الْبَابُ الثَّالِثُ فِي الْآدَابِ الدَّقِيقَةِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ
(Bab ketiga tentang adab-adab yang halus dan amalan batin)
[بَيَانُ دَقَائِقِ الْآدَابِ وَهِيَ عَشَرَةٌ]
(Penjelasan tentang rincian adab, dan jumlahnya ada sepuluh)
الأَوَّلُ أَنْ تَكُونَ النَّفَقَةُ حَلَالًا،
Pertama: hendaknya biaya (bekal) itu berasal dari yang halal,
وَتَكُونَ الْيَدُ خَالِيَةً مِنْ تِجَارَةٍ تَشْغَلُ الْقَلْبَ وَتُفَرِّقُ الْهَمَّ،
dan tangan (diri) terbebas dari perdagangan yang menyibukkan hati dan memecah konsentrasi,
حَتَّى يَكُونَ الْهَمُّ مُجَرَّدًا لِلَّهِ تَعَالَى،
sehingga perhatian itu murni hanya untuk Allah Ta‘ala,
وَالْقَلْبُ مُطْمَئِنًّا مُنْصَرِفًا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَتَعْظِيمِ شَعَائِرِهِ.
dan hati menjadi tenang serta tercurah kepada zikir kepada Allah dan pengagungan terhadap syiar-syiar-Nya.
وَقَدْ رُوِيَ فِي خَبَرٍ مِنْ طَرِيقِ أَهْلِ الْبَيْتِ:
Dan telah diriwayatkan dalam suatu khabar dari jalur Ahlul Bait:
إِذَا كَانَ آخِرُ الزَّمَانِ خَرَجَ النَّاسُ إِلَى الْحَجِّ أَرْبَعَةَ أَصْنَافٍ: سَلَاطِينُهُمْ لِلنُّزْهَةِ، وَأَغْنِيَاؤُهُمْ لِلتِّجَارَةِ، وَفُقَرَاؤُهُمْ لِلْمَسْأَلَةِ، وَقُرَّاؤُهُمْ لِلسُّمْعَةِ.
Apabila datang akhir zaman, manusia pergi haji dalam empat golongan: para penguasa mereka untuk bersenang-senang, orang-orang kaya mereka untuk berdagang, orang-orang miskin mereka untuk meminta-minta, dan para qari (ahli agama) mereka untuk mencari ketenaran.
وَفِي الْخَبَرِ إِشَارَةٌ إِلَى جُمْلَةِ أَغْرَاضِ الدُّنْيَا الَّتِي يُتَصَوَّرُ أَنْ تَتَّصِلَ بِالْحَجِّ،
Dalam khabar itu terdapat isyarat tentang berbagai tujuan duniawi yang mungkin bercampur dengan ibadah haji,
فَكُلُّ ذٰلِكَ مِمَّا يَمْنَعُ فَضِيلَةَ الْحَجِّ،
dan semua itu termasuk hal yang menghalangi keutamaan haji,
وَيُخْرِجُهُ عَنْ حَيِّزِ حَجِّ الْخُصُوصِ،
serta mengeluarkannya dari derajat haji orang-orang khusus (yang ikhlas),
لَا سِيَّمَا إِذَا كَانَ مُتَجَرِّدًا بِنَفْسِ الْحَجِّ،
terlebih lagi jika ia secara khusus menjadikan haji itu sendiri sebagai sarana,
بِأَنْ يَحُجَّ لِغَيْرِهِ بِأُجْرَةٍ،
yaitu dengan berhaji untuk orang lain dengan upah,
فَيَطْلُبُ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ.
sehingga ia mencari dunia dengan amal akhirat.
وَقَدْ كَرِهَ الْوَرِعُونَ وَأَرْبَابُ الْقُلُوبِ ذٰلِكَ،
Orang-orang yang wara‘ dan para ahli hati (ahli tasawuf) membenci hal tersebut,
إِلَّا أَنْ يَكُونَ قَصْدُهُ الْمُقَامَ بِمَكَّةَ،
kecuali jika tujuannya adalah untuk menetap di Makkah,
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُبَلِّغُهُ،
dan ia tidak memiliki bekal untuk sampai ke sana,
فَلَا بَأْسَ أَنْ يَأْخُذَ ذٰلِكَ عَلَى هٰذَا الْقَصْدِ،
maka tidak mengapa ia mengambil upah itu dengan niat seperti ini,
لَا لِيَتَوَصَّلَ بِالدِّينِ إِلَى الدُّنْيَا،
bukan untuk menjadikan agama sebagai jalan menuju dunia,
بَلْ بِالدُّنْيَا إِلَى الدِّينِ.
melainkan menjadikan dunia sebagai sarana menuju agama.
فَعِنْدَ ذٰلِكَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ قَصْدُهُ زِيَارَةَ بَيْتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،
Dalam keadaan demikian, hendaknya niatnya adalah menziarahi Baitullah ‘Azza wa Jalla,
وَمُعَاوَنَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ بِإِسْقَاطِ الْفَرْضِ عَنْهُ.
serta membantu saudaranya sesama Muslim dengan menggugurkan kewajiban (haji) darinya.
وَفِي مِثْلِهِ يَنْزِلُ قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
Dalam hal seperti ini berlaku sabda Rasulullah ﷺ:
يُدْخِلُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِالْحَجَّةِ الْوَاحِدَةِ ثَلَاثَةً الْجَنَّةَ: الْمُوصِيَ بِهَا، وَالْمُنَفِّذَ لَهَا،وَمَنْ حَجَّ بِهَا عَنْ أَخِيهِ.
Allah memasukkan ke dalam surga dengan satu ibadah haji tiga orang: orang yang mewasiatkannya, orang yang melaksanakannya, dan orang yang berhaji dengannya untuk saudaranya.
وَلَسْتُ أَقُولُ لَا تَحِلُّ الْأُجْرَةُ أَوْ يُحَرَّمُ ذٰلِكَ بَعْدَ أَنْ أَسْقَطَ فَرْضَ الْإِسْلَامِ عَنْ نَفْسِهِ،
Aku tidak mengatakan bahwa upah itu tidak halal atau haram, setelah ia sendiri telah menunaikan kewajiban hajinya,
وَلٰكِنِ الْأَوْلَى أَنْ لَا يَفْعَلَ،
akan tetapi yang lebih utama adalah tidak melakukannya,
وَلَا يَتَّخِذَ ذٰلِكَ مَكْسَبَهُ وَمَتْجَرَهُ،
dan tidak menjadikannya sebagai mata pencaharian dan perniagaannya,
فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا بِالدِّينِ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ بِالدُّنْيَا.
karena Allah ‘Azza wa Jalla memberi dunia dengan (perantara) agama, namun tidak memberi agama dengan (tujuan) dunia.
