Senin, 10 Agustus 2026

MUNAJAT SYAIKH IBNU ATHAILLAH 31-32


MUNAJAT 31


ثُمَّ قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Kemudian Syaikh Ibnu ‘Athaillah radhiyallahu ‘anhu berkata:


إِلَهِي: اطْلُبْنِي بِرَحْمَتِكَ حَتَّى أَصِلَ إِلَيْكَ، وَاجْذُبْنِي بِمَنَّتِكَ حَتَّى أُقْبِلَ عَلَيْكَ.

“Wahai Tuhanku, carilah aku dengan rahmat-Mu hingga aku sampai kepada-Mu, dan tariklah aku dengan karunia-Mu hingga aku menghadap kepada-Mu.”


لَا سَبِيلَ لِلْعَبْدِ إِلَى وُصُولِهِ إِلَى اللَّهِ إِلَّا بِرَحْمَتِهِ؛ فَلِذَلِكَ طَلَبَ مِنْهُ أَنْ يَطْلُبَهُ بِهَا.

Tidak ada jalan bagi seorang hamba untuk sampai kepada Allah kecuali melalui rahmat-Nya. Karena itu, ia memohon kepada-Nya agar Dia mencarinya dengan rahmat tersebut.


وَلَا يَتَأَتَّى لَهُ الْإِقْبَالُ عَلَيْهِ إِلَّا بِمَنَّتِهِ، فَلِذَلِكَ طَلَبَ مِنْهُ أَنْ يَجْذِبَهُ إِلَيْهِ بِهَا.

Seorang hamba tidak akan mampu menghadap kepada-Nya kecuali melalui karunia-Nya. Karena itu, ia memohon kepada-Nya agar Dia menariknya kepada-Nya dengan karunia tersebut.


وَذَلِكَ لِتَحَقُّقِ الْأَوْلَوِيَّةِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا مِنْ قَبْلُ.

Hal itu karena adanya prinsip bahwa Allah terlebih dahulu berinisiatif, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.


MUNAJAT 32


ثُمَّ قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Kemudian Syaikh Ibnu ‘Athaillah radhiyallahu ‘anhu berkata:


إِلَهِي، إِنَّ رَجَائِي لَا يَنْقَطِعُ عَنْكَ وَإِنْ عَصَيْتُكَ، كَمَا أَنَّ خَوْفِي لَا يُزَايِلُنِي إِنْ أَطَعْتُكَ.

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya harapanku kepada-Mu tidak pernah terputus meskipun aku bermaksiat kepada-Mu, sebagaimana rasa takutku kepada-Mu tidak pernah meninggalkanku meskipun aku menaati-Mu.”


الْخَوْفُ وَالرَّجَاءُ حَالَانِ يَتَعَاقَبَانِ عَلَى قَلْبِ الْعَبْدِ، وَاعْتِدَالُهُمَا وَاسْتِوَاؤُهُمَا هُوَ الْمَطْلُوبُ، سَوَاءٌ كَانَ الْعَبْدُ فِي طَاعَةٍ أَوْ فِي مَعْصِيَةٍ.

Rasa takut (khauf) dan harapan (raja’) adalah dua keadaan yang silih berganti hadir dalam hati seorang hamba. Keseimbangan dan keselarasan keduanya itulah yang diharapkan, baik ketika seorang hamba sedang berada dalam ketaatan maupun dalam kemaksiatan.


وَقَدْ مَثَّلُوا ذَلِكَ بِكِفَّتَيِ الْمِيزَانِ وَجَنَاحَيِ الطَّائِرِ، وَهَذَا مِنْ أَعْلَى مُشَاهَدَةِ الْعَارِفِينَ وَالْأَوْلِيَاءِ.

Para ulama menggambarkan keadaan tersebut seperti dua daun timbangan dan seperti dua sayap burung. Ini termasuk salah satu bentuk penyaksian spiritual yang paling tinggi menurut kaum ‘arif dan para wali.


وَذَلِكَ لِأَنَّ مَنْشَأَهُمَا عِنْدَهُمْ إِنَّمَا هُوَ مِنْ شُهُودِ الصِّفَاتِ الْمُخَوِّفَةِ وَالْمَرْجُوَّةِ، وَصِفَاتُ اللَّهِ تَعَالَى لَا تَفَاوُتَ فِيهَا، فَكَذَلِكَ مُشَاهَدَتُهَا لَا تَفَاوُتَ فِيهَا.

Hal itu karena, menurut mereka, sumber rasa takut dan harapan tersebut adalah penyaksian terhadap sifat-sifat Allah yang menimbulkan rasa takut dan sifat-sifat-Nya yang menumbuhkan harapan. Sifat-sifat Allah Ta‘ala tidak memiliki perbedaan dalam kesempurnaannya; demikian pula penyaksian terhadap sifat-sifat tersebut semestinya tidak mengalami ketimpangan.


