Catatan: Tulisan yang tidak bewarna hitam adalah adalah penjelasan tambahan. Semoga bermanfaat.
MUNAJAT 31:
قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
Syaikh Ibnu Athaillah ra. berkata:
إِلَهِي! كَيْفَ يُرْجَى سِوَاكَ، وَأَنْتَ مَا قَطَعْتَ الْإِحْسَانَ؟
Ya Tuhanku, bagaimana mungkin selain-Mu masih diharapkan, padahal Engkau tidak pernah memutus curahan kebaikan-Mu?
وَكَيْفَ يُطْلَبُ مِنْ غَيْرِكَ وَأَنْتَ مَا بَدَّلْتَ عَادَةَ الِامْتِنَانِ؟
Dan bagaimana mungkin seseorang meminta kepada selain-Mu, padahal Engkau tidak pernah mengubah kebiasaan-Mu dalam melimpahkan karunia?
يَا مَنْ أَذَاقَ أَحِبَّاءَهُ حَلَاوَةَ مُؤَانَسَتِهِ، فَقَامُوا بَيْنَ يَدَيْهِ مُتَمَلِّقِينَ.
Wahai Dzat yang telah membuat para kekasih-Nya merasakan manisnya keakraban dengan-Nya, sehingga mereka berdiri di hadapan-Nya dengan penuh kelembutan, kerendahan hati, dan ungkapan kasih.
وَيَا مَنْ أَلْبَسَ أَوْلِيَاءَهُ مَلَابِسَ هَيْبَتِهِ، فَقَامُوا بِعِزَّتِهِ مُسْتَعِزِّينَ.
Wahai Dzat yang telah mengenakan kepada para wali-Nya pakaian kewibawaan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi mulia dengan kemuliaan-Nya dan merasa cukup kuat dengan kekuatan-Nya.
أَنْتَ الذَّاكِرُ مِنْ قَبْلِ الذَّاكِرِينَ.
Engkaulah yang terlebih dahulu mengingat (hamba-hamba-Mu) sebelum mereka mengingat-Mu.
وَأَنْتَ الْبَادِئُ بِالْإِحْسَانِ مِنْ قَبْلِ تَوَجُّهِ الْعَابِدِينَ.
Engkaulah yang memulai memberikan kebaikan sebelum para hamba mengarahkan ibadah mereka kepada-Mu.
وَأَنْتَ الْجَوَادُ بِالْعَطَاءِ مِنْ قَبْلِ طَلَبِ الطَّالِبِينَ، وَأَنْتَ الْوَهَّابُ.
Engkaulah Yang Maha Pemurah dalam memberi sebelum para pemohon mengajukan permintaannya, dan Engkaulah Yang Maha Penganugerah.
ثُمَّ أَنْتَ لِمَا وَهَبْتَنَا مِنَ الْمُسْتَقْرِضِينَ.
Kemudian, terhadap apa yang telah Engkau anugerahkan kepada kami, Engkau masih memperlakukannya seakan-akan Engkau meminjamnya dari kami.
--------------
(إِلَهِي! كَيْفَ يُرْجَى سِوَاكَ، وَأَنْتَ مَا قَطَعْتَ الْإِحْسَانَ؟
Ya Tuhanku, bagaimana mungkin selain-Mu masih diharapkan, padahal Engkau tidak pernah memutus curahan kebaikan-Mu?
وَكَيْفَ يُطْلَبُ مِنْ غَيْرِكَ وَأَنْتَ مَا بَدَّلْتَ عَادَةَ الِامْتِنَانِ؟)
Dan bagaimana mungkin seseorang meminta kepada selain-Mu, padahal Engkau tidak pernah mengubah kebiasaan-Mu dalam melimpahkan karunia?
هَذَا تَعْجِيبٌ مِمَّنْ كَانَ عَلَى هَذَا الْوَصْفِ، وَهُوَ أَعْجَبُ مِنْ كُلِّ عَجِيبٍ، وَالْمَعْنَى فِي ذَلِكَ بَيِّنٌ.
Ungkapan ini merupakan bentuk rasa takjub terhadap Dzat yang memiliki sifat seperti itu, dan keadaan tersebut lebih menakjubkan daripada segala sesuatu yang menakjubkan. Makna yang dimaksud pun sangat jelas.
