَصَوَّرُ مِنِّي جَهْلٌ بِمَا أَنَا فِيهِ قَابِلٌ لِمَعْرِفَتِهِ مِنْ جَمِيعِ ذٰلِكَ.

hingga tidak terbayangkan dariku adanya ketidaktahuan terhadap apa yang sedang aku alami yang sebenarnya dapat mengenalkanku kepada-Mu.

وَلَوْ كَانَ الْأَمْرُ عَلَى خِلَافِ هٰذَا، وَأُلْزِمْتَنِي حَالَةً وَاحِدَةً أَرْتَضِيهَا لِنَفْسِي وَأَخْتَارُهَا، لَكَانَتْ مَعْرِفَتِي نَاقِصَةً وَمُشَاهَدَتِي قَاصِرَةً.

Seandainya keadaan tidak seperti ini, dan Engkau menetapkanku hanya pada satu keadaan yang aku sukai dan pilih sendiri, niscaya pengetahuanku akan menjadi kurang dan penyaksianku menjadi terbatas.

فَأَنَا الْآنَ أَتَقَلَّبُ فِي جَنَّةٍ مُعَجَّلَةٍ أَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ أَشَاءُ،

Maka sekarang aku berada dalam kenikmatan seperti surga yang disegerakan, berpindah-pindah di dalamnya sesuka hati,

فَقَدِ اسْتَغْرَقَنِي مَا أَنَا فِيهِ مِنْ عَظِيمِ النَّوَالِ، وَشَغَلَنِي ذٰلِكَ عَنِ الدُّعَاءِ وَالسُّؤَالِ.

karena aku telah tenggelam dalam besarnya karunia yang aku rasakan, sehingga hal itu menyibukkanku dari berdoa dan meminta.

وَطَلَبِ الْكَوْنِ عَلَى مَا أَرْتَضِيهِ مِنَ الْأَحْوَالِ،

dan dari keinginan mengatur keadaan sesuai dengan apa yang aku inginkan,

فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى نِعَمِكَ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ وَالْخَفِيَّةِ وَالْجَلِيَّةِ.

maka bagi-Mu segala puji atas nikmat-Mu yang batin dan yang tampak, yang tersembunyi dan yang nyata.

قَالَ بَعْضُهُمْ: «فِي الدُّنْيَا جَنَّةٌ مُعَجَّلَةٌ مَنْ دَخَلَهَا لَمْ يَشْتَقْ إِلَى جَنَّةِ الْآخِرَةِ، وَلَا إِلَى شَيْءٍ، وَلَمْ يَسْتَوْحِشْ مِنْ شَيْءٍ».

Sebagian ulama berkata: “Di dunia ini ada surga yang disegerakan; siapa yang memasukinya, ia tidak lagi merindukan surga akhirat atau apa pun, dan tidak merasa asing terhadap apa pun.”

قِيلَ: وَمَا هِيَ؟ قَالَ: مَعْرِفَةُ اللَّهِ تَعَالَى.

Ditanya: “Apa itu?” Ia menjawab: “Ma‘rifat kepada Allah Ta‘ala.”

وَقَالَ مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: «خَرَجَ النَّاسُ مِنَ الدُّنْيَا وَلَمْ يَذُوقُوا أَطْيَبَ الْأَشْيَاءِ!»

Malik bin Dinar—semoga Allah meridhainya—berkata: “Manusia keluar dari dunia tanpa merasakan sesuatu yang paling lezat!”

قِيلَ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: الْمَعْرِفَةُ.

Ditanya: “Apa itu?” Ia menjawab: “Ma‘rifat.”

ثُمَّ قَالَ:

Kemudian ia berkata:

إِنَّ عِرْفَانَ ذَا الْجَلَالِ لَعِزٌّ *** وَضِيَاءٌ، وَبَهْجَةٌ وَسُرُورٌ

Sesungguhnya mengenal Dzat Yang Maha Agung adalah kemuliaan, cahaya, keindahan, dan kebahagiaan.

وَعَلَى الْعَارِفِينَ أَيْضًا بِهِ بَهَاءٌ *** وَعَلَيْهِمْ مِنَ الْمَحَبَّةِ نُورٌ

Dan bagi para arif juga terpancar keindahan, serta pada mereka ada cahaya cinta.

فَهَنِيئًا لِمَنْ عَرَفَكَ إِلٰهِي *** هُوَ وَاللَّهِ دَهْرُهُ مَسْرُورٌ

Maka berbahagialah orang yang mengenal-Mu, wahai Tuhanku; demi Allah, sepanjang hidupnya ia akan selalu dalam kebahagiaan.

وَقَدْ رُوِيَ أَنَّهُ رُؤِيَ صُورَةُ حَكِيمَيْنِ مِنَ الْحُكَمَاءِ الْمُتَعَبِّدِينَ فِي مَسْجِدٍ، وَفِي يَدِ أَحَدِهِمَا رِقْعَةٌ فِيهَا مَكْتُوبٌ: «إِذَا أَحْسَنْتَ كُلَّ شَيْءٍ فَلَا تَظُنَّ أَنَّكَ أَحْسَنْتَ شَيْئًا حَتَّى تَعْرِفَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ».

Dan diriwayatkan bahwa terlihat gambaran dua orang bijak dari kalangan ahli ibadah di dalam sebuah masjid, dan di tangan salah satu dari keduanya terdapat secarik kertas yang tertulis: “Jika engkau telah memperbaiki segala sesuatu, maka janganlah engkau mengira telah berbuat baik sedikit pun sampai engkau mengenal Allah عز وجل.”

