قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:
«إِلَهِي بِكَ أَسْتَنْصِرُ فَانْصُرْنِي، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ فَلَا تَكِلْنِي، وَإِيَّاكَ أَسْأَلُكَ فَلَا تُخَيِّبْنِي، وَفِي فَضْلِكَ أَرْغَبُ فَلَا تَحْرِمْنِي، وَلِجَنَابِكَ أَنْتَسِبُ فَلَا تُبْعِدْنِي، وَبِبَابِكَ أَقِفُ فَلَا تَطْرُدْنِي».
"Tuhanku, kepada-Mu aku memohon pertolongan maka tolonglah aku, kepada-Mu aku berserah diri maka janganlah Engkau biarkan aku bersandar pada diriku sendiri, hanya kepada-Mu aku meminta maka janganlah Engkau mengecewakan aku, pada karunia-Mu aku berharap maka janganlah Engkau menghalangi aku, kepada kemuliaan-Mu aku menyandarkan diri maka janganlah Engkau menjauhkan aku, dan di depan pintu-Mu aku berdiri menghamba maka janganlah Engkau mengusirku."
Syarah Syaikh Ibnu Abbad Ar-Rundi:
تَعَلَّقَ بِاللهِ تَعَالَى فِي كُلِّ مَطْلَبٍ مِنْ هَذِهِ الْمَطَالِبِ وَأَضْرَبَ عَنِ الْوَسَائِطِ وَالْأَسْبَابِ.
Beliau menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah Ta'ala dalam setiap permohonan dari permohonan-permohonan ini, serta memalingkan diri dari segala perantara maupun sebab-sebab lahiriah.
وَذَلِكَ مِنْ تَحَقُّقِهِ بِالتَّوْحِيدِ الَّذِي سَأَلَ مِنْ مَوْلَاهُ أَنْ يُحَقِّقَهُ بِهِ بِتَطْهِيرِهِ مِنْ أَضْدَادِهِ.
Hal itu merupakan wujud dari kemantapan beliau dalam tauhid, yang telah beliau mohonkan kepada Tuannya (Allah) agar mengukuhkan dirinya dengan tauhid tersebut melalui pembersihan hatinya dari hal-hal yang kontradiktif dengan tauhid.
وَمَعَانِي هَذِهِ الْكَلِمَاتِ قَرِيبٌ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ.
Dan makna dari kalimat-kalimat ini satu sama lain saling berdekatan.
قَالَ أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ هِنْدٍ الْفَارِسِيُّ، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ: اجْتَهِدْ فِي أَنْ لَا تُفَارِقَ بَابَ سَيِّدِكَ بِحَالٍ؛ فَإِنَّهُ مَلْجَأُ الْكُلِّ.
Abu Al-Hasan 'Ali bin Hind Al-Farisi, semoga Allah Ta'ala meridhainya, berkata: "Bersungguh-sunggahlah engkau untuk tidak meninggalkan pintu Tuanmu (Allah) dalam keadaan bagaimanapun; karena sesungguhnya pintu-Nya adalah tempat bersandar bagi segala sesuatu.
فَمَنْ فَارَقَ تِلْكَ السُّدَّةَ لَا يَرَى بَعْدَهَا لِقَدَمَيْهِ قَرَارًا وَلَا مَقَامًا.
Maka barang siapa yang meninggalkan pelataran pintu tersebut, niscaya setelah itu ia tidak akan mendapati tempat berpijak yang kokoh maupun kedudukan yang tenang bagi kedua kakinya."
Munajat 27:
قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:
«إِلَهِي تَقَدَّسَ رِضَاكَ عَنْ أَنْ تَكُونَ لَهُ عِلَّةٌ مِنْكَ، فَكَيْفَ تَكُونَ لَهُ عِلَّةٌ مِنِّي».
"Tuhanku, Mahasuci rida-Mu dari adanya suatu sebab (yang memicunya) yang berasal dari-Mu, maka bagaimana mungkin bisa ada suatu sebab bagi rida-Mu yang berasal dari diriku."
Syarah Syaikh Ibnu Abbad Ar-Rundi:
رِضَا اللهِ تَعَالَى صِفَةٌ مِنْ صِفَاتِهِ.
Rida Allah Ta'ala merupakan salah satu dari sekian sifat-sifat-Nya.
وَصِفَاتُهُ قَدِيمَةٌ، وَلِذَلِكَ امْتَنَعَ عَلَيْهَا سَبْقِيَّةُ الْعِلَلِ.
Dan sifat-sifat-Nya adalah qadim (tanpa permulaan), oleh karena itu mustahil baginya untuk didahului oleh sebab-sebab ('illat).
وَالْقَدِيمُ لَا يَكُونُ مَسْبُوقًا بِشَيْءٍ.
Dan sesuatu yang qadim itu tidak mungkin didahului oleh sesuatu apa pun.
وَإِذَا كَانَتْ صِفَاتُهُ الْعَلِيَّةُ مُنَزَّهَةً عَنْ أَنْ يَكُونَ لَهَا عِلَّةٌ مِنْهُ، فَكَيْفَ يَكُونُ لَهَا عِلَّةٌ مِنْ غَيْرِهِ.
Dan apabila sifat-sifat-Nya yang luhur saja tersucikan dari adanya sebab yang timbul dari diri-Nya, maka bagaimana mungkin ada sebab bagi sifat tersebut yang lahir dari selain-Nya.
