قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:
«إِلَهِي بِكَ أَسْتَنْصِرُ فَانْصُرْنِي، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ فَلَا تَكِلْنِي، وَإِيَّاكَ أَسْأَلُكَ فَلَا تُخَيِّبْنِي، وَفِي فَضْلِكَ أَرْغَبُ فَلَا تَحْرِمْنِي، وَلِجَنَابِكَ أَنْتَسِبُ فَلَا تُبْعِدْنِي، وَبِبَابِكَ أَقِفُ فَلَا تَطْرُدْنِي».
"Tuhanku, kepada-Mu aku memohon pertolongan maka tolonglah aku, kepada-Mu aku berserah diri maka janganlah Engkau biarkan aku bersandar pada diriku sendiri, hanya kepada-Mu aku meminta maka janganlah Engkau mengecewakan aku, pada karunia-Mu aku berharap maka janganlah Engkau menghalangi aku, kepada kemuliaan-Mu aku menyandarkan diri maka janganlah Engkau menjauhkan aku, dan di depan pintu-Mu aku berdiri menghamba maka janganlah Engkau mengusirku."
Syarah Syaikh Ibnu Abbad Ar-Rundi:
تَعَلَّقَ بِاللهِ تَعَالَى فِي كُلِّ مَطْلَبٍ مِنْ هَذِهِ الْمَطَالِبِ وَأَضْرَبَ عَنِ الْوَسَائِطِ وَالْأَسْبَابِ.
Beliau menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah Ta'ala dalam setiap permohonan dari permohonan-permohonan ini, serta memalingkan diri dari segala perantara maupun sebab-sebab lahiriah.
وَذَلِكَ مِنْ تَحَقُّقِهِ بِالتَّوْحِيدِ الَّذِي سَأَلَ مِنْ مَوْلَاهُ أَنْ يُحَقِّقَهُ بِهِ بِتَطْهِيرِهِ مِنْ أَضْدَادِهِ.
Hal itu merupakan wujud dari kemantapan beliau dalam tauhid, yang telah beliau mohonkan kepada Tuannya (Allah) agar mengukuhkan dirinya dengan tauhid tersebut melalui pembersihan hatinya dari hal-hal yang kontradiktif dengan tauhid.
وَمَعَانِي هَذِهِ الْكَلِمَاتِ قَرِيبٌ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ.
Dan makna dari kalimat-kalimat ini satu sama lain saling berdekatan.
قَالَ أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ هِنْدٍ الْفَارِسِيُّ، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ: اجْتَهِدْ فِي أَنْ لَا تُفَارِقَ بَابَ سَيِّدِكَ بِحَالٍ؛ فَإِنَّهُ مَلْجَأُ الْكُلِّ.
Abu Al-Hasan 'Ali bin Hind Al-Farisi, semoga Allah Ta'ala meridhainya, berkata: "Bersungguh-sunggahlah engkau untuk tidak meninggalkan pintu Tuanmu (Allah) dalam keadaan bagaimanapun; karena sesungguhnya pintu-Nya adalah tempat bersandar bagi segala sesuatu.
فَمَنْ فَارَقَ تِلْكَ السُّدَّةَ لَا يَرَى بَعْدَهَا لِقَدَمَيْهِ قَرَارًا وَلَا مَقَامًا.
Maka barang siapa yang meninggalkan pelataran pintu tersebut, niscaya setelah itu ia tidak akan mendapati tempat berpijak yang kokoh maupun kedudukan yang tenang bagi kedua kakinya."
Munajat 27:
قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:
«إِلَهِي تَقَدَّسَ رِضَاكَ عَنْ أَنْ تَكُونَ لَهُ عِلَّةٌ مِنْكَ، فَكَيْفَ تَكُونَ لَهُ عِلَّةٌ مِنِّي».
"Tuhanku, Mahasuci rida-Mu dari adanya suatu sebab (yang memicunya) yang berasal dari-Mu, maka bagaimana mungkin bisa ada suatu sebab bagi rida-Mu yang berasal dari diriku."
Syarah Syaikh Ibnu Abbad Ar-Rundi:
رِضَا اللهِ تَعَالَى صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِهِ.
Rida Allah Ta'ala merupakan salah satu dari sekian sifat-sifat-Nya.
وَصِفَاتُهُ قَدِيمَةٌ، وَلِذَلِكَ امْتَنَعَ عَلَيْهَا سَبْقِيَّةُ الْعِلَلِ.
Dan sifat-sifat-Nya adalah qadim (tanpa permulaan), oleh karena itu mustahil baginya untuk didahului oleh sebab-sebab ('illat).