فَإِنْ وَقَعَ فِيهَا تَفَاوُتٌ كَانَتْ مُشَاهَدَةً نَاقِصَةً، وَأَحْوَالًا مَعْلُولَةً.

Jika terdapat ketimpangan di dalamnya, maka penyaksian tersebut menjadi tidak sempurna dan keadaan spiritual yang dialami menjadi tercampur oleh suatu penyakit.


فَلِذَلِكَ يَتَصَوَّرُ وُجُودُ كَمَالِ الْخَوْفِ مَعَ عَمَلِ الْعَبْدِ بِالطَّاعَةِ، وَغَلَبَةِ الرَّجَاءِ مَعَ ارْتِكَابِهِ الْمَعْصِيَةَ، كَمَا وَصَفَ بِهِ الْمُؤَلِّفُ نَفْسَهُ.

Karena itu, sangat mungkin seseorang memiliki rasa takut yang sempurna meskipun sedang melakukan ketaatan, dan harapan yang lebih dominan meskipun sedang melakukan kemaksiatan, sebagaimana penulis sendiri menggambarkan keadaannya.


قَالَ يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ، رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ:

Yahya bin Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu berkata:


«يَكَادُ رَجَائِي لَكَ مَعَ الذُّنُوبِ يَغْلِبُ رَجَائِي لَكَ مَعَ الْأَعْمَالِ؛ لِأَنِّي أَجِدُنِي أَعْتَمِدُ فِي الْأَعْمَالِ عَلَى الْإِخْلَاصِ، وَكَيْفَ أُحَرِّرُهَا وَأَنَا بِالْآفَةِ مَعْرُوفٌ؟!

“Harapanku kepada-Mu ketika melakukan dosa hampir-hampir lebih kuat daripada harapanku kepada-Mu ketika melakukan amal kebaikan. Sebab, ketika melakukan amal, aku mendapati diriku bergantung pada keikhlasan. Bagaimana mungkin aku dapat memurnikannya, sementara aku dikenal memiliki berbagai penyakit dan kekurangan?”


وَأَجِدُنِي فِي الذُّنُوبِ أَعْتَمِدُ عَلَى عَفْوِكَ، وَكَيْفَ لَا تَغْفِرُهَا وَأَنْتَ بِالْجُودِ مَوْصُوفٌ؟»

“Sedangkan ketika melakukan dosa, aku mendapati diriku bergantung pada ampunan-Mu. Bagaimana mungkin Engkau tidak mengampuninya, sementara Engkau disifati sebagai Zat Yang Maha Pemurah?”


وَقَدْ تَقَدَّمَ مِنْ كَلَامِ الْمُؤَلِّفِ، رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: «مِنْ عَلَامَةِ الِاعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ».

Sebelumnya telah disebutkan perkataan penulis, rahimahullah Ta‘ala:

“Di antara tanda seseorang bergantung kepada amalnya adalah berkurangnya harapan ketika terjadi kesalahan.”


وَمِنْ دُعَاءِ سَيِّدِي أَبِي الْعَبَّاسِ، رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ:

Di antara doa Sayyidi Abu al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu adalah:


«... إِلَهِي، مَعْصِيَتُكَ نَادَتْنِي بِالطَّاعَةِ، وَطَاعَتُكَ نَادَتْنِي بِالْمَعْصِيَةِ، فَفِي أَيِّهِمَا أَخَافُكَ، وَفِي أَيِّهِمَا أَرْجُوكَ؟

“Wahai Tuhanku, kemaksiatan kepada-Mu memanggilku untuk kembali kepada ketaatan, sedangkan ketaatan kepada-Mu memanggilku untuk takut kepada-Mu. Lalu, dalam keadaan yang mana aku harus takut kepada-Mu, dan dalam keadaan yang mana aku harus berharap kepada-Mu?”


إِنْ قُلْتُ بِالْمَعْصِيَةِ قَابَلَتْنِي بِفَضْلِكَ فَلَمْ تَدَعْ لِي خَوْفًا، وَإِنْ قُلْتُ بِالطَّاعَةِ قَابَلَتْنِي بِعَدْلِكَ فَلَمْ تَدَعْ لِي رَجَاءً.

“Jika aku mengatakan, ‘Aku takut karena kemaksiatan,’ Engkau menyambutku dengan karunia-Mu sehingga tidak menyisakan rasa takut bagiku. Jika aku mengatakan, ‘Aku berharap karena ketaatan,’ Engkau menyambutku dengan keadilan-Mu sehingga tidak menyisakan harapan bagiku.”