وَفِي الْخَبَرِ:
Dan dalam sebuah riwayat disebutkan:
مَثَلُ الَّذِي يَغْزُو فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَأْخُذُ أَجْرًا،
Perumpamaan orang yang berperang di jalan Allah lalu mengambil upah,
مَثَلُ أُمِّ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ تُرْضِعُ وَلَدَهَا وَتَأْخُذُ أَجْرَهَا.
seperti ibu Nabi Musa ‘alaihissalam yang menyusui anaknya dan mengambil upahnya.
فَمَنْ كَانَ مِثَالُهُ فِي أَخْذِ الْأُجْرَةِ عَلَى الْحَجِّ مِثَالَ أُمِّ مُوسَى، فَلَا بَأْسَ بِأَخْذِهِ،
Barang siapa keadaannya dalam mengambil upah haji seperti keadaan ibu Musa, maka tidak mengapa ia mengambilnya,
فَإِنَّهُ يَأْخُذُ لِيَتَمَكَّنَ مِنَ الْحَجِّ وَالزِّيَارَةِ فِيهِ،
karena ia mengambilnya agar dapat melaksanakan haji dan ziarah,
وَلَيْسَ يَحُجُّ لِيَأْخُذَ الْأُجْرَةَ،
dan ia tidak berhaji demi mendapatkan upah,
بَلْ يَأْخُذُ الْأُجْرَةَ لِيَحُجَّ،
melainkan ia mengambil upah agar bisa berhaji,
كَمَا كَانَتْ تَأْخُذُ أُمُّ مُوسَى لِيَتَيَسَّرَ لَهَا الْإِرْضَاعُ بِتَلْبِيسِ حَالِهَا عَلَيْهِمْ.
sebagaimana ibu Musa mengambil upah agar dimudahkan baginya menyusui anaknya dengan menyamarkan keadaannya kepada mereka.
الثَّانِي أَنْ لَا يُعَاوِنَ أَعْدَاءَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ بِتَسْلِيمِ الْمَكْسِ،
Kedua: hendaknya ia tidak membantu musuh-musuh Allah dengan menyerahkan maks (pungutan liar/cukai zalim),
وَهُمْ الصَّادُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ مِنْ أُمَرَاءِ مَكَّةَ وَالْأَعْرَابِ الْمُتَرَصِّدِينَ فِي الطَّرِيقِ.
yaitu mereka yang menghalangi manusia dari Masjidil Haram, dari kalangan penguasa Makkah dan orang-orang Arab badui yang menghadang di jalan.
فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْمَالِ إِلَيْهِمْ إِعَانَةٌ عَلَى الظُّلْمِ،
Sesungguhnya menyerahkan harta kepada mereka adalah bentuk bantuan terhadap kezaliman,
وَتَيْسِيرٌ لِأَسْبَابِهِ عَلَيْهِمْ،
dan memudahkan sebab-sebab kezaliman itu bagi mereka,
فَهُوَ كَالْإِعَانَةِ بِالنَّفْسِ.
maka itu seperti membantu dengan diri sendiri.
فَلْيَتَلَطَّفْ فِي حِيلَةِ الْخَلَاصِ،
Maka hendaklah ia berusaha dengan cara yang halus untuk melepaskan diri,
فَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ،
jika ia tidak mampu,
فَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ – وَلَا بَأْسَ بِمَا قَالَهُ –:
sebagian ulama berkata — dan tidak mengapa dengan pendapat itu — :
إِنَّ تَرْكَ التَّنَفُّلِ بِالْحَجِّ وَالرُّجُوعَ عَنِ الطَّرِيقِ أَفْضَلُ مِنْ إِعَانَةِ الظَّلَمَةِ،
meninggalkan haji sunnah dan kembali dari perjalanan lebih utama daripada membantu orang-orang zalim,
فَإِنَّ هٰذِهِ بِدْعَةٌ أُحْدِثَتْ،
karena pungutan itu adalah bid‘ah yang diada-adakan,
وَفِي الِانْقِيَادِ لَهَا مَا يَجْعَلُهَا سُنَّةً مُطَّرِدَةً،
dan tunduk kepadanya akan menjadikannya seolah-olah tradisi yang terus berlangsung,
وَفِيهِ ذُلٌّ وَصَغَارٌ عَلَى الْمُسْلِمِينَ بِبَذْلِ جِزْيَةٍ.
serta di dalamnya terdapat kehinaan dan kerendahan bagi kaum Muslimin dengan membayar seperti upeti.
وَلَا مَعْنَى لِقَوْلِ الْقَائِلِ: إِنَّ ذٰلِكَ يُؤْخَذُ مِنِّي وَأَنَا مُضْطَرٌّ،
Tidak ada arti bagi perkataan orang yang berkata, “Itu diambil dariku sedangkan aku terpaksa,”
فَإِنَّهُ لَوْ قَعَدَ فِي الْبَيْتِ أَوْ رَجَعَ مِنَ الطَّرِيقِ لَمْ يُؤْخَذْ مِنْهُ شَيْءٌ،
karena jika ia tetap tinggal di rumah atau kembali dari jalan, tidak akan diambil darinya sesuatu pun,
بَلْ رُبَّمَا يُظْهِرُ أَسْبَابَ التَّرَفُّهِ فَتَكْثُرُ مُطَالَبَتُهُ،
bahkan mungkin ia menampakkan tanda-tanda kemewahan sehingga tuntutan terhadapnya semakin banyak,
فَلَوْ كَانَ فِي زِيِّ الْفُقَرَاءِ لَمْ يُطَالَبْ،
seandainya ia berpenampilan seperti orang miskin, ia tidak akan dituntut,
فَهُوَ الَّذِي سَاقَ نَفْسَهُ إِلَى حَالَةِ الِاضْطِرَارِ.
maka dialah yang menggiring dirinya sendiri kepada keadaan terpaksa itu.