وَفِي يَدِ الْآخَرِ: «كُنْتُ قَبْلَ أَنْ أَعْرِفَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَشْرَبُ وَأَظْمَأُ، حَتَّى إِذَا عَرَفْتُهُ رَوِيتُ بِلَا شُرْبٍ».

Dan di tangan yang lain tertulis: “Dahulu sebelum aku mengenal Allah عز وجل aku minum namun tetap haus, hingga ketika aku mengenal-Nya aku menjadi puas tanpa minum.”

قَالَ فِي «التَّنْوِيرِ» بَعْدَ كَلَامٍ ذَكَرَهُ:

Penulis berkata dalam kitab At-Tanwīr setelah penjelasan yang ia sebutkan:

وَإِنَّمَا قُلْنَا إِنَّ الْحَالَةَ زَائِلَةٌ عَنْكَ لَا مَحَالَةَ؛ فَإِنَّ مُرَادَهُ أَنْ يَنْقُلَكَ فِي الْأَطْوَارِ، وَيُخَالِفَ عَلَيْكَ الْآثَارَ؛ لِيَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ فِي كُلِّ حَالَةٍ خَاصَّةٍ بِتَعَرُّفٍ خَاصٍّ،

Kami mengatakan bahwa suatu keadaan pasti akan hilang darimu, karena kehendak-Nya adalah memindahkanmu dalam berbagai fase dan mempergilirkan keadaan atasmu, agar Dia memperkenalkan diri-Nya kepadamu dalam setiap keadaan dengan pengenalan yang khusus,

فَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُدِيمَكَ عَلَى حَالَةٍ وَاحِدَةٍ فَقَدْ أَرَدْتَ أَنْ يَسْلُكَ بِكَ غَيْرَ الْكَمَالِ،

maka jika engkau menghendaki agar Dia menetapkanmu pada satu keadaan saja, berarti engkau menginginkan jalan selain kesempurnaan,

فَكَأَنَّهُ يَقُولُ لَكَ: لَا تَطْلُبْ مِنِّي أَنْ أُقِيمَكَ فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ؛ لِأَنِّي لَا أَفْعَلُ ذٰلِكَ مَعَكَ،

seakan-akan Dia berkata kepadamu: “Janganlah engkau meminta kepada-Ku agar Aku menetapkanmu dalam satu keadaan, karena Aku tidak melakukan itu kepadamu,

أَتُرِيدُ أَنْ تُبْقِيَ رُبُوبِيَّتِي مُعَطَّلَةَ الْآثَارِ؟

apakah engkau ingin menjadikan rubūbiyyah-Ku tanpa tampak pengaruhnya?”

وَلٰكِنْ سَلْنِي أَنْ أُشْعِرَكَ لُطْفِي حَيْثُمَا أَرَدْتُكَ، وَحَيْثُمَا أَقَمْتُكَ حَتَّى تَكُونَ بِي وَلِي.

Akan tetapi mintalah kepada-Ku agar Aku memperkenalkan kepadamu kelembutan-Ku di mana pun Aku menghendakimu dan di mana pun Aku menempatkanmu, sehingga engkau menjadi bersama-Ku dan untuk-Ku.

قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: ﴿يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ﴾ [الرَّحْمٰنِ: ٢٩].

Allah Ta‘ala berfirman: “Semua yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya; setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rahman: 29)

أَيْ: يَمْنَعُ وَيُعْطِي، وَيَضَعُ وَيُعْلِي، وَيَقْبِضُ وَيَبْسُطُ، وَيُعِزُّ وَيُذِلُّ.

Yaitu: Dia menahan dan memberi, merendahkan dan meninggikan, menyempitkan dan melapangkan, memuliakan dan menghinakan.

فَكَأَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُولُ لَكَ: يَا عَبْدِي، لَا تَأْسَ عَلَى شَيْءٍ مَا دُمْتَ لِي، وَلَا تَفْرَحْ بِشَيْءٍ وَأَنَا لَسْتُ لَكَ.

Seakan-akan Allah Ta‘ala berfirman kepadamu: “Wahai hamba-Ku, janganlah engkau bersedih atas sesuatu selama engkau milik-Ku, dan janganlah engkau bergembira atas sesuatu jika Aku bukan milikmu.”

فَأَنَا الْمُعَوِّضُ لَكَ عَمَّا سِوَايَ، وَمَا سِوَايَ لَا يُغْنِيكَ عَنِّي،

Karena Aku-lah pengganti bagimu dari segala selain-Ku, dan segala selain-Ku tidak akan pernah mencukupimu dari-Ku,

وَلَا تَكُنْ مِمَّنْ يَعْبُدُنِي بِالْعِلَلِ فَتَكُونَ مِنْ عَبِيدِ الْحُرُوفِ، بَلِ اعْبُدْنِي لِي؛ فَإِنِّي بِكَمَالِ الْغِنَى مَوْصُوفٌ، وَبِدَوَامِ الْأَفْضَالِ مَعْرُوفٌ.

dan janganlah engkau termasuk orang yang menyembah-Ku karena alasan-alasan tertentu sehingga engkau menjadi hamba makna-makna lahiriah, tetapi sembahlah Aku karena Aku; sesungguhnya Aku Maha Kaya dengan kesempurnaan, dan dikenal dengan limpahan karunia yang terus-menerus.

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا﴾ [الْحَجِّ: ١١].