---
Dalam Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-A'raf 156
Firman Allah Swt.:
{وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ}
dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. (Al-A'raf: 156)
Ayat ini merupakan suatu ayat yang besar peliputan dan keumuman maknanya, sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam menceritakan perihal para malaikat penyangga Arasy. Mereka mengatakan:
{رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا}
Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu. (Al-Mu’min: 7)
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الجُرَيري، عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الجُشَمي، حَدَّثَنَا جُنْدُب -هُوَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ البَجَلي، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -قَالَ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَأَنَاخَ رَاحِلَتَهُ ثُمَّ عَقَلها ثُمَّ صَلَّى خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى رَاحِلَتَهُ فَأَطْلَقَ عِقَالَهَا، ثُمَّ رَكِبَهَا، ثُمَّ نَادَى: اللَّهُمَّ، ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا، وَلَا تُشْرِكْ فِي رَحْمَتِنَا أَحَدًا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَتَقُولُونَ هَذَا أَضَلُّ أَمْ بَعِيرُهُ؟ أَلَمْ تَسْمَعُوا مَا قَالَ؟ " قَالُوا: بَلَى. قَالَ: "لَقَدْ حَظَرْت رَحْمَةً وَاسِعَةً؛ إن الله، عز وَجَلَّ، خَلَقْ مِائَةَ رَحْمَةٍ، فَأَنْزَلَ رَحْمَةً وَاحِدَةً يَتَعَاطَفُ بِهَا الْخَلْقُ؛ جِنُّهَا وَإِنْسُهَا وَبَهَائِمُهَا، وأخَّرَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً، أَتَقُولُونَ هُوَ أَضَلُّ أَمْ بَعِيرُهُ؟ ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Jariri, dari Abu Abdullah Al-Jusyami, telah menceritakan kepada kami Jundub —yaitu Ibnu Abdullah Al-Bajali r.a.— yang menceritakan bahwa seorang Arab Badui datang, lalu mengistirahatkan unta kendaraannya dan menambatkannya. Lalu ia salat di belakang Rasulullah SAW, setelah salam dari salatnya, maka lelaki Badui itu mendatangi unta kendaraannya dan melepaskan tambalannya, lalu menaikinya, kemudian ia berdoa, "Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau sertakan seorang pun dalam rahmat kami." Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Bagaimanakah pendapat kalian tentang orang ini, dia atau untanyakah yang sesat, tidakkan kalian dengar apa yang dikatakannya?" Mereka menjawab, "Ya, kami mendengarnya." Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya engkau telah membatasi rahmat yang luas. Sesungguhnya Allah Swt. telah menciptakan seratus rahmat. Lalu Dia menurunkan satu rahmat, yang dengan satu rahmat itu semua makhluk saling mengasihi, baik jin, manusia, maupun hewan-hewan. Dan Allah menangguhkan sembilan puluh sembilan rahmat di sisi-Nya. Bagaimanakah pendapat kalian, apakah orang ini yang sesat, ataukah untanya?"
Imam Ahmad dan Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Ali ibnu Nadr, dari Abdus Samad ibnu Abdul Waris dengan lafaz yang sama.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنْ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، مِائَةَ رَحْمَةٍ، فَمِنْهَا رَحْمَةٌ يتراحمُ بِهَا الْخَلْقُ، وَبِهَا تَعْطِفُ الْوُحُوشُ عَلَى أَوْلَادِهَا، وَأَخَّرَ تِسْعًا وَتِسْعِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ".
Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id dari ibnu Sulaiman, dari Abu Usman, dari Salman, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. mempunyai seratus rahmat, di antaranya dengan satu rahmat itu" semua makhluk saling mengasihi, dan dengan satu rahmat itu semua hewan liar sayang kepada anak-anaknya. Dan Allah menangguhkan yang sembilan puluh sembilannya untuk hari kiamat nanti.
Hadis diriwayatkan secara munfarid oleh Imam Muslim. Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Sulaiman ibnu Tarkhan dan Daud ibnu Abu Hindun, kedua-duanya dari Abu Usman yang nama aslinya adalah Abdur Rahman ibnu Mal, dari Salman Al-Farisi, dari Nabi Saw. dengan lafaz yang sama.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ بَهْدَلَة، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "لِلَّهِ مِائَةُ رَحْمَةٍ، عِنْدَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَجَعْلِ عِنْدَكُمْ وَاحِدَةً تَتَرَاحَمُونَ بِهَا بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَبَيْنَ الْخَلْقِ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ ضَمَّهَا إِلَيْهِ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Asim ibnu Bahdalah, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat, di sisi-Nya tersimpan sembilan puluh sembilan rahmat, dan menjadikan yang satu rahmat buat kalian, yang dengan satu rahmat itu kalian saling menyayangi, baik jin. manusia, dan makhluk lainnya. Dan apabila hari kiamat tiba, maka Allah menggabungkannya dengan yang ada di sisi-Nya.
