قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:
(إِلَهِي عَلِّمْنِي مِنْ عِلْمِكَ الْمَخْزُونِ، وَصُنِّي بِسِرِّ اسْمِكَ الْمَصُونِ)
(Tuhanku, berilah aku pengajaran dari ilmu-Mu yang tersimpan rapat, dan jagalah diriku dengan rahasia nama-Mu yang terlindungi)
إِضَافَةُ الْعِلْمِ إِلَى اللهِ هُنَا إِضَافَةُ تَشْرِيفٍ.
Penyandaran kata ilmu kepada Allah di sini (ilmika, ilmu-Mu) merupakan bentuk penyandaran untuk pemuliaan (idhafah tasyrif).
وَالْعِلْمُ الْمَخْزُونُ هُوَ الْعِلْمُ اللَّدُنِّيُّ الَّذِي اخْتَزَنَهُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُؤْتِهِ إِلَّا لِلْمَخْصُوصِينَ مِنَ الْأَوْلِيَاءِ، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي شَأْنِ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ﴿وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا﴾ [الكهف: ٦٥].
Dan yang dimaksud dengan ilmu yang tersimpan rapat (Al-Ilmu Al-Makhzun) adalah ilmu laduni yang Allah simpan di sisi-Nya, sehingga tidak Dia berikan kecuali kepada hamba-hamba pilihan-Nya dari kalangan para wali, sebagaimana firman Allah Ta'ala mengenai perihal Nabi Khidir 'alaihis salam: "Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya satu ilmu dari sisi Kami." [QS. Al-Kahfi: 65].
وَفِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «إِنَّ مِنَ الْعِلْمِ كَهَيْئَةِ الْمَكْنُونِ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا الْعُلَمَاءُ بِاللهِ تَعَالَى، فَإِذَا نَطَقُوا بِهِ لَا يُنْكِرُهُ إِلَّا أَهْلُ الْغِرَّةِ بِاللهِ».
Dan di dalam hadis Abu Hurairah, semoga Allah Ta'ala meridhainya, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya di antara ilmu itu ada yang bagaikan permata yang tersimpan rapat, tidak ada yang mengetahuinya kecuali para ulama yang makrifat kepada Allah Ta'ala; maka apabila mereka menyuarakannya, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang tertipu (lalai) dari Allah."
قَالَ بَعْضُهُمْ: «هِيَ أَسْرَارُ اللهِ تَعَالَى يُبْدِيهَا اللهُ إِلَى أَنْبِيَائِهِ وَأَوْلِيَائِهِ وَسَادَاتِ النُّبَلَاءِ مِنْ غَيْرِ سَمَاعٍ وَلَا دِرَاسَةٍ، وَهِيَ مِنَ الْأَسْرَارِ الَّتِي لَمْ يَطَّلِعْ عَلَيْهَا أَحَدٌ إِلَّا الْخَوَاصُّ».
Sebagian ulama berkata: "Ia adalah rahasia-rahasia Allah Ta'ala yang ditampakkan-Nya kepada para nabi-Nya, para wali-Nya, serta para pembuka kebaikan yang mulia tanpa melalui jalur mendengar (secara lahiriah) ataupun proses belajar, dan ia termasuk bagian dari rahasia yang tidak dapat diintip oleh siapa pun kecuali orang-orang yang khusus (khawas)."
وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الْوَاسِطِيُّ، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ، فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ﴾ [آل عمران: ٧]: «هُمْ الَّذِينَ رَسَخُوا بِأَرْوَاحِهِمْ فِي غَيْبِ الْغَيْبِ، وَفِي سِرِّ السِّرِّ،
Dan Abu Bakar Al-Wasithi—semoga Allah Ta'ala meridhainya—berkata tentang firman Allah Ta'ala: "Dan orang-orang yang mendalam ilmunya" [QS. Ali 'Imran: 7]: "Mereka adalah orang-orang yang ruh mereka telah menghujam kokoh ke dalam keghaiban yang paling ghaib (ghaibul ghaib) serta rahasia yang paling dalam (sirrus sirr),
فَعَرَّفَهُمْ مَا عَرَّفَهُمْ، وَخَاضُوا فِي بَحْرِ الْعِلْمِ بِالْفَهْمِ لِطَلَبِ الزِّيَادَةِ، فَانْكَشَفَ لَهُمْ مِنْ مَذْخُورِ الْخَزَائِنِ وَالْمَخْزُونِ تَحْتَ كُلِّ حَرْفٍ وَآيَةٍ مِنَ الْفَهْمِ وَعَجَائِبِ النَّظَرِ بِحَارًا فَاسْتَخْرَجُوا الدُّرَرَ وَالْجَوَاهِرَ وَنَطَقُوا بِالْحِكْمَةِ».
lalu Allah memperkenalkan kepada mereka apa yang perlu mereka ketahui, dan mereka menyelami lautan ilmu dengan pemahaman rohani demi mencari tambahan makrifat, hingga tersingkaplah bagi mereka samudera pemahaman dan pandangan batin yang menakjubkan dari gudang-gudang simpanan yang tersimpan di bawah setiap huruf dan ayat, lalu mereka mengeluarkan mutiara serta permata darinya dan berbicara dengan untaian hikmah."
وَصُنِّي بِسِرِّ اسْمِكَ الْمَصُونِ.
Dan jagalah diriku dengan rahasia nama-Mu yang terlindungi.
اَلصَّوْنُ الْمَطْلُوبُ: هُوَ صِيَانَتُهُ عَنْ رُؤْيَةِ الْأَغْيَارِ بِمَا يَتَجَلَّى لِقَلْبِهِ مِنْ سِرِّ الْأَسْرَارِ.
Adapun perlindungan (ash-shaun) yang diminta di sini adalah: penjagaan diri sang hamba dari melirik kepada selain Allah (al-aghyar) melalui perantara apa saja yang memancar indah ke dalam hatinya yang berupa rahasia dari segala rahasia (sirrul asrar).
Munajat 23:
قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:
(إِلَهِي: حَقِّقْنِي بِحَقَائِقِ أَهْلِ الْقُرْبِ، وَاسْلُكْ بِي مَسَالِكَ أَهْلِ الْجَذْبِ)
(Tuhanku: kukuhkanlah diriku dengan hakikat-hakikat kaum yang dekat dengan-Mu, dan bimbinglah aku menempuh jalan-jalan kaum yang ditarik (oleh kemesraan)-Mu)
حَقَائِقُ أَهْلِ الْقُرْبِ هِيَ: الْفَنَاءُ فِي التَّوْحِيدِ، وَالتَّحَقُّقُ بِالتَّجْرِيدِ، فَتَبْطُلُ فِي حَقِّهِمْ رُؤْيَةُ الْأَسْبَابِ، وَيَزُولُ عَنْ مَطْمَحِ نَظَرِهِمْ كُلُّ سِتْرٍ وَحِجَابٍ.
Hakikat-hakikat kaum yang dekat dengan-Mu (Ahlul Qurb) adalah: fana (sirnanya kesadaran makhluk) di dalam tauhid, dan kemantapan dalam penunggalan (tadjrid), sehingga gugurlah pandangan terhadap sebab-sebab lahiriah pada hak mereka, serta lenyaplah segala tabir dan penghalang dari jangkauan pandangan batin mereka.