الثَّالِث التَّوَسُّعُ فِي الزَّادِ،
Ketiga: melapangkan bekal,
وَطِيبُ النَّفْسِ بِالْبَذْلِ وَالْإِنْفَاقِ،
dan berlapang dada dalam memberi dan berinfak,
مِنْ غَيْرِ تَقْتِيرٍ وَلَا إِسْرَافٍ،
tanpa kikir dan tanpa berlebih-lebihan,
بَلْ عَلَى اقْتِصَادٍ،
tetapi secara sederhana dan seimbang.
وَأَعْنِي بِالْإِسْرَافِ التَّنَعُّمَ بِأَطْيَبِ الْأَطْعِمَةِ،
Yang aku maksud dengan berlebih-lebihan adalah bermewah-mewahan dengan makanan paling lezat,
وَالتَّرَفُّهَ بِشُرْبِ أَنْوَاعِهَا عَلَى عَادَةِ الْمُتَرَقِّينَ.
dan bersenang-senang dengan berbagai minuman sebagaimana kebiasaan orang-orang yang hidup mewah.
فَأَمَّا كَثْرَةُ الْبَذْلِ فَلَا سَرَفَ فِيهِ،
Adapun banyak memberi, maka tidak ada pemborosan di dalamnya,
إِذْ لَا خَيْرَ فِي السَّرَفِ، وَلَا سَرَفَ فِي الْخَيْرِ كَمَا قِيلَ.
karena tidak ada kebaikan dalam pemborosan, dan tidak disebut pemborosan dalam kebaikan, sebagaimana dikatakan.
وَبَذْلُ الزَّادِ فِي طَرِيقِ الْحَجِّ نَفَقَتُهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،
Memberikan bekal di jalan haji adalah nafkah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla,
وَالدِّرْهَمُ بِسَبْعِمِائَةِ دِرْهَمٍ.
dan satu dirham dilipatgandakan menjadi tujuh ratus dirham.
قَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا:
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
مِنْ كَرَمِ الرَّجُلِ طِيبُ زَادِهِ فِي سَفَرِهِ،
Termasuk kemuliaan seseorang adalah baiknya bekalnya dalam perjalanan,
وَكَانَ يَقُولُ: أَفْضَلُ الْحَاجِّ أَخْلَصُهُمْ نِيَّةً، وَأَزْكَاهُمْ نَفَقَةً، وَأَحْسَنُهُمْ يَقِينًا.
Dan beliau berkata: Haji yang paling utama adalah yang paling ikhlas niatnya, paling bersih nafkahnya, dan paling baik keyakinannya.
وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
Dan Nabi ﷺ bersabda:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ.
Haji yang mabrur tidak ada balasannya selain surga.
فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا بِرُّ الْحَجِّ؟
Lalu ditanyakan kepada beliau: Wahai Rasulullah, apa itu kemabruran haji?
فَقَالَ: طِيبُ الْكَلَامِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ.
Beliau menjawab: Perkataan yang baik dan memberi makan.
الرَّابِعُ تَرْكُ الرَّفَثِ وَالْفُسُوقِ.
Keempat: meninggalkan rafats (ucapan atau perbuatan yang berkaitan dengan syahwat) dan kefasikan.
وَالْجِدَالُ كَمَا نُطِقَ بِهِ الْقُرْآنُ
Dan al-jidal (perdebatan/berselisih) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
وَالْرَّفْثُ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ لَغْوٍ وَخَنًى وَفَحْشٍ مِنَ الْكَلَامِ،
Dan ar-rafthu adalah istilah yang mencakup semua ucapan sia-sia, keji, dan kasar dalam perkataan,
وَيَدْخُلُ فِيهِ مُغَازَلَةُ النِّسَاءِ وَمُدَاعَبَتُهُنَّ وَالتَّحَدُّثُ بِشَأْنِ الْجِمَاعِ وَمُقَدِّمَاتِهِ،
dan termasuk di dalamnya menggoda wanita, bermain-main dengan mereka, dan berbicara tentang perkara syahwat serta pendahuluannya,
فَإِنَّ ذٰلِكَ يُهِيِجُ دَاعِيَةَ الْجِمَاعِ الْمَحْظُورِ، وَالدَّاعِي إِلَى الْمَحْظُورِ مَحْظُورٌ.
karena hal itu membangkitkan dorongan syahwat yang terlarang, dan mendorong kepada yang terlarang adalah terlarang.
وَالْفُسُوقُ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ خُرُوجٍ عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Dan al-fusuq adalah istilah yang mencakup segala bentuk keluar dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
وَالْجِدَالُ هُوَ الْمُبَالَغَةُ فِي الْخُصُومَةِ وَالْمُمَارَاةِ بِمَا يُورِثُ الضَّغَائِنَ وَيُفَرِّقُ فِي الْحَالِ الْهِمَّةَ وَيُنَاقِضُ حُسْنَ الْخُلُقِ.
Sedangkan al-jidal adalah berlebihan dalam berselisih dan bertengkar dengan cara yang menimbulkan kebencian, memecah semangat, dan bertentangan dengan akhlak yang baik.
وَقَدْ قَالَ سُفْيَانُ: مَنْ رَفَثَ فَسَدَ حَجُّهُ.
Dan Sufyan berkata: “Barang siapa melakukan rafth, maka hajinya rusak.”
وَقَدْ جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَيِّبَ الْكَلَامِ مَعَ إِطْعَامِ الطَّعَامِ مِنْ بَرِّ الْحَجِّ.
Dan Rasulullah ﷺ menjadikan perkataan yang baik bersamaan dengan memberi makan sebagai bagian dari kebaikan haji.
وَالْمُمَارَاةُ تُنَاقِضُ طَيِّبَ الْكَلَامِ،
Sedangkan bertengkar bertentangan dengan perkataan yang baik,
فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ كَثِيرَ الْاعْتِرَاضِ عَلَى رَفِيقِهِ وَجَمَالِهِ وَعَلَى غَيْرِهِ مِنْ أَصْحَابِهِ،
maka tidak sepatutnya sering membantah teman atau rombongannya maupun orang lain di antara sahabatnya,
بَلْ يَلِينُ جَانِبُهُ وَيُخَفِّضُ جَنَاحَهُ لِلصَّائِرِينَ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،
melainkan hendaklah ia bersikap lemah lembut dan menundukkan sayapnya (menyesuaikan diri) bagi orang-orang yang menuju Baitullah ‘Azza wa Jalla,
وَيَلْزَمُ حُسْنَ الْخُلُقِ،
dan wajib menegakkan akhlak yang baik,
وَلَيْسَ حُسْنُ الْخُلُقِ كَفَّ الْأَذَى بَلِ احْتِمَالُ الْأَذَى.
dan akhlak yang baik bukan sekadar menahan diri dari menyakiti, melainkan juga menahan dari tersinggung atau membalas dosa.