وَالْقَدِيمُ لَا يَكُونُ مَسْبُوقًا بِشَيْءٍ.
Dan sesuatu yang qadim itu tidak mungkin didahului oleh sesuatu apa pun.
وَإِذَا كَانَتْ صِفَاتُهُ الْعَلِيَّةُ مُنَزَّهَةً عَنْ أَنْ يَكُونَ لَهَا عِلَّةٌ مِنْهُ، فَكَيْفَ يَكُونُ لَهَا عِلَّةٌ مِنْ غَيْرِهِ.
Dan apabila sifat-sifat-Nya yang luhur saja tersucikan dari adanya sebab yang timbul dari diri-Nya, maka bagaimana mungkin ada sebab bagi sifat tersebut yang lahir dari selain-Nya.
فَرِضَا اللهِ تَعَالَى لَا عِلَّةَ لَهُ وَلَا سَبَبَ، بَلْ رِضَاهُ وَسَخَطُهُ هُمَا سَبَبُ أَعْمَالِ الْعَامِلِينَ حَسَنِهَا وَسَيِّئِهَا.
Maka rida Allah Ta'ala itu sama sekali tidak memiliki sebab pemicu ataupun alasan lahiriah, melainkan rida dan murka-Nya dialah yang justru menjadi sebab bagi amal perbuatan orang-orang yang beramal, baik amal yang bajik maupun yang buruk.
رَضِيَ عَنْ قَوْمٍ فَاسْتَعْمَلَهُمْ بِأَعْمَالِ أَهْلِ الرِّضَا، وَسَخِطَ عَلَى قَوْمٍ فَاسْتَعْمَلَهُمْ بِأَعْمَالِ أَهْلِ السَّخَطِ.
Allah rida kepada suatu kaum, maka Dia menggerakkan mereka untuk mengamalkan perbuatan-perbuatan kaum yang meraih rida, dan Dia murka kepada suatu kaum, maka Dia membiarkan mereka terseret dalam perbuatan-perbuatan kaum yang menuai murka.
قَالَ أَبُو بَكْرٍ الْوَاسِطِيُّ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «الرِّضَا وَالسَّخَطُ نَعْتَانِ مِنْ نُعُوتِ الْحَقِّ يَجْرِيَانِ عَلَى الْأَبَدِ بِمَا جَرَيَا فِي الْأَزَلِ يُظْهِرَانِ الْوَسْمَيْنِ عَلَى الْمَقْبُولِينَ وَالْمَطْرُودِينَ».
Abu Bakar Al-Wasithi—semoga Allah meridhainya—berkata: "Rida dan murka adalah dua sifat dari sifat-sifat Al-Haqq (Allah) yang berlaku sepanjang masa (selamanya) sesuai dengan apa yang telah digariskan-Nya pada masa azali, keduanya menampakkan dua tanda tanda pengenal bagi orang-orang yang diterima (maqbulin) dan orang-orang yang terusir (mathrudin)."
«فَقَدْ بَانَتْ شَوَاهِدُ الْمَقْبُولِينَ بِضِيَائِهَا عَلَيْهِمْ، كَمَا بَانَتْ شَوَاهِدُ الْمَطْرُودِينَ بِظَلَامِهَا عَلَيْهِمْ».
"Maka sungguh telah tampak jelas tanda-tanda kaum yang diterima lewat pancaran cahaya yang menyelimuti mereka, sebagaimana telah tampak nyata pula tanda-tanda kaum yang terusir lewat kegelapan yang pekat pada diri mereka."
«فَأَنَّى تَنْفَعُ مِنْ ذَلِكَ الْأَلْوَانُ الْمُصْفَرَّةُ، وَالْأَكْمَامُ الْمُقَصَّرَةُ، وَالْأَقْدَامُ الْمُنْتَفِخَةُ؟!».
"Jika sudah demikian, maka apalah gunanya riasan lahiriah berupa rona wajah yang menguning (karena pura-pura khusyuk), lengan baju yang dipotong pendek (gaya zuhud buatan), serta kaki-kaki yang membengkak (karena memaksakan ibadah lahiriah tanpa ketulusan batin)?!"
Munajat 28:
قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:
«أَنْتَ الْغَنِيُّ بِذَاتِكَ عَنْ أَنْ يَصِلَ إِلَيْكَ النَّفْعُ مِنْكَ فَكَيْفَ لَا تَكُونُ غَنِيًّا عَنِّي».
"Engkau Maha Kaya dengan Zat-Mu dari adanya kemanfaatan yang sampai kepada-Mu yang berasal dari diri-Mu sendiri, maka bagaimana mungkin Engkau tidak Maha Kaya (tidak butuh) dari diriku."