Hadis diriwayatkan secara munfarid oleh Imam Ahmad dari jalur ini.
قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ: رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لِلَّهِ مِائَةُ رَحْمَةٍ، فَقَسَّمَ مِنْهَا جُزْءًا وَاحِدًا بَيْنَ الْخَلْقِ، فِيهِ يَتَرَاحَمُ النَّاسُ وَالْوَحْشُ وَالطَّيْرُ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada, kami Abdul Wahid, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Abu Saleh, dari Abu Sa'id yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Allah mempunyai seratus rahmat, di antaranya satu bagian dibagikan di antara manusia, dengan satu rahmat itulah manusia, hewan liar dan burung saling menyayangi.
---
(يَا مَنْ أَذَاقَ أَحِبَّاءَهُ حَلَاوَةَ مُؤَانَسَتِهِ فَقَامُوا بَيْنَ يَدَيْهِ مُتَمَلِّقِينَ).
Wahai Dzat yang telah membuat para kekasih-Nya merasakan manisnya keakraban dengan-Nya, sehingga mereka berdiri di hadapan-Nya dengan penuh kerendahan hati dan kelembutan.
التَّمَلُّقُ: هُوَ التَّلَطُّفُ فِي التَّوَدُّدِ، وَتَرَتُّبُهُ عَلَى ذَوْقِهِمْ لِحَلَاوَةِ مُؤَانَسَتِهِ بَيِّنٌ.
At-tamalluq adalah bersikap lembut dan penuh kasih dalam menampakkan kecintaan. Sikap itu muncul sebagai buah dari pengalaman mereka merasakan manisnya keakraban dengan Allah, dan hal tersebut sangat nyata.
(وَيَا مَنْ أَلْبَسَ أَوْلِيَاءَهُ مَلَابِسَ هَيْبَتِهِ فَقَامُوا بِعِزَّتِهِ مُسْتَعِزِّينَ).
Wahai Dzat yang telah mengenakan kepada para wali-Nya pakaian kewibawaan-Nya, sehingga mereka berdiri dengan kemuliaan yang berasal dari-Nya.
اسْتِعْزَازُهُمْ بِعِزَّتِهِ هُوَ رَفْعُ هِمَمِهِمْ عَنْ تَعْلِيقِهَا بِغَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى تِيهًا، وَتَكَبُّرًا عَلَيْهَا، وَثِقَةً مِنْهُمْ بِهِ،
Merasa mulia dengan kemuliaan Allah berarti mengangkat cita-cita mereka dari ketergantungan kepada selain Allah. Mereka memandang selain-Nya dengan sikap tidak bergantung, merasa cukup hanya dengan Allah, serta memiliki keyakinan penuh kepada-Nya.
وَذَلِكَ لِمَا أَلْبَسَهُمْ مِنْ مَلَابِسِ هَيْبَتِهِ، حَتَّى لَمْ يَهَابُوا مَعَهُ غَيْرَهُ، وَلَمْ تَتَأَلَّهْ قُلُوبُهُمْ إِلَى سِوَاهُ.
Hal itu terjadi karena Allah telah mengenakan kepada mereka pakaian kewibawaan-Nya, sehingga mereka tidak lagi merasa gentar kepada siapa pun selain Dia, dan hati mereka tidak lagi tertuju sebagai sesembahan kepada selain-Nya.
وَلِذَلِكَ قَالُوا: الْمَعْرِفَةُ حَقْرُ الْأَقْدَارِ سِوَى قَدْرِهِ، وَمَحْوُ الْأَذْكَارِ سِوَى ذِكْرِهِ.
Karena itu para arif berkata, "Makrifat adalah memandang kecil segala kedudukan selain kedudukan Allah, dan menghapus segala ingatan selain mengingat-Nya."
قَالَ بَعْضُ الْمَشَايِخِ:
«إِذَا عَظُمَ الرَّبُّ فِي الْقَلْبِ صَغُرَ الْخَلْقُ فِي الْعَيْنِ».
Sebagian para masyayikh berkata, "Apabila kebesaran Tuhan telah memenuhi hati, maka seluruh makhluk akan tampak kecil di mata."
وَقِيلَ فِي مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿تُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ﴾ [آل عمران: ٢٦].
Dan mengenai firman Allah Ta'ala, "Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki" (QS. Ali 'Imran: 26), dikatakan bahwa maknanya adalah:
قَالَ: بِأَنْ يَكُونَ لَكَ بِكَ مَعَكَ بَيْنَ يَدَيْكَ.
Yaitu, engkau menjadi milik Allah, melalui pertolongan Allah, senantiasa bersama Allah (dengan hati yang hadir kepada-Nya), dan selalu merasa berada di hadapan-Nya.