وَقِيلَ سُمِّيَ السَّفَرُ سَفَرًا لِأَنَّهُ يُسْفِرُ عَنْ أَخْلَاقِ الرِّجَالِ،
Dikatakan bahwa perjalanan dinamakan safar karena ia menyingkap akhlak manusia,
وَلِذَلِكَ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ يَعْرِفُ رَجُلًا: هَلْ صَحَبَتُهُ فِي السَّفَرِ الَّذِي يُسْتَدَلُّ بِهِ عَلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ؟
dan Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang yang mengaku mengenal seseorang: “Apakah pergaulannya dalam perjalanan yang dijadikan petunjuk atas akhlak mulia itu?”
قَالَ: لا، فَقَالَ: مَا أَرَاكَ تَعْرِفُهُ؟
Ia menjawab: “Tidak.” Maka Umar berkata: “Lalu bagaimana kamu mengenalnya?”
الخامِسُ أَنْ يَحُجَّ مَاشِيًا إِنْ قَدَرَ عَلَيْهِ فَذٰلِكَ الْأَفْضَلُ.
Kelima: hendaklah haji dengan berjalan kaki jika mampu, karena itu yang terbaik.
أَوْصَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِبَنِيهِ عِنْدَ مَوْتِهِ فَقَالَ: يَا بَنِيّ حَجُّوا مَشَاةً، فَإِنَّ لِلْحَاجِّ الْمَاشِي بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا سَبْعُمِائَةُ حَسَنَةٍ مِنْ حَسَنَاتِ الْحَرَمِ.
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mewasiatkan kepada anak-anaknya saat meninggal: “Wahai anak-anakku, hajilah dengan berjalan kaki, karena bagi haji yang berjalan, setiap langkahnya bernilai tujuh ratus pahala dari pahala haram.”
قِيلَ وَمَا حَسَنَاتُ الْحَرَمِ؟
Lalu ditanyakan: “Apa itu pahala haram?”
قَالَ: الْحَسَنَةُ بِمِائَةِ أَلْفٍ، وَالِاسْتِحْبَابُ فِي الْمَشْيِ فِي الْمَنَاسِكِ وَالتَّرَدُّدِ مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَوْقِفِ وَإِلَى مِنًى أَكْدَى مِنْهُ فِي الطَّرِيقِ.
Beliau menjawab: “Satu kebaikan setara dengan seratus ribu, dan dianjurkan berjalan dalam ibadah haji dan bolak-balik dari Makkah ke Arafah dan ke Mina lebih utama daripada hanya di jalan.”
وَإِنْ أَضَافَ إِلَى الْمَشْيِ الْإِحْرَامَ مِنْ دَوِيرَةِ أَهْلِهِ، فَقَدْ قِيلَ إِنَّ ذٰلِكَ مِنْ إِتْمَامِ الْحَجِّ، قَالَهُ عُمَرُ وَعَلِيٌّ وَابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Dan jika menambahkan ihram dengan mengelilingi rumahnya, maka dikatakan itu termasuk penyempurnaan haji, sebagaimana dikatakan Umar, Ali, dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhum.
فِي مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى: وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ.
Dalam maksud ayat Allah Ta’ala: “Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah 196)
وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: الرُّكُوبُ أَفْضَلُ لِمَا فِيهِ مِنَ الْإِنْفَاقِ وَالْمُؤَنَةِ، وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَن ضَجَرِ النَّفْسِ وَأَقَلُّ لأَذَاهُ وَأَقْرَبُ إِلَى سَلاَمَتِهِ وَتَمَامِ حَجِّهِ.
Dan sebagian ulama berkata: “Naik kendaraan lebih utama karena ada unsur pengeluaran dan kesulitan, dan karena itu lebih jauh dari kejenuhan, lebih ringan dari gangguan, serta lebih dekat kepada keselamatan dan kesempurnaan hajinya.”
وَهَذَا عِنْدَ التَّحْقِيقِ لَيْسَ مُخَالِفًا لِلْأَوَّلِ، بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يُفَصَّلَ وَيُقَالَ: مَنْ سَهُلَ عَلَيْهِ الْمَشْيُ فَهُوَ أَفْضَلُ.
Dan ini menurut kajian yang mendalam tidak bertentangan dengan yang pertama, melainkan sebaiknya dijelaskan: barang siapa yang berjalan kaki itu mudah baginya, maka itu lebih utama.
فَإِنْ كَانَ يَضَعُفُ وَيُؤَدِّي بِهِ ذٰلِكَ إِلَى سُوءِ الْخُلُقِ وَقُصُورٍ عَنْ عَمَلٍ، فَالْرُّكُوبُ لَهُ أَفْضَلُ.
Jika berjalan membuatnya lemah dan menimbulkan akhlak yang buruk atau mengurangi kemampuannya beribadah, maka naik kendaraan lebih utama baginya.
كَمَا أَنَّ الصّوْمَ لِلْمُسَافِرِ أَفْضَلُ وَلِلْمَرِيضِ مَا لَمْ يُفِضْ إِلَى ضَعْفٍ وَسُوءِ خُلُقٍ.
Demikian pula puasa bagi musafir lebih utama, dan bagi orang sakit sah-sah saja selama tidak menimbulkan kelemahan atau akhlak buruk.
وَسُئِلَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ عَنْ الْعُمْرَةِ: أَيَمْشِي فِيهَا أَمْ يَكْتَرِي حِمَارًا بِدِرْهَمٍ؟
Sebagian ulama ditanya tentang umrah: apakah ia berjalan kaki atau menyewa keledai dengan satu dirham?
فَقَالَ: إِنْ كَانَ وَزْنُ الدِّرْهَمِ أَشَدُّ عَلَيْهِ، فَالْكِرَاءُ أَفْضَلُ مِنَ الْمَشْيِ.
Beliau menjawab: jika beban dirham itu berat baginya, maka menyewa lebih baik daripada berjalan.