فَلَيْتَ شِعْرِي، كَيْفَ أَرَى إِحْسَانِي مَعَ إِحْسَانِكَ، أَمْ كَيْفَ أَجْهَلُ فَضْلَكَ مَعَ عِصْيَانِي؟»

“Duhai, bagaimana mungkin aku melihat kebaikanku di hadapan kebaikan-Mu? Atau bagaimana mungkin aku tidak mengetahui karunia-Mu sementara aku masih bermaksiat kepada-Mu?”


وَمِنْ كَلَامِهِ أَيْضًا، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

Di antara perkataannya yang lain, radhiyallahu ‘anhu:


«الْعَامَّةُ إِذَا خُوِّفُوا خَافُوا، وَإِذَا رُجُّوا رَجَوْا، وَالْخَاصَّةُ مَتَى خُوِّفُوا رَجَوْا، وَمَتَى رُجُّوا خَافُوا».

“Orang-orang awam, ketika diberi peringatan yang menakutkan, mereka pun takut; dan ketika diberi harapan, mereka pun berharap. Sedangkan orang-orang khusus: ketika mereka ditakut-takuti, mereka justru berharap; dan ketika mereka diberi harapan, mereka justru takut.”


قَالَ فِي «لَطَائِفِ الْمِنَنِ»:

Beliau berkata dalam Laṭā’if al-Minan:


«وَمَعْنَى كَلَامِ الشَّيْخِ هَذَا: أَنَّ الْعَامَّةَ وَاقِفُونَ مَعَ ظَوَاهِرِ الْأَمْرِ؛ فَمَتَى خُوِّفُوا خَافُوا؛ إِذْ لَيْسَ لَهُمْ نُفُوذٌ إِلَى مَا وَرَاءَ الْعِبَارَةِ بِنُورِ الْفَهْمِ كَمَا لِأَهْلِ اللَّهِ.

“Makna perkataan Syaikh ini adalah bahwa orang-orang awam berhenti pada lahiriah suatu perkara. Ketika mereka diberi peringatan yang menakutkan, mereka pun takut. Sebab, mereka belum memiliki kemampuan menembus apa yang berada di balik ungkapan dengan cahaya pemahaman sebagaimana yang dimiliki oleh para ahli Allah.”


وَأَهْلُ اللَّهِ إِذَا خُوِّفُوا رَجَوْا، عَالِمِينَ أَنَّ مِنْ وَرَاءِ خَوْفِهِمْ وَمَا بِهِ خُوِّفُوا أَوْصَافَ الْمَرْجُوِّ الَّذِي لَا يَنْبَغِي أَنْ يُقْنَطَ مِنْ رَحْمَتِهِ، وَلَا أَنْ يَيْأَسَ مِنْ مَنِّهِ.

“Sedangkan para ahli Allah, ketika mereka ditakut-takuti, mereka justru berharap, karena mereka mengetahui bahwa di balik rasa takut dan sesuatu yang membuat mereka takut itu terdapat sifat-sifat Zat Yang diharapkan, yang tidak semestinya membuat seseorang berputus asa dari rahmat-Nya dan tidak pula berputus asa dari karunia-Nya.”


فَاحْتَالُوا عَلَى أَوْصَافِ كَرَمِهِ عِلْمًا مِنْهُ أَنَّهُ مَا خَوَّفَهُمْ إِلَّا لِيَجْمَعَهُمْ عَلَيْهِ وَلِيَرُدَّهُمْ بِذَلِكَ إِلَيْهِ.

“Mereka kemudian memandang kepada sifat-sifat kemurahan-Nya, karena mengetahui bahwa Allah tidak menakut-nakuti mereka kecuali agar mengumpulkan mereka kembali kepada-Nya dan mengembalikan mereka kepada-Nya melalui rasa takut tersebut.”


وَإِذَا رَجَوْا يَخَافُونَ غَيْبَ مَشِيئَتِهِ الَّذِي هُوَ مِنْ وَرَاءِ رَجَائِهِمْ، وَخَافُوا أَنْ يَكُونَ مَا أَظْهَرَ مِنَ الرَّجَاءِ اخْتِبَارًا لِعُقُولِهِمْ: هَلْ تَقِفُ مَعَ ظَاهِرِ الرَّجَاءِ، أَوْ تَنْفُذُ إِلَى خَوْفِ مَا بَطَنَ فِي مَشِيئَتِهِ؟

“Dan ketika mereka berharap, mereka justru takut terhadap perkara gaib dalam kehendak-Nya yang berada di balik harapan mereka. Mereka takut bahwa apa yang Allah tampakkan sebagai alasan untuk berharap itu sebenarnya merupakan ujian bagi akal mereka: apakah mereka hanya berhenti pada lahiriah harapan, ataukah mereka mampu menembus hingga kepada rasa takut terhadap apa yang tersembunyi dalam kehendak-Nya?”


فَلِذَلِكَ أَثَارَ الرَّجَاءُ خَوْفَهُمْ.

“Oleh karena itu, justru harapanlah yang membangkitkan rasa takut mereka.”

0 comments:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More