(أَنْتَ الذَّاكِرُ مِنْ قَبْلِ ذِكْرِ الذَّاكِرِينَ، وَأَنْتَ الْبَادِئُ بِالْإِحْسَانِ مِنْ قَبْلِ تَوَجُّهِ الْعَابِدِينَ،
Engkaulah yang terlebih dahulu mengingat sebelum adanya ingatan para hamba yang mengingat-Mu. Engkaulah yang memulai memberikan kebaikan sebelum para ahli ibadah mengarahkan diri kepada-Mu.
---
Apakah ada dalil Engkaulah yang terlebih dahulu mengingat sebelum adanya ingatan para hamba yang mengingat-Mu, karena:
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.
(QS. Al-Baqarah 152) ???
Jawaban:
يَمُنُّوْنَ عَلَيْكَ اَنْ اَسْلَمُوْاۗ قُلْ لَّا تَمُنُّوْا عَلَيَّ اِسْلَامَكُمْۚ بَلِ اللّٰهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ اَنْ هَدٰىكُمْ لِلْاِيْمَانِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allahlah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang-orang benar.” (QS. Al-Hujurat 17)
Syariat: "Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku mengingatmu." Ini adalah perintah sekaligus janji Allah kepada hamba yang berdzikir.
Hakikat: "Engkaulah yang lebih dahulu mengingat sebelum para hamba mengingat-Mu." Ini menjelaskan bahwa dzikir hamba sendiri merupakan taufik dan karunia Allah yang mendahului segala amal.
---
وَأَنْتَ الْجَوَادُ بِالْعَطَاءِ مِنْ قَبْلِ طَلَبِ الطَّالِبِينَ، وَأَنْتَ الْوَهَّابُ، ثُمَّ أَنْتَ لِمَا وَهَبْتَنَا مِنَ الْمُسْتَقْرِضِينَ).
Engkaulah Yang Maha Pemurah dalam memberi sebelum para pemohon mengajukan permintaan. Engkaulah Yang Maha Penganugerah. Bahkan setelah Engkau menganugerahkan nikmat kepada kami, Engkau masih memperlakukannya seakan-akan Engkau meminjamnya dari kami.
---
Engkaulah Yang Maha Pemurah dalam memberi sebelum para pemohon mengajukan permintaan.
اَلَمْ تَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَاَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةًۗ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّجَادِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّلَا هُدًى وَّلَا كِتٰبٍ مُّنِيْرٍ
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu. Dia (juga) menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin untukmu. Akan tetapi, di antara manusia ada yang membantah (keesaan) Allah tanpa (berdasarkan) ilmu, petunjuk, dan kitab suci yang menerangi.
(QS. Luqman 20)
---
Engkau masih memperlakukannya seakan-akan Engkau meminjamnya dari kami.
مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗٓ اَضْعَافًا كَثِيْرَةًۗ وَاللّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۣطُۖ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ٢٤٥
Siapakah yang mau memberi pinjaman yang baik kepada Allah? Dia akan melipatgandakan (pembayaran atas pinjaman itu) baginya berkali-kali lipat. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki). Kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS. Al-Baqarah 245)
---
الْحَقُّ تَعَالَى لَهُ الْأَوْلَوِيَّةُ فِيمَا ذُكِرَ كَمَا ذَكَرَ.
Allah Ta'ala memiliki sifat yang lebih dahulu (al-awlawiyyah) dalam seluruh perkara yang telah disebutkan sebagaimana telah dijelaskan.
---
وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaq 3)
---
قَالَ أَبُو يَزِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: «غَلِطْتُ فِي ابْتِدَاءِ أَمْرِي فِي أَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: تَوَهَّمْتُ أَنِّي أَذْكُرُهُ وَأَعْرِفُهُ وَأُحِبُّهُ وَأَطْلُبُهُ، فَلَمَّا انْتَهَيْتُ رَأَيْتُ ذِكْرَهُ سَبَقَ ذِكْرِي، وَمَعْرِفَتَهُ تَقَدَّمَتْ مَعْرِفَتِي، وَمَحَبَّتَهُ أَقْدَمُ مِنْ مَحَبَّتِي، وَطَلَبُهُ لِي أَوَّلًا حَتَّى طَلَبْتُهُ».