وَإِنْ كَانَ الْمَشْيُ أَشَدُّ عَلَيْهِ كَالْأَغْنِيَاءِ فَالْمَشْيُ لَهُ أَفْضَلُ، فَكَأَنَّهُ ذَهَبَ فِيهِ إِلَى طَرِيقِ مُجَاهَدَةِ النَّفْسِ وَلَهُ وَجْهٌ.
Jika berjalan lebih berat baginya, seperti orang kaya, maka berjalan lebih utama baginya. Seakan-akan beliau menempuh jalan jihad terhadap diri sendiri, dan itu ada logikanya.
وَلَكِنَّ الْأَفْضَلَ لَهُ أَنْ يَمْشِيَ وَيُصْرِفَ ذٰلِكَ الدِّرْهَمَ إِلَى خَيْرٍ، فَهُوَ أَوْلَى مِنْ صَرْفِهِ إِلَى الْمُكَارِي عِوَضًا عَنْ ابْتِذَالِ الدَّابَّةِ.
Namun yang lebih utama baginya adalah berjalan dan menggunakan dirham tersebut untuk kebaikan; ini lebih utama daripada memberikannya kepada penyewa sebagai pengganti pelelahan hewan.
فَإِذَا كَانَتْ لَا تَتَّسِعُ نَفْسُهُ لِلْجَمْعِ بَيْنَ مَشَقَّةِ النَّفْسِ وَنُقْصَانِ الْمَالِ فَمَا ذُكِرَهُ غَيْرُ بَعِيدٍ فِيهِ.
Jika ia tidak sanggup menanggung kombinasi antara beratnya berjalan dan pengeluaran uang, maka yang disebutkan tadi tidaklah jauh dari kebenaran.
السَّادِسُ أَنْ لَا يَرْكَبَ إِلَّا زَامِلَةً، أَمَّا الْمَحْمَلُ فَلِيَجْتَنِبْهُ إِلَّا إِذَا كَانَ يَخَافُ عَلَى الزَّامِلَةِ أَنْ لَا يَسْتَمْسِكَ عَلَيْهَا لِعُذْرٍ، وَفِيهِ مَعْنِيَانِ.
Keenam: hendaklah ia hanya menaiki zâmila (kendaraan sederhana/ekor tunggangan), sedangkan mahmal (kendaraan mewah) dijauhi kecuali jika ia khawatir zâmila tidak akan bertahan, dan di sini ada dua makna.
أَحَدُهُمَا: التَّخْفِيفُ عَلَى الْبَعِيرِ فَإِنَّ الْمَحْمَلَ يُؤْذِيهِ.
Yang pertama: meringankan beban unta, karena mahmal dapat menyakitinya.
وَالثَّانِي: اجْتِنَابُ زِيِّ الْمُتَرَفِّينَ الْمُتَكَبِّرِينَ.
Yang kedua: menghindari pakaian atau kendaraan orang kaya yang sombong.
حَجَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَاحِلَةٍ وَكَانَ تَحْتَهُ رَحْلٌ رَثٌّ وَقُطِيفَةٌ خُلْقَتُهَا أَرْبَعَةُ دَرَاهِم.
Rasulullah ﷺ menunaikan haji dengan tunggangan, dan di bawahnya ada sadel lusuh dan kain kapas seharga empat dirham.
وَطَافَ عَلَى الرَّاحِلَةِ لِيَنْظُرَ النَّاسُ إِلَى هَدْيِهِ وَشَمَائِلِهِ.
Beliau berkeliling dengan tunggangan agar orang melihat bimbingan dan akhlaknya.
وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ.
Dan Rasulullah ﷺ bersabda: “Ambillah manasik haji kalian dariku.”
وَقِيلَ: إِنَّ هَذِهِ الْمَحَامِلَ أُحْدِثَهَا الْحُجَّاجُ، وَكَانَ الْعُلَمَاءُ فِي وَقْتِهِ يَنْكُرُونَهَا.
Dikatakan: “Mahmal ini diciptakan oleh para jamaah haji, dan para ulama pada zamannya menolaknya.”
فَرَوَى سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ: بَرَزْتُ مِنَ الْكُوفَةِ إِلَى الْقَادِسِيَّةِ لِلْحَجِّ وَوَافَيْتُ الرِّفَاقَ مِنَ الْبِلَادِ فَرَأَيْتُ الْحَاجَّ كُلَّهُمْ عَلَى زَامِلَاتٍ وَجَوَالِقَاتٍ وَرَوَاحِلَ، وَمَا رَأَيْتُ فِي جَمِيعِهِمْ إِلَّا مَحْمَلَيْنِ.
Sufyan ath-Thawri meriwayatkan dari ayahnya: “Aku berangkat dari Kufah ke Qadisiyah untuk haji dan menemui rombongan dari berbagai negeri. Aku melihat semua jamaah haji menggunakan zâmila, jawāliq, dan tunggangan, dan aku tidak melihat dari mereka kecuali dua mahmal.”
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا نَظَرَ إِلَى مَا أُحْدِثَ الْحُجَّاجُ مِنَ الزِّيِّ وَالْمَحَامِلِ يَقُولُ: الْحَاجُّ قَلِيلٌ وَالرُّكْبُ كَثِيرٌ، ثُمَّ نَظَرَ إِلَى رَجُلٍ مَسْكِينٍ رَثّ الْهَيْئَةِ تَحْتَهُ جَوَالٌ، فَقَالَ: هَذَا نِعْمَ مِنَ الْحُجَّاجِ.
Dan Ibnu Umar, bila melihat apa yang dibuat jamaah dari pakaian dan mahmal, berkata: “Hajinya sedikit, kendaraannya banyak.” Kemudian ia melihat seorang miskin dengan keadaan lusuh dan di bawahnya ada jawāl, lalu berkata: “Ini adalah jamaah yang baik.”
السَّابِعُ أَنْ يَكُونَ رَثَّ الْهَيْئَةِ أَشْعَثَ أَغْبَرَ غَيْرَ مُسْتَكْثِرٍ مِنَ الزِّينَةِ وَلَا مَائِلٍ إِلَى أَسْبَابِ التَّفَاخُرِ وَالتَّكَاثُرِ.
Ketujuh: hendaklah ia berpakaian lusuh, berambut acak, berdebu, tidak berlebihan dalam berhias, dan tidak condong pada sebab-sebab kesombongan dan kelebihan harta.