اَلْكَلَامُ فِي الْغِنَى كَالْكَلَامِ فِي الرِّضَا.
Pembahasan mengenai sifat Maha Kaya (Al-Ghina) di sini sama halnya dengan pembahasan mengenai sifat rida pada bait sebelumnya.
وَكَأَنَّ الْمُؤَلِّفَ، رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى، قَصَدَ فِي مُنَاجَاتِهِ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الِاسْتِرْضَاءَ وَالِاسْتِعْطَافَ.
Dan seakan-akan penulis, semoga Allah Ta'ala meridhainya, bertujuan melalui munajatnya dengan kalimat-kalimat ini untuk mencari keridaan dan mengetuk pintu kasih sayang Allah.
فَطَلَبَ الْمُسَامَحَةَ وَالتَّجَاوُزَ عَنْ أَعْمَالِهِ الْمَدْخُولَةِ وَأَحْوَالِهِ الْمَعْلُولَةِ.
Maka beliau memohon ampunan serta kelapangan atas amal perbuatannya yang cacat (tidak sempurna) dan kondisi spiritualnya yang diliputi kelemahan.
وَذَلِكَ مِنْ أَحْسَنِ الْمَقَاصِدِ لِلدَّاعِي.
Dan permohonan yang demikian itu merupakan salah satu tujuan yang paling utama dan indah bagi seorang hamba yang berdoa.
Munajat 29:
ثُمَّ قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
Kemudian Syekh Ibnu 'Aṭā'illāh raḍiyallāhu 'anhu berkata:
إِلَهِي، إِنَّ الْقَضَاءَ وَالْقَدَرَ غَلَبَنِي، وَإِنَّ الْهَوَى بِوَثَائِقِ الشَّهْوَةِ أَسَرَنِي، فَكُنْ أَنْتَ النَّصِيرَ لِي حَتَّى تَنْصُرَنِي وَتَنْصُرَ بِي، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ حَتَّى أَسْتَغْنِيَ بِكَ عَنْ طَلَبِي.
Wahai Tuhanku, sesungguhnya ketetapan dan takdir telah mengalahkanku. Hawa nafsu pun telah menawanku dengan belenggu syahwat. Maka jadilah Engkau penolongku, hingga Engkau menolongku dan menjadikan diriku sebagai perantara pertolongan-Mu bagi orang lain. Limpahkanlah kepadaku karunia-Mu hingga aku merasa cukup dengan-Mu dan tidak lagi bergantung pada segala permintaanku.
إِلَهِي، إِنَّ الْقَضَاءَ وَالْقَدَرَ قَدْ غَلَبَنِي، فَلَا حِيلَةَ لِي إِلَّا رَجَاءُ حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ، وَإِنَّ الْهَوَى بِوَثَائِقِهِ أَسَرَنِي، فَكُنْ أَنْتَ النَّاصِرَ لِي دُونَ وَاسِطَةٍ مِنْ غَيْرِكَ، حَتَّى تَنْصُرَنِي عَلَى مَنْ يَصُدُّنِي عَنْكَ، وَأَعِنِّي بِفَضْلِكَ حَتَّى أَسْتَغْنِيَ بِكَ عَنْ طَلَبِي.
Wahai Tuhanku, sesungguhnya qadha dan qadar telah mengalahkanku, sehingga tidak ada daya bagiku selain berharap kepada kekuasaan dan kekuatan-Mu. Hawa nafsu telah membelengguku dengan ikatannya. Maka jadilah Engkau penolongku tanpa perantara selain-Mu, sehingga Engkau menolongku menghadapi segala sesuatu yang menghalangiku dari-Mu. Bantulah aku dengan karunia-Mu hingga aku merasa cukup dengan-Mu dan tidak lagi bergantung pada permohonanku.
هَذَا اعْتِذَارٌ وَاعْتِرَافٌ، وَاللَّهُ تَعَالَى أَكْرَمُ مِنْ أَنْ يَرُدَّ عُذْرَ مَنِ اعْتَذَرَ إِلَيْهِ، أَوْ يُخَيِّبَ أَمَلَ مَنِ اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ وَأَقَرَّ بِهِ لَدَيْهِ.
Doa ini merupakan ungkapan permohonan maaf sekaligus pengakuan. Allah Ta'ala Mahamulia; Dia tidak akan menolak permohonan maaf orang yang memohon ampun kepada-Nya, dan tidak akan mengecewakan harapan orang yang mengakui dosa-dosanya di hadapan-Nya.