Allah عز وجل berfirman: “Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah di tepi; jika ia mendapat kebaikan, ia tenang dengannya, dan jika ia ditimpa cobaan, ia berbalik ke belakang, rugilah ia di dunia.” (QS. Al-Hajj: 11)

لِأَنَّ الَّذِي طَلَبَهُ عُزِلَ عَنْهُ، فَمَا دَامَ لَهُ، وَهُوَ مَا طَلَبْنَا حَتَّى نَكُونَ لَهُ،

Karena apa yang ia cari akan dipisahkan darinya; selama ia masih untuk sesuatu itu, padahal yang seharusnya ia cari adalah Kami agar ia menjadi milik Kami,

وَمَنْ عَبَدَهُ لِمَا سِوَاهُ فَهُوَ عَبْدُ مَا سِوَاهُ، وَمَنْ عَبَدَهُ لِأَجْلِ جُودِهِ وَنَعْمَائِهِ فَهُوَ عَبْدُ جُودِهِ وَنَعْمَائِهِ،

dan barang siapa menyembah-Nya karena selain-Nya maka ia adalah hamba dari selain itu, dan siapa yang menyembah-Nya karena kedermawanan dan nikmat-Nya maka ia adalah hamba kedermawanan dan nikmat-Nya,

لِأَنَّ مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا فَهُوَ عَبْدُ مَا أَحَبَّهُ.

karena siapa yang mencintai sesuatu maka ia menjadi hamba dari apa yang ia cintai.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ».

Rasulullah ﷺ bersabda: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian mewah; celakalah dan terjerumuslah ia, dan jika ia tertusuk duri, ia tidak mampu mengeluarkannya.”

فَكُنْ عَبْدَ اللَّهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ: عَطَاءً وَمَنْعًا، وَعِزًّا وَذُلًّا، وَغِنًى وَفَقْرًا، وَقَبْضًا وَبَسْطًا، وَفَقْدًا وَوُجْدًا، وَشِدَّةً وَرَجَاءً، وَفَنَاءً وَبَقَاءً، إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ مِنْ مُخْتَلِفَاتِ الْآثَارِ وَتَنَقُّلَاتِ الْأَغْيَارِ.

Maka jadilah hamba Allah dalam segala keadaan: dalam pemberian dan penolakan, kemuliaan dan kehinaan, kaya dan miskin, sempit dan lapang, kehilangan dan memperoleh, kesulitan dan harapan, fana dan baqa’, serta seluruh perubahan keadaan lainnya.

انْتَهَى كَلَامُهُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى، وَقَدْ أَحْسَنَ فِيهِ غَايَةَ الْإِحْسَانِ كُلَّهُ، فَجَزَاهُ اللَّهُ تَعَالَى خَيْرًا.

Selesai perkataannya—rahimahullah—dan sungguh ia telah menjelaskannya dengan sebaik-baiknya; semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.


Munajat 11



قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِلَهِي كُلَّمَا أَخْرَسَنِي لُؤْمِي أَنْطَقَنِي كَرَمُكَ، وَكُلَّمَا آيَسَتْنِي أَوْصَافِي أَطْعَمَتْنِي مِنَّتُكَ.

Wahai Tuhanku, setiap kali kehinaanku membungkamku, kemurahan-Mu membuatku berbicara; dan setiap kali sifat-sifatku membuatku putus asa, karunia-Mu memberiku harapan (akan KaruniaMu).

لُؤْمُ الْعَبْدِ، وَمُخَالَفَتُهُ، وَعِصْيَانُهُ يُخْرِسُ لِسَانَهُ عَنِ السُّؤَالِ وَالطَّلَبِ.

Kehinaan seorang hamba, penyelisihannya, dan kemaksiatannya membungkam lisannya dari meminta dan memohon.

وَكَرَمُ الْمَوْلَى، وَفَضْلُهُ، وَإِحْسَانُهُ يُنْطِقُهُ بِذَلِكَ.

Dan kemurahan Sang Maula, keutamaan-Nya, serta kebaikan-Nya menjadikannya mampu berbicara (memohon) akan hal itu.

وَأَوْصَافُ الْعَبْدِ الذَّمِيمَةُ الَّتِي اقْتَضَتْهَا طَبِيعَتُهُ وَجِبِلَّتُهُ تُؤْيِسُهُ مِنْ حُصُولِ الِاسْتِقَامَةِ عَلَى طَرِيقِ الْحَقِّ، وَمِنَنُ اللَّهِ تَعَالَى الَّتِي شَمِلَتِ الْبَرَّ وَالْفَاجِرَ تُطْعِمُهُ فِي ذَلِكَ.

Dan sifat-sifat buruk seorang hamba yang dituntut oleh tabiat dan wataknya membuatnya putus asa dari memperoleh istiqamah di jalan kebenaran, sedangkan karunia-karunia Allah Ta‘ala yang meliputi orang baik maupun orang jahat memberinya (harapan/pertolongan) dalam hal itu.


Munajat 12

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:

(إِلَهِي مَنْ كَانَتْ مَحَاسِنُهُ مَسَاوِئَ فَكَيْفَ لَا تَكُ(ونُ مَسَاوِئُهُ مَسَاوِيَ).

Wahai Tuhanku, siapa yang kebaikannya saja (di hadapan-Mu) merupakan keburukan, maka bagaimana mungkin keburukannya tidak menjadi keburukan (yang nyata).

وَمَنْ كَانَتْ حَقَائِقُهُ دَعَاوِيَ فَكَيْفَ لَا تَكُونُ دَعَاوِيهِ دَعَاوِيَ.