كَمَا قَالَ سَيِّدِي أَبُو الْحَسَنِ، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ فِي «حِزْبِهِ الْكَبِيرِ»: وَأَقْرِبْ مِنِّي بِقُدْرَتِكَ قُرْبًا تَمْحَقُ بِهِ عَنِّي كُلَّ حِجَابٍ مَحَقْتَهُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِكَ فَلَمْ يَحْتَجْ لِجِبْرِيلَ رَسُولِكَ، وَلَا لِسُؤَالِهِ مِنْكَ، وَحَجَبْتَهُ بِذَلِكَ عَنْ نَارِ عَدُوِّكَ.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Tuanku Abu Al-Hasan (Asy-Syadzili)—semoga Allah Ta'ala meridhainya—di dalam kitab Hizb Al-Kabir-nya: "Dan dekatkanlah Engkau kepadaku dengan kuasa-Mu, suatu kedekatan yang dengannya Engkau melenyapkan dariku segala hijab sebagaimana Engkau telah melenyapkannya dari Ibrahim kekasih-Mu, sehingga ia tidak lagi membutuhkan Jibril utusan-Mu, tidak pula butuh meminta kepada-Mu, dan dengannya Engkau membentenginya dari api musuh-Mu."
وَكَيْفَ لَا يُحْجَبُ عَنْ مَضَرَّةِ الْأَعْدَاءِ مَنْ غَيَّبْتَهُ عَنْ مَنْفَعَةِ الْأَحِبَّاءِ.
Dan bagaimana mungkin tidak terhalang dari bahaya para musuh, seseorang yang telah Engkau fanakan (palingkan) dari mengambil manfaat para kekasih.
كَلَّا إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تُغِيبَنِي بِقُرْبِكَ مِنِّي حَتَّى لَا أَرَى وَلَا أُحِسَّ بِقُرْبِ شَيْءٍ وَلَا بِبُعْدِهِ عَنِّي إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
Sekali-kali tidak, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar Engkau memfanakan diriku dengan kedekatan-Mu kepadaku, hingga aku tidak melihat dan tidak pula merasakan kedekatan sesuatu ataupun kejauhannya dariku, sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
وَاسْلُكْ بِي مَسَالِكَ أَهْلِ الْجَذْبِ.
Dan bimbinglah aku menempuh jalan-jalan kaum yang ditarik (oleh kemesraan)-Mu.
أَهْلُ الْجَذْبِ هُمُ الْمَحْبُوبُونَ، وَمَسَالِكُهُمْ فِي غَايَةِ السُّهُولَةِ لَا تَعَبَ عَلَيْهِمْ فِيهَا وَلَا مَشَقَّةَ، بَلْ يَجِدُونَ اللَّذَّةَ وَالْحَلَاوَةَ فِي أَعْمَالِهِمْ.
Kaum yang ditarik (Ahlul Jadzb) adalah mereka yang dicintai (oleh Allah), dan jalan-jalan mereka berada dalam puncak kemudahan tanpa ada keletihan ataupun kepayahan di dalamnya bagi mereka, bahkan mereka merasakan kelezatan dan kemanisan dalam amal-amal ibadah mereka.
وَذَلِكَ مِنْ قِبَلِ أَنَّهُ أَخْرَجَهُمْ مِنْ أَسْرِ نُفُوسِهِمْ، وَتَوَلَّاهُمْ بِكِلَاءَتِهِ وَرِعَايَتِهِ مِنْ غَيْرِ مُجَاهَدَةٍ مِنْهُمْ وَلَا مُكَابَدَةٍ.
Hal itu dikarenakan Allah telah mengeluarkan mereka dari belenggu tawanan nafsu mereka, serta mengurus mereka langsung dengan penjagaan dan pemeliharaan-Nya, tanpa perlu melalui perjuangan berat (mujahadah) ataupun kepayahan yang melelahkan dari diri mereka sendiri.