يُقَالُ: إِنَّ الْعَبْدَ يَبْتَهِلُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فِي الِاعْتِذَارِ، وَالْحَقُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُولُ لَهُ: عَبْدِي، لَوْ لَمْ أَقْبَلْ عُذْرَكَ لَمَا وَفَّقْتُكَ لِلِاعْتِذَارِ.
Dikatakan bahwa seorang hamba bersungguh-sungguh memohon ampun kepada Allah Ta'ala, lalu Allah Yang Mahabenar berfirman kepadanya, "Wahai hamba-Ku, seandainya Aku tidak hendak menerima permohonan maafmu, niscaya Aku tidak akan memberimu taufik untuk memohon maaf kepada-Ku."
وَقَالَ الْكِتَّانِيُّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: «لَمْ يَفْتَحِ اللَّهُ تَعَالَى لِسَانَ الْمُؤْمِنِ بِالْمَعْذِرَةِ إِلَّا لِفَتْحِ بَابِ الْمَغْفِرَةِ».
Al-Kattānī raḍiyallāhu ta'ālā 'anhu berkata, "Allah tidak membukakan lisan seorang mukmin untuk menyampaikan permohonan maaf, melainkan karena Dia telah membuka pintu ampunan baginya."
فَلَا جَرَمَ لَمَّا وَثِقَ بِذَلِكَ، وَقَوِيَ رَجَاؤُهُ فِيهِ، طَلَبَ مِنْهُ النَّصْرَةَ لَهُ عَلَى أَعْدَائِهِ، وَلَمْ يَقْتَصِرْ عَلَى ذَلِكَ، بَلْ أَضَافَ إِلَيْهِ طَلَبَ النَّصْرَةِ بِهِ؛ لِتَكُونَ تِلْكَ النُّصْرَةُ بِسَبَبِهِ وَعَلَى يَدَيْهِ.
Maka ketika keyakinannya terhadap hal itu semakin kuat dan harapannya kepada Allah semakin besar, ia memohon pertolongan kepada Allah agar dimenangkan atas musuh-musuhnya. Ia tidak berhenti sampai di situ, tetapi juga memohon agar Allah menjadikannya sebagai sarana pertolongan bagi orang lain, sehingga kemenangan itu terjadi melalui dirinya dan dengan perantara kedua tangannya.
كَمَا قَالَ أَبُو الْحَسَنِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: «وَاجْعَلْنَا سَبَبَ الْغِنَى لِأَوْلِيَائِكَ، وَبَرْزَخًا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَعْدَائِكَ».
Sebagaimana Abul Hasan raḍiyallāhu ta'ālā 'anhu berdoa, "Jadikanlah kami sebab datangnya kecukupan bagi para kekasih-Mu, dan jadikanlah kami sebagai pemisah antara mereka dengan musuh-musuh-Mu."
ثُمَّ لَمْ يَقْنَعْ بِذَلِكَ حَتَّى طَلَبَ مِنْهُ أَنْ يُغْنِيَهُ بِمَا يُسْتَغْنَى بِهِ عَنِ الطَّلَبِ مِنْهُ، وَهُوَ مَا يُؤْتِيهِ مِنْ فَضْلِهِ الْعَظِيمِ وَكَرَمِهِ الْجَسِيمِ.
Kemudian beliau belum merasa cukup dengan permohonan itu, hingga memohon kepada Allah agar dianugerahi sesuatu yang membuatnya tidak lagi perlu terus-menerus meminta, yaitu karunia Allah yang agung dan kemurahan-Nya yang sangat besar.
وَهَذِهِ هِيَ غَايَةُ السَّعَادَةِ، كَمَا قَالَ سَيِّدِي أَبُو الْحَسَنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «وَالسَّعِيدُ حَقًّا مَنْ أَغْنَيْتَهُ عَنِ السُّؤَالِ مِنْكَ».
Dan inilah puncak kebahagiaan, sebagaimana Sayyidi Abul Hasan raḍiyallāhu 'anhu berkata, "Orang yang benar-benar berbahagia adalah orang yang Engkau jadikan cukup sehingga tidak lagi sibuk meminta kepada-Mu."
Munajat 29:
ثُمَّ قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
Kemudian Syekh Ibnu 'Aṭā'illāh raḍiyallāhu 'anhu berkata:
إِلَهِي، أَنْتَ الَّذِي أَشْرَقَتِ الْأَنْوَارُ فِي قُلُوبِ أَوْلِيَائِكَ، حَتَّى عَرَفُوكَ وَوَحَّدُوكَ
Wahai Tuhanku, Engkaulah yang menyinarkan cahaya-cahaya ke dalam hati para wali-Mu, hingga mereka mengenal-Mu dan mengesakan-Mu.