Abu Yazid al-Busthami ra. berkata, "Pada awal perjalanan ruhani, aku keliru dalam empat perkara. Aku mengira akulah yang mengingat Allah, mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan mencari-Nya. Namun ketika aku mencapai pemahaman yang lebih dalam, aku menyadari bahwa ingatan Allah kepadaku telah mendahului ingatanku kepada-Nya, pengenalan-Nya kepadaku telah mendahului pengenalanku kepada-Nya, cinta-Nya kepadaku telah lebih dahulu daripada cintaku kepada-Nya, dan pencarian-Nya terhadapku telah terjadi lebih dahulu hingga akhirnya aku mencari-Nya."
فَإِذَا كَانَتْ لَهُ الْأَوَّلِيَّةُ فِي ذَلِكَ لَمْ يَبْقَ لِلْعَبْدِ وَسِيلَةٌ يَتَوَسَّلُ بِهَا سِوَى فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ.
Apabila seluruh perkara itu berasal dari Allah lebih dahulu, maka tidak ada lagi jalan bagi seorang hamba untuk bertawassul selain melalui karunia dan kemurahan-Nya.
وَمِمَّا يُوَافِقُ مَا ذَكَرَهُ الْمُؤَلِّفُ، مَا حُكِيَ عَنِ الْجُنَيْدِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي مُنَاجَاتِهِ:
Di antara ungkapan yang sejalan dengan penjelasan penulis adalah riwayat dari al-Junaid ra. Beliau biasa berdoa dalam munajatnya,
«يَا ذَاكِرَ الذَّاكِرِينَ بِمَا بِهِ ذَكَرُوهُ، وَيَا بَادِئَ الْعَارِفِينَ بِمَا بِهِ عَرَفُوهُ، وَيَا مُوَفِّقَ الْعَابِدِينَ لِصَالِحِ مَا عَمِلُوهُ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَكَ إِلَّا بِإِذْنِكَ، مَنْ ذَا الَّذِي يَذْكُرُكَ إِلَّا بِفَضْلِكَ».
"Wahai Dzat yang membuat orang-orang yang berdzikir dapat berdzikir dengan pertolongan-Mu. Wahai Dzat yang membuat para arif mengenal-Mu dengan cahaya dari-Mu. Wahai Dzat yang memberi taufik kepada para ahli ibadah untuk melakukan amal saleh mereka. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Mu kecuali dengan izin-Mu? Dan siapakah yang mampu mengingat-Mu kecuali karena karunia-Mu?"
وَاسْتِقْرَاضُ الرَّبِّ مِنْ عَبْدِهِ مَا وَهَبَهُ لَهُ غَايَةٌ فِي تَرْفِيعِهِ لِقَدْرِهِ، وَإِبَانَتِهِ لِشَرَفِهِ، وَوَعْدُهُ مَعَ ذَلِكَ جَزِيلَ الثَّوَابِ عَلَيْهِ نِهَايَةٌ فِي إِكْرَامِهِ لَهُ وَتَفَضُّلِهِ عَلَيْهِ.
Bahwa Allah seakan-akan meminjam dari hamba-Nya sesuatu yang sebelumnya Dia sendiri anugerahkan kepadanya merupakan puncak pengangkatan derajat hamba itu, penegasan atas kemuliaannya, dan bukti kehormatannya. Di samping itu, Allah juga menjanjikan pahala yang sangat besar atas "pinjaman" tersebut. Hal ini merupakan puncak pemuliaan dan kemurahan Allah kepada hamba-Nya.
قَالَ بَعْضُهُمْ: مَلَّكَكَ، ثُمَّ اشْتَرَى مِنْكَ مَا مَلَّكَكَ، لِيُثْبِتَ لَكَ مَعَهُ نِسْبَةً، ثُمَّ اسْتَقْرَضَ مِنْكَ مَا اشْتَرَاهُ،
Sebagian ulama berkata, "Allah menjadikanmu sebagai pemilik suatu nikmat. Kemudian Dia membeli darimu nikmat yang telah Dia jadikan milikmu itu agar Dia menetapkan bagimu suatu kedudukan di sisi-Nya. Setelah itu, Dia bahkan meminjam darimu apa yang telah Dia beli tersebut.
ثُمَّ وَعَدَكَ عَلَيْهِ مِنَ الْعِوَضِ أَضْعَافًا، بَيَّنَ فِيهِ أَنَّ نِعَمَهُ وَعَطَايَاهُ بَعِيدَتَانِ أَنْ يَكُونَا مَشُوبَتَيْنِ بِالْعِلَلِ.
Lalu Dia menjanjikan kepadamu balasan yang berlipat ganda atasnya. Dengan semua itu Allah menjelaskan bahwa nikmat dan karunia-Nya sama sekali tidak tercampuri oleh kepentingan atau motif apa pun; semuanya murni merupakan limpahan rahmat dan kemurahan-Nya."




0 comments:
Posting Komentar