Dan siapa yang hakikat-hakikatnya hanyalah klaim-klaim, maka bagaimana mungkin klaim-klaimnya tidak menjadi sekadar klaim belaka.

هَذَا مِثَالُ مَا تَقَدَّمَ، مِنْ: أَنَّ الْكَمَالَ الْمَنْسُوبَ إِلَى الْعَبْدِ نُقْصَانٌ عَلَى التَّحْقِيقِ، فَمَا ظَنُّكَ بِنُقْصَانِهِ.

Ini adalah contoh dari penjelasan sebelumnya, bahwa kesempurnaan yang disandarkan kepada hamba pada hakikatnya adalah kekurangan; maka bagaimana menurutmu dengan kekurangannya (yang jelas).


Munajat 13

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:

(إِلَهِي: حُكْمُكَ النَّافِذُ وَمَشِيئَتُكَ الْقَاهِرَةُ لَمْ يَتْرُكَا لِذِي مَقَالٍ مَقَالًا، وَلَا لِذِي حَالٍ حَالًا)

Wahai Tuhanku, keputusan-Mu yang berlaku pasti dan kehendak-Mu yang menguasai tidak menyisakan bagi orang yang berkata suatu perkataan, dan tidak pula bagi orang yang memiliki keadaan suatu keadaan.

شُهُودُ هَذَا الْمَعْنَى يُوجِبُ لِلْعَبْدِ مَقَامَ الْخَوْفِ وَالتَّحَقُّقِ فِيهِ، فَإِذَا كَانَ ذَا قَوْلٍ سَدِيدٍ وَحَالٍ حَمِيدٍ لَمْ يَقْطَعْ بِبَقَاءِ ذَلِكَ، وَلَمْ يَغْتَرَّ بِمَا هُنَالِكَ لِنُفُوذِ حُكْمِ الْحَقِّ تَعَالَى وَقَهْرِ مَشِيئَتِهِ.

Menyaksikan makna ini mewajibkan bagi seorang hamba مقام (kedudukan) takut dan realisasi (penghayatan) terhadapnya; maka jika ia memiliki ucapan yang lurus dan keadaan yang baik, ia tidak memastikan keberlangsungan hal itu, dan tidak tertipu dengan apa yang ada padanya, karena berlakunya hukum Allah Ta‘ala dan kekuasaan kehendak-Nya.


Munajat 14

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:

(إِلَهِي: كَمْ مِنْ طَاعَةٍ بَنَيْتُهَا وَحَالَةٍ شَيَّدْتُهَا هَدَمَ اعْتِمَادِي عَلَيْهَا عَدْلُكَ، بَلْ أَقَالَنِي مِنْهَا فَضْلُكَ)

Wahai Tuhanku, betapa banyak ketaatan yang aku bangun dan keadaan (batin) yang aku tegakkan, namun kebergantunganku kepadanya dihancurkan oleh keadilan-Mu; bahkan karunia-Mu membebaskanku darinya.

الطَّاعَةُ: صِفَةُ ظَاهِرِ الْعَبْدِ. وَالْحَالَةُ: صِفَةُ بَاطِنِهِ.

Ketaatan adalah sifat lahir seorang hamba, sedangkan keadaan (ḥāl) adalah sifat batinnya.

وَبِنَاؤُهُ لِلطَّاعَةِ هُوَ: إِقَامَتُهَا عَلَى الْوَجْهِ الْمَأْمُورِ بِهِ مِنَ الْوَفَاءِ بِجَمِيعِ أَرْكَانِهَا وَشُرُوطِهَا، وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا مِنْ حُقُوقٍ وَآدَابٍ.

Adapun membangun ketaatan adalah menegakkannya sesuai dengan tuntunan yang diperintahkan, dengan memenuhi seluruh rukun dan syaratnya, serta hal-hal yang berkaitan dengannya berupa hak-hak dan adab-adab.

وَتَشْيِيدُهُ لِلْحَالَةِ هُوَ: تَزْيِينُهَا وَتَطْهِيرُهَا وَصِيَانَتُهَا عَمَّا يُكَدِّرُ صَفَاءَهَا وَيَكْسِفُ ضِيَاءَهَا.

Dan menegakkan (memperkokoh) keadaan batin adalah dengan menghiasinya, menyucikannya, dan menjaganya dari hal-hal yang mengeruhkan kejernihannya serta meredupkan cahayanya.

وَكَأَنَّهُ لَمَّا فَعَلَ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ رَأَى أَنَّهُ تَحَصَّنَ بِحِصْنٍ حَصِينٍ، وَآوَى إِلَى رُكْنٍ مَتِينٍ، لَكِنْ لَمَّا شَاهَدَ عَدْلَ اللَّهِ تَعَالَى هَدَمَ عَلَيْهِ ذَلِكَ؛

Seakan-akan ketika ia telah melakukan dua hal itu, ia melihat dirinya telah berlindung dengan benteng yang kokoh dan bersandar pada tiang yang kuat; namun ketika ia menyaksikan keadilan Allah Ta‘ala, semua itu dihancurkan atasnya, 

 لِأَنَّ مُقْتَضَاهُ أَنْ يَفْعَلَ مَا يَشَاءُ وَيَحْكُمَ مَا يُرِيدُ، وَلَا يُبَالِي بِأَعْمَالِ الْعَامِلِينَ.

karena konsekuensinya adalah Allah berbuat apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia inginkan, serta tidak bergantung pada amal para hamba.