وَأَنْتَ الَّذِي أَزَلْتَ الْأَغْيَارَ مِنْ قُلُوبِ أَحْبَابِكَ، حَتَّى لَمْ يُحِبُّوا سِوَاكَ، وَلَمْ يَلْجَئُوا إِلَى غَيْرِكَ.
Engkaulah yang menyingkirkan segala selain-Mu dari hati para kekasih-Mu, sehingga mereka tidak mencintai selain Engkau dan tidak berlindung kepada selain-Mu.
أَنْتَ الْمُؤْنِسُ لَهُمْ حَيْثُ أَوْحَشَتْهُمُ الْعَوَالِمُ، وَأَنْتَ الَّذِي هَدَيْتَهُمْ حَتَّى اسْتَبَانَتْ لَهُمُ الْمَعَالِمُ.
Engkaulah yang menjadi penenteram hati mereka ketika berbagai alam membuat mereka merasa asing, dan Engkaulah yang memberi mereka petunjuk hingga menjadi jelas bagi mereka tanda-tanda jalan menuju-Mu.
مَاذَا وَجَدَ مَنْ فَقَدَكَ؟ وَمَا الَّذِي فَقَدَ مَنْ وَجَدَكَ؟
Apa yang sebenarnya diperoleh oleh orang yang kehilangan-Mu? Dan apa pula yang hilang dari orang yang telah menemukan-Mu?
لَقَدْ خَابَ مَنْ رَضِيَ دُونَكَ بَدَلًا، وَلَقَدْ خَسِرَ مَنْ بَغَى عَنْكَ مُتَحَوِّلًا.
Sungguh kecewa orang yang rela mengambil selain-Mu sebagai pengganti. Dan sungguh merugi orang yang berpaling dari-Mu menuju yang lain.
سَبَبُ إِيحَاشِ الْعَوَالِمِ لَهُمْ مَا هِيَ عَلَيْهِ مِنَ الْفَاقَةِ، وَالِافْتِقَارِ، وَالْحَاجَةِ، وَالِاضْطِرَارِ.
Penyebab berbagai makhluk terasa asing bagi mereka adalah karena seluruh makhluk berada dalam keadaan serba kekurangan, membutuhkan, bergantung, dan terpaksa.
فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهَا جَالِبٌ لِنَفْسِهِ، طَالِبٌ لِحَظِّهِ مِنْ كَمَالِ نَقْصِهِ، وَوَفَاءِ بَخْسِهِ.
Karena setiap makhluk selalu berusaha mencari manfaat bagi dirinya sendiri, mengejar bagian untuk menutupi kekurangannya dan menyempurnakan apa yang masih kurang padanya.
وَاللَّهُ تَعَالَى غَنِيٌّ حَمِيدٌ، عَزِيزٌ مَجِيدٌ، وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ، عَطُوفٌ عَلَيْهِمْ، مُتَوَدِّدٌ إِلَيْهِمْ، رَؤُوفٌ بِهِمْ.
Sedangkan Allah Ta'ala Mahakaya, Maha Terpuji, Mahaperkasa, dan Mahamulia. Meski demikian, Dia tetap Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya, Maha Penyayang, Maha Mencintai mereka, dan Maha Pengasih.
فَلَمَّا شَاهَدُوا هَذَا كُلَّهُ مُشَاهَدَةَ يَقِينٍ، وَمُعَايَنَةً بِإِشْهَادِهِ إِيَّاهُمْ، لَمْ يَتَمَالَكُوا أَنْ أَحَبُّوهُ، وَآوَوْا إِلَيْهِ، وَقَصَرُوا هِمَمَهُمْ عَلَيْهِ، وَجَعَلُوهُ مُعْتَمَدَ أُنْسِهِمْ.
Ketika mereka menyaksikan semua itu dengan keyakinan yang nyata, melalui penyaksian yang Allah bukakan kepada mereka, mereka tidak mampu lagi menahan diri untuk tidak mencintai-Nya. Mereka pun berlindung kepada-Nya, memusatkan seluruh cita-cita hanya kepada-Nya, dan menjadikan-Nya sebagai sumber ketenteraman hati mereka.
وَاسْتَغْنَوْا بِهِ عَنْ أَبْنَاءِ جِنْسِهِمْ، فَحَصَلُوا إِذْ ذَاكَ عَلَى غَايَةِ النَّعِيمِ، وَفَازُوا بِالْحَظِّ الْعَظِيمِ.