فَيُكْتَبُ فِي دِوَانِ الْمُتَكَبِّرِينَ الْمُتَرَفِّهِينَ وَيَخْرُجُ عَنْ حِزْبِ الضُّعَفَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَخُصُوصِ الصَّالِحِينَ.
Ia tercatat di antara orang-orang sombong yang hidup mewah, dan keluar dari golongan orang lemah, miskin, serta khususnya orang-orang saleh.
فَقَدْ أَمَرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالشَّعْثِ وَالِاخْتِفَاءِ وَنَهَى عَنِ التَّنَعُّمِ وَالرَّفَاهِيَةِ فِي حَدِيثِ فُضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ.
Karena Rasulullah ﷺ memerintahkan berpakaian acak dan menyembunyikan diri, dan melarang kemewahan dan kemanjaan, sebagaimana dalam hadits Fudala bin ‘Ubaid.
وَفِي الْحَدِيثِ: إِنَّمَا الْحَاجُّ الشَّعْثُ النَّفْثُ.
Dalam hadits disebutkan: “Sesungguhnya haji itu (adalah) lusuh dan berdebu.”
وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: انْظُرُوا إِلَى زُوَّارِ بَيْتِي قَدْ جَاءُونِي شَعْثًا غُبْرًا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ.
Allah Ta’ala berfirman: “Perhatikanlah para pengunjung rumah-Ku, mereka datang kepadaku dalam keadaan lusuh dan berdebu dari setiap lembah yang dalam.”
وَقَالَ تَعَالَى: ثُمَّ لِيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَالتَّفَثُ الشَّعْثُ وَالْأَغْبَرَارُ وَقَضَاؤُهُ بِالْحَلْقِ وَقَصِّ الشَّارِبِ وَالْأَظْفَارِ.
Dan Allah berfirman: “Kemudian hendaklah mereka menyempurnakan pembersihan diri mereka; pembersihan itu adalah dengan mencukur rambut acak dan berdebu, serta disempurnakan dengan memotong rambut, kumis, dan kuku.”
وَكُتِبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى أُمَرَاءِ الْأَجْنَادِ: اخْلُلُقُوا وَاخْشُوشِنُوا، أَيْ الْبِسُوا الْخَلْقَانَ وَاسْتَعْمِلُوا الْخَشُونَةَ فِي الْأَشْيَاءِ.
Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu menulis kepada para penguasa pasukan: “Buatlah pakaian longgar dan kasar, yakni kenakan pakaian sederhana dan gunakan kekasaran dalam hal-hal duniawi.”
وَقَدْ قِيلَ: زَيَّنَ الْحُجَّاجَ أَهْلُ الْيَمَنِ لِأَنَّهُمْ عَلَى هَيْئَةِ التَّوَاضُعِ وَالضَّعْفِ وَسِيرَةِ السَّلَفِ.
Dikatakan: “Orang-orang Yaman memperindah jamaah haji karena mereka dalam keadaan sederhana, lemah, dan meneladani cara hidup salaf.”
فَيَنْبَغِي أَنْ يَجْتَنِبَ الْحُمْرَةَ فِي زِيِّهِ عَلَى الْخُصُوصِ وَالشُّهْرَةَ كَيْفَمَا كَانَتْ عَلَى الْعُمُومِ.
Oleh karena itu, hendaklah ia menjauhi warna merah pada pakaiannya secara khusus, dan menjauhi kemasyhuran secara umum.
فَقَدْ رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي سَفَرٍ فَنَزَلَ أَصْحَابُهُ مَنْزِلًا فَسَرَحَتِ الْإِبِلُ فَنَظَرَ إِلَى أَكْسِيَةٍ حُمْرٍ عَلَى الْأَقْتَابِ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرَى هَذِهِ الْحُمْرَةَ قَدْ غَلَبَتْ عَلَيْكُمْ.
Telah diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ sedang dalam perjalanan, lalu para sahabat singgah di suatu tempat, dan unta-unta dilepas merumput. Beliau melihat beberapa pelana berwarna merah di punggung unta dan bersabda: “Aku lihat warna merah ini telah menguasai kalian.”
قَالُوا فَقُمْنَا إِلَيْهَا وَنَزَعْنَاهَا عَنْ ظُهُورِهَا حَتَّى شَرَدَ بَعْضُ الإِبِلِ.
Mereka berkata: “Maka kami pergi kepadanya dan melepaskannya dari punggung unta-unta hingga beberapa unta pun lari.”
الثَّامِنُ أَنْ يُرْفَقَ بِالدَّابَّةِ فَلَا يُحْمَلْهَا مَا لَا تَطِيقُ وَالْمَحْمَلُ خَارِجٌ عَنْ حَدِّ طَاقَتِهَا وَالنَّوْمُ عَلَيْهَا يُؤْذِيهَا وَيُثَقِّلُ عَلَيْهَا.
Kedelapan: hendaklah bersikap lembut terhadap tunggangannya, jangan membebani melebihi kemampuannya, karena mahmal melebihi batas kemampuannya, dan tidur di atasnya menyakitinya serta memberatkannya.
كَانَ أَهْلُ الْوَرَعِ لَا يَنَامُونَ عَلَى الدَّوَابِّ إِلَّا غَفْوَةً عَنْ قُعُودٍ، وَكَانُوا لَا يَقِفُونَ عَلَيْهَا الْوَقُوفَ الطَّوِيلَ.
Orang-orang yang wara’ tidak tidur di atas hewan tunggangan kecuali sekejap sambil duduk, dan tidak berdiri lama di atasnya.
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَتَّخِذُوا ظُهُورَ دَوَابِّكُمْ كَرَاسِيًّا.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Jangan jadikan punggung tunggangan kalian sebagai kursi.”
وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَنْزِلَ عَنْ دَابَّتِهِ غَدْوَةً وَعَشِيَّةً لِيُرَوِّحَهَا بِذَلِكَ فَهُوَ سُنَّةٌ.
Disunahkan untuk turun dari tunggangannya pagi dan sore agar ia dapat beristirahat, dan itu adalah sunnah.
وَفِيهِ آثَارٌ عَنِ السَّلَفِ.
Dan dalam hal ini ada riwayat dari para salaf.