فَلَمَّا شَاهَدَ فَضْلَهُ وَكَرَمَهُ أَقَالَهُ مِنْ ذَلِكَ بِأَنْ جَعَلَ لَهُ مِنَ التَّعَلُّقِ بِهِ وَالِاعْتِمَادِ عَلَيْهِ بَدَلًا مِنْهُ وَعِوَضًا عَنْهُ.

Maka ketika ia menyaksikan karunia dan kemurahan-Nya, Allah membebaskannya dari hal itu dengan menjadikan baginya ketergantungan kepada-Nya dan bersandar kepada-Nya sebagai pengganti dan ganti darinya.

وَنِعْمَ الْبَدَلُ وَالْعِوَضُ، فَسُبْحَانَ الْمُتَفَضِّلِ الْمَنَّانِ.

Dan sebaik-baik pengganti dan ganti adalah itu; maka Mahasuci Dzat Yang Maha Memberi karunia lagi Maha Pemberi anugerah.


Munajat 15

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:

( إِلٰهِي : أَنْتَ تَعْلَمُ وَإِنْ لَمْ تَدُمْ الطَّاعَةُ مِنِّي فِعْلًا جَزْمًا فَقَدْ دَامَتْ مَحَبَّةً وَعَزْمًا)

Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui bahwa sekalipun ketaatan dariku tidak terus-menerus berlangsung dalam perbuatan secara pasti, namun ia tetap berlangsung dalam bentuk cinta dan tekad.

جَعَلَ عَزْمَهُ عَلَى الطَّاعَةِ وَمَحَبَّتَهُ لَهَا - وَإِنْ لَمْ يَدُمْ عَلَيْهَا فِعْلًا - إِحْدَى وَسَائِلِهِ، وَذٰلِكَ صَحِيحٌ.

Beliau menjadikan tekadnya untuk taat dan kecintaannya terhadap ketaatan — meskipun tidak terus berlangsung dalam perbuatan — sebagai salah satu wasilahnya, dan hal itu benar.

وَكَمْ مِنْ شَخْصٍ قَدْ طُرِدَ وَأُبْعِدَ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ عَزْمٌ وَلَا فِعْلُ جَزْمٍ.

Betapa banyak orang yang terusir dan dijauhkan karena tidak memiliki tekad maupun perbuatan yang sungguh-sungguh.


Munajat 16

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:

( إِلٰهِي : كَيْفَ أَعْزِمُ وَأَنْتَ الْقَاهِرُ، وَكَيْفَ لَا أَعْزِمُ وَأَنْتَ الْآمِرُ )

Wahai Tuhanku, bagaimana aku dapat bertekad sedangkan Engkau Maha Menguasai, dan bagaimana aku tidak bertekad sedangkan Engkau Maha Memerintah.

اسْتَبْعَدَ مِنْ نَفْسِهِ وُقُوعَ الْعَزْمِ مِنْهُ، وَجَعَلَ مُسْتَنَدَ ذٰلِكَ شُهُودَ الْقَهْرِ؛ لِأَنَّ مَنْ شَهِدَ قَهْرَهُ بَطَلَ عَزْمُهُ؛ لِأَنَّهُ الْغَالِبُ.

Beliau memandang jauh kemungkinan munculnya tekad dari dirinya sendiri, dan dasar pandangan itu adalah penyaksian terhadap kekuasaan Allah; sebab siapa yang menyaksikan kekuasaan-Nya, maka lenyaplah tekad dirinya, karena Allah-lah Yang Maha Mengalahkan.

وَاسْتَبْعَدَ أَيْضًا عَدَمَ الْعَزْمِ، وَجَعَلَ مُسْتَنَدَ ذٰلِكَ شُهُودَ الْأَمْرِ؛ لِأَنَّ مَنْ شَهِدَ أَمْرَهُ بَادَرَ إِلَى امْتِثَالِهِ، وَتَحَرَّزَ مِنْ إِغْفَالِهِ وَإِهْمَالِهِ.

Dan beliau juga memandang jauh untuk tidak bertekad, dengan dasar penyaksian terhadap perintah Allah; sebab siapa yang menyaksikan perintah-Nya, ia akan segera melaksanakannya serta berhati-hati agar tidak melalaikan dan mengabaikannya.


Munajat 17

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:

( إِلٰهِي : تَرَدُّدِي فِي الْآثَارِ يُوجِبُ بُعْدَ الْمَزَارِ، فَاجْمَعْنِي عَلَيْكَ بِخِدْمَةٍ تُوصِلُنِي إِلَيْكَ )

Wahai Tuhanku, kebimbanganku pada jejak-jejak ciptaan menyebabkan jauhnya tujuan ziarah, maka kumpulkanlah aku kepada-Mu dengan suatu pengabdian yang dapat menyampaikanku kepada-Mu.

شَكَى إِلَى مَوْلَاهُ عَزَّ وَجَلَّ طُولَ تَرَدُّدِهِ فِي الْآثَارِ، وَهِيَ : الْأَكْوَانُ، وَأَخْبَرَ أَنَّهُ يُوجِبُ لَهُ بُعْدَ الْمَزَارِ، وَهُوَ الْبُعْدُ عَنْ شُهُودِ التَّوْحِيدِ وَكَمَالِ الْمَعْرِفَةِ، وَقَدْ تَقَدَّمَ هٰذَا الْمَعْنَى عِنْدَ قَوْلِهِ : [ لَا تَرْحَلْ مِنْ كَوْنٍ إِلَى كَوْنٍ ].