Munajat 24:
ثُمَّ قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:
Kemudian Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:
(إِلَهِي أَغْنَيْتَنِي بِتَدْبِيرِكَ لِي عَنْ تَدْبِيرِي وَبِاخْتِيَارِكَ لِي عَنْ اخْتِيَارِي وَأَوْقِفْنِي عَلَى مَرَاكِزِ اضْطِرَارِي)
(Tuhanku, Engkau telah mencukupkan aku dengan pengaturan-Mu untukku dari pengaturanku sendiri, dan dengan pilihan-Mu untukku dari pilihanku sendiri, maka tempatkanlah aku dengan kokoh pada titik-titik kepasrahan mutlakku)
اَلْمُنْفَرِدُ بِالتَّدْبِيرِ وَالِاخْتِيَارِ وَالْمَشِيئَةِ وَالِاقْتِدَارِ هُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Dzat yang Maha Tunggal dalam mengatur, memilih, menghendaki, dan menguasai hanyalah Allah 'Azza wa Jalla.
فَمَنْ كَانَ لَهُ دَعْوَى فِي شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَقَدْ نَازَعَ اللهَ تَعَالَى فِي رُبُوبِيَّتِهِ وَخَلَعَ عَنْ عُنُقِهِ رِبْقَةَ عُبُودِيَّتِهِ.
Maka barang siapa yang mengaku-ngaku memiliki andil dalam salah satu dari urusan tersebut, sungguh ia telah menentang Allah Ta'ala dalam sifat ketuhanan-Nya (rububiyah) dan telah melepaskan tali ikatan kehambaan ('ubudiyah) dari lehernya.
فَلِذَلِكَ سَأَلَهُ وَطَلَبَ مِنْهُ أَنْ يُغْنِيَهُ عَنْ تَدْبِيرِهِ وَاخْتِيَارِهِ، وَأَنْ يُوقِفَهُ عَلَى مَرَاكِزِ اضْطِرَارِهِ لِيَكُونَ مُتَحَقِّقًا بِصِفَاتِهِ، وَمُتَعَلِّقًا بِصِفَاتِ مَوْلَاهُ.
Oleh karena itulah sang hamba memohon dan meminta kepada-Nya agar Dia membuatnya merasa cukup dari pengaturan dan pilihannya sendiri, serta menetapkannya dengan kokoh pada posisi kepasrahan mutlaknya, supaya ia benar-benar sadar akan sifat-sifat aslinya (yang lemah) dan selalu bergantung pada sifat-sifat Tuannya (Allah).
وَقَدْ تَقَدَّمَ هَذَا الْمَعْنَى غَيْرَ مَرَّةٍ.
Dan makna ini sesungguhnya telah dijelaskan berulang kali sebelumnya.
وَالْمَرَاكِزُ: مَوَاضِعُ الِاسْتِقْرَارِ وَالثُّبُوتِ، وَهِيَ اسْتِعَارَةٌ حَسَنَةٌ.
Adapun kata Al-Marakiz artinya adalah tempat-tempat menetap dan teguh berdiri, dan penggunaan kata ini merupakan sebuah gaya bahasa metafora (isti'arah) yang sangat indah.
Munajat 25:
ثُمَّ قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:
Kemudian Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:
(إِلَهِي أَخْرِجْنِي مِنْ ذُلِّ نَفْسِي، وَطَهِّرْنِي مِنْ شَكِّي وَشِرْكِي قَبْلَ حُلُولِ رَمْسِي)
(Tuhanku, keluarkanlah aku dari kehinaan nafsuku, dan bersihkanlah aku dari keraguanku (syak) serta kesyirikanku sebelum tibanya waktu masuk ke dalam kuburku)
ذُلُّ النَّفْسِ الَّذِي طَلَبَ الْإِخْرَاجَ مِنْهُ هُوَ ذُلُّهَا لِغَيْرِ اللهِ تَعَالَى بِالطَّمَعِ وَالْحِرْصِ.
Kehinaan nafsu yang dimohonkan agar dikeluarkan darinya adalah ketundukan nafsu kepada selain Allah Ta'ala yang dipicu oleh sifat tamak dan rakus.
وَقَدْ تَقَدَّمَ هَذَا الْمَعْنَى عِنْدَ قَوْلِهِ: [مَا بَسَقَتْ أَغْصَانُ ذُلٍّ إِلَّا عَلَى بَذْرِ طَمَعٍ].