فَرِضَا اللهِ تَعَالَى لَا عِلَّةَ لَهُ وَلَا سَبَبَ، بَلْ رِضَاهُ وَسَخَطُهُ هُمَا سَبَبُ أَعْمَالِ الْعَامِلِينَ حَسَنِهَا وَسَيِّئِهَا.
Maka rida Allah Ta'ala itu sama sekali tidak memiliki sebab pemicu ataupun alasan lahiriah, melainkan rida dan murka-Nya dialah yang justru menjadi sebab bagi amal perbuatan orang-orang yang beramal, baik amal yang bajik maupun yang buruk.
رَضِيَ عَنْ قَوْمٍ فَاسْتَعْمَلَهُمْ بِأَعْمَالِ أَهْلِ الرِّضَا، وَسَخِطَ عَلَى قَوْمٍ فَاسْتَعْمَلَهُمْ بِأَعْمَالِ أَهْلِ السَّخَطِ.
Allah rida kepada suatu kaum, maka Dia menggerakkan mereka untuk mengamalkan perbuatan-perbuatan kaum yang meraih rida, dan Dia murka kepada suatu kaum, maka Dia membiarkan mereka terseret dalam perbuatan-perbuatan kaum yang menuai murka.
قَالَ أَبُو بَكْرٍ الْوَاسِطِيُّ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: «الرِّضَا وَالسَّخَطُ نَعْتَانِ مِنْ نُعُوتِ الْحَقِّ يَجْرِيَانِ عَلَى الْأَبَدِ بِمَا جَرَيَا فِي الْأَزَلِ يُظْهِرَانِ الْوَسْمَيْنِ عَلَى الْمَقْبُولِينَ وَالْمَطْرُودِينَ».
Abu Bakar Al-Wasithi—semoga Allah meridhainya—berkata: "Rida dan murka adalah dua sifat dari sifat-sifat Al-Haqq (Allah) yang berlaku sepanjang masa (selamanya) sesuai dengan apa yang telah digariskan-Nya pada masa azali, keduanya menampakkan dua tanda tanda pengenal bagi orang-orang yang diterima (maqbulin) dan orang-orang yang terusir (mathrudin)."
«فَقَدْ بَانَتْ شَوَاهِدُ الْمَقْبُولِينَ بِضِيَائِهَا عَلَيْهِمْ، كَمَا بَانَتْ شَوَاهِدُ الْمَطْرُودِينَ بِظَلَامِهَا عَلَيْهِمْ».
"Maka sungguh telah tampak jelas tanda-tanda kaum yang diterima lewat pancaran cahaya yang menyelimuti mereka, sebagaimana telah tampak nyata pula tanda-tanda kaum yang terusir lewat kegelapan yang pekat pada diri mereka."
«فَأَنَّى تَنْفَعُ مِنْ ذَلِكَ الْأَلْوَانُ الْمُصْفَرَّةُ، وَالْأَكْمَامُ الْمُقَصَّرَةُ، وَالْأَقْدَامُ الْمُنْتَفِخَةُ؟!».
"Jika sudah demikian, maka apalah gunanya riasan lahiriah berupa rona wajah yang menguning (karena pura-pura khusyuk), lengan baju yang dipotong pendek (gaya zuhud buatan), serta kaki-kaki yang membengkak (karena memaksakan ibadah lahiriah tanpa ketulusan batin)?!"
Munajat 28:
قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:
Syekh Ibnu 'Atha'illah, semoga Allah meridhainya, berkata:
«أَنْتَ الْغَنِيُّ بِذَاتِكَ عَنْ أَنْ يَصِلَ إِلَيْكَ النَّفْعُ مِنْكَ فَكَيْفَ لَا تَكُونُ غَنِيًّا عَنِّي».
"Engkau Maha Kaya dengan Zat-Mu dari adanya kemanfaatan yang sampai kepada-Mu yang berasal dari diri-Mu sendiri, maka bagaimana mungkin Engkau tidak Maha Kaya (tidak butuh) dari diriku."
اَلْكَلَامُ فِي الْغِنَى كَالْكَلَامِ فِي الرِّضَا.
Pembahasan mengenai sifat Maha Kaya (Al-Ghina) di sini sama halnya dengan pembahasan mengenai sifat rida pada bait sebelumnya.
وَكَأَنَّ الْمُؤَلِّفَ، رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى، قَصَدَ فِي مُنَاجَاتِهِ بِهَذِهِ الْكَلِمَاتِ الِاسْتِرْضَاءَ وَالِاسْتِعْطَافَ.
Dan seakan-akan penulis, semoga Allah Ta'ala meridhainya, bertujuan melalui munajatnya dengan kalimat-kalimat ini untuk mencari keridaan dan mengetuk pintu kasih sayang Allah.
فَطَلَبَ الْمُسَامَحَةَ وَالتَّجَاوُزَ عَنْ أَعْمَالِهِ الْمَدْخُولَةِ وَأَحْوَالِهِ الْمَعْلُولَةِ.
Maka beliau memohon ampunan serta kelapangan atas amal perbuatannya yang cacat (tidak sempurna) dan kondisi spiritualnya yang diliputi kelemahan.
وَذَلِكَ مِنْ أَحْسَنِ الْمَقَاصِدِ لِلدَّاعِي.
Dan permohonan yang demikian itu merupakan salah satu tujuan yang paling utama dan indah bagi seorang hamba yang berdoa.
...




0 comments:
Posting Komentar