Beliau mengadukan kepada Tuhannya Yang Maha Mulia dan Maha Agung tentang lamanya kebimbangan dalam jejak-jejak ciptaan, yaitu alam-alam semesta, dan beliau menjelaskan bahwa hal itu menyebabkan jauhnya tujuan, yakni jauh dari penyaksian tauhid dan kesempurnaan ma‘rifat. Makna ini telah dijelaskan sebelumnya pada ucapan beliau: “Janganlah engkau berpindah dari satu alam ke alam yang lain.”

ثُمَّ سَأَلَهُ وَطَلَبَ مِنْهُ أَنْ يَخْتَصِرَ لَهُ طَرِيقَ سُلُوكِهِ، وَيُقَرِّبَهُ عَلَيْهِ، وَيَجْمَعَهُ مِنْ مُفْتَرَقَاتِ الْآثَارِ بِخِدْمَةٍ تَظْهَرُ فِيهَا عُبُودِيَّتُهُ وَيَصِلُ بِهَا إِلَى مَوْلَاهُ مِنْ غَيْرِ تَرَدُّدٍ وَلَا طُولٍ.

Kemudian beliau memohon kepada Allah agar dipersingkat jalan suluknya, didekatkan kepada-Nya, dan dikumpulkan dari berbagai percabangan jejak-jejak ciptaan melalui suatu pengabdian yang menampakkan kehambaannya, sehingga dengan itu ia sampai kepada Tuhannya tanpa kebimbangan dan tanpa perjalanan yang panjang.

Munajat 18

قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Syekh Ibnu ‘Atha’illah radhiyallahu ‘anhu berkata:

( إِلٰهِي : كَيْفَ يُسْتَدَلُّ عَلَيْكَ بِمَا هُوَ فِي وُجُودِهِ مُفْتَقِرٌ إِلَيْكَ )

Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin Engkau dibuktikan dengan sesuatu yang dalam keberadaannya sendiri justru membutuhkan-Mu.

أَيَكُونُ لِغَيْرِكَ مِنَ الظُّهُورِ مَا لَيْسَ لَكَ حَتَّى يَكُونَ هُوَ الْمُظْهِرَ لَكَ؟

Apakah selain-Mu memiliki suatu bentuk penampakan yang tidak Engkau miliki, sehingga ia dapat menjadi penampak bagi-Mu?

مَتَى غِبْتَ حَتَّى تَحْتَاجَ إِلَى دَلِيلٍ يَدُلُّ عَلَيْكَ، وَمَتَى بَعُدْتَ حَتَّى تَكُونَ الْآثَارُ هِيَ الَّتِي تُوصِلُ إِلَيْكَ.

Kapan Engkau pernah tersembunyi sehingga membutuhkan dalil yang menunjukkan kepada-Mu? Dan kapan Engkau pernah jauh sehingga jejak-jejak ciptaanlah yang harus menyampaikan kepada-Mu?

هٰذَا تَقْبِيحٌ لِأَحْوَالِ الْمُسْتَدِلِّينَ عَلَى رَبِّهِمْ، وَهُمْ أَصْحَابُ النَّظَرِ وَالِاسْتِدْلَالِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى أَهْلِ الْمَقَامِ الْآخَرِ، وَهُمْ أَرْبَابُ الشُّهُودِ وَالْعِيَانِ.

Ini merupakan celaan terhadap keadaan orang-orang yang mencari dalil atas Tuhan mereka, yaitu para ahli nalar dan argumentasi, jika dibandingkan dengan para pemilik maqam yang lain, yakni orang-orang yang memiliki penyaksian dan penglihatan batin.

قَالَ أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الْكَتَّانِيُّ، رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ : « وُجُودُ الْعَطَاءِ مِنَ الْحَقِّ شُهُودُ الْخَلْقِ بِالْحَقِّ؛ لِأَنَّ الْحَقَّ دَلِيلٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، وَلَا يَكُونُ شَيْءٌ دُونَهُ دَلِيلًا عَلَيْهِ ».

Abu Bakar Muhammad bin Ali al-Kattani berkata: “Adanya pemberian dari Al-Haqq merupakan penyaksian makhluk dengan Al-Haqq; karena Al-Haqq adalah dalil atas segala sesuatu, dan tidak mungkin sesuatu selain-Nya menjadi dalil atas-Nya.”

قَالَ فِي « لَطَائِفِ الْمِنَنِ » : « وَأَرْبَابُ الدَّلِيلِ وَالْبُرْهَانِ عَوَامٌّ عِنْدَ أَهْلِ الشُّهُودِ وَالْعِيَانِ، قَدَّسُوا الْحَقَّ فِي ظُهُورِهِ أَنْ يَحْتَاجَ إِلَى دَلِيلٍ عَلَيْهِ، وَكَيْفَ يَحْتَاجُ إِلَى دَلِيلٍ مَنْ نَصَبَ الدَّلِيلَ، وَكَيْفَ يَكُونُ مُعَرِّفًا بِهِ وَهُوَ الْمُعَرِّفُ لَهُ ».

Disebutkan dalam Lathaif al-Minan: “Para pemilik dalil dan argumentasi, menurut ahli syuhud dan ‘iyan, masih tergolong awam. Mereka mensucikan Al-Haqq dalam kejelasan-Nya dari kebutuhan kepada dalil. Bagaimana mungkin Dzat yang menegakkan dalil masih membutuhkan dalil? Dan bagaimana mungkin sesuatu menjadi pengenal bagi-Nya, padahal Dia-lah yang memperkenalkannya?”

قَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ، رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ : « كَيْفَ يُعْرَفُ بِالْمَعَارِفِ مَنْ بِهِ عُرِفَتِ الْمَعَارِفُ، أَمْ كَيْفَ يُعْرَفُ بِشَيْءٍ مَنْ سَبَقَ وُجُودُهُ وُجُودَ كُلِّ شَيْءٍ ».

Abu al-Hasan al-Shadhili berkata: “Bagaimana mungkin Dzat yang dengannya segala pengetahuan dikenal justru dikenali melalui pengetahuan? Atau bagaimana mungkin Dia dikenali melalui sesuatu, padahal keberadaan-Nya mendahului keberadaan segala sesuatu?”

وَقَالَ مُرِيدٌ لِشَيْخِهِ : يَا أُسْتَاذُ، أَيْنَ اللَّهُ؟ فَقَالَ لَهُ : « وَيْحَكَ! أَيُطْلَبُ مَعَ الْعَيْنِ أَيْنَ! ! ».

Seorang murid berkata kepada gurunya: “Wahai guru, di manakah Allah?” Maka gurunya menjawab: “Celaka engkau! Apakah sesuatu yang nyata di hadapan mata masih dicari dengan pertanyaan ‘di mana’?”

وَقَدْ تَقَدَّمَ هٰذَا الْمَعْنَى عِنْدَ قَوْلِهِ : [ شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ وَمَنْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ ].

Makna ini telah dijelaskan sebelumnya pada ucapan beliau: “Sangat jauh berbeda antara orang yang berdalil dengan-Nya dan orang yang berdalil atas-Nya.”

...



Kamis, 14 November 2024

Bagian Ketiga dari Kebersihan: Membersihkan Kotoran yang Terlihat (Dari Kitab Ihya Ulumiddin)

Kebersihan dari kotoran yang terlihat terbagi menjadi dua jenis: 

A. Kotoran dan bagian tubuh

Berikut adalah jenis-jenis kotoran yang sering muncul:

  1. Kotoran di Rambut Kepala: Kotoran dan kutu yang menempel di rambut kepala dianjurkan untuk dibersihkan dengan mencuci, menyisir, dan mengoleskan minyak rambut agar terlihat rapi. Nabi Muhammad ﷺ sering meminyaki dan menyisir rambutnya secara teratur, serta menyarankan umatnya untuk merawat rambut. Beliau bersabda, “Barang siapa memiliki rambut, maka hendaklah ia merawatnya,” yang artinya membersihkan dari kotoran. Ketika seseorang datang kepada beliau dengan rambut acak-acakan, beliau menegur dan berkata bahwa orang tersebut sebaiknya menyisir rambutnya agar terlihat rapi, supaya tidak menyerupai syaitan.
  2. Kotoran di Telinga: Kotoran yang berkumpul di sekitar lipatan telinga bisa dihilangkan dengan mengusap bagian yang tampak. Untuk kotoran di dalam telinga, disarankan membersihkannya dengan lembut setelah keluar dari kamar mandi, karena jika menumpuk, bisa merusak pendengaran.
  3. Kotoran di Dalam Hidung: Kotoran dan lendir yang mengering di dalam hidung sebaiknya dibersihkan dengan cara menghirup air dan kemudian membuangnya (istinsyaq dan istinthar).
  4. Kotoran di Gigi dan Lidah: Kotoran yang menempel di gigi dan ujung lidah dapat dihilangkan dengan bersiwak atau berkumur-kumur.
  5. Kotoran di Janggut: Kotoran atau kutu yang bisa menumpuk di janggut apabila tidak dirawat, disarankan untuk dibersihkan dengan mencuci dan menyisirnya. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan sisir dan cermin, baik dalam perjalanan maupun di rumah. Terdapat riwayat bahwa beliau ﷺ biasa menyisir janggutnya dua kali sehari.
Nabi ﷺ juga memperhatikan kebersihan janggutnya, bahkan di hadapan orang banyak, untuk menjaga penampilan dan memberi kesan baik. Aisyah رضي الله عنها pernah menceritakan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ merapikan rambut dan janggutnya di depan bejana sebelum bertemu dengan orang-orang. Ketika Aisyah bertanya mengapa beliau melakukan hal itu, Nabi ﷺ menjawab bahwa Allah mencintai seorang hamba yang memperhatikan penampilannya di hadapan orang lain. Hal ini tidaklah menunjukkan kecintaan terhadap hiasan, tetapi beliau melakukan hal tersebut agar tidak menimbulkan penilaian buruk dari masyarakat yang mungkin menghambat dakwah.

Dengan demikian, para ulama yang berdakwah juga perlu menjaga penampilan yang tidak menimbulkan ketidaksukaan orang, karena kesan pertama seringkali penting untuk membuka hati orang. Apa yang kita lakukan dengan niat yang benar untuk Allah, seperti berpenampilan rapi, akan mendapatkan pahala sesuai tujuan yang lurus tersebut.

Menjaga Kebersihan Jenggot dan Menghindari Sikap Acuh Tak Acuh dalam Penampilan

Menjaga penampilan agar rapi itu disukai, dan membiarkan rambut acak-acakan dalam jenggot dengan alasan zuhud atau tidak peduli terhadap diri sendiri adalah hal yang tidak disarankan. Namun, jika seseorang meninggalkannya karena lebih sibuk dengan hal-hal yang lebih penting, itu diperbolehkan. Hal-hal ini adalah urusan batin antara seorang hamba dan Allah SWT, dan Allah Maha Mengetahui niat sebenarnya.