Mereka merasa cukup dengan Allah sehingga tidak lagi bergantung kepada sesama makhluk. Pada saat itulah mereka memperoleh kenikmatan yang paling sempurna dan meraih keberuntungan yang sangat besar.
قَالَ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «بَيْنَمَا أَنَا أَسِيرُ فِي بَعْضِ الْبَوَادِي إِذْ لَقِيَتْنِي امْرَأَةٌ، فَقَالَتْ لِي: مَنْ أَنْتَ؟ فَقُلْتُ: رَجُلٌ غَرِيبٌ. فَقَالَتْ: وَهَلْ تُوجَدُ مَعَ اللَّهِ أَحْزَانُ الْغُرْبَةِ؟».
Dzun Nun al-Mishri raḍiyallāhu 'anhu berkata, "Ketika aku sedang berjalan di sebuah padang pasir, aku bertemu seorang perempuan. Ia bertanya, 'Siapakah engkau?' Aku menjawab, 'Aku seorang perantau.' Ia berkata, 'Apakah masih ada kesedihan karena keterasingan bagi orang yang bersama Allah?'"
وَكَتَبَ مُطَرِّفُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ إِلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: «وَلْيَكُنْ أُنْسُكَ بِاللَّهِ وَانْقِطَاعُكَ إِلَيْهِ؛ فَإِنَّ لِلَّهِ عِبَادًا اسْتَأْنَسُوا بِاللَّهِ، فَكَانُوا فِي وَحْدَتِهِمْ أَشَدَّ اسْتِئْنَاسًا مِنَ النَّاسِ فِي كَثْرَتِهِمْ، وَأَوْحَشُ مَا يَكُونُ النَّاسُ آنَسُ مَا يَكُونُونَ، وَآنَسُ مَا يَكُونُ النَّاسُ أَوْحَشُ مَا يَكُونُونَ».
Muṭarrif bin 'Abdullah bin asy-Syikhkhir menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz raḍiyallāhu 'anhumā, "Jadikanlah Allah sebagai tempat ketenteramanmu dan arah pengabdianmu. Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang telah merasa tenteram bersama-Nya. Dalam kesendirian mereka lebih tenteram daripada kebanyakan manusia di tengah keramaian. Saat manusia merasa paling sepi, mereka justru merasa paling akrab dengan Allah; dan ketika manusia merasa paling akrab dengan dunia, saat itulah mereka justru merasa asing terhadapnya."
وَأَنْتَ الَّذِي هَدَيْتَهُمْ حَتَّى اسْتَبَانَتْ لَهُمُ الْمَعَالِمُ.
Dan Engkaulah yang memberi mereka petunjuk hingga menjadi jelas bagi mereka tanda-tanda jalan menuju-Mu.
لَمَّا تَوَلَّى اللَّهُ هِدَايَتَهُمْ إِلَى طَرِيقِ التَّوْحِيدِ وَالْمَعْرِفَةِ، أَبَانَ لَهُمْ عَلَامَةَ ذَلِكَ وَدَلَائِلَهُ.
Ketika Allah sendiri mengambil alih hidayah mereka menuju jalan tauhid dan makrifat, Dia menampakkan kepada mereka tanda-tanda dan bukti-bukti jalan tersebut.
فَعِنْدَ نَظَرِهِمْ فِي تِلْكَ الْعَلَامَاتِ وَالْأَدِلَّةِ انْشَرَحَتْ صُدُورُهُمْ بِأَنْوَارِ الْإِيمَانِ وَالْيَقِينِ، فَلَمْ يَتَدَاخَلْهُمْ شَكٌّ، وَلَمْ يُخَالِجْهُمْ رَيْبٌ.
Ketika mereka memperhatikan tanda-tanda dan dalil-dalil itu, dada mereka menjadi lapang oleh cahaya iman dan keyakinan, sehingga tidak ada lagi keraguan maupun kebimbangan yang menyelinap ke dalam hati mereka.
وَالْمَعَالِمُ: جَمْعُ «مَعْلَمٍ».
Kata al-ma'ālim merupakan bentuk jamak dari ma'lam, yang berarti tanda atau petunjuk jalan.
كَأَنَّهُ ـ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى ـ عَرَّضَ فِي هَذِهِ الْكَلِمَاتِ بِالْمَطْلَبِ الَّذِي بِحُصُولِهِ لَهُ يَسْتَغْنِي عَنِ الطَّلَبِ.
Seakan-akan beliau—semoga Allah merahmatinya—memberikan isyarat dalam kalimat-kalimat ini kepada tujuan yang apabila telah diperoleh, seseorang tidak lagi membutuhkan permintaan-permintaan yang lain.