Dan makna ini sesungguhnya telah berlalu penjelasannya pada bait kalam hikmah beliau: "Tidak akan tumbuh menjulang dahan-dahan kehinaan, melainkan di atas benih ketamakan."
وَطَهِّرْنِي مِنْ شَكِّي وَشِرْكِي قَبْلَ حُلُولِ رَمْسِي.
Dan bersihkanlah aku dari keraguanku serta kesyirikanku sebelum tibanya waktu masuk ke dalam kuburku.
اَلشَّكُّ وَالشِّرْكُ هُمَا سَبَبُ وُجُودِ الطَّمَعِ وَالْحِرْصِ الْمُوجِبَيْنِ لِوُقُوعِ الذُّلِّ وَالْهَوَانِ، وَهَذِهِ الْأَوْصَافُ كُلُّهَا مُجَانِبَةٌ لِحَقَائِقِ الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ، عَافَانَا اللهُ مِنْهَا.
Keraguan dan kesyirikan adalah sebab munculnya sifat tamak dan rakus yang berujung pada terjerumusnya seseorang ke dalam kehinaan dan kenestapaan, dan sifat-sifat ini seluruhnya bertolak belakang dengan hakikat keimanan dan ketauhidan, semoga Allah menyelamatkan kita darinya.
وَالشَّكُّ: ضِيقُ الصَّدْرِ عِنْدَ إِحْسَاسِ النَّفْسِ بِأَمْرٍ مَكْرُوهٍ يُصِيبُهَا، فَإِذَا ضَاقَ صَدْرُهُ بِسَبَبِ ذَلِكَ أَظْلَمَ قَلْبُهُ وَأَصَابَهُ مِنْ أَجْلِهِ الْهَمُّ وَالْحُزْنُ.
Adapun yang dimaksud keraguan (asy-syak) di sini adalah: sempitnya dada ketika jiwa merasakan adanya suatu hal yang tidak disukai menimpanya; maka jika dadanya menjadi sempit karena hal itu, hatinya akan menjadi gelap dan akibatnya ia akan ditimpa oleh kegundahan serta kesedihan.
وَطَهَارَتُهُ مِنْهُ إِنَّمَا تَكُونُ بِوُجُودِ ضِدِّهِ، وَهُوَ الْيَقِينُ، فَبِهِ يَتَّسِعُ الصَّدْرُ وَيَنْشَرِحُ، وَيَزُولُ عَنْهُ الْحَرَجُ وَالضِّيقُ.
Dan kesucian hati dari keraguan tersebut hanya akan terwujud dengan hadirnya hal yang sebaliknya, yaitu keyakinan (al-yaqin); sebab dengan keyakinan itu dada akan menjadi lapang dan terbuka, serta lenyaplah ganjalan dan kesempitan darinya.
وَبِقَدْرِ احْتِظَاءِ الْقَلْبِ مِنْ نُورِ الْيَقِينِ يَكُونُ انْشِرَاحُ الصَّدْرِ وَاتِّسَاعُهُ، وَعِنْدَ ذَلِكَ يَجِدُ الْقَلْبُ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ بِاللهِ تَعَالَى وَبِفَضْلِهِ.
Dan seukuran dengan bagian kedekatan hati yang meraih siraman cahaya keyakinan, sebesar itu pulalah kelapangan dada dan keterbukaannya, dan pada saat itulah hati akan merasakan ketenteraman serta kegembiraan bersama Allah Ta'ala dan berkat karunia-Nya.
وَفِي الْحَدِيثِ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللهَ تَعَالَى بِقِسْطِهِ وَعَدْلِهِ جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الرِّضَا وَالْيَقِينِ وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنُ فِي الشَّكِّ وَالسَّخَطِ».
Dan di dalam hadis dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam disebutkan: "Sesungguhnya Allah Ta'ala dengan keadilan dan kebijaksanaan-Nya, menjadikan ketenteraman dan kegembiraan itu berada di dalam sikap rida dan keyakinan, serta menjadikan kegundahan dan kesedihan berada di dalam keraguan dan kejengkelan (atas takdir)."