Banyak orang awam yang melakukan tindakan ini karena ingin dipandang oleh manusia, dan menganggapnya sebagai kebaikan. Contohnya, ada ulama yang memakai pakaian mewah dan mengaku niatnya adalah untuk menentang orang-orang yang berbuat bid’ah, tetapi hakikatnya akan terbuka pada hari ketika rahasia disingkap. Saat itu, kebenaran niat akan terlihat.

B. Kebersihan Bagian Tubuh Lainnya

  1. Kotoran di Buku-Buku Jari: Kotoran seringkali menumpuk di lipatan jari, terutama karena kebiasaan orang Arab yang jarang mencuci tangan setelah makan. Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk mencuci bagian-bagian tersebut.

  2. Membersihkan Kotoran di Ujung Jari dan di Bawah Kuku: Nabi ﷺ memerintahkan orang Arab untuk membersihkan kotoran di ujung jari dan di bawah kuku karena pada waktu itu jarang tersedia alat pemotong kuku. Nabi ﷺ menetapkan waktu maksimal 40 hari untuk memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan.

  3. Membersihkan Tubuh dari Keringat dan Debu Jalanan: Kotoran yang menempel di tubuh akibat keringat dan debu dapat dihilangkan dengan mandi. Para sahabat Nabi ﷺ pun mandi di pemandian umum di Syam.

Tata Cara Mandi di Pemandian Umum

Mandi di tempat umum memiliki manfaat, seperti membersihkan tubuh dan mengingatkan pada panas api (neraka), tetapi juga memiliki risiko seperti memperlihatkan aurat dan bisa mengurangi rasa malu. Oleh karena itu, dibolehkan mandi di pemandian umum asalkan menjaga aturan, yakni menutup aurat dan menghindari menyentuh atau melihat aurat orang lain. Terdapat dua kewajiban bagi seseorang yang mandi di tempat umum: pertama, menjaga auratnya dari pandangan dan sentuhan orang lain; kedua, menjaga aurat orang lain dengan tidak melihat atau membiarkan aurat mereka terbuka.

Perlu diketahui bahwa dalam hal ini, niat yang tulus kepada Allah lebih utama daripada kesan yang ingin ditampilkan di hadapan manusia.

Etika dan Niat dalam Memasuki Pemandian Umum

Tidak ada alasan untuk tidak mengingatkan sesama dalam hal kebaikan, karena setiap hati akan terpengaruh oleh nasihat dan terjaga dari hal-hal yang dilarang. Meski nasihat mungkin tampak kecil, ia mampu menciptakan kesan buruk terhadap keburukan dan menjauhkan diri darinya. Oleh karena itu, tidak boleh meninggalkan nasihat dan peringatan.

Untuk menghindari godaan, sebaiknya berhati-hati dalam memasuki pemandian umum, karena sering kali di sana terdapat aurat yang terbuka, terutama bagian antara pusar hingga di atas kemaluan yang menurut syariat dianggap sebagai aurat.

Para ulama menyarankan agar pemandian umum dalam keadaan kosong atau terbatas pada orang-orang yang menjaga aurat. Ibnu Umar r.a. pernah terlihat di dalam pemandian umum, menghadap dinding dan menutup matanya dengan kain. Ada pula yang menyarankan agar mengenakan dua kain, satu untuk menutupi aurat dan satu lagi untuk menutup kepala serta menjaga mata.

Tata Cara Memasuki Pemandian Umum Berdasarkan Sunah

Berikut adalah beberapa sunah yang perlu diperhatikan dalam memasuki pemandian umum:

  1. Niat: Memasuki pemandian dengan niat membersihkan diri sebagai bentuk kecintaan kepada kebersihan dan persiapan untuk beribadah, bukan untuk kesenangan duniawi atau sekadar mengikuti hawa nafsu.

  2. Membayar Sebelum Masuk: Sebaiknya memberikan upah kepada penjaga pemandian sebelum masuk untuk menghindari ketidakjelasan dalam pembayaran.

  3. Memasuki dengan Kaki Kiri: Memasuki pemandian dengan kaki kiri sambil mengucapkan, "Bismillahirrahmanirrahim, aku berlindung kepada Allah dari najis, kotoran, dan godaan setan yang terkutuk."

  4. Menggunakan Pemandian Saat Kosong: Berusaha masuk pada waktu yang sepi atau memastikan pemandian hanya diisi oleh orang-orang yang menjaga aurat mereka.

  5. Menutup Mata: Menjaga pandangan dari tubuh yang terbuka, karena gerakan dan perubahan posisi dapat menyebabkan aurat terlihat.

  6. Mencuci Kedua Lengan Saat Masuk: Mencuci kedua lengan saat masuk ke area pemandian.

  7. Menunggu untuk Berkeringat: Tidak langsung masuk ke ruangan panas, tetapi menunggu hingga berkeringat di ruangan pertama.

  8. Menghemat Penggunaan Air: Tidak berlebihan dalam menggunakan air, cukup sesuai kebutuhan, terutama air panas karena biaya dan tenaga untuk menyediakannya.

  9. Mengambil Pelajaran dari Panasnya Pemandian: Merasakan panasnya pemandian sebagai pengingat siksa api neraka, dan membayangkan diri sedang berada di dalam panas yang menyerupai keadaan di neraka untuk meningkatkan kesadaran dan ketakwaan.

Orang yang bijak akan selalu mengingat akhirat dalam setiap momen hidupnya. Pandangannya terhadap segala sesuatu, termasuk air, api, dan hal-hal lainnya, harus diambil sebagai pelajaran dan peringatan, karena segala yang terlihat adalah tanda untuk mengingat dan mengambil hikmah dari-Nya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More