وَهُوَ إِشْرَاقُ الْأَنْوَارِ فِي قَلْبِهِ، وَإِزَالَةُ الْأَغْيَارِ عَنْ سِرِّهِ، وَإِينَاسُهُ لَهُ، وَهِدَايَتُهُ إِيَّاهُ.
Yaitu: terpancarnya cahaya-cahaya Ilahi ke dalam hatinya, tersingkirnya segala sesuatu selain Allah dari relung batinnya, Allah menjadikan hatinya tenteram bersama-Nya, serta Allah memberikan petunjuk kepadanya.
وَهَذِهِ الْأَرْبَعَةُ مَطَالِبُ مُتَضَمِّنَةٌ لِأَسْنَى الرَّغَائِبِ.
Keempat perkara ini mencakup seluruh cita-cita dan harapan yang paling mulia.
مَاذَا وَجَدَ مَنْ فَقَدَكَ؟ وَمَا الَّذِي فَقَدَ مَنْ وَجَدَكَ؟
Apa yang didapat oleh orang yang kehilangan-Mu? Dan apa yang hilang dari orang yang telah menemukan-Mu?
قَدْ تَقَدَّمَ، غَيْرَ مَا مَرَّةٍ، أَنَّ مَا سِوَى اللَّهِ تَعَالَى عَدَمٌ وَظُلْمَةٌ، وَأَنَّ الْوُجُودَ الْحَقَّ وَالنُّورَ الْمُتَحَقِّقَ إِنَّمَا هُوَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Sebagaimana telah dijelaskan berulang kali, bahwa segala sesuatu selain Allah pada hakikatnya adalah kefanaan dan kegelapan; sedangkan wujud yang sejati dan cahaya yang hakiki hanyalah Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung.
فَإِذَا كَانَ الْأَمْرُ عَلَى هَذَا، صَحَّ مَا قَالَهُ الْمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى هَاهُنَا، وَكَانَ حَقًّا لَا مِرْيَةَ فِيهِ.
Apabila kenyataannya demikian, maka benarlah apa yang dikatakan oleh penulis—semoga Allah merahmatinya—dan itu merupakan kebenaran yang tidak mengandung keraguan sedikit pun.
قَالَ أَبُو عَلِيٍّ الرُّوذَبَارِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: سَأَلَنِي أَبُو بَكْرٍ الدَّقَّاقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ لِي: يَا أَبَا عَلِيٍّ، لِمَ تَرَكَ الْفُقَرَاءُ أَخْذَ الْبُلْغَةِ فِي وَقْتِ الْحَاجَةِ؟
Abu 'Ali ar-Rudzabari raḍiyallāhu 'anhu berkata, "Abu Bakar ad-Daqqaq bertanya kepadaku, 'Wahai Abu Ali, mengapa para fakir (kaum sufi) meninggalkan menerima bekal sekadar kebutuhan ketika mereka sedang memerlukannya?'"
فَقُلْتُ: لِأَنَّهُمْ يَسْتَغْنُونَ بِالْمُعْطِي عَنِ الْعَطَاءِ.
Aku menjawab, "Karena mereka merasa cukup dengan Sang Pemberi, bukan dengan pemberian-Nya."
فَقَالَ: نَعَمْ، وَلَكِنْ وَقَعَ لِي شَيْءٌ آخَرُ.
Ia berkata, "Benar, tetapi ada makna lain yang terlintas dalam benakku."
فَقُلْتُ: هَاتِ، أَفِدْنِي مَا وَقَعَ لَكَ.
Aku berkata, "Sampaikanlah, berilah aku manfaat dengan apa yang engkau pahami."
فَقَالَ: لِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَنْفَعُهُمُ الْوُجُودُ؛ إِذِ اللَّهُ فَاقَتُهُمْ، وَلَا يَضُرُّهُمُ الْفَاقَةُ؛ إِذِ اللَّهُ وُجُودُهُمْ.
Ia berkata, "Karena mereka adalah kaum yang tidak diuntungkan oleh adanya sesuatu selain Allah, sebab Allah adalah satu-satunya kebutuhan mereka. Dan mereka tidak dirugikan oleh kemiskinan, sebab Allah adalah hakikat keberadaan mereka."
وَكَانَ أَبُو حَمْزَةَ الْبَغْدَادِيُّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ يَقُولُ فِي مُنَاجَاتِهِ: «اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي مِنْ أَفْقَرِ خَلْقِكَ إِلَيْكَ؛ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ فَقْرِي إِلَيْكَ بِمَعْنًى هُوَ غَيْرُكَ، فَلَا تَسُدَّ فَقْرِي».