وَالشِّرْكُ: تَعَلُّقُ الْقَلْبِ بِالْأَسْبَابِ عِنْدَ غَفْلَتِهِ عَنِ الْمُسَبِّبِ وَنِسْيَانِهِ لَهُ، تَعَلُّقَ الْعَبْدِ بِالشِّرْكِ.
Sedangkan kesyirikan (asy-syirk di sini bermakna syirik khafi/tersembunyi) adalah: ketergantungan hati pada sebab-sebab lahiriah ketika ia lalai dari Dzat Yang Menentukan Sebab (Allah) serta melupakan-Nya, selaku bentuk keterikatan seorang hamba pada berhala duniawi.
وَيَكُونُ مَبْدَأُ ذَلِكَ هَيَجَانَ الشَّهْوَةِ عِنْدَ اسْتِيلَاءِ ظُلْمَةِ الشَّكِّ عَلَى الْقَلْبِ فَيَحْلُولَهُ حِينَئِذٍ الْهَوَى.
Dan permulaan dari hal tersebut adalah bergejolaknya syahwat ketika kegelapan keraguan menguasai hati, sehingga pada saat itulah hawa nafsu terasa manis baginya.
فَيَفْزَعُ إِذْ ذَاكِ إِلَى الْأَسْبَابِ الَّتِي يَتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى بُغْيَتِهِ إِذْ لَا يَرَى غَيْرَهَا فَيَرْتَبِكُ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ حَبَائِلَ الشِّرْكِ.
Maka ia pun lari mengadu pada saat itu kepada sebab-sebab lahiriah yang dapat menyampaikannya pada tujuannya karena ia tidak melihat ada hal lain selain sebab itu, sehingga akibatnya ia terjerat ke dalam jaring-jaring kesyirikan.
وَطَهَارَتُهُ مِنْهُ بِضِدِّهِ وَهُوَ: نُورُ التَّوْحِيدِ الَّذِي يَقْذِفُهُ الْحَقُّ تَعَالَى فِي قَلْبِهِ فَتَطْمَئِنُّ بِذَلِكَ نَفْسُهُ وَتَسْكُنُ عَنِ الشَّرَهِ وَالطَّيْشِ الَّذِي أَصَابَهَا.
Dan kesucian hati dari kesyirikan itu adalah dengan kebalikannya, yaitu: cahaya tauhid yang dialirkan oleh Al-Haqq (Allah) Ta'ala ke dalam hatinya, sehingga dengan demikian jiwanya menjadi tenteram serta tenang dari ketamakan dan kesetresan yang sempat menimpanya.
وَكُلَّمَا قَوِيَ نُورُ التَّوْحِيدِ فِي قَلْبِهِ كَانَ خَلَاصُهُ مِنَ الشِّرْكِ أَكْثَرَ فَتُحْمَى عَنْهُ الْأَسْبَابُ، وَيَثْبُتُ فِيهِ خَالِصُ التَّوْحِيدِ.
Dan setiap kali cahaya tauhid semakin menguat di dalam hatinya, maka kebebasannya dari belenggu kesyirikan akan menjadi lebih sempurna, sehingga sebab-sebab lahiriah tersaring dari hatinya, dan tertanamlah tauhid yang murni di dalam dirinya.
فَإِذَا تَطَهَّرَ الْعَبْدُ مِنَ الشَّكِّ وَالشِّرْكِ تَوَلَّاهُ اللهُ تَعَالَى بِالْهِدَايَةِ وَالتَّسْدِيدِ، وَالْمَعُونَةِ وَالتَّأْيِيدِ.
Maka apabila seorang hamba telah suci dari keraguan dan kesyirikan, Allah Ta'ala akan mengurusnya langsung dengan hidayah dan bimbingan, serta bantuan dan penguatan.