وَكَانَ بَعْضُ السَّلَفِ يَكْتَرِي بِشَرْطِ أَنْ لَا يَنْزِلَ وَيُوفِي الْأُجْرَةَ ثُمَّ كَانَ يَنْزِلُ عَنْهَا لِيَكُونَ بِذَلِكَ مُحْسِنًا إِلَى الدَّابَّةِ فَيَكُونَ فِي حَسَنَاتِهِ وَيُوضَعُ فِي مِيزَانِهِ لَا فِي مِيزَانِ الْمُكَّارِي.
Sebagian salaf menyewa (tunggangan) dengan syarat tidak turun dan membayar upahnya, kemudian ia turun dari tunggangan itu agar menjadi orang yang berbuat baik kepada hewan itu; maka kebaikan itu dicatat untuknya dan dimasukkan ke timbangan amalnya, bukan ke timbangan orang yang menyewakan.
وَكُلُّ مَنْ آذَى بِهِيمَةً وَحَمَلَهَا مَا لَا تَطِيقُ طُلِبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Dan siapa pun yang menyakiti hewan atau membebani melebihi kemampuannya akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat.
قَالَ أَبُو الدَّرْدَاء لِبَعِيرٍ لَهُ عِنْدَ الْمَوْتِ: يَا أَيُّهَا الْبَعِيرُ لَا تُخَاصِمْنِي إِلَى رَبِّكَ فَإِنِّي لَمْ أَكُنْ أَحْمِلُكَ فَوْقَ طَاقَتِكَ.
Abu Darda’ berkata kepada untanya ketika hendak wafat: “Hai untaku, jangan kau adukan aku kepada Tuhanmu, karena aku tidak pernah membebanimu melebihi kemampuanmu.”
وَعَلَى الْجُمْلَةِ فِي كُلِّ كَبِدٍ حَرَاءٍ أَجْرٌ فَلِيُرَاعَ حَقُّ الدَّابَّةِ وَحَقُّ الْمُكَّارِي جَمِيعًا وَفِي نُزُولِهِ سَاعَةٌ تَرْوِيحُ الدَّابَّةِ وَسُرُورُ قَلْبِ الْمُكَّارِي.
Secara keseluruhan, pada setiap punggung hewan yang digunakan terdapat pahala; maka hendaklah diperhatikan hak hewan dan hak pemiliknya, dan saat turun ada waktu untuk melepaskan hewan dari beban sekaligus membahagiakan pemiliknya.
قَالَ رَجُلٌ لِابْنِ الْمُبَارَكِ: احْمِلْ لِي هَذَا الْكِتَابَ مَعَكَ لِتُوصِلَهُ، فَقَالَ: حَتَّى أَسْتَأْمِرَ الْجِمَالَ فَإِنِّي قَدِ اكْتَرَيْتُ.
Seorang lelaki berkata kepada Ibn al-Mubarak: “Bawakan buku ini bersamamu untuk disampaikan.” Ia menjawab: “Sampai aku minta izin dari untanya, karena aku telah menyewanya.”
فَانْظُرْ كَيْفَ تَوَرَّعَ مِنَ اسْتِصْحَابِ كِتَابٍ لَا وَزْنَ لَهُ وَهُوَ طَرِيقُ الْحِزْمِ فِي الْوَرَعِ فَإِنَّهُ إِذَا فُتِحَ بَابُ الْقَلِيلِ انْجَرَّ إِلَى الْكَثِيرِ يَسِيرًا يَسِيرًا.
Perhatikan bagaimana ia berhati-hati hanya dengan membawa buku tanpa berat, ini adalah cara tegas dalam wara’, karena jika dibuka pintu hal kecil, bisa meluas menjadi besar sedikit demi sedikit.
التَّاسِعُ أَنْ يَتَقَرَّبَ بِإِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ وَاجِبًا عَلَيْهِ وَيَجْتَهِدَ أَنْ يَكُونَ مِنْ سَمِينِ النِّعَمِ وَنَفِيسِهَا وَلِيَأْكُلْ مِنْهُ إِنْ كَانَ تَطَوُّعًا وَلَا يَأْكُلْ مِنْهُ إِنْ كَانَ وَاجِبًا.
Kesembilan: hendaklah mendekatkan diri dengan menyembelih hewan, meskipun tidak wajib baginya, dan berusaha menggunakan hewan dari yang gemuk dan mahal; ia boleh memakannya jika itu sunnah, dan tidak memakannya jika itu wajib.
قِيلَ فِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ تَعَالَى: ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ إِنَّهُ تَحْسِينُهُ وَتَسْمِينُهُ.
Dikatakan dalam tafsir ayat-Nya: “Itu (pengorbanan), dan siapa yang mengagungkan syi’ar Allah, sesungguhnya itu adalah penghormatan dan pemberian terbaik (gemuk) untuk-Nya.”
وَسُوقُ الْهَدْيِ مِنَ الْمِيَاقَاتِ أَفْضَلُ إِنْ كَانَ لَا يَجْهَدُهُ وَلَا يُكْدِهُ وَيُتْرَكُ الْمَكَاسُ فِي شِرَائِهِ فَقَدْ كَانُوا يُغَالُونَ فِي ثَلَاثٍ وَيَكْرَهُونَ.
Membawa hewan kurban dari miqat lebih utama jika itu tidak melelahkan dan menyulitkan, dan hendaklah menjauhi pedagang yang menipu dalam membeli, karena mereka biasa menaikkan harga hingga tiga kali dan itu dibenci.
الْمَكَاسُ فِيهِنَّ الْهَدْيُ وَالْأُضْحِيَّةُ وَالرَّقَبَةُ فَإِنَّ أَفْضَلَ ذَلِكَ أَغْلَاهُ ثَمَنًا وَأَنْفَسُهُ عِنْدَ أَهْلِهِ.
Di antara hewan (yang digunakan untuk ibadah) adalah hewan kurban, udhiyah, dan budak yang ditebus; sesungguhnya yang paling utama adalah yang paling mahal harganya dan paling berharga bagi pemiliknya.
وَرَوَى ابْنُ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَهْدَى بُخْتِيَةً فَطُلِبَتْ مِنْهُ بِثَلَاثِمِائَةِ دِينَارٍ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيعَهَا وَيَشْتَرِيَ بِثَمَنِهَا بَدَنًا فَنَهَاهُ عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ بَلْ أَهْدِهَا.
Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu menghadiahkan seekor unta betina, lalu diminta dijual seharga 300 dinar; ia menanyakan kepada Rasulullah ﷺ apakah boleh menjualnya dan membeli seekor unta dengan harganya, namun Rasulullah ﷺ melarangnya dan berkata: “Tetaplah hadiahkan itu.”
وَذَلِكَ لِأَنَّ الْقَلِيلَ الْجَيِّدَ خَيْرٌ مِنَ الْكَثِيرِ الدُّونِ وَفِي ثَلَاثِمِائَةِ دِينَارٍ قِيمَةُ ثَلَاثِينَ بَدَنَةً وَفِيهَا تَكْثِيرُ اللَّحْمِ وَلَكِنْ لَيْسَ الْمَقْصُودُ اللَّحْمُ إِنَّمَا الْمَقْصُودُ تَزْكِيَةُ النَّفْسِ وَتَطْهِيرُهَا عَنْ صِفَةِ الْبُخْلِ وَتَزْيِينُهَا بِجَمَالِ التَعْظِيمِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Itu karena sedikit yang baik lebih utama daripada banyak yang rendah; dan dengan 300 dinar nilainya setara dengan 30 unta, sehingga dagingnya banyak, tetapi yang dimaksud bukanlah daging, melainkan mensucikan jiwa dari sifat kikir dan memperindahnya dengan kemuliaan mengagungkan Allah azza wa jalla.
فَـ{لَنْ يَنَالَ اللَّهُ لُحُومَهَا وَلَا دِمَاؤَهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ} وَذَلِكَ يَحْصُلُ بِمُرَاعَاةِ النَّفَاسَةِ فِي الْقِيمَةِ كَثُرَ الْعَدَدُ أَوْ قَلَّ.
“…Allah tidak akan memperoleh dagingnya dan tidak pula darahnya, tetapi yang Dia peroleh adalah takwa dari kalian” (Al-Hajj:37); hal ini tercapai dengan memperhatikan nilai hewan, apakah jumlahnya banyak atau sedikit.
وَسَأَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَرُّ الْحَجِّ فَقَالَ: الْعَجُّ وَالثُّجُّ.
Rasulullah ﷺ ditanya: “Apa yang termasuk kebaikan haji?” Beliau menjawab: “Al-‘ajju wa ath-thuju.”
وَالْعَجُّ هُوَ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالتَّلْبِيَةِ وَالثُّجُّ هُوَ نَحْرُ الْبَدَنِ.
Al-‘ajju adalah meninggikan suara dengan talbiyah, dan ath-thuju adalah penyembelihan hewan kurban.
وَرَوَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ إِهْرَاقِهِ دَمًا.
Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada amal seorang manusia pada hari penyembelihan yang lebih dicintai Allah azza wa jalla daripada menumpahkan darahnya (hewan kurban).”
وَأَنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَإِنَّ الدَّمَ يَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ بِالْأَرْضِ فَطَيِّبُوا بِهَا نَفْسًا.
Dan hewan itu akan datang pada hari kiamat beserta tanduk dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya darah itu jatuh dari Allah azza wa jalla terlebih dahulu sebelum jatuh ke tanah; maka bersihkanlah jiwa kalian dengannya.
وَفِي الْخَبَرِ لَكُمْ بِكُلِّ صُوفَةٍ مِنْ جِلْدِهَا حَسَنَةٌ وَكُلِّ قَطْرَةٍ مِنْ دَمِهَا حَسَنَةٌ وَإِنَّهَا لَتُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ فَابْشِرُوا.
Dalam riwayat itu: untuk setiap bulu dari kulitnya ada pahala, dan setiap tetes darahnya ada pahala; dan semua itu dimasukkan dalam timbangan amal, maka bergembiralah.
وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اسْتَنْجِدُوا هَدَايَاكُمْ فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Mintalah pertolongan melalui hewan kurban kalian, karena itu adalah tunggangan kalian pada hari kiamat.”
الْعَاشِرُ أَنْ يَكُونَ طَيِّبَ النَّفْسِ بِمَا أَنْفَقَهُ مِنْ نَفَقَةٍ وَهَدْيٍ وَبِمَا أَصَابَهُ مِنْ خُسْرَانٍ وَمُصِيبَةٍ فِي مَالٍ أَوْ بَدَنٍ إِنْ أَصَابَهُ ذَلِكَ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ دَلَائِلِ قُبُولِ حَجِّهِ.
Kesepuluh: hendaklah bersikap tenang dan ikhlas atas pengeluaran biaya dan hewan kurban, serta atas kerugian atau musibah yang menimpa harta atau tubuhnya; jika hal itu menimpa, maka itu termasuk tanda diterimanya hajinya.
فَإِنَّ الْمُصِيبَةَ فِي طَرِيقِ الْحَجِّ تُعَادِلُ النَّفَقَةَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، الدِّرْهَمُ بِسَبْعُمِائَةِ دِرْهَمٍ، بِمِثَالِ الشَّدَائِدِ فِي طَرِيقِ الْجِهَادِ فَلَهُ بِكُلِّ أَذًى احْتَمَلَهُ وَخُسْرَانٍ أَصَابَهُ ثَوَابٌ فَلَا يَضِيعُ مِنْهُ شَيْءٌ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Sesungguhnya musibah dalam perjalanan haji setara dengan pengeluaran di jalan Allah azza wa jalla, di mana satu dirham setara dengan 700 dirham, seperti kesulitan dalam jihad; maka setiap kesulitan yang ditanggung atau kerugian yang menimpa akan ada pahala, dan tidak akan hilang sedikit pun di sisi Allah azza wa jalla.
وَيُقَالُ إِنَّ مِنْ عَلَامَاتِ قُبُولِ الْحَجِّ أَيْضًا تَرْكُ مَا كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْمَعَاصِي وَأَنْ يَتَبَدَّلَ بِإِخْوَانِهِ الْبَطَّالِينَ إِخْوَانًا صَالِحِينَ وَبِمَجَالِسِ اللَّوْ وَالْغَفْلَةِ مَجَالِسَ الذِّكْرِ وَالْيَقَظَةِ.
Dan dikatakan, salah satu tanda diterimanya haji juga adalah meninggalkan dosa-dosa yang biasa dilakukan dan mengganti teman-teman yang malas dengan teman-teman yang shalih, serta mengganti majelis main-main dan kelalaian dengan majelis dzikir dan kewaspadaan.




0 comments:
Posting Komentar