Abu Hamzah al-Baghdadi raḍiyallāhu 'anhu dalam munajatnya berdoa, "Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku termasuk makhluk-Mu yang paling membutuhkan-Mu. Namun jika Engkau mengetahui bahwa kebutuhanku kepada-Mu ternyata masih mengandung sesuatu selain diri-Mu, maka janganlah Engkau penuhi kebutuhan itu."
لَقَدْ خَابَ مَنْ رَضِيَ دُونَكَ بَدَلًا، وَلَقَدْ خَسِرَ مَنْ بَغَى عَنْكَ مُتَحَوِّلًا.
Sungguh kecewa orang yang rela mengambil selain-Mu sebagai pengganti. Dan sungguh merugi orang yang berpaling dari-Mu menuju selain-Mu.
هَذَا بَيِّنٌ، وَهُوَ مَبْنِيٌّ عَلَى مَا تَقَدَّمَ الْآنَ مِنَ الْكَلَامِ.
Hal ini sudah sangat jelas, dan merupakan konsekuensi dari penjelasan yang telah disampaikan sebelumnya.
رُئِيَ الشِّبْلِيُّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ فِي الْمَنَامِ بَعْدَ وَفَاتِهِ، فَقِيلَ لَهُ: مَا فَعَلَ اللَّهُ بِكَ؟
Diriwayatkan bahwa asy-Syibli raḍiyallāhu 'anhu terlihat dalam mimpi setelah wafatnya. Lalu ia ditanya, "Bagaimana perlakuan Allah kepadamu?"
فَقَالَ: لَمْ يُطَالِبْنِي بِالْبَرَاهِينِ عَلَى الدَّعَاوَى، إِلَّا عَلَى شَيْءٍ وَاحِدٍ.
Ia menjawab, "Allah tidak menuntut bukti atas pengakuan-pengakuanku, kecuali dalam satu perkara."
قُلْتُ يَوْمًا: لَا خَسَارَةَ أَعْظَمُ مِنْ خَسَارَةِ الْجَنَّةِ وَدُخُولِ النَّارِ.
Aku pernah berkata suatu hari, "Tidak ada kerugian yang lebih besar daripada kehilangan surga dan masuk neraka."
فَقَالَ: وَأَيُّ خَسَارَةٍ أَعْظَمُ مِنْ خُسْرَانِ لِقَائِي؟
Maka Allah berfirman, "Kerugian apakah yang lebih besar daripada kehilangan perjumpaan dengan-Ku?"
وَفِي مَعْنَاهُ أَنْشَدُوا:
Dalam makna yang sama, para arifin melantunkan syair berikut:
سَهَرُ الْعُيُونِ لِغَيْرِ وَجْهِكَ بَاطِلٌ **
وَبُكَاؤُهُنَّ لِغَيْرِ فَقْدِكَ ضَائِعٌ
Terjaganya mata demi selain wajah-Mu adalah sia-sia.
Dan tangisnya karena kehilangan selain-Mu adalah sesuatu yang terbuang percuma.
وَقَالَ بَعْضُهُمْ: كَانَ عِنْدَنَا رَجُلٌ مَكَثَ عِنْدَنَا ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً، يُصَلِّي كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَلْفَ رَكْعَةٍ، حَتَّى أُقْعِدَ مِنْ رِجْلَيْهِ.
Salah seorang arif berkata, "Di tempat kami dahulu ada seorang laki-laki yang tinggal selama tiga belas tahun. Setiap siang dan malam ia mengerjakan seribu rakaat salat, hingga kedua kakinya tidak lagi mampu menopangnya."
فَإِذَا صَلَّى الْعَصْرَ احْتَبَى وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ.
Setelah salat Asar, ia duduk memeluk kedua lututnya sambil menghadap kiblat.
ثُمَّ قَالَ: عَجِبْتُ لِلْخَلِيقَةِ كَيْفَ أَرَادَتْ بِكَ بَدَلًا، بَلْ عَجِبْتُ لِلْخَلِيقَةِ كَيْفَ اسْتَأْنَسَتْ بِسِوَاكَ.
Kemudian ia berkata, "Aku sungguh heran kepada manusia: bagaimana mereka menginginkan pengganti selain Engkau. Bahkan aku lebih heran lagi, bagaimana mereka dapat merasa tenteram dengan selain-Mu."
ثُمَّ يَسْكُتُ إِلَى الْمَغْرِبِ.
Kemudian ia terdiam dalam munajat hingga waktu Magrib tiba.