وَفِي أَخْبَارِ دَاوُدَ عَلَيْهِ وَعَلَى نَبِيِّنَا الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيْهِ: "يَا دَاوُدُ هَلْ تَدْرِي مَتَى أَتَوَلَّاهُمْ: إِذَا طَهَّرُوا قُلُوبَهُمْ مِنَ الشِّرْكِ وَنَزَعُوا مِنْ قُلُوبِهِمُ الشَّكَّ، وَعَلِمُوا أَنَّ لِي جَنَّةً وَنَارًا، وَأَنِّي أُحْيِي وَأُمِيتُ، وَأَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ، وَأَنِّي لَمْ أَتَّخِذْ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا".
Dan di dalam riwayat-riwayat tentang Nabi Dawud—'alaihi wa 'ala nabiyyinas shalatu was salam—disebutkan sesungguhnya Allah mewahyukan kepadanya: "Wahai Dawud, tahukah engkau kapan Aku mengurus langsung urusan mereka: yaitu apabila mereka telah menyucikan hati mereka dari kesyirikan dan mencabut keraguan dari hati mereka, serta meyakini bahwa Aku memiliki surga dan neraka, dan bahwa Aku yang menghidupkan serta mematikan, dan membangkitkan siapa pun yang ada di dalam kubur, serta bahwa Aku tidak mengambil istri maupun anak.
فَإِنْ تَوَفَّيْتُهُمْ بِيَسِيرٍ مِنَ الْعَمَلِ وَهُمْ يُوقِنُونَ بِذَلِكَ، جَعَلْتُهُ عَظِيمًا عِنْدَهُمْ.
Maka jika Aku mewafatkan mereka dengan amal yang sedikit sedangkan mereka dalam keadaan meyakini hal tersebut, niscaya Aku akan menjadikan amal yang sedikit itu bernilai besar di sisi mereka.
هَلْ تَدْرِي يَا دَاوُدُ مَنْ أَسْرَعُ مَرًّا عَلَى الصِّرَاطِ؟ الَّذِينَ يَرْضَوْنَ بِحُكْمِي، وَأَلْسِنَتُهُمْ رَطْبَةٌ مِنْ ذِكْرِي.
Tahukah engkau wahai Dawud, siapakah orang yang paling cepat menyeberangi jembatan siroth? Mereka adalah orang-orang yang rida terhadap ketetapan-Ku, dan lidah mereka senantiasa basah karena berzikir mengingat-Ku.
هَلْ تَدْرِي يَا دَاوُدُ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَعْظَمُ مَنْزِلَةً عِنْدِي؟ الَّذِي هُوَ بِمَا أُعْطِيَ أَشَدُّ فَرَحًا بِمَا حُبِسَ.
Tahukah engkau wahai Dawud, siapakah di antara orang-orang mukmin yang paling agung kedudukannya di sisi-Ku? Yaitu orang yang terhadap apa yang diberikan kepadanya (berupa karunia spiritual), ia merasa jauh lebih gembira daripada apa yang ditahan (berupa kemewahan duniawi) darinya.
هَلْ تَدْرِي يَا دَاوُدُ أَيُّ الْفُقَرَاءِ أَفْضَلُ؟ الَّذِينَ يَرْضَوْنَ بِحُكْمِي وَبِقِسْمَتِي، وَيَحْمَدُونَنِي عَلَى مَا أَنْعَمْتُ عَلَيْهِمْ مِنَ الْمَعَاشِ،. (حِلْيَةُ الْأَوْلِيَاءِ).
Tahukah engkau wahai Dawud, siapakah di antara orang-orang fakir yang paling utama? Yaitu mereka yang rida terhadap ketetapan-Ku dan bagian yang Aku berikan, serta mereka senantiasa memuji-Ku atas apa yang Aku nikmatkan kepada mereka berupa sarana penghidupan. (Kitab Hilyat al-Auliya').



